<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291</id><updated>2012-02-16T18:26:04.997-08:00</updated><title type='text'>I write them.You read them. We should talk them. Then something big happen: Great Idea!!!</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>41</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-7763720364462577516</id><published>2008-09-05T01:15:00.000-07:00</published><updated>2008-09-17T18:33:07.591-07:00</updated><title type='text'>AMBIVALENSI PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita “aneh” datang dari dunia pendidikan, tidak pernah absen. Mulai dari korupsi Kadis pendidikan, segerombolan anak ditelan pasir di Ende, pemboikotan sekolah jarak jauh, gusra-gusru penelantaran penari Lembata di Jakarta, sampai pada keengganan pemda menyeponsori anak berbakat mengikuti lomba ilmiah di Ibu Kota Negara. Kita mau maju atau mundur ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Ambilvalensi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita tiba pada stage: patah arang! Tidak ada lagi “Ratu Adil” yang bisa menyulap kerisauhan rakyat. Banyak orang berbicara dalam kebingungan. Tapi, tak lebih, saling mengambinghitamkan. Tanpa melihat dengan jernih duduk perkara. Yang bengkok dilihat lurus. Yang lurus dikira bengkok (teori Paralaks, Ilmu Fisika). Inilah aras utama kebingungan. Tapi, mengapa kita tidak belajar dari sejarah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika pasca perang dingin tahun 80-an pernah menggelar “Nation at Risk”. Lantas pendidikan AS waktu itu, mengalami penyeokkan total akibat konsentrasi perang dingin. Pendidikan berantakkan. Maka, lahirlah propaganda “No Children Left Behind”. Dari sini, “reborned-lah” negeri Pamansam, seadekuat sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang pun sama. Setelah kehancuran Nagasaki dan Hirosima, Jepang mulai membangun jiwa bangsanya dari pendidikan, dari titik zero. Maka, jadilah Jepang seanggun sekarang. Korea, Singapura, Cina pun, mengawali jaman booming ekonominya, juga berawal dari penataan fondasi pendidikan kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu kesadaran kompulsif. Bangsa seraksasa apapun sekarang, tidak pernah luput dari sejarah kesuraman. Bahkan mereka lebih terkutuk dari kondisi kita. Tapi mereka sadar bahwa di ujung lorong selalu ada titik terang (post nubila jubilia) yaitu kesadaran resureksionis (kebangkitan) dimulai dengan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang katakan, kebangkitan itu dimulai dengan; proyek pembangunan mesti banyak. Uang juga butuh triuliunan. Tidak sedikit juga katakan, tangkap dulu koruptor. Bahkan, ada yang usulkan sebaiknya orang muda memimpin. Membingungkan. Semuanya, non par excellent, tidak menyentuh “zona keakaran” dari segala ketimpangan dan kejanggalan yang meresahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Howard Gardner (The Disciplined Mind, 1999) menegaskan, kembang-kempis jantung kemajuan bangsa tergantung pada pendidikan. Tidak ada bangsa yang bodoh. Semua orang pintar. Hanya kecerdasan setiap bangsa/orang berbeda bidangnya. Ini sebagai kritikan arogansi Barat. “East is east. West is west. Never twain shall meet” (R. Kippling). Arogansi ini sama sekali konyol, nonsense!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gardner meyakinkan kita, bahwa betapa pendidikan sangat menentukan pembingkaian kemajuan bangsa. Mengapa terjadi kemunduran seperti terlihat dalam aksi korupsi, pemerasan, penipuan, dan ketidakadilan dalam masyarakat? Artinya, ada the existential vacuum (kehampaan mendalam) dalam pendidikan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Diktator dan Diktatoris&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya asal Jawa, berkomentar penuh hipotesis gelitik, tentang pendidikan Indonesia, “Jangan harap ada perubahan di Tanah Air kita lho, karena generasi kita dibesarkan dalam kintal sekolah, di mana guru sebagai Diktator dan murid sebagai Diktatoris”. Apa artinya, tanya balikku, dengan gaya sedikit inocentil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru menjadi diktator (tuan diktat, diktat 10 tahun nga pernah update, menyuruh mahasiswa menyembah menghafal diktat). Ia berorasi dari awal hingga akhir, ngga peduli murid ngerti apa ngga. Guru bertindak sebagai diktator karena apa pun yang ia katakan adalah benar dan murid harus meng-'ya'-kan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi yang menjadi metode sahih pembelajaran seolah-olah menjadi “penyakit berbahaya”, yang perlu dieliminasi oleh Diktator. Berani bertanya, antara dua: digebuk atau mendapat angka merah seumur hidup. Di kintal inilah, pemimpin dan generasi baru kita dididik. Tidak heran sekeras apapun kita teriak, jangan korupsi, dan dengarlah suara rakyat kecil. Jangan harap didengar/diindahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muridnya menjadi diktatoris (yang didiktati, penyembah dan penghafal diktat). Artinya, ilmu mahasiswa bergantung 100% di diktat. Kerjanya pegang diktat sampai kumal, hafal sampai berbusa-busa. Diktat menjadi monopoli sumber ilmu pengetahuan bahkan tiket untuk menjadi Pegawai Negeri. Perpustakaan, penelitian, internet dijauhi, seakan penyakit maut mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasinya, situasi kita tidak banyak berubah. Benar kata Latin, Bona Culina, Bona Disciplina (dapur baik akan menentukan disiplin baik). Dapur itu adalah sekolah-sekolah kita, mulai TKK sampai PT. Jadi, tak sedikit generasi kita sekarang, dididik dalam kintal dapur yang ambruk, pengap, otoriter, diktator, diktatoris seperti dinarasikan oleh kawan saya di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu terkejut. Mengapa korupsi merajalela, siswa disuruh angkut pasir dan bukan bersekolah, pungli kepsek, kadis pendidikan korup, para profesor gunjang-ganjing sekolah jarak jauh (sementara yang dekat tak terurus baik), pengen maju tapi siswa daerah berprestasi dicuekin, penganggur output pendidikan membludak. Semua ini, punya relasi serius dengan radius kebobrokkan dapur pendidikan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lorong Kebangkitan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Rumah Besar NTT ini, ingin bangkit. Tidak cara lain, selain perlu menelusuri lorong pendidikan (dapur) kita yang sudah tergasak. Dunia pendidikan kita perlu direformasi serius, diatur, dianimasi ke arah baik, benar dan bagus. Mulai dari kintal sekolah, yayasan, ruang kelas, sampai pada reposisi peran guru-murid diktator-diktatoris menuju common space dialogal-komunikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Howard Gardner (1999) psikolog dan ahli peneliti pendidikan, pernah menjelajah hampir seluruh sekolah di dunia, menyebutkan tiga animatif kunci pendidikan pembelajaran apresiasi: Baik ( Good) , Benar (True) dan Bagus (Beautiful).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, belajar baik-buruk tentu berpautan dengan moral. Bayangkan, di sekolah kita, tidak pernah diajarkan korupsi, pemerasan, diktator, diktatoris, otoriter sebagai yang buruk. Semuanya, seolah-olah baik adanya. Contoh saja, Soeharto tidak pernah diajarkan sebagai sang koruptor di sekolah. Malah, dimaafkan tanpa pengadilan. Tidak heran, 50-an anggota DPR di Jakarta berbondong-bondong korupsi. Jadi, orang daerah juga ikut-ikutan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, belajar benar-salah, lebih berkaitan dengan kajian rasionalitas. Contoh saja. Berapa banyak profesor dan mahasiswa kita terjun ke dalam dunia penelitian dan jurnal ilmiah. Bagaimana kita mengetahui secara baik, potensi/impotensi NTT, kalau output pendidikan kita berbasis pada profesor diktator dan mahasiswa diktatoris. Justru, generasi baru kita dituntun untuk percaya pada magik-mistis, gosip dan paranormal daripada kajian ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, belajar bagus-jelek. Di sekolah, mana ada ajar, tentang bahasa lokal, nyanyi dan cipta lagu, drama dan lawak lokal. Semuanya, kita miliki. Hanya kapan dan bagaimana produk lokal ini dijadikan aset yang produktif. Inilah akibat apriori akut produk lokal selalu jelek. Yang baik, indah, cantik datang dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, ketika pilkada tiba, orang pilih selebriti, ibu-ibu nonton sinetron impor 24 jam. Satu episode terlewatkan, mungkin satu minggu bakal tidak tidur nyenyak. Mana mau urus anak-anak. Alhasil, banyak generasi baru kita, sangat menyembah budaya Metropolis, Amerika, dan Cina dariapada budaya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kita mau maju atau mundur ini? Budist bermenung sebentar, lalu berceloteh, “what you have become is what you have thought.” Kalau kita pikir NTT selalu mundur, maka yang terjadi adalah penggagalan masif. Sebaliknya, jika kita beroptimis NTT ini maju, maka “our future is in our hand. Sooner or later!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Alumnus STFK Ledalero, Staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Dimuat di Pos Kupang.&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-7763720364462577516?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/7763720364462577516/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=7763720364462577516' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/7763720364462577516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/7763720364462577516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/09/ambivalensi-pendidikan.html' title='AMBIVALENSI PENDIDIKAN'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-9159027214939985052</id><published>2008-08-14T20:28:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T20:50:04.454-07:00</updated><title type='text'>BIRTHDAY MOMENT</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Thanks my Friend !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SKT5bdFs_cI/AAAAAAAAAPo/AfvTnL9NUM4/s1600-h/2903592971.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234582916971691458" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 239px; CURSOR: hand; HEIGHT: 177px; TEXT-ALIGN: center" height="130" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SKT5bdFs_cI/AAAAAAAAAPo/AfvTnL9NUM4/s400/2903592971.jpg" width="215" border="0" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Segala panjat doa dan harap selalu terukir untukmu&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Semoga tercapai segala cita dan cintamu&lt;br /&gt;Hari ini kuingin ada sebuah kebahagiaan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Terpancar dari bening sorot matamu&lt;br /&gt;Terdengar dari lembut suaramu&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234583134982688898" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 208px; CURSOR: hand; HEIGHT: 186px; TEXT-ALIGN: center" height="120" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SKT5oJPk0II/AAAAAAAAAP4/ZPmgQaSIobI/s400/2517535725.jpg" width="173" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Saat kuucapkan tulus dari palung hati yang terdalam&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Selamat Ulang Tahun …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kepakkan sepasang sayapmu&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kokohkan jejak langkahmu&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234583036772446674" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 237px; CURSOR: hand; HEIGHT: 198px; TEXT-ALIGN: center" height="140" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SKT5ibYbcdI/AAAAAAAAAPw/wiQgwiOKS3Y/s400/2605785848.jpg" width="237" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Gapai segala angan yang menjelma dihati&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Panjat suci doaku kan selalu menyertaimu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-9159027214939985052?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/9159027214939985052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=9159027214939985052' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/9159027214939985052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/9159027214939985052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/08/birthday-moment.html' title='BIRTHDAY MOMENT'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SKT5bdFs_cI/AAAAAAAAAPo/AfvTnL9NUM4/s72-c/2903592971.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-1103738995799189197</id><published>2008-08-10T21:51:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T01:20:20.156-07:00</updated><title type='text'>SENJA YANG TAK TERLUPAKAN</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SJ_5hUtNKpI/AAAAAAAAAOo/Ad6PF4DafzQ/s1600-h/470993961.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233175642917120658" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 220px; CURSOR: hand; HEIGHT: 181px" height="148" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SJ_5hUtNKpI/AAAAAAAAAOo/Ad6PF4DafzQ/s400/470993961.jpg" width="145" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Senja paling brengsek! Hujan lebat. Yah ampun..! Air setinggi lutut membanjiri kota Manila, tepatnya di Makati. Ini pertama kali aku saksikan, banjir sehebat ini, mengguyur kota Manila. Banjir menyapu kota Makati, jantung bisnis kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, jam kantor usai sore itu. Saya memilih numpang bus publik ber-AC. Biasanya, aku naik Jepney karena Jepney di Manila, larinya cepat bahkan kalah speed meluncurnya ojek-ojek kita, membawa penumpang. Gesit dan praktislah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar dugaan. Bus yang kutampangi mogok di jalan. Karena berhenti terlalu banyak angkut penumpang. Kaget, banjir sudah setinggi lutut di jalan. Padahal, kalau aku naik Jepney dari tadi, tak seberapa menit pasti sudah di rumah. Hanya, naik Jepney, risikonya siap lobang hidung tersumbat debu hitam, apalagi bunyinya Jepney meraung-raung dan asapnya mengepul seperti mesin giling!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus mogok. Karena air sudah masuk di knalpot-nya mobil itu. Untuk membunuh rasa kecewa, saya pilih tidur saja di atas kursi bus, sampai menanti banjir meredah. Hanya, saya lihat banyak penumpang nekad turun dari bus, lalu melintasi banjir itu, menuju mall yang tak berjauhan. Saya lihat ibu-ibu berani terjang banjir! Terus, kenapa saya begitu manja! Apalagi, dulu waktu kecil di saya biasa berenang di kali banjir.....macam terbang-terbang saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking ramainya, saya pun ikut menerjang banjir. Ikuti orang banyak ke Mall. Di mall, orang datang pergi seperti tanpa tujuan. Saya pun dengan keadaan basah parkir di pojok luar mall itu. Karena terlalu dingin, saya raba saku jeansku, ambil beberapa coin peso (mata uang Pilipina) untuk beli dua batang rokok pada penjual rokok enceran di pinggir jalan, yang bajunya basah kuyup. Tapi, tegar!&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SJ_5uTLHbWI/AAAAAAAAAOw/Qe-kLKNm6J0/s1600-h/403246213.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233175865844002146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 210px; CURSOR: hand; HEIGHT: 207px" height="146" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SJ_5uTLHbWI/AAAAAAAAAOw/Qe-kLKNm6J0/s400/403246213.jpg" width="145" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya sedang ngepul rokok, dua teman kantorku muncul. Tanpa basah basih, mereka ajak aku ke dalam mall. Meskipun, kami setengah basah kuyup maka bergegaslah kami ke dalam mall. Di samping pintu mall, ada Mc Donald. Temanku bisik, ayo kita minum teh susu hangat. Orang Pilipina memang suka sekali instant food, apalagi sebut Jollibee, Mc Donald, dan Chowking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika usai minum-minum, rencananya saya langsung ke rumah. Eh..ternyata teman saya ajak “pasial-pasial” (semacam pesiar-pesiar, term kita). Maka muncullah kami di sebuah kerumuan. Ayo.. kita ikutan “holly mass” dulu dech...kebetulan ada misa orang-orang Katolik. Yah, saya dengan beberapa teman mau tidak mau ikut misa itu, walaupun saya rasa perut sudah kembung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai misanya, saya tarik napas keluar sebentar, soalnya perut saya bunyi. Saya takut kecolongan kentut...hehehe! Berdirilah aku di luar sebentar. Saya begitu terkejut. Ternyata, tak seberapa jauh dari kapela itu, ada orang muslim juga sedang sholat di ruangan sebelah. Sekejap pikiranku melayang, apa mungkin bisa terjadi seperti ini, di mall-mall Indonesia. Rukun itu indah yah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya pernah lihat di Bandara Hongkong, tempat doa orang muslim berdampingan dengan Kristen. Tapi, waktu itu orangnya tidak sebanyak dan seramai ini. Inilah yang membuat saya tak habis berpikir. Betapa indahnya hidup berdampingan di atas suku, agama dan ras yang berbeda. Justru pemandangan itu terjadi di tempat publik, tempat shopping center.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di Asia, Pilipina adalah negaranya bermayoritas Kristen. Sedangkan Indonesia, negaranya bermayoritas Muslim. Hanya, sampai detik ini, saya belum temukan persoalan agama di negerinya Macapagal Arroyo ini diperuncing. Memang problem orang Muslim di Mindanao ada. Tapi, tak lebih dari perjuangan separasi, seperti tendensi gerakan separasi beberapa daerah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang membuatku berdecak kagum. Sekalipun, Pilipina mayorits Kristen, orang tidak terseret oleh persoalan agama. Entah di tempat kerja, pergaulan, dan di tempat tinggal. Tidak berlebihan, kalau saya bilang, mereka lihat agama urusan bilik privat. Tidak ada peristiwa, orang bakar gereja atau bakar mesjid.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SJ_6EFNgaYI/AAAAAAAAAO4/IDjb9OVbm5w/s1600-h/474656285.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233176240053053826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 203px; CURSOR: hand; HEIGHT: 193px" height="193" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SJ_6EFNgaYI/AAAAAAAAAO4/IDjb9OVbm5w/s400/474656285.jpg" width="98" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat, sebagai orang asing, ketika mencari rumah rental di kota Manila. Waktu itu, saya takut. Apalagi, yang namanya orang Indonesia sudah terstigma oleh terorisme. Maaf, ini bukan asal omong. Kalau tidak percaya, nanti Anda akan rasakan kalau bepergian ke luar negeri. Di bandara tempat tujuan Anda bepergian, staf imigrasi akan periksa Anda secara ekstra hati-hati lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus, di luar dugaanku, pemilik rumah itu, tidak bertanya tentang agamaku sekalian pun mereka tahu saya orang Indonesia. Ini yang membuat saya angkat jempol buat mereka. Mereka sempat tanya tempat aku bekerja. Itu juga didahului kata maaf. Saya sempat maklumi. Sebab, banyak pemilik rumah rental di kota Manila dibohong, terutama orang-orang yang tidak jelas pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, saya masih ingat ketika saya tinggal sementara di kota Jakarta berapa tahun yang lalu. Pertanyaan pertama, yang muncul dari mulut pemilik kost adalah Anda agama apa? Saya tidak mengerti, apa korelasinya. Seakan-akan, agama sangat menentukan baik-buruknya orang. Atau, sekan-akan agama berbeda menjadi ancaman bagi the others (orang seberang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, pertanyaan itu terus berkecamuk dalam hatiku. Saya bertanya dalam hati, kenapa hidup di negara orang, kita merasa diterima dan tidak dipersulit oleh identitas agama. Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan bangsa sendiri. Tapi, kita mungkin perlu pelajari cara bangsa lain, hidup berdampingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dari pengalaman saya sendiri, hidup di negeri orang kadang pribadi kita distigmasisasi oleh prestasi dan kegagalan bangsa dan daerah kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SJ_-MEuvflI/AAAAAAAAAPA/TJpx1nryuiE/s1600-h/27914577.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233180775409483346" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 203px" height="151" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SJ_-MEuvflI/AAAAAAAAAPA/TJpx1nryuiE/s400/27914577.jpg" width="145" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Misalkan saja. Di Pilipina, yang namanya orang Indonesia, biar Anda pandai atau tidak bermain badminton, tapi sebut atau lihat orang Indonesia pegang raket badminton saja, orang langsung bulu badan berdiri, bahkan kaki gemetar kalau bermain badminton dengan orang Indonesia......hehehehehe.......! Apalagi, kalau Anda sebut, raket badminton Anda, sekelas dengan raketnya Taufik Hidayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kalau di negeri kita sering muncul aksi terorisme....yah bukan hanya urusan visa kita dipersulit dunk kalau mau berpergian, tapi cukup sebut dan tahu bahwa kita orang Indonesia di mana saja kita berada, orang langsung angkat sandal dan lihat kita dengan sebelah ekor mata saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di Pos Kupang kolom Surat dari Rantau)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-1103738995799189197?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/1103738995799189197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=1103738995799189197' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/1103738995799189197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/1103738995799189197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/08/senja-yang-tak-terlupakan.html' title='SENJA YANG TAK TERLUPAKAN'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SJ_5hUtNKpI/AAAAAAAAAOo/Ad6PF4DafzQ/s72-c/470993961.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-9154484253247169518</id><published>2008-08-07T19:14:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T01:18:52.325-07:00</updated><title type='text'>MERDEKALH DESAKU</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SKFf1Lmyp6I/AAAAAAAAAPQ/Vupb18mMuD0/s1600-h/408733509.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233569609234425762" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 168px; CURSOR: hand; HEIGHT: 147px" height="147" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SKFf1Lmyp6I/AAAAAAAAAPQ/Vupb18mMuD0/s400/408733509.jpg" width="145" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;(Desahan Orang Desa Dalam Puisi Taufik Ismail)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa yang merdeka, apa sungguh ada? Jika ada, mengapa Taufik Ismail dalam puisinya berjudul Merdeka menyindir: Merdeka! Belum (1998). Puisi paling pendek, tapi menyimpan 1001 rahasia kehidupan orang desa, yang tak terjamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Separuh dari warga kita adalah kaum desa. Hanya, apa warga desanya sungguh “merdeka”? Taufik Ismail dalam puisinya “Aku Malu Menatap Wajah Saudaraku Petani”(2003) akan menguraikan sengkarut jawabannya, penuh anasir gelitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah ruang permenungan kita. Sudah 100 tahun kita menikmati Kebangkitan Nasional, dan kita kembali merayakan HUT Kemerdekaan RI yang ke-63. Tapi kemerdekaan warga desanya, jauh dari zeitgeist (jiwa kemerdekaan) itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik Ismail (TI) menggambarkan desa abad XXI, belum merdeka bahkan sama buruknya hidup orang desa di abad sebelumnya. Setidaknya, napas puisi TI menjadi ajang pencerahan bersama, di cela-cela kesibukan seremonial HUT kemerdekaan RI yang ke-63 tahun ini. Adakah berita baik datang dari desa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TI yakin multikrisis yang pernah mengutuk bangsa ini, seperti krisis iklim, BBM, ekonomi, politik, hukum dan orang desalah selalu saja jadi korban. Lihatlah, ketika petak-petak sawah mengering, serangan hama datang, harga panenan ambruk, nelayan tidak melaut, para ojek parkir motornya, dolar menguat gara-gara korupsi politisi, begitu gampang dikonpesasi oleh proyek IDT dan BLT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kalau menyubsidi BBM, pupuk gratis, obat hama, bikin irigasi dan mesin penyedot air, maka jauh lebih membantu dan memerdekakan orang desa. Yah, susahnya tidak sempat merasakan duka lara orang desa. Sehingga, public policy menyerupai “gincu”; memikat mata sebentar, kemudian menghilang.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SKFgIwBe1nI/AAAAAAAAAPY/gzjDDyxxdvk/s1600-h/Anak-anak_Lembata.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233569945427564146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 228px; CURSOR: hand; HEIGHT: 181px" height="166" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SKFgIwBe1nI/AAAAAAAAAPY/gzjDDyxxdvk/s400/Anak-anak_Lembata.jpg" width="200" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, TI menyanjung, orang desa justru kian lama menyubsidi kehidupan orang kota. Termasuk, menjual beras, kacang-kacangan, sayur-mayur, ikan segar sangat murah. Anehnya, orang kota, menentukan harga jualan. Sebagai anak kota, Aku malu, cetus pemilik puisi “Malu (Aku) Menjadi Orang Indonesia” ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, TI dengan nada sinis mencibir “Aku malu kepadamu, wahai saudaraku petani, Hidup kami di kota disubsidi oleh kalian petani..... sedangkan pakaian, rumah, dan pendidikan anak kalian, tak pernah kami orang kota, ganti memberikan subsidi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TI juga melihat kecurangan pembangunan. Orang desa adalah kaum anomie oleh keserakahan pembangunan abad ini. Prioritas pembangunan mem-bubble di kota. Tanpa jelas juntrungannya, kenapa warga desa kian tersisih, terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, di mana tiang listrik berakhir dan jalan beraspal berujung maka di sebelahnya, adalah kampung desa. Di mana ada penyakit dan anak buta huruf bertumpuk-tumpuk, jumlah para guru dan perawat paling sedikit. Di sanalah warga desa hidup serba menyedihkan. Aku malu, menatap wajah saudaraku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di kota, guru membludak. Dokter dan perawat berhamburan. Air minum dan listrik berkelimpahan. Putar keran, air langsung ke mulut periuk. Tekan tombol, ruangan jadi terang benderang. Yah, serba ada, cuma di kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, TI bercela protes, bukankah air, listrik, beras dan sayur-mayur, kayu bangunan bahkan semua pernak-pernik kegemerlapan kota dijarah dari desa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah fenomen imperior, yang disebut Mao Zedong sebagai “kota mengepung desa” (1923). Semuanya dijarah dari desa! Tapi, warga desa dikuliti dan ditinggali tanpa ekses dan akses akseleratif yang seimbang dan manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, pipa jumbo dari kota, langsung menyedot mata air orang desa. Ironisnya, orang desa terpaksa membeli air bersih ke kota. Kayu-kayu bangunan, dari rumah jabatan bupati, seharga miliyaran rupiah sampai kantor pak lurah, juga ditebang dari hutan orang desa. Tapi, orang desanya tinggal di gubuk reot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, bahan bakar listrik, mobil, motor, kompor, juga diboyong dari isi perut gunung orang desa. Tapi, sampai sekarang warga desa hanya diterang oleh lampu pelita. Harga minyak tanah pun meroket. Di manakah desa merdeka itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin buruk kalau menatap nasib pendidikan. Sekolah-sekolah desa tidak perhatikan. Atap sekolah bocoran di mana-mana. Kalaupun ada program pendidikan sangat tidak masuk akal. Program buku elektronik, mobil pintar dan internet masuk desa adalah bentuk sinisme paling kejam terhadap orang desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana, mobil pintar dan buku elektronik bisa masuk desa jika jalan rayanya saja, tidak ada atau jelek-jelek. Bagaimana buku elektronik dan internet bisa diunduh, jika tiang listriknya hanya terpancang di sudut kota. Lagi-lagi, program pendidikan sama sekali, tidak berpihak warga desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kesehatan lebih parah. Dokter, perawat, serta fasilitas kesehatan di desa kian minim. Kalau ada dokter atau perawat ditugaskan di pedesaan, tidak lama akan pindah ke kota. Sepertinya, mereka benci melayani orang kotor atau tidak merasa nyaman melayani orang miskin. Padahal, mereka digaji tinggi-tinggi. Untuk, sekian kalinya, TI berkata Aku malu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ranah politik lain lagi. Pada musim pemilu tiba, entah pilih bupati, gubernur bahkan presiden maka warga desa jadi bula-bulanan. Bahkan, untuk merebut suara mereka, ritus sembah rakyat dadakkan diadakan. Tapi, setelah menjadi boss, yah, suara orang sekarat seperti ini, dianggap sampah busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, TI berontak “Petani saudaraku, Aku terpaksa mengaku, Kalian selama ini kami jadikan objek. Belum jadi subjek. Berpuluh-puluh tahun lamanya. Aku malu”. Di sini TI, bak anak kecil memrotes ibunya supaya dicium, sebagaimana ibu mencium adiknya penuh hangat.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SKFgSBwVIAI/AAAAAAAAAPg/FKHueVk7prI/s1600-h/611051401.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233570104806285314" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 156px; CURSOR: hand; HEIGHT: 163px" height="139" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SKFgSBwVIAI/AAAAAAAAAPg/FKHueVk7prI/s400/611051401.jpg" width="145" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wow..kalau ada pemimpin berjiwa besar seperti ini, mungkin kondisi kita tidak seambruk sekarang ini. Susahnya, tidak ada pemimpin yang mengakui salah, sehingga bagaimana mengoreksi kesalahan, kalau semuanya dianggap benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku berbisik. Apakah TI belum tahu juga, kalau begitu banyak orang desa yang mengais hidup di kota tapi justru mereka diusir dan digusur secara tidak manusiawi, hanya karena kehadiran mereka dipandang mengotori kota, terutama yang tiduran di emperan toko, atau di bawa kolong jembatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang orang desa, tempatnya di desa. Tapi, orang tidak bertanya kenapa orang desa mulai mengembara ke kota. Orang desa berlahan-lahan mengepung kota. Ketika desa menjadi kampung mati, maka TI membagi keyakinan bahwa negeri sebesar apapun akan tidak lama lagi berada di tebing kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petaka itu terindikasi oleh gerakan revolusi masif “Desa Mengepung Kota”(Mao Zedong). Lebih-lebih kalau, warga desa selalu dijadikan obyek, tempat parasit, komoditas politik dan dengan penuh kesadaran dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung puisinya, TI seakan tergumpal pesimisme kepada pemimpin sekarang. Sebab, pemimpin kita seperti pemain pencak silat. Kita pikir ransek ke kiri, padahal ke kanan. Susah ditebak apa maunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TI cuma mendesah kepada Tuhan. “Merdekalah Desaku. Ya Tuhan, Tolonglah petani kami. Tolonglah bangsa kami. Amin”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Penulis, kini staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di Pos Kupang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-9154484253247169518?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/9154484253247169518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=9154484253247169518' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/9154484253247169518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/9154484253247169518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/08/merdekalh-desaku.html' title='MERDEKALH DESAKU'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iEP9gwLjxRY/SKFf1Lmyp6I/AAAAAAAAAPQ/Vupb18mMuD0/s72-c/408733509.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-8614676310921234240</id><published>2008-07-26T08:18:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T22:09:47.729-07:00</updated><title type='text'>JANGAN JANGAN MENYERAH!</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6T6Y1wKzI/AAAAAAAAANE/0H2_AhVfhIs/s1600-h/31752_anak02.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228278848733326130" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6T6Y1wKzI/AAAAAAAAANE/0H2_AhVfhIs/s400/31752_anak02.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;elalu ada 1001 alasan untuk menyerah, namun orang-orang yang berhasil adalah orang yang tidak memutuskan untuk menyerah. Dia selalu bisa menemukan sebuah alasan untuk tidak menyerah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NANCY MATTHEWS EDISON (1810-1871)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. ibunya membaca kertas tersebut, ” Tommy, anak ibu, sangat bodoh. kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah.”&lt;br /&gt;Sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, ” anak saya Tommy, bukan anak bodoh. saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tommy bertumbuh menjadi Thomas Alva Edison, salah satu penemu terbesar di dunia. dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.&lt;br /&gt;Tak banyak orang mengenal siapa Nancy Mattews, namun bila kita mendengar nama Edison, kita langsung tahu bahwa dialah penemu paling berpengaruh dalam sejarah. Thomas Alva Edison menjadi seorang penemu dengan 1.093 paten penemuan atas namanya. siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai” diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius? jawabannya adalah ibunya!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya. Nancy yang memutuskan untuk menjadi guru pribadi bagi pendidikan Edison dirumah, telah menjadikan puteranya menjadi orang yang percaya bahwa dirinya berarti. Nancy yang memulihkan kepercayaan diri Edison , dan hal itu mungkin sangat berat baginya. namun ia tidak sekalipun membiarkan keterbatasan membuatnya berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JOANNE KATHLEEN ROWLING&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, Rowling memang sudah memiliki kegemaran menulis. bahkan di usia 6 tahun, ia sudah mengarang sebuah cerita berjudul Rabbit. ia juga memiliki kegemaran tanpa malu” menunjukan karyanya kepada teman” dan orangtuanya. kebiasaan ini terus dipelihara hingga ia dewasa. daya imajinasi yang tinggi itu pula yang kemudian melambungkan namanya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Akan tetapi, dalam kehidupan nyata, Rowling seperti tak henti didera masalah. Keadaan yang miskin, yang bahkan membuat ia masuk dalam kategori pihak yang berhak memperoleh santunan orang miskin dari pemerintah Inggris, itu masih ia alami ketika Rowling menulis seri Harry Potter yang pertama. Ditambah dengan perceraian yang ia alami, kondisi yang serba sulit itu justru semakin memacu dirinya untuk segera menulis dan menuntaskan kisah penyihir cilik bernama Harry Potter yang idenya ia dapat saat sedang berada dalam sebuah kereta api. Tahun 1995, dengan susah payah, karena tak memiliki uang untuk memfotocopy naskahnya, Rowling terpaksa menyalin naskahnya itu dengan mengetik ulang menggunakan sebuah mesin ketik manual.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Naskah yang akhirnya selesai dengan perjuangan susah payah itu tidak lantas langsung diterima dan meledak di pasaran. Berbagai penolakan dari pihak penerbit harus ia alami terlebih dahulu. Diantaranya, adalah karena semula ia mengirim naskah dengan memakai nama aslinya, Joanne Rowling.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pandangan meremehkan penulis wanita yang masih kuat membelenggu para penerbit dan kalangan perbukuan menyebabkan ia menyiasati dengan menyamarkan namanya menjadi JK Rowling. Memakai dua huruf konsonan dengan harapan ia akan sama sukses dengan penulis cerita anak favoritnya CS Lewis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Akhirnya keberhasilan pun tiba. Harry Potter luar biasa meledak dipasaran. Semua itu tentu saja adalah hasil dari sikap pantang menyerah dan kerja keras yang luar biasa. tak ada kesuksedan yang dibayar dengan harga murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;STEVE JOBS&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1976, bersama rekannya Steve Wozniak, Jobs yang baru berusia 21 tahun mulai mendirikan Apple Computer Co. di garasi milik keluarganya. Dengan susah payah mengumpulkan modal yang diperoleh dengan menjual barang-barang mereka yang paling berharga, usaha itu pun dimulai. Komputer pertama mereka, Apple 1 berhasil mereka jual sebanyak 50 unit kepada sebuah toko lokal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Dalam beberapa tahun, usaha mereka cukup berkembang pesat sehingga tahun 1983, Jobs menggaet John Sculley dari Pepsi Cola untuk memimpin perusahaan itu. Sampai sejauh itu, Apple Computer menuai kesuksesan dan makin menancapkan pengaruhnya dalam industri komputer terlebih dengan diluncurkannya Macintosh. Namun, pada tahun 1985, setelah konflik dengan Sculley, perusahaan memutuskan memberhentikan pendiri mereka, yaitu Steve Jobs sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Setelah menjual sahamnya, Jobs yang mengalami kesedihan luar biasa banyak menghabiskan waktu dengan bersepeda dan berpergian ke Eropa. Namun, tak lama setelah itu, pemecatan tersebut rupanya justru membawa semangat baru bagi dirinya. Ia pun memulai usaha baru yaitu perusahaan komputer NeXT dan perusahaan animasi Pixar. NeXT yang sebenarnya sangat maju dalam hal teknologinya ternyata tidak membawa hasil yang baik secara komersil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Akan tetapi, Pixar adalah sebuah kisah sukses lain berkat tangan dinginnya. Melalui Pixar, Jobs membawa trend baru dalam dunia film animasi seiring dengan diluncurkannya film produksinya Toy Story dan selanjutnya Finding Nemo dan The Incredibles.&lt;br /&gt;Sepeninggal Jobs dan semakin kuatnya dominasi IBM dan Microsoft membuat Apple kalah bersaing dan nyaris terpuruk. Maka, tahun 1997, Jobs dipanggil kembali untuk mengisi posisi pimpinan sementara. Dengan mengaplikasi teknoligi yang dirancang di NeXT, kali ini Apple kembali bangkit dengan berbagai produk berteknologi maju macam MacOS X, IMac dan salah satu yang fenomenal yaitu iPod.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kisah sukses Steve Jobs mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada kesuksesan yang instan. penolakan dan kegagalan seringkali mewarnai perjalanan hidup kita, tapi jangan biarkan semua itu membuat kita berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;OPRAH WINFREY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermodal keberanian “Menjadi Diri Sendiri”, Oprah menjadi presenter paling populer di Amerika dan menjadi wanita selebritis terkaya versi majalah Forbes, dengan kekayaan lebih dari US $ 1 Milyar. Copy acara “The Oprah Winfrey Show” telah diputar di hampir seluruh penjuru bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Lahir di Mississisipi dari pasangan Afro-Amerika dengan nama Oprah Gail Winfrey. Ayahnya mantan serdadu yang kemudian menjadi tukang cukur, sedang ibunya seorang pembantu rumah tangga. Karena keduanya berpisah maka Oprah kecil pun diasuh oleh neneknya di lingkungan yang kumuh dan sangat miskin. Luarbiasanya, di usia 3 tahun Oprah telah dapat membaca Injil dengan keras.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;“Membaca adalah gerai untuk mengenal dunia” katanya dalam suatu wawancaranya.&lt;br /&gt;Pada usia 9 tahun, Oprah mengalami pelecehan sexual, dia diperkosa oleh saudara sepupu ibunya beserta teman-temannya dan terjadi berulang kali. Di usia 13 tahun Oprah harus menerima kenyataan hamil dan melahirkan, namun bayinya meninggal dua minggu setelah dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Setelah kejadian itu, Oprah lari ke rumah ayahnya di Nashville. Ayahnya mendidik dengan sangat keras dan disiplin tinggi. Dia diwajibkan membaca buku dan membuat ringkasannya setiap pekan. Walaupun tertekan berat, namun kelak disadari bahwa didikan keras inilah yang menjadikannya sebagai wanita yang tegar, percaya diri dan berdisiplin tinggi.&lt;br /&gt;Prestasinya sebagai siswi teladan di SMA membawanya terpilih menjadi wakil siswi yang diundang ke Gedung Putih. Beasiswa pun di dapat saat memasuki jenjang perguruan tinggi. Oprah pernah memenangkan kontes kecantikan, dan saat itulah pertama kali dia menjadi sorotan publik..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Karirnya dimulai sebagai penyiar radio lokal saat di bangku SMA. Karir di dunia TV di bangun diusia 19 tahun. Dia menjadi wanita negro pertama dan termuda sebagai pembaca berita stasiun TV lokal tersebut. Oprah memulai debut talkshow TVnya dalam acara People Are Talking. Dan keputusannya untuk pindah ke Chicago lah yang akhirnya membawa Oprah ke puncak karirnya. The Oprah Winfrey Show menjadi acara talkshow dengan rating tertinggi berskala nasional yang pernah ada dalam sejarah pertelevisian di Amerika. Sungguh luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Latar belakang kehidupannya yang miskin, rawan kejahatan dan diskriminatif mengusik hatinya untuk berupaya membantu sesama. Tayangan acaranya di telivisi selalu sarat dengan nilai kemanusiaan, moralitas dan pendidikan. Oprah sadar, bila dia bisa mengajak seluruh pemirsa telivisi, maka bersama, akan mudah mewujudkan segala impiannya demi membantu mereka yang tertindas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Oprah juga dikenal dengan kedermawanannya. Berbagai yayasan telah disantuni, antara lain, rumah sakit dan lembaga riset penderita AIDs, berbagai sekolah, penderita ketergantungan, penderita cacat dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Dan yang terakhir, pada 2 januari 2007 lalu, Oprah menghadiri peresmian sekolah khusus anak-anak perempuan di kota Henley-on-Klip, di luar Johannesburg, Afrika selatan, yang didirikannya bersama dengan pemirsa acara televisinya. Oprah menyisihkan 20 juta pounsterling ( 1 pons kira2 rp. 17.000,-) atau 340 milyiar rupiah dari kekayaannya. “Dengan memberi pendidikan yang baik bagi anak2 perempuan ini, kita akan memulai mengubah bangsa ini” ujarnya berharap.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kisah Oprah Winfrey ialah kisah seorang anak manusia yang tidak mau meratapi nasib. Dia berjuang keras untuk keberhasilan hidupnya, dan dia berhasil. Dia punya mental baja dan mampu mengubah nasib, dari kehidupan nestapa menjadi manusia sukses yang punya karakter. Semangat perjuangannya pantas kita teladani!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7UP&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Anda tentu mengenal 7up. Merk softdrink rasa jeruk nipis ini terbilang cukup populer di penjuru dunia. Dibalik ketenaran merk 7up rupanya ada kisah yang sangat menarik untuk kita pelajari tentang arti “pantang menyerah”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Awal mulanya perusahaan ini mengambil nama 3up sebagai merek sodanya. Namun sayangnya, usaha ini gagal. Kemudian si pendiri kembali memperjuangkan bisnisnya dan mengganti namanya dengan 4up. Malangnya, produk ini pun bernasib sama dengan sebelumnnya. Selanjutnya dia berusaha bangkit lagi dan mengganti lagi namanya menjadi 5up. Gagal lagi. Kecintaanya pada soda membuatnya tak menyerah dan berusaha lagi dengan nama baru 6up. Produk ini pun gagal dan dia pun menyerah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Beberapa tahun kemudian, orang lain muncul dan membuat soda dengan nama 7up dan mendapat sukses besar! Mungkin kita tidak tahu kapan usaha kita akan membuahkan hasil, tapi suatu saat nanti pastilah waktu itu akan tiba. Justru karena kita ga tahu kapan waktu keberhasilan kita, maka jangan pernah kita menghentikan usaha kita dan memutuskan untuk menyerah. 3up gagal, buatlah 4up! 4up gagal, dirikan 5up! bahkan meski harus muncul 6up, 7up, 8up, atau 100up sekalipun, jangan pernah berhenti sampai jerih payah kita membuahkan hasil.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Percayalah bahwa Tuhan menghargai usaha kita. keberhasilan tidak datang pada orang yang malas berjuang dan gampang menyerah. Tunjukan kualitas iman kita melalui ketekunan kita dalam berjuang! TETAP SEMANGAT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MARK ZUCKERBERG (FACEBOOK)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pernah mendengar situs jaringan pertemanan Friendster? Konon, melalui situs tersebut, banyak orang-orang yang lama tak bersua, bisa kembali bersatu, reunian, dan bahkan berjodoh. Karena itulah, situs pertemanan itu beberapa waktu lalu sempat sangat popular. Karena itu, tak heran jika setelah era suksesnya Friendster, berbagai situs jaringan pertemanan bermunculan. Salah satunya adalah Facebook.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Facebook ini sebenarnya dibuat sebagai situs jaringan pertemanan terbatas pada kalangan kampus pembuatnya, yakni Mark Zuckerberg. Mahasiswa Harvard University tersebut-kala itu-mencoba membuat satu program yang bisa menghubungkan teman-teman satu kampusnya. Karena itulah, nama situs yang digagas oleh Mark adalah Facebook. Nama ini ia ambil dari buku Facebook, yaitu buku yang biasanya berisi daftar anggota komunitas dalam satu kampus. Pada sejumlah college dan sekolah preparatory di Amerika Serikat, buku ini diberikan kepada mahasiswa atau staf fakultas yang baru agar bisa lebih mengenal orang lain di kampus bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pada sekitar tahun 2004, Mark yang memang hobi mengotak-atik program pembuatan website berhasil menulis kode orisinal Facebook dari kamar asramanya. Untuk membuat situs ini, ia hanya butuh waktu sekitar dua mingguan. Pria kelahiran Mei 1984 itu lantas mengumumkan situsnya dan menarik rekan-rekannya untuk bergabung. Hanya dalam jangka waktu relatif singkat-sekitar dua minggu-Facebook telah mampu menjaring dua per tiga lebih mahasiswa Harvard sebagai anggota tetap.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Mendapati Facebook mampu menjadi magnet yang kuat untuk menarik banyak orang bergabung, ia memutuskan mengikuti jejak seniornya-Bill Gates-memilih drop out untuk menyeriusi situsnya itu. Bersama tiga rekannya-andre McCollum, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes-Mark kemudian membuka keanggotaan Facebook untuk umum.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Mark ternyata tak sekadar nekad. Ia punya banyak alasan untuk lebih memilih menyeriusi Facebook. Mark dan rekannya berhasil membuat Facebook jadi situs jaringan pertemanan yang segera melambung namanya, mengikuti tren Friendster yang juga berkembang kala itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Namun, agar punya nilai lebih, Mark pun mengolah Facebook dengan berbagai fitur tambahan. Dan, sepertinya kelebihan fitur inilah yang membuat Facebook makin digemari.&lt;br /&gt;Bayangkan, Ada 9.373 aplikasi yang terbagi dalam 22 kategori yang bisa dipakai untuk menyemarakkan halaman Facebook, mulai chat, game, pesan instan, sampai urusan politik dan berbagai hal lainnya. Hebatnya lagi, sifat keanggotaan situs ini sangat terbuka. Jadi, data yang dibuat tiap orang lebih jelas dibandingkan situs pertemanan lainnya. Hal ini yang membuat orang makin nyaman dengan Facebook untuk mencari teman, baik yang sudah dikenal ataupun mencari kenalan baru di berbagai belahan dunia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sejak kemunculan Facebook tahun 2004 silam, anggota terus berkembang pesat. Prosentase kenaikannya melebihi seniornya, Friendster. Situs itu tercatat sudah dikunjungi 60 juta orang dan bahkan Mark Zuckerberg berani menargetkan pada tahun 2008 ini, angka tersebut akan mencapai 200 juta anggota.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Dengan berbagai keunggulan dan jumlah peminat yang luar biasa, Facebook menjadi ‘barang dagangan’ yang sangat laku. Tak heran, raksasa software Microsoft pun tertarik meminangnya. Dan, konon, untuk memiliki saham hanya 1,6 persen saja, Microsoft harus mengeluarkan dana tak kurang dari US$ 240 juta. Ini berarti nilai kapitalisasi saham Facebook bisa mencapai US$15 miliar! Tak heran, Mark kemudian dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Niat Mark Zuckerberg untuk sekadar’menyatukan’ komunitas kampusnya dalam sebuah jaringan ternyata berdampak besar. Hal ini telah mengantar pria yang baru berusia 23 tahun ini menjadi miliarder termuda dalam sejarah. Sungguh, kejelian melihat peluang dan niatan baiknya ternyata mampu digabungkan menjadi sebuah nilai tambah yang luar biasa. Ini menjadi contoh bagi kita, bahwa niat baik ditambah perjuangan dan ketekunan dalam menggarap peluang akan melahirkan kesempatan yang dapat mengubah hidup makin bermakna. TIADA KETEKUNAN YANG TIDAK MEMBAWA HASIL…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BILL GATES &amp;amp; PAUL ALLEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;William Henry Gates III atau lebih terkenal dengan sebutan Bill Gates, lahir di Seatle , Washington pada tanggal 28 Oktober 1955. Ayah Bill, Bill Gates Jr., bekerja di sebuah firma hukum sebagai seorang pengacara dan ibunya, Mary, adalah seorang mantan guru. Bill adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak kecil Bill mempunyai hobi “hiking”, bahkan hingga kini pun kegiatan ini masih sering dilakukannya bila ia sedang “berpikir”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Bill kecil mampu dengan mudah melewati masa sekolah dasar dengan nilai sangat memuaskan, terutama dalam pelajaran IPA dan Matematika. Mengetahui hal ini orang tua Bill, kemudian menyekolahkannya di sebuah sekolah swasta yang terkenal dengan pembinaan akademik yang baik, bernama ” LAKESIDE “. Pada saat itu, Lakeside baru saja membeli sebuah komputer, dan dalam waktu seminggu, Bill Gates, Paul Allen dan beberapa siswa lainnya (sebagian besar nantinya menjadi programmer pertama MICROSOFT) sudah menghabiskan semua jam pelajaran komputer untuk satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kemampuan komputer Bill Gates sudah diakui sejak dia masih bersekolah di Lakeside . Dimulai dengan meng”hack” komputer sekolah, mengubah jadwal, dan penempatan siswa. Tahun 1968, Bill Gates, Paul Allen, dan dua hackers lainnya disewa oleh Computer Center Corp. untuk menjadi tester sistem keamanan perusahaan tersebut. Sebagai balasan, mereka diberikan kebebasan untuk menggunakan komputer perusahaan. Menurut Bill saat itu lah mereka benar-benar dapat “memasuki” komputer. Dan disinilah mereka mulai mengembangkan kemampuan menuju pembentukan Microsoft, 7 tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Selanjutnya kemampuan Bill Gates semakin terasah. Pembuatan program sistem pembayaran untuk Information Science Inc, merupakan bisnis pertamanya. Kemudian bersama Paul Ellen mendirikan perusahaan pertama mereka yang disebut Traf-O-Data. Mereka membuat sebuah komputer kecil yang mampu mengukur aliran lalu lintas. Bekerja sebagai debugger di perusahaan kontrkator pertahanan TRW, dan sebagai penanggungjawab komputerisasi jadwal sekolah, melengkapi pengalaman Bill Gates.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Musim gugur 1973, Bill Gates berangkat menuju Harvard University dan terdaftar sebagai siswa fakultas hukum. Bill mampu dengan baik mengikuti kuliah, namun sama seperti ketika di SMA, perhatiannya segera beralih ke komputer. Selama di Harvard, hubungannya dengan Allen tetap dekat. Bill dikenal sebagai seorang jenius di Harvard. Bahkan salah seorang guru Bill mengatakan bahwa Bill adalah programmer yang luar biasa jenius, namun seorang manusia yang menyebalkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Desember 1974, saat hendak mengunjungi Bill Gates, Paul Allen membaca artikel majalah Popular Electronics dengan judul “World`s First Microcomputer Kit to Rival Commercial Models”. Artikel ini memuat tentang komputer mikro pertama Altair 9090. Allen kemudian berdiskusi dengan Bill Gates. Mereka menyadari bahwa era “komputer rumah” akan segera hadir dan meledak, membuat keberadaan software untuk komputer - komputer tersebut sangat dibutuhkan. Dan ini merupakan kesempatan besar bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kemudian dalam beberapa hari, Gates menghubungi perusahaan pembuat Altair, MITS (Micro Instrumentation and Telemetry Systems). Dia mengatakan bahwa dia dan Allen, telah membuat BASIC yang dapat digunakan pada Altair. Tentu saja ini adalah bohong. Bahkan mereka sama sekali belum menulis satu baris kode pun. MITS, yang tidak mengetahui hal ini, sangat tertarik pada BASIC. Dalam waktu 8 minggu BASIC telah siap. Allen menuju MITS untuk mempresentasikan BASIC. Dan walaupun, ini adalah kali pertama bagi Allen dalam mengoperasikan Altair, ternyata BASIC dapat bekerja dengan sempurna. Setahun kemudian Bill Gates meninggalkan Harvard dan mendirikan Microsoft.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kisah Bill Gates Meninggalkan Harvard Demi Mengejar Impian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia bosan dengan Harvard, Gates melamar pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan komputer di daerah Boston .. Gates mendorong Paul Allen untuk mencoba melamar sebagai pembuat program di Honey-well agar keduanya dapat melanjutkan impian mereka untuk mendirikan sebuah perusahaan perangkat lunak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pada suatu hari di bulan Desember yang beku, Paul Allen melihat sampul depan majalah Popular Mechanics, terbitan Januari 1975, yaitu gambar komputer mikro rakitan baru yang revolusioner MITS Altair 8080 (Komputer kecil ini menjadi cikal bakal PC di kemudian hari). Kemudian Allen menemui Gates dan membujuknya bahwa mereka harus mengembangkan sebuah bahasa untuk mesin kecil sederhana itu. Allen terus mengatakan, Yuk kita dirikan sebuah perusahaan. Yuk kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kami sadar bahwa revolusi itu bisa terjadi tanpa kami. Setelah kami membaca artikel itu, tak diragukan lagi dimana kami akan memfokuskan hidup kami.&lt;br /&gt;Kedua sahabat itu bergegas ke sebuah komputer Harvard untuk menulis sebuah adaptasi dari program bahasa BASIC. Gates dan Allen percaya bahwa komputer kecil itu dapat melakukan keajaiban. Dari sana pula mereka mempunyai mimpi, tersedianya sebuah komputer di setiap meja tulis dan di setiap rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Semangat Allen dan Gates tidak percuma. Berawal dari komputer kecil itulah yang menjadi mode dari segala macam komputansi. Dan sekarang bisa Anda lihat bahwa PC telah benar-benar menjadi alat jaman informasi. Dan hampir setiap orang mengenal Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;HIRONOBU SAKAGUCHI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hironobu Sakaguchi (1962) dulu menjabat Direktur Perencanaan dan Pengembangan untuk Square Co., Ltd. Ia adalah pencipta seri permainan Final Fantasy. Pada tahun 1991 ia diberi kehormatan menjabat Wakil Presiden Eksekutif dan tak lama berselang ditunjuk menjadi Presiden Square USA, Inc. Pada tahun 2001, ia mendirikan he Mistwalker, yang mulai beroperasi tiga tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sakaguchi bersama-sama Masafumi Miyamoto mendirikan Square pada tahun 1983. Permainan-permainan pertama mereka sangat tidak sukses. Ia lalu memutuskan untuk menciptakan pekerjaan terakhirnya dalam industri permainan dengan seluruh sisa uang Square, dan menamakannya Final Fantasy. Permainan ini, di luar perkiraannya sendiri, ternyata melejit, dan ia membatalkan rencana pensiunnya. Ia kemudian memulai kelanjutan permainan ini dan saat ini telah dibuat Tiga belas permainan Final Fantasy. Setelah enam permainan pertama dipasarkan, ia lebih berperan sebagai produser eksektuif untuk seri ini dan juga banyak permainan Square lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sakaguchi memiliki karir yang panjang dalam industri permainan dengan penjualan lebih dari 80 juta unit permainan video di seluruh dunia. Sakaguchi mengambil lompatan dari permainan ke film saat ia mengambil peran sebagai sutradara film dalam Final Fantasy: The Spirits Within, sebuah film animasi yang didasari dari seri permainan terkenalnya Final Fantasy. Akan tetapi, film ini ternyata gagal dan menjadi salah satu film yang paling merugi dalam sejarah perfilman, dengan kerugian lebih dari 120 juta USD yang berujung dengan ditutupnya Square Pictures.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sakaguchi lalu diturunkan dari posisi eksekutif Square. Kejadian ini juga mengurangi keuangan Square dan akhirnya membawa Square bergabung dengan saingannya Enix, menjadi Square Enix. Sakaguchi lalu mengundurkan diri dari Square dan mendirikan Mistwalker dengan dukungan finansial dari Microsoft Game Studios.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pada tahun 2001, Sakaguchi menjadi orang ketiga yang masuk dalam Academy of Interactive Arts and Science’ Hall of Fame. Pada bulan Februari 2005 diumumkan bahwa perusahaan Sakaguchi, Mistwalker, akan bekerja sama dengan Microsoft Game Studios untuk memproduksi dua permainan role-playing game untuk Xbox 360.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pelajaran berharga: Dari awal karier, beliau banyak mengalami kegagalan, namun beliau tidak pernah menyerah hingga akhirnya menciptakan seri “Final Fantasy” yang sangat di nantikan kehadirannya, bahkan di puncak kariernya beliau kembali menghadapi kegagalan melalui proyek kontroversialnya (Final Fantasy : Spirit Whitin) yang mengakibatkan penurunan jabatan dan penutupan “Square Pictures” hingga akhirnya pengunduran dirinya dari Square.&lt;br /&gt;Namun itu bukan akhir dari beliau, tapi menjadi loncatan bagi dia untuk kembali bangkit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-8614676310921234240?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/8614676310921234240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=8614676310921234240' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/8614676310921234240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/8614676310921234240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/07/jangan-jangan-menyerah.html' title='JANGAN JANGAN MENYERAH!'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6T6Y1wKzI/AAAAAAAAANE/0H2_AhVfhIs/s72-c/31752_anak02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-8539825384513359785</id><published>2008-07-20T03:14:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T01:24:28.311-07:00</updated><title type='text'>PALING ENAK JADI KORUPTOR NTT</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6aKnz-b3I/AAAAAAAAANM/KnswTbI7J3Q/s1600-h/92403574.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228285724700077938" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 206px; CURSOR: hand; HEIGHT: 173px" height="145" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6aKnz-b3I/AAAAAAAAANM/KnswTbI7J3Q/s400/92403574.jpg" width="162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Fidel Hardjo&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;P&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;aling enak menjadi koruptor di NTT! Karena, hampir 90 % para koruptor dijamin lolos. Lolos dari jeratan hukum dan bebas dijebloskan di penjara” (Maria Margaretha Hartiningsih, Wartawati senior Kompas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia NTT hampir 50 tahun, tapi seberapa banyak koruptor yang sudah ditangkap? Apa 10, 100, atau 1000? Mungkin tak lebih dari jumlah jari tangan. Mungkin tepat ekspresi satiris Hartiningsih di atas, enaknya jadi koruptor di NTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Jika demikian, apa tidak baik kalau kita perlu reevaluasi model penanganan korupsi di daerah kita. Baiklah kita lebih rendah hati, mengaku bahwa kita memang tidak serius menanganinya. Terkesan, tangkap koruptor hanya gertak sambal! Solusi seperti ini, kurang lebih sama tiap kemunculan pemimpin baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Hasilnya seperti sekarang. Para koruptor tampil lebih heroik, vulgar dan rakus. Implikasinya, NTT tercinta ini hanya mampu meraih rangking korup dan miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;strong&gt;Rangking Korup dan Miskin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Sejak tahun 2003 sampai 2007, sebagaimana hasil audit BPKP provinsi NTT, yang dipublikasi 30 Mei 2007 bahwa total kerugian negara akibat korupsi di NTT sebesar Rp17.633.400.730 dari 1.967 kasus korupsi yang dideteksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Dari 1.967 kasus, sebanyak 1.080 kasus sudah ditindaklanjuti dan total kerugian negara sebesar Rp50.061.226.820. Sementara, sebanyak 887 kasus belum dituntaskan, dengan total kerugian negara sebesar Rp17.633.400.680.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Kasus korupsi ini menyebar secara sporadis di 16 kota/kabupaten. Jika dirincikan per kabupaten/kota, tertinggi di tingkat provinsi terdapat 239 kasus dengan indikasi kerugian negara Rp5.007.695.849; TTU(73 kasus-kerugian Rp2.177.528.592); TTS(109 kasus-kerugian Rp1.984.437.629); Sikka(57 kasus-kerugian Rp1.522.773.445); Manggarai(37 kasus-kerugian Rp1.445.318.081); Alor(51 kasus-kerugian Rp1.189.084.790); Lembata(33 kasus-kerugian Rp958.446.407); Kupang (33 kasus-kerugian Rp682.379.281); Sumba Timur (28 kasus-kerugian Rp641.508.991); Ende(45 kasus-kerugian Rp515.958.050); Belu (43 kasus-kerugian Rp305.431.079); Sumba Barat(46 kasus-kerugian Rp248.128.986); Ngada(22 kasus-kerugian Rp208.943.786); Flores Timur(23 kasus-kerugian Rp200.751.733); Kota Kupang(29 kasus-kerugian Rp199.978.348); Rote-Ndao(16 kasus-kerugian Rp199.250.808); dan Manggarai Barat(3 kasus-kerugian Rp155.781.841).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Mau diapakan dengan data telanjang ini? Dari data dan faktum ini maka pantaslah, ICW menempatkan NTT rangking ke enam terkorup di Indonesia setelah posisi Riau dan urutan ke empat provinsi termiskin se-Nusantara dengan total penduduk miskinya tahun 2007, sebanyak 1,16 juta jiwa atau 27,51% dari 4 juta jiwa penduduk NTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Data korupsi ini sangat mengecewakan publik. Lebih kecewa lagi, ketika Gubernur Baru mengadakan rapat awal kordinasi dengan para Bupati (PK, 18/7/08) tidak diagendakan ikhwal pemberantasan korupsi. Ini preseden sangat buruk, kita sangat gagal memerangi korupsi. Kita gagal bukan karena kita tidak bisa tetapi moral lembek mengurus persoalan urgent ini. Ada apa sebenarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Bukankah kita punya hakim profesional? Mana polisi kita yang pintar-pintar. Di mana KPKD yang cerdik? Mereka ini adalah aparatur negara, yang tentunya sudah dipilih dengan kriterium check and balances, yang sangat luar biasa. Mereka ini adalah “orang terpilih” dari sekian ribu pelamar yang selalu gagal ikut testing setiap tahun. Mengapa kinerja mereka tidak membuahkan hasil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Memang menangkap koruptor tidak mudah. Karena itu, kita sudah seleksi sedemikian rupa para hakim, polisi, dan KPK yang lebih pintar, intelegen, cerdik, pandai dan jujur daripada para koruptor, pencuri dan perampok kelas kakap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;strong&gt;Bandit Lebih Pintar?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Mancur Olson dalam bukunya Power and Prosperity (2003) menggagaskan bahwa koruptor sekarang lebih pintar dari intelegen di bumi ini, di AS, Jerman, Jepang, Cina sekalipun, apalagi di NTT. Karena itu, Olson lebih menyebut koruptor sebagai “keparat bandit” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Mengapa? Karena memang bekerja sebagai bandit profesional. Kendatipun dari kulit luar mereka kelihatan wibawa, suci, patriotisme, nasionalisme dan religiusme tapi sesungguhnya mereka keparat bandit. Gerombolan bandit ini lebih terampil daripada badan intelegen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Olson mengklasifikasi bandit atas dua macam yaitu stationary bandits (bandit menetap) dan roving bandits (bandit mengembara). Dua-duanya sama-sama bejat dan rakus. Tapi, kedua-duanya punya perbedaan yang mencolok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pertama, bandit menetap. Bandit ini menetap di suatu tempat, entah di kantor, istana, rumah, tempat suci bahkan di tempat yang paling kotor sekalipun. Mereka tidak mengembara tapi punya otoritas. Sekalipun mereka tidak mengembara untuk menjarah tapi mereka lebih pintar mencuri dan merampas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Bandit ini punya seribu satu kaki tangan. Jaringan dan cara mereka mencuri dan merampas sangat rahasia. Orang yang ingin memanfaatkan kuasa mereka, sudah tahu tipe dan mau-maunya bandit ini. Karena itu, mereka akan memberi semacam “upeti” secara rahasia dan profesional, agar kedua pihak tidak terperangkap dalam jeratan hukum dan takterdeteksi polisi di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Kedua, bandit mengembara. Bandit ini mengembara di mana-mana, entah di kota maupun di desa, di jalan-jalan, pasar, pelabuhan, hotel, toko, restauran dan dari ke rumah ke rumah. Bandit ini selain mencuri uang, harta, juga memerkosa perempuan dan menculik anak-anak. Mereka sulit ditangkap karena kadang mereka bekerja sama dengan bandit menetap, yang penting jarahan dibagi dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Sepakat atau tidak, kedua jenis bandit ini juga menetap dan mengembara di Nusa Flobamora ini. Bandit yang menetap dan mengembara ini bergerak di seluruh lini baik di kantor, jalan, hotel, kampung, pasar dan di tempat kotor maupun di tempat suci sekalipun. Mereka terus beroperasi tanpa rasa berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;adi, asumsinya sejak tahun 2003-2007 sebanyak Rp17.633.400.730, uang rakyat NTT dicuri oleh kedua jenis bandit di atas. Padahal, jumlah realisasi PAD NTT sejak 2003-2007 sebesar 592 Miliar; (2003 Rp94,3 M) (2004, Rp123,6 M), (2005 Rp140,6 M), (2006 Rp175,9 M), (2007,Rp198,2 M). Hanya, berdasarkan survai BPKP NTT, dari sekian defisit negara di atas, tak satupun koruptor dijebloskan ke penjara. Enaknya jadi koruptor NTT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Artinya, dengan data ini, kita tahu bahwa ternyata tidak sedikit uang rakyat tergelontor di saku para bandit ini. Angka yang sangat fantastik. Masuk akal, kenapa NTT menyandang akronim provinsi Nusa Tetap Termiskin. Sesukses apapun kita “merayakan” demokrasi kalau para bandit ini terus bergentayangan maka harapan rakyat sejahtera semakin sulit digenggam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6gCcnzVSI/AAAAAAAAANk/8D-vj0JvH8s/s1600-h/182409330.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228292181327041826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 218px; CURSOR: hand; HEIGHT: 226px" height="137" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6gCcnzVSI/AAAAAAAAANk/8D-vj0JvH8s/s400/182409330.jpg" width="192" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tangkap Para Bandit&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Koruptor adalah bandit. Inilah prioritas kita, tangkap para bandit ini, baik yang menetap maupun yang sedang mengembara. Kita perlu mengagendakan pemberantasan para bandit, yang hidup foya-foya di atas penderitaan rakyat. Ini program yang sangat urgen, sebelum menggagaskan program brilian lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Kalau Presiden SBY dalam program 100 harinya, menggelar aksi penangkapan korupsi, lalu kenapa Gubernur Frans Leburaya tidak mengikuti jejak baik ini. Bukan sekadar ikut-ikutan tapi memang kita butuh program brilian ini. Ini yang ditunggu rakyat dari dulu-dulu. Rakyat sudah jenuh dengan aksi para bandit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Apa artinya paradigma “Anggur Merah” kalau dana-dana itu mengalir ke tangan para bandit ini. Sebanyak apapun uang dan program seperti pementasan kemiskinan, buta huruf, kesehatan, pembangunan ekonomi dan infrastruktur daerah kalau toh akhirnya uang itu mengendap leluasa di dompet para bandit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Kita juga mesti terbuka dengan fenomen ganjil bahwa bisa saja hakim, polisi dan KPKD bekerja sama dengan para bandit seperti kasus Artalita di Jakarta. Jika demikian, kita juga perlu borgol para hakim, polisi dan KPK yang nakal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Akhirnya, selagi para bandit ini dibiarkan berkeliaran di NTT, sepanjang itu juga kemiskinan dan penderitaan rakyat tidak berubah. Kalau KPKD, Hakim dan Polisi kita kurang mampu dan belum profesional menangkap para bandit ini, maka kita mesti berjiwa besar untuk mengundang atau membayar KPK Jakarta. Jangan biarkan provinsi ini terengkuh di bawa bola kerakusan keparat bandit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Saya pikir rakyat mendukung dengan sangat antusias jika Gubernur Baru meletakkan agenda utamanya untuk menangkap para bandit ini. Seberapapun mahal ongkosnya, kita mesti tangkap para bandit ini. Buktikan, provinsi NTT tidak akan takluk di bawah slogan keparat bandit: paling enak jadi koruptor NTT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;strong&gt;(Dimuat Di Pos Kupang) &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-8539825384513359785?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/8539825384513359785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=8539825384513359785' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/8539825384513359785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/8539825384513359785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/07/paling-enak-jadi-koruptor-ntt.html' title='PALING ENAK JADI KORUPTOR NTT'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6aKnz-b3I/AAAAAAAAANM/KnswTbI7J3Q/s72-c/92403574.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-4411817854004471094</id><published>2008-07-08T20:44:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T01:25:16.013-07:00</updated><title type='text'>“TREN BUNUH DIRI”, ADA APA?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6dYqk6FSI/AAAAAAAAANU/KnElKxoftU8/s1600-h/71613763.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228289264495236386" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 162px; CURSOR: hand; HEIGHT: 153px" height="138" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6dYqk6FSI/AAAAAAAAANU/KnElKxoftU8/s400/71613763.jpg" width="145" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;D&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;ada kita mendadak sesak, seperti dihunjam palu godam teramat berat membaca berita menyedihkan. Ibu membunuh anak lalu bunuh diri – siswa bunuh diri gara-gara tidak lulus ujian - setidaknya, menurut dokomentasi Pos Kupang, sejak tahun 2008 sudah ada sembilan kasus bunuh diri (PK, 4/7/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih jalan tragis bunuh diri semacam tren. Apa yang ganjil dengan masyarakat kita? Mengapa mereka mudah putus asa, suka jalan pintas mengakhiri hidup yang sumpek, dan tidak tegar menghadapi masalah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunuh diri adalah problem sekaligus realitas “ad infinitum” (baca: tanpa akhir). Sejak jaman Aristoteles, Plato, Durkheim, Weber, Marx bahkan sampai sekarang persoalan bunuh diri itu terus dianalisis (“dipertanyakan”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengapa Bunuh diri?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aristoteles melihat akar bunuh diri sebagai kerapuhan “political grounds” yang kontra-kondusif, menyebabkan individu bunuh diri. Situasi politik yang depresif, hopeless dan worthless menggiring individu menuju pembunuhan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plato justru menuding kerapuhan “religious grounds” sebagai penyebabnya. Bunuh diri diyakini destini hidup yang sudah digariskan oleh dewa. Ini adalah keyakinan ekstrem dari iman. Dengan menghabisi hidup duniawi, individu “dijanjikan” akan berkanjang bestari dalam komunitas dewa (surgawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis kedua filsuf besar ini, tidak sepenuhnya benar.Tapi, dengan mempelajari cirkumtans, fakta, alasan, surat, pesan, informasi, tingkah laku si korban, baik sebelum maupun sesudah bunuh diri, “sedikitnya” menggaungkan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pada umumnya korban bunuh diri karena keterpaksaan. Terpaksa bunuh diri karena utang melilit, harga sembako mencekik leher, ongkos pendidikan dan kesehatan yang mahal, gagal ujian dan lapangan kerja minim (plus gagal bercinta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya, siapa yang umumkan harga sembako naik? Siapa yang mengatur biayai pendidikan dan kesehatan naik? Siapa yang menetapkan UN? Siapa yang membuat arena politik tidak kondusif? Siapakah memicu gerakan demonstrasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi siapa? Inilah sari pemahaman Aristoteles. Di mana, kerapuhan “ dasar politik” lapisan bawa sebagai sebab musabab aksioma pembunuhan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carut-marut politisi dan kondisi politik yang kotor, menyebabkan rakyat tak terurus dan jatuh tersungkur dalam kotak kemiskinan (hopeless - worthless – helpness) maka jalan menuju bunuh diri terbuka lebar (Durkheim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, faktor religius (agama) juga turut berpengaruh. Lihat saja, dari surat, pesan atau wasiat si korban bunuh diri. Umumnya, korban (terkesan) begitu dekat dan pasrah kepada Tuhan. Bahkan, percaya bahwa, setelah bunuh diri itu ada kedamaian dan ketenangan abadi (plus masuk surga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan ini yang disebut Plato sebagai, kerapuhan “dasar religius” lapisan bawa, yang memicu pilihan bunuh diri. Mungkin, itulah sebabnya Nietzsche mengejek keras, agama sebagai opium, pil penenang dan pelarian irasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, kedua pemikiran di atas bisa dipakai sebagai pisau analisis untuk membedah tren aksi bunuh diri yang mengejutkan kita saat ini. Kita tergagap-gagap, koq sudah sembilan korban! Hitung korban macam hitung biji kemiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kemiskinan kronis telah menyebabkan tak sedikit warga kita suka main pinjam uang. Pinjam uang, entah untuk biayai pendidikan anak, biaya kesehatan, urusan belis, pesta sambut baru/nikah bahkan beli beras pada musim lapar. Jadinya, utang di mana-mana!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berbahaya adalah di sana tengkulak beroperasi bebas. Bunga pinjaman uang pun tidak enteng-enteng. Mau apa dikata. Namanya, butuh uang karena itu, ada ibu atau bapak nekad pinjam, apapun resikonya. Taruhannya saat panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, di luar dugaan, cuaca berubah drastis. Maka, panen gagal total dan pada saat itulah tengkulak menagih utang. Siapa tidak malu kalau setiap saat para tengkulak datang menuntut utangnya dibayar. Apalagi jika diketahui oleh tetangga sebelah. Dari sinilah potensi bunuh diri berkecembah di ubun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi batas itu diperuncing, oleh pemahaman iman yang keliru. (Mungkin) Sebatas dengar ajaran agama tentang ada kehidupan setelah kematian. Padahal, tak satupun agama yang mencintai kematian apalagi dengan jalan membunuh diri. Paling-paling, ada kehidupan setelah kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, kedua landasan dasar ini, yang menjadi kekuatan manusia yaitu aspek badaniah dan rohaniah. Urusan badaniah “dipercayakan” kepada negara dan rohaniah “dipercayakan” kepada agama. Namun, mengapa dan mengapa aksi bunuh diri terus bergentanyangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6d5uhI-2I/AAAAAAAAANc/dL73rRdOfis/s1600-h/163087801.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6d5uhI-2I/AAAAAAAAANc/dL73rRdOfis/s1600-h/163087801.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6d5uhI-2I/AAAAAAAAANc/dL73rRdOfis/s1600-h/163087801.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6d5uhI-2I/AAAAAAAAANc/dL73rRdOfis/s1600-h/163087801.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228289832488860514" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 144px; CURSOR: hand; HEIGHT: 164px" height="145" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6d5uhI-2I/AAAAAAAAANc/dL73rRdOfis/s400/163087801.jpg" width="122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ruang Bertanya&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bagaimanapun inilah ruang refleksi bagi pemerintah, bagaimana mengatasi kemiskinan rakyat. Terutama, agar rakyat tidak dililiti oleh banyak utang dengan tengkulak busuk. Mungkin, saatnya kehidupan koperasi perlu digalakan, seperti mengukir kejayaan koperasi desa tahun 80-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang kaya dan berpendidikan mungkin bisa pinjam uang ke bank tapi rakyat kecil, yang melihat kantor bank saja sudah gugup, apalagi masuk ke dalam kantor itu, pasti lebih takut. Ini masalah sepeleh. Tapi, akibatnya sangat serius. Lalu, siapa yang membantu menyadarkan orang-orang kecil seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pendidikan karakter itu penting. Pemerintah sebagai stakeholder pendidikan daerah semestinya lebih berkreatif mengembangkan pendidikan berkarakter. Hindu Dharma menyebut tiga poin utama pendidikan karakter yaitu “pembelajaran” (learning) tentang baik-buruk, benar-salah dan indah-jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pembenahan karakter ini, Dharma membagi keyakinan, “A man without character is like a wild bull let loose in a cornfield. Every fool may become a hero at one time or another, but the people of good character are heroes all the time”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita buat selama ini adalah menyembah UN, yang lebih mefokuskan pencapaian (achieving) daripada pembelajaran. Bahkan, kita hanya habiskan energi untuk mepersiapkan UN. Tidak heran, dari luar generasi muda kita terkesan pintar dan pandai tapi sesungguhya di dalam rapuh dan keropos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dengan merebaknya tren bunuh diri di daerah kita, kalau kita (sedikit) jujur, maka ini juga bagian kegagalan agama (gereja). Bahwa, umat kita sedang tercebur dalam aneka wajah kemiskinan termasuk “miskin iman”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktinya, ada korban bunuh diri merasa yakin bahwa bunuh diri, mungkin jalan paling meyakitkan bagi kebanyakan orang tapi anehnya bagi korban mengalami kedamaian dalam kematian(bunuh diri). Apa ini soal keyakinan diri atau interpretasi salah atas iman itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, inilah moment bertanya bagi agen pastoral. Perlukah kita merumuskan pendekatan pastoral baru? Pendekatan yang tidak hanya menghibur umat dengan janji suci dan kotbah kudus. Tapi bagaimana menyadarkan dan membantu umat untuk menghadapi masalah harian lebih kreatif dan produktif? Apakah itu mungkin? Itu yang kita tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, baik negara maupun agama, toh punya tanggung jawab yang sama atas martabat hidup manusia. Negara mengurusi aspek badaniah, sementara, agama (gereja ) mengurusi aspek rohaniah dari rakyat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, keberhasilan rakyat/umat adalah kebanggaan dua lembaga ini. Hanya perlu diterima juga, kalau aksi bunuh diri rakyat/umat NTT belakangan ini adalah pretensi kegagalan negara dan agama itu sendiri. Entahkah negara dan agama salah mengurusi warganya atau warga salah mengurusi dirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Alumnus STFK Ledalero, tinggal di Manila&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;(Dimuat Di Pos Kupang)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-4411817854004471094?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/4411817854004471094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=4411817854004471094' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/4411817854004471094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/4411817854004471094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/07/tren-bunuh-diri-ada-apa.html' title='“TREN BUNUH DIRI”, ADA APA?'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6dYqk6FSI/AAAAAAAAANU/KnElKxoftU8/s72-c/71613763.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-6115850812865618574</id><published>2008-06-14T19:35:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T22:12:02.107-07:00</updated><title type='text'>"ORKES SAKIT HATI"</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6icBxXKqI/AAAAAAAAANs/PfstmgDLiTM/s1600-h/192784908.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228294819819236002" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 193px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" height="150" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6icBxXKqI/AAAAAAAAANs/PfstmgDLiTM/s400/192784908.jpg" width="145" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;S&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;uatu hari ketika lapangan di tengah kota becek, orang-orang pada ngomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.”&lt;br /&gt;“Seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu”. Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”.&lt;br /&gt;“Anak-anak mencuri apel di kebun, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan,anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah cara berpikir positip ala Pygmalion. “Pygmalion” adalah salah satu kisah legendaris Romawi kuno. Alangkah indah dan damainya dunia ini, jika disesaki oleh orang-orang seperti Pygmalion “suka berpikir positip”, kata pujangga Romawi, Ovid dalam bukunya Pygmalion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, Pygmalion adalah seorang pemuda kesepian, piawai memahat patung, dan pemuda melankolis yang sama sekali tidak tertarik dengan wanita. Tetapi, rumor ini dijungkirbaliknya 100%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pygmalion justru tertambat hatinya, kepada sebuah patung wanita cantik yang dipahatnya sendiri. Karena cintanya yang membara-bara maka Ia pun berdoa kepada dewi cinta Venus, untuk menghidupi patung itu. Doanya pun dikabulkan. Ia pun menikahi wanita cantik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bukan kisah pernikahan ini yang membuat Pygmalion heboh dan digandrungi oleh masyarakat sejamannya dan komunitas manusia di jaman ultra modern ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melainkan, karena ketercerahan pandangan hidupnya. Pygmalion memandang segala sesuatu dari sudut yang baik alias “positive thinking”. George B. Shaw, pemenang hadiah nobel kesusasteraan Irlandia tahun 1925, menyebut perangai positip Pygmalion ini sebagai “pygmalion management”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Orkes Sakit Hati&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana membaca kehidupan kita dalam “kaca mata” pygmalion? Coba kita amati warna-warni hidup kita sekarang. Hidup susah, konflik sana-sini, harga sembako mencekik, ruang politik yang rawan berseteru, kehidupan rumah tangga terseok-seok menggiring kita menuju “orkes sakit hati” tak bertepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas situasi tertekan itu, orang sakit hati muncul membeludak baik di kota-kota besar maupun di desa-desa. Ada banyak yang memilih protes di jalan-jalan. Tak sedikit pula yang memilih diam. Diam dalam kepedihan. Inilah situasi kita, orkes sakit hati (meminjam judul lagu Slank).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasinya, orang mudah tersinggung, menyalahi orang lain, sukar sekali berpikir positip. Padahal, apa yang kita pikirkan menentukan menjadi siapakah kita. Seperti apa yang dikatakan oleh Devis Kelvin, “what you have become is what you have thought” (The Law of Atraction, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, jika kita berpikir fokus pada konflik, masalah, dan menuding orang lain penyebab situasi sulit maka sebenarnya kita sendiri sedang memenjarakan diri dalam kesulitan. Maka, kita lupa mencari solusi. Energi kita hanya menari-nari dari suatu kesulitan meloncat ke kesulitan lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan saja. Masalah pencabutan subsidi BBM. Sudah jelas-jelas pemerintah mencabut subsidi. Kita malah sibuk protes. Katanya, ini jaman demokrasi. Tetapi, lihat protes itu tidak membuahkan hasil. Energi kita sudah terkuras banyak. Ulah protes itu muncul konflik baru. Para sopir mogok. Giliran berikutnya, aktivitas sosial macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kalau kita sinergikan energisitas yang ada, untuk bekerja dan mencari solusi lebih produktif maka ia sangat menolong kita memperbaiki hidup yang kian susah ini, ke arah yang lebih menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, apa yang telah kita buat atas masalah gizi buruk, buta huruf, kelaparan dan bencana alam di daerah kita? Tak lebih saling menyalahi. Rakyat menuding pemerintah sebagai penyebabnya. Karena, tidak mampu mengurus rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin juga menuding rakyat yang malas bekerja, pasrah dengan keadaan, menjadi penyebab mengapa daerah kita tidak maju-maju. Maka, sempurna sudah lingkaran saling menuding itu. Masuk akal, jika orkes sakit hati terus nyaring bergema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, keadaan separah sekarang ini butuh kerja keras dan kerja sama kita semua. Selagi kita mengerangkeng saling menyalahi, biar langit ini juga runtuh, kesejahteran sosial itu sulit digenggam. Sama saja kita mengharapkan kucing bertanduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, managemen pygmalion berkata, “anyone can determine their destiny through the power of their minds” (orang dapat mengubah haluan hidupnya oleh kedahsyatan berpikirnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan saja, energi pikiran kita sekarang “digumpalkan” untuk membangun kekuatan bersama menata hidup bersama maka bukan tidak mungkin segala persoalan sosial kita ditemukan jalan ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi apa? Pemimpin jalan sendiri, organisasi sosial urus sendiri, rakyat pun tenggelam dalam situasinya sendiri-sendiri. Lalu, kita berteriak kapan keadaan berubah. Mengapa semut bisa membuka terowong gelap di kaki gunung, hanya dengan merajut kerja sama? Dan, mengapa kita tidak bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja, ketika seorang naik jadi pemimpin, ada-ada saja kelompok lain tampil menjadi penentang. Mengapa bukan mendukung? Akhirnya, kebijakan kandas total. Tetangga sebelah membangun rumah tembok, kata-kata pujian sulit didengar. Jika ada kawan kantor naik pangkat, yang lain justru mengumpatnya. Apa yang salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangis, berdoa, dan merengek bantuan kepada orang lain tidak cukup. Maka, saatnya kita mengubah pikiran dan tingkah laku dari partisan menuju impartisan,dari inklusif menuju eksklusif, dari negatip menuju positip. Inilah jargon pygmalion, jalan “berpikir positip”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6ipber8PI/AAAAAAAAAN0/mG3-ntZQ8WA/s1600-h/2780641168.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228295050058526962" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 218px; CURSOR: hand; HEIGHT: 186px" height="140" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6ipber8PI/AAAAAAAAAN0/mG3-ntZQ8WA/s400/2780641168.jpg" width="193" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pengharapan Positip&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengharapan positip merangkul kekuatan pikiran rasionalitas dan kecerdasan hati nurani. Pertama, masalah akan datang pergi tapi fokuskan perhatian pada pencarian solusi ketimbang tenggelam dalam konflik atau masalah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang biasa kita lakukan adalah habiskan energi memeluk konflik daripada berjuang mencari solusi. Intinya, seperti kata Winston Churchil, mantan Perdana Menteri Inggris. " Seorang pesimis melihat kesulitan di setiap kesempatan; seorang optimistis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mengapresiasi kesuksesan orang lain sekecil apapun. Dengan demikian kita bisa belajar dari kesuksesan orang lain dan orang yang sukses semakin menyadari arti kesuksesannya dan memacunya memenetrasi kesuksesan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita hidup dalam lingkaran seperti ini, maka kesuksesan demi kesuksesan terus tercipta. Kadang orang sulit menemukan jalan menuju kesuksesan hanya karena mengantongi pikiran gelap terlalu banyak. Sebening dan seindah apapun kehidupan ini akan tetap gelap jika kaca mata gelap kita enggan ditanggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, “where the mind goes the feet will soon follow”. Artinya, jalan awal untuk mengatasi kesulitan sosial bukan karena kemampuan fisik (physical body) tetapi oleh seberapa besar harapan positip kita. Banyak konflik terjadi di sekitar kita karena ruang berpikir kita terkerucut ke titik nol, akibatnya kekerasan fisik mudah tersulut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, marilah kita membumikan gaya hidup pygmalion, kapan dan di mana saja kita berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, peminat masalah psikologi sosial, staf Televisi TBN, tinggal di Manila.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-6115850812865618574?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/6115850812865618574/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=6115850812865618574' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/6115850812865618574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/6115850812865618574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/06/orkes-sakit-hati.html' title='&quot;ORKES SAKIT HATI&quot;'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6icBxXKqI/AAAAAAAAANs/PfstmgDLiTM/s72-c/192784908.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-3080241011681028078</id><published>2008-06-04T02:54:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T22:12:57.802-07:00</updated><title type='text'>10 KALIMAT BIJAK</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SEZn1YiVblI/AAAAAAAAAMM/rRYEl6bE5M8/s1600-h/logo.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207964185917746770" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 172px; CURSOR: hand; HEIGHT: 174px" height="100" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SEZn1YiVblI/AAAAAAAAAMM/rRYEl6bE5M8/s400/logo.gif" width="141" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;1.&lt;span style="font-size:180%;"&gt; &lt;strong&gt;U&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;ang bukan segalanya.&lt;br /&gt;Masih ada Mastercard dan Visa. [intinya bsa ngutang hehehe…]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kita seharusnya menyukai binatang.&lt;br /&gt;Mereka rasanya lezat. [sory ya buat yg vegetarian.. ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hematlah air.&lt;br /&gt;Mandilah di bawah shower bersama pasangan kita. [khusus yang udah sah&lt;br /&gt;doank..]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Di belakang setiap pria sukses ada seorang wanita&lt;br /&gt;hebat.&lt;br /&gt;Di belakang setiap pria yang tidak sukses ada dua. [hmm…. Emang&lt;br /&gt;biasanya gtu kann??]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Cintailah tetangga.&lt;br /&gt;Tetapi jangan sampai tertangkap basah. [halah…]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Orang bijaksana tidak menikah.&lt;br /&gt;Setelah menikah mereka menjadi bijak sana dan bijak&lt;br /&gt;sini. [hahaha….]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Cinta itu photogenic.&lt;br /&gt;Dia memerlukan tempat gelap untuk berkembang. [ooppss.. no comment]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pakaian itu adalah pagar pelindung.&lt;br /&gt;Pagar seharusnya melindungi tanpa menghalangi&lt;br /&gt;pemandangan yang indah. [pliss dehh…]&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6kOfOPjFI/AAAAAAAAAN8/ydyZfofOu9U/s1600-h/2987029171.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228296786230086738" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 181px; CURSOR: hand; HEIGHT: 218px" height="140" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SI6kOfOPjFI/AAAAAAAAAN8/ydyZfofOu9U/s400/2987029171.jpg" width="181" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;9. Semakin banyak belajar, semakin banyak yang kita&lt;br /&gt;tahu.&lt;br /&gt;Semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak yang kita&lt;br /&gt;lupa.&lt;br /&gt;Semakin banyak yang kita lupa, semakin sedikit yang&lt;br /&gt;kita tahu.&lt;br /&gt;Jadi kenapa kita sibuk belajar ? [hihihihi… so??]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Masa depan tergantung pada impian kamu.&lt;br /&gt;Maka pergilah tidur saja sekarang !&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-3080241011681028078?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/3080241011681028078/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=3080241011681028078' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/3080241011681028078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/3080241011681028078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/06/10-kalimat-bijak.html' title='10 KALIMAT BIJAK'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SEZn1YiVblI/AAAAAAAAAMM/rRYEl6bE5M8/s72-c/logo.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-8860463111742056802</id><published>2008-05-24T20:09:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T22:14:42.061-07:00</updated><title type='text'>“LAMPU KUNING” PILKADA NTT</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SEZoPsyY6nI/AAAAAAAAAMU/Z97dpkJ_hco/s1600-h/373437562.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207964638030391922" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 214px; CURSOR: hand; HEIGHT: 193px" height="145" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SEZoPsyY6nI/AAAAAAAAAMU/Z97dpkJ_hco/s400/373437562.jpg" width="190" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;atu hati, satu harapan, satu doa kecil warga NTT, baik yang ada di luar, maupun di dalam daerah, ataupun di mana saja mereka berada, mendambakan pilgub NTT kali ini, dengan sistem demokrasi langsung (direct democracy): berjalan aman, lancar, damai, khikdmat dan sukses. Ini tidak sekadar doa kosong, tapi tersembul dari keringkihan azap dan sengsara rakyat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, hendak apa dikata. Baru tahap pengverifikasian paket cagub saja, kita sudah gagap dengan konflik. Bahkan, ditenggarai jadwal pilgub NTT akan diundur tanpa jelas. Ini baru babak awal. Masuk akal, kalau kita gelisah. Apalagi, jelang hari kampanye - pencoblosan - saat pengumuman hasil - pasti bakal lebih rumit. Terus terang, “lampu kuning” sedang menantang mata hati kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu kuning itu adalah awasan imperatif moral. Pilkada akan kehilangan ikhtiarnya, jika tidak memeluk kesengsaraan rakyat. Rakyat kita sudah dijejali oleh banyak penderitaan: lapar, miskin, dungu, sakitan, bosan hidup bahkan frustrasi. Harga BBM naik dan diikuti fluktuasi harga sembako mencekik leher. Rasakan kegetiran rakyat ini. Oleh karena itu, kita tidak perlu bebani lagi rakyat dengan konflik pilkada. Jangan bikin rakyat tambah susah dan sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas kesengsaran tak bertepi itulah, rakyat tak sabar menanti pemimpin baru. Pemimpin yang bisa mengangkat rakyat dari kubangan kesengsaraan menuju gerbang kesejahteraan dan kemakmuran. Lagi-lagi bukan konflik. Angan-angan rakyat itu sederhana. Sesederhana hidup yang mereka lakoni. Mereka hanya butuh harga garam, beras, minyak tanah, pupuk, minyak goreng murah dan bisa naik bemo jual sayur dan ubi di pasar. Itu sudah cukup bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih salut lagi. Kalau anak-anak bisa disekolahkan gratis. Ibu-ibu hamil bisa bersalin di rumah sakit tanpa pungutan biaya. Anak-anak kurang gizi diobati gratis. Inilah impian mereka. Impian di balik triumphalistik suksesi pilkada. Jadi, bukan sekadar gelar ritual estafet pemimpin, apalagi syarat dengan konflik. Asal tahu, rakyat cuma butuh pemimpin idola, yang bisa melucuti baju hina kemiskinan dan kesengsaraannya dengan baju baru yang bersih, sehat dan layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya perlu dingat, pinjam istilah Tony Kleden (wartawan PK), pilkada itu bukan euforia pilih NTT Idol, seperti pentas cengengan Indonesian Idol. Di mana idola dideterminasi oleh seberapa banyaknya SMS, seheboh apanya pekikan histeris, seenergik apa memengaruhi massa. Atau, sekadar atraksi circus, yang lebih banyak menebar pesona dan jenaka daripada kesiapan matang untuk ditantang dan menjawabi masalah rakyat kecil yang serba kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleksitas penderitaan rakyat sejatinya adalah “par excellent” (the truest) hakikat pilkada. Derita rakyat sebagai “peta” yang mengarahkan dan menuntun, bagaimana kita semestinya memaknai pilkada ini. Karena itu, siapa saja baik pemimpin incubent, kontestan, KPUD, panwaslu, polisi maupun rakyat itu sendiri, sebaiknya bersinergi seoptimal mungkin mencegah konflik (horisontal maupun vertikal), yang sama sekali tidak memberi nilai plus kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu mengandaikan, kita semua rela berjalan di atas roadmap yang sama, yaitu ikuti aturan main pilkada yang sudah ditetapkan. Jangan dikurangi, bukan pula ditambah-tambah. Apalagi pemilihan cagub kali ini agak pelik, sebab digelar demokrasi langsung dari desa ke desa dan kota ke kota. Betapa mahal taruhannya demokrasi langsung ini jika tanpa persiapan maksimal dan pemikiran bening. Kalau tidak, konflik bakal datang pergi melilit proses pilkada ini berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik mulai terpecah ketika orang atau kelompok mengusung peta sendiri–sendiri (baca: self-interest) dalam pilkada. Apa yang dipikirkan aku. Apa yang didoakan kami. Apa yang diimpikan aku. Apa yang diingat kami. Lalu, ruang refleksivitas untuk rakyatnya di mana? Artinya, biar kita pilih seribu satu kali pemimpin dalam setahun nihil makna, sama saja membuang garam ke laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja reaksi tutup mulut KPUD NTT, setelah ada aksi demo dari pendukung paket cagub yang tidak lulus tahap verifikasi. Mengapa ada konspirasi “tutup mulut” kalau apa yang ditetapkan KPU berlaku jujur, adil, transparan dan sesuai dengan aturan yang berlaku? Sebaliknya, mengapa pendukung paket cagub yang dinyatakan tidak lulus verifikasi KPU, masih nekad menuntut keadilan? Apa yang salah kebijakan KPUD NTT?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis bukan ingin menyalahi siapa-siapa. Sekadar menyadarkan kita betapa ongkos demokrasi mahal kalau berjalan menurut peta sendiri. Rakyat bisa terbelah oleh kepentingan politisi. Ujung-ujung dari tindakan anorma ini adalah rakyat sendiri menjadi korban yang menyayatkan. Kesejahteraan dan keadilan sosial yang sudah lama diimpikan semakin jauh oleh prahara konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar apa yang dikatakan DR. Budi Kleden, bahwa susahnya melahirkan pemimpin sama seperti kesusahan bunda melahirkan anak. Adalah celaka besar jika orang tidak merasa risih dengan kata-kata bijak ini. Rakyat sudah kehabisan kata. Tinggal bagaimana nurani para politisi kita menjawab. Armstrong (2006) katakan zaman jahiliah sekarang, yang penuh prahara, pertikaian, konflik, kehancuran nilai dan keteladanan, hanya bisa ditebusi dengan kepemimpinan profetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan profetik itu bersikap jujur, adil, bijaksana, transparan dan selalu pro rakyat kecil. Spiritualitas kepemimpinan profetik ini merupakan corong demokrasi. Cerminan kepemimpinan: dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun, apa yang dikecap oleh rakyat selama ini, pengartian demokrasi, “hanya sebatas dari rakyat, oleh rakyat tapi bukan untuk rakyat”. Lihat sendiri hasilnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Rakyat semakin bodoh dan yang kaya semakin pintar. Rakyat semakin sengsara, yang pintar semakin pintar membahagiakan hidup. Rakyat protes BBM naik, pemimpin cuma duduk manis pangku tangan dan pada saatnya palu diketuk, BBM mesti dinaik. Lagi-lagi tidak untuk rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, maka perlu dipertanyakan untuk apakah kita menyelengarakan pilkada jika hasilnya tidak menguntungkan rakyat? Berapa besar dana dikucur dari keringat rakyat untuk kontestasi pilkada ini. Berapa banyak energi rakyat tersedot untuk penggelaran pilkada ini? Kalau akhirnya dibayar dengan ketidakadaan perubahan dalam situasi riil masyarakat akar rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, rakyat telah kuras energi, sibuk pilih pemimpinnya. Para bapak tinggalkan bajak sawah, rela lepaskan iris tuak berhari-hari. Para ibu gantungkan periuk, tidak lagi jual sayur ke pasar, hanya ingin dengar kampanye calon pemimpin. Rakyat harus berbaris antrean mencoblos pemimpin pujaan sepanjang hari. Belum lagi, kalau rakyat diaduk-aduk oleh konflik politisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah semua bayaran yang mesti dipikul oleh rakyat? Pertanyaan ini menjadi ruang refleksi yang mesti tersimpan rapih di pojok hati: KPU, panwas, polisi, DPR, semua pemimpin termasuk cagub NTT sekarang yang siap bertarung dalam pilgub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, pilkada bukan ditolak tetapi semestinya pilkada itu memberi makna signifikan kepada kepentingan rakyat. Bagaimanapun kita butuh seorang pemimpin. Karena, kita susah bayangkan masyarakat tanpa pemimpin sama seperti sebuah hutan rimba yang disesaki harimau liar-ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pilgub NTT kali ini kita harapkan agar memosisikan penderitaan rakyat di atas segala-galanya. Penderitaan rakyat mesti menjadi concern bersama, yang harus kita eksekusi bersama bukan menciptakan konflik. Konflik awal pilgub NTT bukan berarti kita sudah gagal segala-galanya. Konflik awal itu hanya menjadi “lampu kuning” untuk warga NTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu kuning itu bisa saja berubah. Entahkah menjadi “lampu merah” yang sangat membahayakan atau bisa saja berubah menjadi “lampau hijau” yang penuh daya elan vital membangkitkan NTT. Semuanya, tergantung dan kembali kepada pikiran dan mata hati kita yang bening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Alumnus STFK Ledalero, kini staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-8860463111742056802?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/8860463111742056802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=8860463111742056802' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/8860463111742056802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/8860463111742056802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/lampu-kuning-pilkada-ntt.html' title='“LAMPU KUNING” PILKADA NTT'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SEZoPsyY6nI/AAAAAAAAAMU/Z97dpkJ_hco/s72-c/373437562.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-7952535736749946166</id><published>2008-05-19T22:03:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T22:17:29.754-07:00</updated><title type='text'>APA ITU CINTA?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SDJh6wBhRpI/AAAAAAAAAJ8/O4F508cfm54/s1600-h/an.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202328181517928082" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 208px; CURSOR: hand; HEIGHT: 195px" height="145" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SDJh6wBhRpI/AAAAAAAAAJ8/O4F508cfm54/s320/an.jpg" width="124" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;W&lt;/strong&gt;hat Does Love Mean to Children?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'When my grandmother got arthritis, she couldn't bend over and paint&lt;br /&gt;her toenails anymore.&lt;br /&gt;So my grandfather does it for her all the time, even when his hands&lt;br /&gt;got arthritis too.&lt;br /&gt;That's love.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rebecca- age 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------- ---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'When someone loves you, the way they say your name is different.&lt;br /&gt;You just know that your name is safe in their mouth.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Billy - age 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------- -------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Love is when a girl puts on perfume and a boy puts on shaving&lt;br /&gt;cologne and they go out and smell each other.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karl - age 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------- -------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Love is when you go out to eat and give somebody most of your French&lt;br /&gt;fries without making them give you any of theirs.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chrissy - age 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------- --------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Love is what makes you smile when you're tired.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terri - age 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------- --------- -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Love is when my mommy makes coffee for my daddy and she takes a&lt;br /&gt;sipbefore giving it to him, to make sure the taste is OK.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danny - age 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------- -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Love is when you kiss all the time. Then when you get tired of&lt;br /&gt;kissing, you still want to be together and you talk more.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My Mommy and Daddy are like that. They look gross when they kiss'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emily - age 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------- -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Love is what's in the room with you at Christmas if you stop opening&lt;br /&gt;presents and listen.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobby - age 7 (Wow!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------- -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'If you want to learn to love better, you should start with a friend&lt;br /&gt;who you hate,'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikla - age 6 (we need a few million more Nikla's on this planet)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Love is when you tell a guy you like his shirt, then he wears it&lt;br /&gt;everyday.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noelle - age 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------- ----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Love is like a little old woman and a little old man who are&lt;br /&gt;stillfriends even after they know each other so well.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tommy - age 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- ---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'During my piano recital, I was on a stage and I was scared. I looked&lt;br /&gt;at all the people watching me and saw my daddy waving and smiling. He&lt;br /&gt;was the only one doing that. I wasn't scared anymore.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cindy - age 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------- --&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'My mommy loves me more than anybody. You don't see anyone else&lt;br /&gt;kissing me to sleep at night.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Clare - age 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------- ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Love is when Mommy gives Daddy the best piece of chicken.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elaine-age 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Love is when Mommy sees Daddy smelly and sweaty and still says he is&lt;br /&gt;handsomer than Robert Redford.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chris - age 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- ---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Love is when your puppy licks your face even after you left him&lt;br /&gt;alone all day.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mary Ann - age 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'I know my older sister loves me because she gives me all her&lt;br /&gt;oldclothes and has to go out and buy new ones.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lauren - age 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'When you love somebody, your eyelashes go up and down and little&lt;br /&gt;starscome out of you.' (what an image)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karen - age 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Love is when Mommy sees Daddy on the toilet and she doesn't think&lt;br /&gt;it's gross.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mark - age 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'You really shouldn't say 'I love you' unless you mean it. But if you&lt;br /&gt;mean it, you should say it a lot. People forget.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jessica - age 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The winner was a four year old child whose next door neighbor was an&lt;br /&gt;elderly gentleman who had recently lost his wife.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upon seeing the man cry, the little boy went into the old gentleman's&lt;br /&gt;yard, climbed onto his lap, and just sat there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When his Mother asked what he had said to the neighbor, the little&lt;br /&gt;boy said,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Nothing, I just helped him cry'&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-7952535736749946166?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/7952535736749946166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=7952535736749946166' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/7952535736749946166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/7952535736749946166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/apa-itu-cinta.html' title='APA ITU CINTA?'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SDJh6wBhRpI/AAAAAAAAAJ8/O4F508cfm54/s72-c/an.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-624695726700773235</id><published>2008-05-13T00:37:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:24:17.875-07:00</updated><title type='text'>DOA SEORANG IBU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SDaVMB1OpnI/AAAAAAAAALU/6yylCyeeXHM/s1600-h/P1010050.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203510453355849330" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SDaVMB1OpnI/AAAAAAAAALU/6yylCyeeXHM/s320/P1010050.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;I &lt;/strong&gt;still remember the first time when I left my daughter (my only child then) when I went to a Retreat for 3 days and 2 nights somewhere in Silang Cavite in 1997...I don't know how could I ever get to my sleep without her by my side...She was only 3 years old at that time. I'm so lonely and quite worried that she may cry and look for me when I'm gone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;When I left her in 1998 to look for work overseas, I couldn't imagine how will I carry the loneliness now that we're miles and miles away from each other. I'm really so sad when I left her that day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;As a mother, I always keep my young children on my sight. I never ever let them go alone or walk alone without my hands holding them especially if we're in crowded and public places.&lt;br /&gt;Maybe, they'll say that I'm quite over protected with my children but for me, I just love my children the way I love my own body...They are part of my body and of my heart and if they're far from me,it seems part of my limbs are missing too...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;When I reached the foreign land, I'm so happy 'cause I'm already with my husband who went there ahead of me. But I'm also so sad because of the absence of our 4 year old daughter.&lt;br /&gt;I always cry whenever I think of her, especially during the night before I went to sleep. I always remember those days when we're still together. Each night, before we close our eyes and after we prayed, we're going to kiss each other on the forehead, down to the nose, cheeks, lips, ears and chin and then we're going to hug each other so tight and will say I love you...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Her daddy is away since she was 2 years old but I always tell some stories about her father so that she's not going to forget about him. I always let her kiss her dad's picture and ask her to bid goodnite as well. They're so close with each other too when my husband was still with us in the Philippines, that's why I don't want it to fade away 'though he is far from us.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sometimes, even during meals, I'll cry so suddenly if my daughter will run through my mind. It's hard for me to swallow my food 'cause my heart is really in pain.&lt;br /&gt;I really wish and pray that my family could be whole and together again someday...but because of our situation as a migrant worker who just started a new life in foreign land, it is quite difficult to bring our small daughter with us here during that time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;My husband couldn't afford to see me crying all the time. He wanted us to be together as well, if not for permanent, atleast just for temporary is also fine.&lt;br /&gt;So in 1999, we brought our daughter here for a visit..it was a school vacation. She stayed with us from end of March until early June, I'm really so happy again when I saw my daughter when she arrived from Philippines.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;My husband fetched her at the airport, she was with my brother in-law. I am at work when she came to see me, she was very happy too. We kissed and hugged immediately upon seeing eachother, we really missed eachother during that time.&lt;br /&gt;The loneliness comes back when it is time for her to go back home but to ease the pain of being away from our daughter, we just let her come here on every vacation. It was every year until the year of 2001 came. We tried to apply for a dependant visa for her so that she can come with us all the time and got an education too while we're working here...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SClGnABhRoI/AAAAAAAAAJw/wS42rPfHUPc/s1600-h/495799050.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199764880611165826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="145" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SClGnABhRoI/AAAAAAAAAJw/wS42rPfHUPc/s320/495799050.jpg" width="157" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But it was unsuccessful, the salary required is not sufficient so it was denied...when I read the letter upon receiving it from the immigration, I really cried infront of the officer. My heart really broke and it was really a terrible painful moment for me as a mother. We just want to bring our child but the policy is so strict.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;In 2002, I delivered to my second child here in abroad. We got a boy at this time and because he was born here, there's no problem for us if we want him to stay with us. They can give him a dependant visa as long that my employer is going to support us...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;In that year, my husband's contract was renewed so his salary was upgraded too and when we applied for dependant visa for our son, it was immediately approved. I'm so happy that my son can stay with us while we're working here but still, the family is not complete because my daughter can only come here for a short visit visa as she wasn't given the dependant's visa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;But when she came here in 2004, we tried to apply a dependant visa again for her because our salary and contract has been renewed and upgraded so we might got a chance that we'll be approved this time...And yes, through constant prayers, our wish was granted...We finally took our daughter with us here too and we're now a happy family.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;As an OFW mother, I'm really thankful that GOD gave me a chance to be with my children while working overseas. I know that there are plenty of mothers who couldn't have a chance to bring their children with them while working as an OFW, that's why I feel so great that I'm among the lucky one.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;I think that GOD is really granting my prayers and wishes. When I was young, 'though a poor child, I never ever think of becoming rich, I just longed for a simple and a happy family of my own. That's my only and true happiness even before, now although it's quite expensive and we couldn't save much at the bank while my children are both studying overseas, it is just fine for us as long that we're all happy together...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copied from somewhere!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-624695726700773235?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/624695726700773235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=624695726700773235' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/624695726700773235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/624695726700773235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/doa-seorang-ibu.html' title='DOA SEORANG IBU'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SDaVMB1OpnI/AAAAAAAAALU/6yylCyeeXHM/s72-c/P1010050.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-1746048090651577619</id><published>2008-05-13T00:03:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:24:52.310-07:00</updated><title type='text'>Definisi Ciuman</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCk9_gBhRnI/AAAAAAAAAJo/cabo3tZN_tg/s1600-h/4067116443.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199755405913310834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 175px; CURSOR: hand; HEIGHT: 191px" height="129" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCk9_gBhRnI/AAAAAAAAAJo/cabo3tZN_tg/s320/4067116443.jpg" width="130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;I&lt;/strong&gt;lmu Fisika&lt;br /&gt;Ciuman adalah gaya tarik menarik antara dua mulut dengan jarak antara satu&lt;br /&gt;titik dengan titik yang lain sama dengan nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Kimia&lt;br /&gt;Ciuman adalah reaksi akibat interaksi dari senyawa yang dikeluarkan oleh dua&lt;br /&gt;hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Mikrobiologi&lt;br /&gt;Ciuman adalah pertukaran bakteri uniseksual di dalam air liur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Biologi&lt;br /&gt;Ciuman adalah menyatunya dua otot orbicularis oris dalam keadaan kontraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Ekonomi&lt;br /&gt;Ciuman adalah sesuatu di mana permintaan lebih besar drpd penawaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Statistik&lt;br /&gt;Ciuman adalah kejadian yang peluangnya bisa sangat tergantung dari angka&lt;br /&gt;statistik berikut: 36-24-36.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Teknik&lt;br /&gt;Ciuman adalah rekayasa penyatuan antara 2 buah lorong yang berkesinambungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Agama&lt;br /&gt;Ciuman adalah perbuatan yang boleh dilakukan dengan melalui pernikahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Masakan&lt;br /&gt;Ciuman adalah bentuk pujian dari suami terhadap istrinya karena pintar&lt;br /&gt;memasak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Sumber Daya Manusia&lt;br /&gt;Ciuman adalah SP-2 (Surat Peringatan Kedua) apabila dilakukan di ruang kerja&lt;br /&gt;dan ketahuan (kamu ketahuan...ciuman lagi...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming)&lt;br /&gt;Ciuman adalah sebuah kemampuan &amp;amp; kehebatan dalam melakukan "Rapport"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Hypnotis &amp;amp; Hypnotherapy&lt;br /&gt;Ciuman adalah kemampuan untuk membuat lawan berada dalam kondisi Theta dan&lt;br /&gt;menerima pesan kita (affirmative)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Kesehatan&lt;br /&gt;Ciuman adalah kekurangan vitamin yang harus diberikan dalam jangka waktu&lt;br /&gt;tertentu (Vitamin Cium)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Dagang&lt;br /&gt;Ciuman adalah kewajiban membayar Rp.25.000 dan apabila dilanjutkan dengan&lt;br /&gt;service lainnya akan bertambah menjadi minimal Rp. 300.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Hukum&lt;br /&gt;Ciuman adalah hak asasi manusia dan apabila dilakukan dengan paksaan akan&lt;br /&gt;menjadi "BATAL DEMI HUKUM"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Kepolisian&lt;br /&gt;Ciuman adalah kesempatan untuk memasuki Hotel Prodeo apabila terjadi delik&lt;br /&gt;aduan dari korban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Seks&lt;br /&gt;Ciuman adalah......kok cuman cium doang ....? Bodo amat sih........&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-1746048090651577619?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/1746048090651577619/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=1746048090651577619' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/1746048090651577619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/1746048090651577619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/definisi-ciuman.html' title='Definisi Ciuman'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCk9_gBhRnI/AAAAAAAAAJo/cabo3tZN_tg/s72-c/4067116443.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-2906748288520241750</id><published>2008-05-12T05:45:00.001-07:00</published><updated>2008-07-29T02:21:40.623-07:00</updated><title type='text'>RENUNGAN: APA YANG KAMU PERBINCANGKAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCg8mQBhRlI/AAAAAAAAAI8/rQ5Ue3Z6mtA/s1600-h/3206381194.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199472397633275474" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 179px; CURSOR: hand; HEIGHT: 183px" height="183" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCg8mQBhRlI/AAAAAAAAAI8/rQ5Ue3Z6mtA/s320/3206381194.jpg" width="117" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Fidel Hardjo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Yesus bersama muridnya menikmati keindahan panorama di atas bukit. Kesejukan udara dan keindahan alam di atas bukit menggoda hati para murid untuk tinggal dan mendirikan kemah di atas bukit, kaki mereka enggan untuk melangkah. Lalu Yesus mengajak para muridnya untuk turun ke tempat yang lebih rendah, turun ke dataran. Turunlah mereka dari bukit melewati lembah yang berkelok-kelok. Setibanya mereka tiba di dataran. Orang banyak menanti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dataran inilah, yesus menyembuhkan banyak orang dan di dataran ini pula para murid tidak berhasil meyembuhkan orang sakit. Suara protes terdengar dari orang banyak, kenapa para muridnya tidak mampu menyembuhkan orang sakit. Pengalaman kegembiraan di atas bukit masih terukir indah dan kini pengalaman kegagalan di dataran membuat para murid kecewa dan tak bersemangat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah situasi patah semangat, tiba-tiba Yesus mengajak para muridnya untuk pergi ke Galilea. Karena guru yang mengajak maka berangkatlah mereka ke Galilea. Di tengah jalan Yesus mengatakan kepada muridnya banhwa anak manusia tidak akan lama lagi diserahkan ke tangan manusia, dibunuh lalu mati tetapi pada hari ketiga hidup lagi. Para murid merasa bingung apa maksud kata Yesus ini. Lupakan persoalan ini, para muridnya justru berpikir siapa yang terbesar di antara mereka kalau Yesus tidak ada di tengah-tengah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang terbesar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap mereka memiliki peluang yang sama, status yang sama yaitu murid Yesus. Memiliki peluang yang sama tergoda melihat diri dan mengidealkan sendiri. Siapakah yang terbesar ? Merupakan topik menarik bagi mereka. Konsentrasi, perhatian, hati mereka sudah menjauh dari Yesus, Yesus bukan lagi pilihan mereka untuk didengar, menjauah dari Yesus lebih baik daripada takut kehilangan kesempatan untuk menjadi yang terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin hangat perbincangan di antara mereka siapa yang terbesar, semakin besar peluang hati mereka tersingkir dan terpinggir dari hati seorang guru. Yesus memilih diam, ditengah perbicangan para muridnya. Perbincangan mereka belum berhenti, tiba-tiba Galilea ada di depan mata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus mengajak para muridnya untuk masuk di Kapernaum. Yesus ingin para muridnya untuk membeningkan pikiran dan hati mereka, Yesus mengajak para muridnya untuk melihat dan menikmati cahaya kapernaum, cahaya yang membeningkan, cahaya yang memberi kekuatan tatkala kegelapan, kesulitan, kebingungan, kesibukan hidup dan perkara hidup. Kapernaum adalah tempat nostalgia bagi Yesus, sewaktu kecil, Yesus selalu berada di kapernaum dan sekian sering orangtuanya bingung, ke mana mereka harus mencari Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yesus mengatakan tidak tahukah kamu aku ada di rumah bapaku. Rumah bapa adalah kapernaum, dan Yesus adalah kapernaum baru, cahaya baru, dan kekuatan baru. Kini Yesus menginginkan para muridnya untuk mencintai kapernaum, mencintai yesus sebagai kapernaum baru, sebagai rumah bapa yang hidup, mencintai yesus lebih dari segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kapernaum, yesus bertanya kepada muridnya, apa yang kamu perbincangkan di tengah jalan tadi. Siapakah yang terbesar? Para muridnya diam. Lalu Yesus menggendong seorang anak kecil dan berbicara, barang siapa menerima “anak kecil ini”, ia menerima aku dan menerima bapa. Kali ini Yesus berbicara lewat kehadiran anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah yang lain, ketika Yesus memperbanyak roti, untuk lima ribu orang, anak kecil tampil sebagai penyelamat, di saat para murid bingung ketiadaan bekal. Masih kita ingat, ketika para murid ingin tinggal di bukit yang tinggi Yesus mengajak para muridnya untuk turun ke tempat yang rendah, tempat rendah merupakan ruang gerak anak kecil, masih kita ingat ketika yesus membasuh kaki para muridnya, ia mulai dari kaki, kaki merupakan wilayah yang mudah kotor, juga wilayah anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang terbesar? Sebelum yesus menjelaskan siapakah yang terbesar, yesus mengajar lebih dulu para muridnya, siapa yang terkecil. Yesus tahu bahwa para muridnya tidak ingin menjadi yang terkecil, terendah dan terkotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus adalah yang terkecil dan terendah serta terkotor. Ia dilahirkan di Nasaret tempat yang kecil, tempat yang kotor, tempat rendah. Yesus memilih tempat yang kecil, kotor dan rendah untuk mengangkat manusia menjadi anak Allah yang tinggi dan besar. Yesus memilih menjadi yang terkecil, terendah supaya manusia bisa mendekati Allah yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus memilih turun ke tempat rendah supaya dapat melayani kebutuhan dan kerinduan manusia akan keselamatan. Yesus memilih tinggal di tempat yang kotor supaya manusia menjadi anak Allah yang bersih, Yesus memilih menjadi anak kecil supaya manusia belajar memilki hati bersih seperti anak-anak, belajar bergantung pada Tuhan seperti anak menggantungkan segala sesuatu kepada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang kamu perbincangkan?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SDaW4B1OppI/AAAAAAAAALk/mreFTwSjRCM/s1600-h/P1010072.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203512308781721234" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SDaW4B1OppI/AAAAAAAAALk/mreFTwSjRCM/s320/P1010072.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus kembali betanya kepada anda, apa yang kamu perbincangkan? Pertanyaan ini seakan-akan mengejar anda takkala anda sekarang ada di depan komputer, sedang sakit, lagi senang, sedih, mungkin sedang mengadakan perjalanan, ditengah keramaian, di gereja, atau lagi masak, boleh jadi lagi baring di tempat tidur, atau bahkan lagi ruang penjara menanti hari-hari kematian. Yesus tetap mengajukan pertanyaan yang sama, apa yang kamu perbincangkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus ingin menjadi bagian dari apa yang anda rasakan sekarang. Yesus ingin mengalir dalam peristiwa hidup anda sekecil apa pun masalah anda. Yesus memilih tempat yang rendah supaya anda mudah mendekati dan mengertinya. Yesus ingin menjadi kapernaum bagi anda, rumah yang bercahaya tatkala anda merasa asing dengan situasi anda bahkan merasa benci karena kegagalan dan problema hidup anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus menjadi anak kecil yang tulus dan setia kepada anda takkala anda dikecewakan oleh sahabat atau orang dekat anda. Yesus menjadikan anda, orang yang paling istimewah di hatinya takkala anda merasa dihina dan disingkirkan oleh orang-orang sekitar anda.Yesus mendekati anda takkala orang semakin jauh. Yesus ingin manjadi jawaban atas cita-cita dan mimpi anda.&lt;br /&gt;Aneka peristiwa hidup kita adalah peristiwa yang serupa dengan apa yang dialami oleh para murid di tengah jalan. Banyak persoalan dan masalah sedang kita pikul, yang kadang membuat anda menjauh dari yesus. Ada banyak kegembiraan dan pesta hidup yang kadang membuat anda lupa yesus. Tapi yesus tidak pernah berubah sekalipun dalam situasi apapun yang anda sedang alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus hanya bertanya, apa yang sedang kamu perbincangkan, apa yang kamu alami, apa yang kamu pikirkan? Apa masalah anda? Yesus mengajak anda seperti Yesus mengajak para muridnya untuk melihat cahaya kapernaum, memasuki kapernaum untuk membeningkan pikiran dan hati anda. Pengalaman melihat cahaya kapernaum akan membawa anda mengalami penglaman kedekatan yesus. Kedekatan untuk mendengar yesus dan menjadi cahaya kapernaum bagi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman kedekatan dengan Yesus tidak cukup melihat cahaya kapernaum, tapi yesus masih menuntut anda untuk mencintai anak kecil, mencintai tempat rendah, tempat kotor sebab dari sanalah akan mengerti perkara besar, mengerti siapa yang terbesar dan siapa yang bersih. Setelah anda mengalami pengalaman melihat dan menikmati cahaya kapernaum, dan tugas anda adalah diminta untuk menjadi cahaya kapernaum bagi orang lain, cahaya yang menuntun orang untuk mengalami pengalaman yang sama, pengalaman kedekatan dengan yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah anda mengalami pengalaman kebesaran menjadi yang terkecil, terendah dan terkotor, yesus meminta anda menjadi anak kecil, menjadi figure pesan bahasa dan kata hidup Allah bagi sesama. Menjadi anak kecil yang mengekpresikan secara sempurna pengalaman kelembutan dan kesempurnaan cinta Allah kepada sesama. Semoga !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Renungan ini pernah disiarkan di ruang studio radio Veritas Asia Fairview Quezon City Manila Pilipina]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-2906748288520241750?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/2906748288520241750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=2906748288520241750' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/2906748288520241750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/2906748288520241750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/renungan-apa-yang-kamu-perbincangkan.html' title='RENUNGAN: APA YANG KAMU PERBINCANGKAN'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCg8mQBhRlI/AAAAAAAAAI8/rQ5Ue3Z6mtA/s72-c/3206381194.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-8802534601427396623</id><published>2008-05-12T05:17:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:22:19.238-07:00</updated><title type='text'>PIDATO MARTIN LUTHER KING</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCg2EABhRjI/AAAAAAAAAIs/cTMdJDPnpPA/s1600-h/2361917193.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199465212152989234" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 177px; CURSOR: hand; HEIGHT: 187px" height="140" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCg2EABhRjI/AAAAAAAAAIs/cTMdJDPnpPA/s200/2361917193.jpg" width="189" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;I have a dream that one day on the red hills of Georgia the sons of former slaves and the sons of former slaveowners will be able to sit down together at a table of brotherhood.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;I have a dream that one day even the state of Mississippi, a desert state, sweltering with the heat of injustice and oppression, will be transformed into an oasis of freedom and justice.&lt;br /&gt;I have a dream that my four children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;I have a dream today. I have a dream that one day the state of Alabama, whose governor’s lips are presently dripping with the words of interposition and nullification, will be transformed into a situation where little black boys and black girls will be able to join hands with little white boys and white girls and walk together as sisters and brothers.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;I have a dream today. I have a dream that one day every valley shall be exalted, every hill and mountain shall be made low, the rough places will be made plain, and the crooked places will be made straight, and the glory of the Lord shall be revealed, and all flesh shall see it together.&lt;br /&gt;This is our hope. This is the faith with which I return to the South. With this faith we will be able to hew out of the mountain of despair a stone of hope. With this faith we will be able to transform the jangling discords of our nation into a beautiful symphony of brotherhood.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;With this faith we will be able to work together, to pray together, to struggle together, to go to jail together, to stand up for freedom together, knowing that we will be free one day.This will be the day when all of God’s children will be able to sing with a new meaning, “My country, ’tis of thee, sweet land of liberty, of thee I sing. Land where my fathers died, land of the pilgrim’s pride, from every mountainside, let freedom ring.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;And if America is to be a great nation this must become true. So let freedom ring from the prodigious hilltops of New Hampshire.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Let freedom ring from the mighty mountains of New York.&lt;br /&gt;Let freedom ring from the heightening Alleghenies of Pennsylvania!&lt;br /&gt;Let freedom ring from the snowcapped Rockies of Colorado!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Let freedom ring from the curvaceous peaks of California!But not only that;&lt;br /&gt;let freedom ring from Stone Mountain of Georgia!&lt;br /&gt;Let freedom ring from Lookout Mountain of Tennessee!&lt;br /&gt;Let freedom ring from every hill and every molehill of Mississippi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;From every mountainside, let freedom ring. When we let freedom ring, when we let it ring from every village and every hamlet, from every state and every city, we will be able to speed up that day when all of God’s children, black men and white men, Jews and Gentiles, Protestants and Catholics, will be able to join hands and sing in the words of the old Negro spiritual, “Free at last! free at last! thank God Almighty, we are free at last!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-8802534601427396623?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/8802534601427396623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=8802534601427396623' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/8802534601427396623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/8802534601427396623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/pidato-martin-luther-king.html' title='PIDATO MARTIN LUTHER KING'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCg2EABhRjI/AAAAAAAAAIs/cTMdJDPnpPA/s72-c/2361917193.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-1156023944965758630</id><published>2008-05-11T05:46:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T23:45:00.195-07:00</updated><title type='text'>Why I Live in the Philippines</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCbt3wBhRhI/AAAAAAAAAIc/tIu7p11fnzk/s1600-h/2260212366_53ef3d1c43.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199104361885681170" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 249px; CURSOR: hand; HEIGHT: 222px" height="182" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCbt3wBhRhI/AAAAAAAAAIc/tIu7p11fnzk/s200/2260212366_53ef3d1c43.jpg" width="200" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;1. Every street has a basketball&lt;br /&gt;court.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Even doctors, lawyers and engineers&lt;br /&gt;are unemployed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Doctors study to become nurses for&lt;br /&gt;employment abroad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Students pay more money than they&lt;br /&gt;will earn afterwards.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. School is considered the second&lt;br /&gt;home and the mall considered the&lt;br /&gt;third.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Call-center employees earn more&lt;br /&gt;money than teachers and nurses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Everyone has his personal ghost&lt;br /&gt;story and superstition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Mountains like Makiling and Banahaw&lt;br /&gt;are considered holy places.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Everything can be forged.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. All kinds of animals are edible.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Starbucks coffee is more expensive&lt;br /&gt;than gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Driving 4 kms can take as much as&lt;br /&gt;four hours.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCg2mgBhRkI/AAAAAAAAAI0/-5_Z-XFhel0/s1600-h/159112440.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199465804858476098" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 164px; CURSOR: hand; HEIGHT: 177px" height="145" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCg2mgBhRkI/AAAAAAAAAI0/-5_Z-XFhel0/s200/159112440.jpg" width="164" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;13. Flyovers bring you from the&lt;br /&gt;freeway to the side streets.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Crossing the street involves&lt;br /&gt;running for your dear life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. The personal computer is mainly&lt;br /&gt;used for games and Friendster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Where colonial mentality is&lt;br /&gt;dishonestly denied!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Where 4 a.m. is not even&lt;br /&gt;considered bedtime yet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. People can pay to defy the law.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Everything and everyone is&lt;br /&gt;spoofed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Where even the poverty-stricken&lt;br /&gt;get to wear Ralph Lauren and Tommy&lt;br /&gt;Hilfiger (peke)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. The honking of car horns is a way&lt;br /&gt;of life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Being called a bum is never&lt;br /&gt;offensive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Floodwaters take up more than 90&lt;br /&gt;percent of the streets during the&lt;br /&gt;rainy season.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Where everyone has a relative&lt;br /&gt;abroad who keeps them alive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Where wearing your national colors&lt;br /&gt;make you baduy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Where even the poverty-stricken&lt;br /&gt;have the latest cell phones. (GSM-&lt;br /&gt;galing sa magnanakaw)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Where insurance does not work.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Where water can only be classified&lt;br /&gt;as tap and dirty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. Clean water is for sale (35 pesos&lt;br /&gt;per gallon).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. Where the government makes the&lt;br /&gt;people pray for miracles. (Amen to&lt;br /&gt;that!)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-1156023944965758630?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/1156023944965758630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=1156023944965758630' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/1156023944965758630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/1156023944965758630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/why-i-live-in-philippines.html' title='Why I Live in the Philippines'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCbt3wBhRhI/AAAAAAAAAIc/tIu7p11fnzk/s72-c/2260212366_53ef3d1c43.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-9007063098263661177</id><published>2008-05-10T23:34:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T23:46:05.580-07:00</updated><title type='text'>ANALOGI DUA EKOR SAPI</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCbvdgBhRiI/AAAAAAAAAIk/Zl5PV86upsU/s1600-h/2452747570.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199106109937370658" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 223px; CURSOR: hand; HEIGHT: 166px" height="166" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCbvdgBhRiI/AAAAAAAAAIk/Zl5PV86upsU/s200/2452747570.jpg" width="130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;SOCIALISME&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;1 sapi kau berikan untuk tetanggamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;COMMUNISME&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;negara mengambil alih keduanya dan&lt;br /&gt;memberimu 2 kaleng susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FASCISME&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;negara mengambil alih keduanya dan&lt;br /&gt;menjual susu padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAZISM&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;negara mengambil keduanya dan menembakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRADITIONAL CAPITALISM&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi betina&lt;br /&gt;kau jual satu dan beli satu sapi jantan.&lt;br /&gt;ternakmu bertambah, dan ekonomi tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THE ANDERSEN MODEL&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi.&lt;br /&gt;kau cincang-cincang dua-duanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AN AMERICAN CORPORATION&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi.&lt;br /&gt;kau jual satu, dan satunya kau paksa&lt;br /&gt;untuk memproduksi susu sebanyak 4 sapi.&lt;br /&gt;kemudian, kau menyewa konsultan untuk&lt;br /&gt;menganalisa mengapa sapinya mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A FRENCH CORPORATION&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;kau turun ke jalan, menyusun massa ,&lt;br /&gt;memblokade jalanan, karena kau ingin punya&lt;br /&gt;3 sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A JAPANESE CORPORATION&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi.&lt;br /&gt;kau medesignnya ulang hingga bisa&lt;br /&gt;menghasilkan 20 kali lipat susu.&lt;br /&gt;kemudian kau buat profil kartun sapi&lt;br /&gt;pintar "Cowkimon" dan menjualnya ke seluruh&lt;br /&gt;dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A GERMAN CORPORATION&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;kau merekayasanya supaya bisa hidup&lt;br /&gt;lebih dari 100 tahun, makan cukup sekali&lt;br /&gt;sebulan,&lt;br /&gt;dan mereka bisa saling memerah susu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AN ITALIAN CORPORATION&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi, tapi kau tak tahu&lt;br /&gt;dimana mereka.&lt;br /&gt;kau putuskan untuk makan siang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A RUSSIAN CORPORATION&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;kau menghitungnya dan berandai bagaimana&lt;br /&gt;bilamana punya 5 sapi&lt;br /&gt;kau menghitungnya lagi dan berandai&lt;br /&gt;bagaimana bilamana punya 42 sapi&lt;br /&gt;kau menghitungnya lagi dan menemukan&lt;br /&gt;bahwa sapimu cuma dua.&lt;br /&gt;kau berhenti menghitung, lalu buka&lt;br /&gt;sebotol vodka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A SWISS CORPORATION&lt;br /&gt;Ada 5000 sapi. tak satupun adalah milikmu.&lt;br /&gt;kau mengenakan biaya administratif&lt;br /&gt;kepada pemiliknya untuk menyimpannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A CHINESE CORPORATION&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi.&lt;br /&gt;kau punya 300 orang untuk memerah susunya&lt;br /&gt;kau nyatakan bahwa tak ada pengangguran,&lt;br /&gt;dan nilai produksi susu tinggi.&lt;br /&gt;kau menangkap wartawan yang melaporkan&lt;br /&gt;kenyataanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AN INDIAN CORPORATION&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;kau sembah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BRITISH CORPORATION&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;dua-duanya sapi gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IRAQ CORPORATION&lt;br /&gt;semua orang berpikir kau punya banyak sapi&lt;br /&gt;kau bilang ke mereka kau cuma punya satu.&lt;br /&gt;tak ada yang percaya, maka mereka&lt;br /&gt;mengebom daerahmu dan menginvasi negaramu.&lt;br /&gt;kau masih tak punya sapi satupun, tapi&lt;br /&gt;setidaknya sekarang kau bagian dari&lt;br /&gt;demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NEW ZEALAND CORPORATION&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;sapi yang di kiri kelihatan sangat atraktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AUSTRALIAN CORPORATION&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi.&lt;br /&gt;bisnis kelihatanya sedang bagus.&lt;br /&gt;kau tutup kantor dan pergi mencari beer&lt;br /&gt;untuk merayakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDONESIAN CORPORATION&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;dua-duanya curian.&lt;br /&gt;lalu kau jual dua-duanya.&lt;br /&gt;kemudian kau simpan uangnya di acount&lt;br /&gt;non budgeter yang tak jelas.&lt;br /&gt;kemudian kau gunakan beberapa untuk&lt;br /&gt;mendanai kampanye partaimu&lt;br /&gt;tapi sebagaian besar kau simpan untuk&lt;br /&gt;anak cucumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAYSIAN CORPORATION&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;dua-duanya kau curi dari indonesia .&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-9007063098263661177?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/9007063098263661177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=9007063098263661177' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/9007063098263661177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/9007063098263661177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/analogi-dua-ekor-sapi.html' title='ANALOGI DUA EKOR SAPI'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCbvdgBhRiI/AAAAAAAAAIk/Zl5PV86upsU/s72-c/2452747570.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-7839428464670883800</id><published>2008-05-10T07:57:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T23:47:39.832-07:00</updated><title type='text'>SUFIAH YUSOF: JENIUS APANYA?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCW6FCw1O9I/AAAAAAAAAHQ/p8qnNq2pFMc/s1600-h/JESOF.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198765940672904146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCW6FCw1O9I/AAAAAAAAAHQ/p8qnNq2pFMc/s200/JESOF.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;S&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;aat ini dia baru umur 23 (lahir 1985 di Inggris, UK), 1 dekade lalu, ia menjadi contoh hidup dari program NEP Mahatir Muhammad, meski WN Inggris, dia dibiayai oleh pemerintah Malaysia 10 tahun lalu masuk Prep school St. Hilda, Oxford Pre-Uni, Inggris, dgn full scholarship dari Kerajaan Malaysia karena jenius dalam Math, setelah itu diterima di Universitas Oxford pada umur 16 bidang Math.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga menjadi role-model, berhubung ibunya kelahiran Muar, Johor, Mahatir yg terobsesi utk memajukan bangsa Melayu yg selama ini dianggap malas dan bodoh (fakta: tidak semua! Banyak yg rajin dan tdk manja) dengan selalu meng ekspos Sufiah yg jenius dan menjadi "Math-prodigy". Adiknya yg selisih 2-3 tahun juga sama jeniusnya dan juga dibiayai oleh pemerintah Malaysia, ...:" Ni otak anak Malaysia boleh..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun lalu, Sufiah kabur dari sekolah dan asramanya, mogok kuliah, menjadi pelayan internet cafe di hotel, sempat membuat polisi Inggris melakukan pencarian karena keluarganya mengklaim Sufiah diculik utk mencuri rahasia kejeniusannya, dia sempat kawin dgn pengacara magang (bule), lalu cerai setelah hidup bersama 13 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke2 saja dan masih berjilbab. Awal tahun ini,..jagad Melayu di Inggris maupun di Malaysia (dipelopori partai UMNO) heboh, Sufiah muncul dgn foto-foto diri nyaris bugil di internet yg mengiklankan diri sebagai pelacur ("prostitute"/ "Hooker", check/ search Google, entry "Sufiah Yusuf") dengan bayaran 'hanya' 130 Pounds/ jam, murah untuk ukuran Eropah Barat, foto2 seronok yg dikirim teman Malaysia (Mr. Tan) itu kini sudah dihapus dari blog. Bodynya aduhay, 'kan? Otak jenius, senyum ramah bersahabat khas mengundang simpati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, media di Malaysia (termasuk yg milik UMNO) memberitakan Miss Sufiah Yusuf secara berseri, keluarga nya pun diekspos habis, ayahnya seorg keturunan Pakistan adalah guru tutor sekaligus penemu "Hothousing" yg mengajarkan Math dgn metode belajar cepat, semacam Kumon. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Mr. Farook Yusof pernah divonis penjara krn penipuan kredit dan belakangan tersangkut kasus perundungan seks anak di bawah umur!! 2 anak itu tdk lain murid les Mathnya sendiri, serunya... alasan dia nyaris menggagahi si murid: "Saya berencana menciptakan Sufiah-sufiah yg lain"... (yg sama jenius maksudnya) dari gen unggulannya (sic!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melo-dramatik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen dalam UMNO prihatin dgn nasib Sufiah yg mahasiswa keturunan Malaysia jenius berubah menjadi pelacur, menteri pendidikan, Dato Sri Zahid Hamidi dan Deputy Mentri dari kantor PM, Dr. Mashita berencana terbang ke London membawa rombongan yg terdiri dari ustaz, pendidik, psikolog utk menyadarkan Sufiah dgn misi yg dinamakan : "Save Sufiah Programme" (inspired by SAVING PRIVATE RYAN Hollywood movie), tp batal setelah dicemooh/ ditertawakan rakyat Malaysia: "WN Britsih nak dibagi duit, rakyat Malaysia sendiri ramai yang lapar, macam mana? Kan dia jadi hooker on her own will?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, seorang Ustaz ternama To' Guru Trimizi Zainal, menggantikan Dr. Mashita Ibrahim membawa rombongan ke Inggris dgn misi yg sama tapi ditambah pengobatan mental, beliau sangat haqul yaqin, Sufiah tak mungkin senista ini, tapi setan lah yg bekerja di dalam dirinya. Ada semacam BLACK MAGIC yg merasuki diri Nona Sufiah. It's heart-breaking story.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-7839428464670883800?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/7839428464670883800/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=7839428464670883800' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/7839428464670883800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/7839428464670883800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/sufiah-yusof-jenius-apanya.html' title='SUFIAH YUSOF: JENIUS APANYA?'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCW6FCw1O9I/AAAAAAAAAHQ/p8qnNq2pFMc/s72-c/JESOF.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-7512336074743482263</id><published>2008-05-08T19:12:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T23:48:58.732-07:00</updated><title type='text'>PENGADILAN ATAS NAMA “PENDIDIKAN”</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCOz2cXiXhI/AAAAAAAAAFU/oWE6hoFOPPQ/s1600-h/3891575986.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198196142824906258" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 189px; CURSOR: hand; HEIGHT: 170px" height="128" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCOz2cXiXhI/AAAAAAAAAFU/oWE6hoFOPPQ/s200/3891575986.jpg" width="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Fidel Hardjo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita kelulusan SMU/SMK Indonesia sebentar lagi akan diumumkan. Ada aksi kecurangan tak sedikit buat kita "malu" sebagai bangsa besar. Sebentar lagi, pemandangan “air mata” dan histeris kegembiaraan sebagai pengadilan terakhir. Inilah pengadilan atas nama pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ada siswa yang lulus dan tak sedikit pula yang tidak lulus. Ada orangtua, guru dan kepala sekolah yang sedih dan ada pula yang bergembira-ria. Dua suasana kontras yang sulit disenyawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi siswa yang lulus tentunya mereka merasa bahagia. Orangtua, sekolah dan para guru pun turut berbangga. Hanya, muncul persoalan baru, mau diapakan setelah lulus? Di sini mulai “bingung”. Kuliah, cari kerja atau bantu orangtua, ataukah jadi penganggur? Pilihan serba pusing! Lain halnya, dengan nasib siswa yang tidak lulus. Air mata, frustrasi bahkan cipratan amarah dan ledakan kekesalan orangtua dan guru pun tak sepih. Lengkap sudah kefrustrasian mereka. Lalu, mau di ke manakan setelah ketidaklulusan? Mau lamar kerja, tapi tak ada ijasah di tangan. Mau ikut ujian ulang paket C tapi belum tentu lulus juga. Kalaupun lulus, mungkin saja orang katakan kasihan “diluluskan”. Pusing tiada duanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, inilah realitas pengadilan atas nama pendidikan di negeri kita. Ternyata, bukan hanya pihak siswa yang tidak lulus, yang dibikin pusing. Siswa yang lulus juga malah pusing. Kalau demikian, apalah artinya “sekolah”? Apakah ia sebatas pengadilan di atas awan-awan. Lalu, print out ijazah. Perkara habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia memang lagi “demam ijasah”. Tidak heran, sektor pasar kerja juga tertular demam ijasah. Apa saja serba butuh ijasah. Padahal, ijasah belum tentu menjamin kepintaran dan keahlihannya. Sama halnya, kalau ingin melanjutkan studi ke sekolah lanjutan atau ke perguruan tinggi. Tinggi rendahnya NEM sangat menentukan. Bahkan, menjadi bumerang untuk mengadili siswa akan bakal diterima atau ditolak. Apakah NEM sebagai harga mati untuk meneracakan kecerdasan siswa? Bagaimana nasib anak-anak yang NEM-nya tidak mencapai standar patokan itu. Apa arti kelulusan bagi mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa mereka “diluluskan”? Jika pada akhirnya, kelulusan mereka tak bisa tembus ke sekolah lanjutan. Hanya, karena NEM yang mereka raih lebih rendah dari apa yang ditargetkan oleh sekolah penerima. Bukankah, lebih baik kita berbangga dengan presentasi kelulusan rendah daripada presentasi tinggi tapi siswanya tidak banyak yang bisa tembus studi ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk apa kita mengagung-agungkan presentasi kelulusan 100 persen kalau realitasnya sesedih itu. Akhirnya, filosofi pendidikan yang kita rancang sendiri, justru membingungkan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan-akan presentasi lulus 100 persen adalah takaran absolut kesuksesan pendidikan. Gejala seperti ini akan langsung terlihat. Ada tendensi besar antarsekolah untuk membanding-banding. Sekolah kita masih lebih baik, lulus 80 persen dan sekolah lain merayap antara 60 persen atau 50 persen saja. Mutu sekolah pun mulai dikerucutkan atas dasar presentasi kelulusan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesionalisme guru juga dikerdilkan oleh tinggi rendahnya presentasi kelulusan. Hemat saya, kompetisi antarsekolah sah-sah saja. Sejauh intensi kompetensi itu membuat kita lebih profesional untuk menyatrategi dunia pendidikan ke arah yang lebih baik. Bukan sebaliknya demi prestasi, prestise dan previlese yang dangkal-dangkalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih prihatin lagi, justru kebanyakan sekolah negeri (walaupun ada juga beberapa sekolah swasta popular) yang bersikeras dengan kualifikasional pematokan NEM dalam periode pendaftaran murid baru. Jelas, siswa yang tidak memenuhi kualifikasi NEM persyaratan akan otomatis tidak laku, ditendang tanpa kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bersyukur, masih ada sekolah-sekolah swasta. Sekolah swastalah yang siap menjadi tumpangan bagi siswa-siswa yang didiskualifikasikan di sekolah negeri ini. Di sekolah swasta itulah mereka mendapat hak untuk dipintarkan. Atau saya meminjam istilah UUD yaitu "dicerdaskan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian istimewah, pemerintah memperlakukan sekolah negeri. Dana pun dikucur habis-habisan. Unit bangunan serentak dibangun. Guru-guru pun tak susah dicari. Tinggal angkat saja calon guru yang sudah ikut testing mungkin lebih dari sepuluh kali tapi belum juga lulus. Lalu, bagaimana nasib sekolah swasta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sekolah swasta hidup dengan keberdikariannya. Dedikasi tinggi kadang tak seimbang dengan gaji yang diterima. Maklum, gaji mereka tergantung pada uang setoran siswanya. Bahkan, ada sekolah tertentu yang pengeluarannya lebih besar daripada pemasukan. Kadang, uang setoran siswa hanya cukup untuk melunasi biaya listrik, air dan beli kapur tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, tak sedikit pula petinggi daerah kita, yang pernah menikmati dan merupakan jebolan sekolah swasta. Tapi mereka macam tidak tahu bahwa nasib sekolah swasta seperti apa. Mungkin juga mereka tahu, cuma tidak tahu, mau buat apa dengan nasib sekolah swasta? Kapan naluri sosial mereka tergerak untuk menolong sekolah-sekolah swasta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika, peran sekolah swasta mempunyai andil yang signifikan dalam mendidik anak bangsa di daerah ini, untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dan menjadi pemikir handal dalam kehidupan berbangsa. Maka, mengapa kita tidak bersedia membuka mata untuk meringankan beban sekolah-sekolah swasta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang, sekolah swasta “dianaktirikan” oleh stakeholders pendidikan di negeri ini. Banyangkan, berapa banyak jumlah sekolah swasta negeri ini? Mungkin dua kali lipat dari jumlah sekolah negeri. Sebenarnya, bukan soal jumlah yang ditekankan. Kontribusi sekolah swasta selayaknya mendapat perhitungan juga. Sebagaimana, pemerintah memperlakukan sekolah-sekolah negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tidak ada jalan lain, selain pemerintah memperlakukan sekolah swasta dan negeri secara proposional. Sama halnya, seorang ibu yang punya anak kembar. Ia tidak mungkin menyuap bubur anak yang satu dengan piring emas. Satunya lagi, cuma piring plastik saja. Artinya, mengapa kita tidak bisa menyiapkan “piring plastik” dengan “porsi menu” yang sama baik untuk sekolah negeri maupun swasta. Jika visi dan misi kita sama yaitu mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kini saatnya pemerintah daerah untuk memberi perhatian yang lebih ekstra terhadap nasib sekolah swasta. Dari terminologi “perhatian”- memberi “hati”- mengandung arti tulus, suci, ikhlas. Misalkan saja, mengirimkan guru-guru berstatus pegawai negeri ke sekolah swasta lebih banyak daripada tahun-tahun kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau banyak cara lain. Yang penting kita buka perspektif, agar pemerintah bisa berbuat sesuatu yang lebih. Tidak cukup imbauan, agar sekolah negeri belajar dari sekolah swasta ataupun vice versa. Apa yang hendak dipelajari, juga tidak jelas. Apakah sebatas mendogkrak presentasi kelulusan? Lebih penting adalah membangun kerja sama kooperatif mutual yang produktif. Saling menukar informasi manajemen pendidikan, keorganisasian, dan keprofesionalan tenaga keguruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sekolah negeri sebaiknya memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak-anak miskin tanpa mewajibkan standar NEM. Alasan ruang tidak mencukupi, juga tidak realistis. Jika banyak siswa ingin bersekolah maka kewajiban yang tak boleh ditunda-tundai adalah memperbanyak ruang kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, anak-anak bisa tertampung. Siswa-siswa yang otaknya dikategorikan “jongkok”, jangan juga cepat-cepat dieksekusikan dari sekolah. Begitupun anak-anak yang tidak disiplin, jangan cepat-cepat disepak keluar. Di sini, peran sekolah sebagai almamater (baca:ibu), “surga ada di telapak ibu” akan teruji kesajatian keibuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, perbaikan kualitas pendidikan belum lengkap kalau tanpa adanya perpustakaan. Hampir sedikit sekolah yang punya perpustakaan cukup memadai. Pemerintah daerah perlu galakan penyedian perpustakaan umum daerah untuk pelajar khususnya atau bila perlu masyarakat pada umumnya. Sehingga, siswa-siswa dan guru-guru bisa mengakses buku-buku secara gratis. Pembangunan perpustakaan adalah ruang investasi pendidikan yang urgen, yang sama persisnya kita menginvestasi generasi masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“UNESCO, pilar pendidikan kesejagatan dikonstruksi untuk mengembangkan potensi anak didik yang berkualitas. Pilar pendidikan kesejagatan itu adalah belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis, staf Televisi TBN Asia di Manila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-7512336074743482263?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/7512336074743482263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=7512336074743482263' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/7512336074743482263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/7512336074743482263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/pengadilan-atas-nama-pendidikan.html' title='PENGADILAN ATAS NAMA “PENDIDIKAN”'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCOz2cXiXhI/AAAAAAAAAFU/oWE6hoFOPPQ/s72-c/3891575986.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-3011075026725161327</id><published>2008-05-08T18:28:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T01:26:50.771-07:00</updated><title type='text'>"KOSMOSENTRIS"</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCOrzMXiXgI/AAAAAAAAAFM/T7EMr4p2fYE/s1600-h/2416931680.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198187290897309186" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 201px; CURSOR: hand; HEIGHT: 183px" height="106" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCOrzMXiXgI/AAAAAAAAAFM/T7EMr4p2fYE/s200/2416931680.jpg" width="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCOrqcXiXfI/AAAAAAAAAFE/NMt0S5QqXdc/s1600-h/31752_anak02.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;alam buku Timaeus, Plato berkisah tentang the Lost Continent, Atlantis. Alkisah, ketika Atlantis mempersiapkan serangan besar terhadap Athena, tiba-tiba banjir, angin kencang, petir dan gempa yang kejam membaringkan benua itu, dalam “tidur abadi” jauh di dasar Samudera Atlantik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Selama berabad-abad Atlantis “tertidur” di dasar samudera, kemudian munculah perdebatan runcing. Ada yang katakan, keberadaan Atlantis sebatas mitos belaka. Sebagian yang lain, yakin benua makmur nan sejahtera itu memang benar-benar ada.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tahun 1882, penulis Ignatius Donnelly menerbitkan buku Atlantis--Myths of the Antediluvian World, yang memicu gerakan pencarian "benua yang hilang" itu. Donnelly membagi keyakinannya bahwa pada masa lalu di Samudera Atlantik, berseberangan dengan mulut Laut Mediterania, pernah ada sebuah pulau besar. Dia percaya itulah Atlantis dan benar-benar pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Bencana Datang Pergi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia pun bisa saja serupa dengan nasib hilangnya benua Atlantik. Lebih-lebih jika aneka bencana alam yang menggerogoti negeri ini, beberapa dekade terakhir tidak “terdiagnosa” dengan pikiran bening. Dua bencana utama adalah banjir 402 kali, korban 1144 jiwa, kerugian Rp647,04 miliar dan tanah longsor 294 kali, korban 747 jiwa, kerugian Rp21,44 miliar (WALHI 2006).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tapi, mengapa bencana alam seperti banjir dan longsor datang silih berganti, di negeri pemilik &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;hutan terbesar ketiga di dunia ini? Menurut lembaga penelitian WALHI, semua bencana ini kebanyakan disebabkan oleh ketidakadilan atau gagalnya sistem pengurusan alam, terutama pengrusakan hutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kerusakan hutan perawan Indonesia tercatat sebesar 72 persen (World Resource Institute, 1997). Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Sehingga, kita tak perlu tercengang jika Indonesia menyandang predikat “break record” perusak hutan tertinggi di dunia (Badan Planologi Dephut, 2003).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Artinya, sangat masuk akal, mengapa bencana banjir dan longsor datang terus. Karena, kerusakan hutan, kerusakan hutan dan kerusakan hutan. Apa yang salah dengan bangsa yang bernama Indonesia (kaya) Raya ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendekatan “Pincang”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Inilah dampak negatif, model pendekatan ekologis yang pincang. Yang menurut Jonathan Hughes, dalam bukunya Ecology and Historical Materialism (2000), pendekatan pincang ini sebagai entry point “the death of cosmos”. Ia mengemukakan tiga macam pendekatan pincang itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pertama, pendekatan ecocentric (economic centered). Pendekatan ini teriming-iming oleh interese ekonomi tanpa mengupayakan keberlanjutan ekologis secara integratif.&lt;br /&gt;Indonesia pada umumnya terjebak oleh pendekatan ini. Masalah kemiskinan dan pengangguran membuat kita panik. Kita tergoda “melelangkan” hutan/bumi kepada industri ekstraktif. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Dengan harapan, negara mendapatkan extra income dan kesejahteraan rakyat membaik. Nyatanya, kesejahteraan itu sulit digenggam. Rakyat semakin sengsara dan alam juga kian rusak. Pada gilirannya, alam siap “merusak” manusia. Kasus Freeport dan Lumpur Lapindo, adalah contoh riil bagaimana kesejahteraan tak lebih sebuah mitos bagi warga lokal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Lebih aneh lagi. Beberapa bulan yang lalu, pemerintah Indonesia justru mengeluarkan PP No. 2 thn. 2008, yang memberi hak legal pembalakan hutan kepada 13 Perusahan Tambang.&lt;br /&gt;Inilah therapy kejutan atas kemiskinan. Hutan dijual dengan cuma Rp. 1,8 juta hingga Rp. 3 juta perhektar hutan. Padahal, tarif sewa Pajak Negara Bukan Pajak dari 13 perusahaan tambang itu hanya mengantong Rp 2,78 triliun per tahun. Sementara total potensi kerugian diperkirakan sebesar Rp70 triliun per tahun (Greenomics Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kebijakan inilah yang diincari-incari oleh perusahan tambang daerah, yang selama ini nasibnya terkatung-katung akibat resistensi penduduk lokal. Mengapa pemerintah masih nekat jika ongkos kebijakan ini terlampau mahal? Bencana alam yang pernah mendera bangsa kita semestinya menjadi pelajaran yang sangat berarti bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kedua, pendekatan anthropocentric (human centered). Manusia diyakini menjadi pilar eksklusif penentu ecology sustainable. Pendekatan ini sama bengisnya dengan ecocentric. Sebab, manusia diposisikan sebagai “tuan” atas alam. Maka, kita terjebak pada pilihan “kenyangkan dan selamatkan manusia lebih dulu. Konservasi alam itu adalah perkara kemudian.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Padahal, kalau kita ingin menyelamatkan manusia maka “diagnosa” dulu alam yang rusak. Jika konsep ini tidak berubah maka jangan harap kita keluar dari lingkaran bencana. Karena, persoalan dasar tidak tersentuh. Lihat saja, dana APBN 2008 untuk korban bencana sebesar Rp281,3 triliun. Sementara, alokasi anggaran untuk “pencegahan” risiko bencana hanya sebesar Rp9,4 triliun. Disparitas anggaran dana inilah yang membuktikan pemerintah memosisikan kerusakan alam hanya perkara minor.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ketiga, pendekatan biocentric (biotic centered). Pendekatan ini memusatkan makhluk hidup (biotik) sebagai “tuan” atas kosmos. Dengan kata lain, sejauh ia adalah makhluk hidup baru direspek. Gagasan ini dikupas banyak oleh Felix Baghi ( Etika Biosentris, Pos Kupang 25/4/2008). Lalu, bagaimana yang bukan makhluk hidup (tidak) direspek? Kelemahan besar pendekatan ini adalah semua benda alam abiotik (tanah, batu, air dan udara) “dianaktirikan” dalam konsep sustainabel harmonitas kosmos. Jika demikian, adakah pendekatan yang lebih etis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Etika Kosmosentris&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jonathan Huges, “runyamnya” nasib ekologis global sekarang ini, idealnya memiliki etika ekologis yang disebutnya pendekatan holistik cosmocentric (cosmos centered). Manusia atau makhluk hidup bukan lagi centrum tapi kosmos.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Manusia, binatang, tetumbuhan, benda mati , benda hidup adalah entitas kosmos yang punya hak asasi yang sama. Menciderai satu sama lain (biotik-abiotik) sama saja melukai tatanan kosmos itu sendiri. Ketika setitik ioata kosmos terluka, ia menggangu seluruh tatanan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kondisi alam kita yang “sakit-sakitan” sekarang, sebenarnya butuh penyembuhan ekologis seperti ini. Memperbaiki relasi yang beku dari pendekatan ekosentrik, antroposentrik dan biosentrik menuju kosmosentrik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pertama, nilai intrinsik interaktif complementer komponen cosmophere, perlu dibangun harmonis, kedua menghargai pluralistik komponen cosmos biotik dan abiotik mutlak terjaga, ketiga tanpa mengecil peran homo faber (manusia pekerja), manusia mesti menciptakan relasi ramah dan bertanggung jawab terhadap kosmos dengan segala kandunganya, keempat relasi “take and give” niscaya dikembangkan (jika ingin menunai maka pandai-pandai menabur).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Inilah “tali kekang”, yang menurut hemat saya perlu dikedepankan untuk membangun ekologis imparsialitas terhadap keutuhan kosmos. Dengan membangun kesadaran baru ini, kita dapat menjaga keberlanjutan kosmos ini dan meminimalisir bencana alam yang tak bertepi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Akhirnya, kita boleh saja memilih: bertahan dengan pendekatan ecosentris, antroposentris, biosentris atau berani menembusi “stabilitas lochi” itu?. Tapi sekali lagi, taruhannya mahal: antara hidup atau mati. Jika mindset kita tidak berubah terhadap kosmos maka peristiwa “Lost Continent of Atlantis” akan terjadi serupa di negeri kita. Ia bukan sekadar mitos tapi kenyataan pahit yang harus ditelan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Alumnus STFK Ledalero, kini Staf Televisi TBN Asia, tinggal di Ma&lt;/strong&gt;nila&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;(Dimuat Di Flores Pos) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-3011075026725161327?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/3011075026725161327/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=3011075026725161327' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/3011075026725161327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/3011075026725161327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/kosmosentris.html' title='&quot;KOSMOSENTRIS&quot;'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCOrzMXiXgI/AAAAAAAAAFM/T7EMr4p2fYE/s72-c/2416931680.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-3478438576329379310</id><published>2008-05-08T02:48:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T23:52:44.530-07:00</updated><title type='text'>RUPA BURUK, JANGAN BELAH CERMIN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCLMv8XiXZI/AAAAAAAAAEU/RiYn7KDeHS8/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197942043969740178" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 190px; CURSOR: hand; HEIGHT: 179px" height="118" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCLMv8XiXZI/AAAAAAAAAEU/RiYn7KDeHS8/s200/2.jpg" width="81" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“This is my body, This is my software, I have given my body to art”&lt;br /&gt;(Orlan, 1898).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawaran iklan kecantikan telah menjadi obsesif sekian banyak perempuan. Tak sedikit perempuan tergiur oleh iklan instant beauty seperti apa yang disuguhkan oleh koran-koran, televisi maupun seleberan dari tangan ke tangan ataupun ditempel di tempat publik. Seseni itukah perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh perempuan adalah seni. Ada banyak akronim seni untuk membahasakannya: cantik, ayu, molek, indah, mulus, mungil, seksi dan sebagainya. Tak heran, kalau industri periklanan memanfaatkan kecantikan perempuan untuk menyedot minat publik. Tubuh perempuan telah bergeser pemaknaannya dari ruang naturalistik menjadi instrumen estetik publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang artis kaliber Perancis, Orlan dalam operasi plastiknya tahun 1898 punya motto “This is my body, This is my software, I have given my body to art”. Orlan menjelaskan bahwa setiap perempuan semestinya melihat tubuhnya sebagai sebuah seni. Seni yang dapat mengubah dunia, termasuk image perempuan (Kathy Davis, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Natural yang terusak&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Maxwell Maltz yang dijuluki sebagai “father of plastic surgery” melihat operasi plastik sebagai “magical power” yang tidak hanya meniadakan noda atau memperbaiki kerusakan kulit tetapi lebih merusak gambaran pribadi yang natural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, perempuan tidak ada pilihan lain, selain adalah menolak segala bentuk jenis kecantikan yang momental&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang bebas untuk memilih sehat atau sakit, cantik atau buruk dan mati atau hidup. Toh, pada akhirnya sendiri yang menanggung baik buruknya. Noel Suzane seorang perintis operasi plastik modern mengatakan operasi plastik adalah keinginan yang pahit (bitter need) yang lahir dari tuntutan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkannya, banyak perempuan memilih operasi plastik wajah karena takut kehilangan karier mereka. Seorang artis akan takut tidak diorder lagi untuk memanggung hanya karena persoalan wajah yang sudah kelihatan tua. Operasi plastik adalah bukan hanya jalan terbaik untuk mempertahankan karier mereka tetapi mengingatkan mereka bahwa selalu muda dan cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael Jackson yang lebih akrab dipanggil “The King of Pop”. Setelah melakukan operasi plastik atas tubuhnya, ia meliris albumnya “Thriller” apa yang terjadi albumnya laris terjual, ia memecahkan rekor terlaris musik urutan ke dua dalam catatan sejarah musik Amerika. Walaupun pada saat sama ia dikritik oleh dunia Afrika karena Jackson telah mengkianati keindahan orang-orang hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Moral &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kathy Davis meletakkan sandaran moral dalam menghadapi problematika operasi plastik. Pertama adalah masalah ketidakadilan (unfairness). Sebelum memilih melakukan operasi plastik orang harus menimbang secara matang, seberapa banyak kegembiaraan dan penderitaan yang diterima akibat operasi plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang memutuskan untuk melakukan operasi plastik tanpa lewat sebuah keputusan yang matang. Akibatnya adalah ia mengalami penderitaan jauh lebih besar daripada kegembiraan atas kecantikan yang sesaat yang diperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah operasi plastik berpotensi destruksi kenormalan (harming the normality). Pada dasarnya, operasi plastik merupakan upaya merusak bentuk kenormalan demi target kecantikan. Ia menjanjikan model perwajahan dari bentuk normal menuju yang tidak normal. Misalkan, ia seorang pemilik hidung pesek (normal) dan berubah menjadi hidung sangat mancung (abnormal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena operasi plastik mengandung risiko tinggi maka seharusnya subyek pelaku memilih sebuah keputusan yang terbaik dalam hidupnya. Ia bersedia menerima apa yang dihasilkan oleh operasi plastik, termasuk hasil yang paling buruk sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga adalah memangkas keaselian (inauthenticity). Operasi plastik akan menjawabi kebutuhan anda akan kecantikan dengan sekejap saja tetapi pada saat yang sama terjadi pelucutan bentuk keaselian seseorang. Adanya gap yang besar antara apa yang ada “di luar” dan yang ada “di dalam” pribadi seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan luar cuma kecantikan ilusif, kecantikan yang jauh dari keadaan sebenarnya. Karena itu orang yang ingin melakukan operasi plastik harus melihat dampak psikologis bagi dirinya karena ia bisa menjadi asing bagi tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bersiap untuk menerima reaksi baru dari sesama dan alam atas sebuah identitas baru. Ia boleh jadi menjadi asing bagi yang lain dan membutuhkan adaptasi baru atas kekerasan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hati hatilah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Operasi plastik sebagai tawaran kecantikan modern memang mimikat tapi juga menyimpan seribu satu macam risiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Propaganda media akan operasi plastik seperti disuguhkan oleh iklan-iklan dalam televisi atau majalah maupun surat kabar akan menjanjikan anda akan sebuah penampilan yang menarik dan tanpa efek samping. Biasanya, apa yang diiklankan akan jauh dari kenyataan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempersalahkan propaganda media juga bukan sikap yang tepat. Yang paling penting adalah kita sendiri harus mempunyai sikap tegas. Memiliki pengetahuan yang luas sebelum menjatuhkan sebuah keputusan atas tawaran kecantikan yang memikat itu. Di jaman modern ini, uang bisa menjanjikan segala-galannya. Dengan uang anda bisa membeli kecantikan tetapi kecantikan itu belum tentu menjamin kebahagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kecantikan anda bisa mendapatkan peluang kerja, menjadi rebutan sekian banyak laki-laki tetapi ketika usia senja mejemput, maka semuanya berlalu. Yang tersisah tinggal keping-keping penderitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri modern serba menjanjikan kecantikan utopis melalui operasi plastik. Apa yang kita buat adalah pertama kita mengembangkan semangat “sense of satisfication”. Kita perlu memiliki rasa cukup atas apa yang kita punya. Memiliki rasa cukup biasanya mendekatkan kita dengan sang pemilik kehidupan untuk mensyukuri atas apa yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak di sekitar kita yang jauh lebih buruk dari apa yang kita miliki. Tetapi mereka merasa bahagia atas kecukupan. Bukankah bunga bakung lebih indah dari pada pakaian emas Salomo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah “being natural is beautiful” semakin anda tampil natural semakin anda tampil cantik. Tubuh anda memang sebuah seni tetapi bukan sebuah perangkat lunak, software yang mengabdi absolut kepada seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan yang ditawarkan operasi plastik merupakan kecantikan utopis yang bisa berubah kapan dan di mana saja menjadi racun bagi anda sendiri. Kalau anda tidak percaya silakan coba saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Staf Televisi TBN Asia.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-3478438576329379310?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/3478438576329379310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=3478438576329379310' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/3478438576329379310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/3478438576329379310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/rupa-buruk-jangan-belah-cermin.html' title='RUPA BURUK, JANGAN BELAH CERMIN'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCLMv8XiXZI/AAAAAAAAAEU/RiYn7KDeHS8/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-5347518050818285033</id><published>2008-05-08T02:35:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T23:54:45.288-07:00</updated><title type='text'>DEMOKRASI MEMATIKAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCLJt8XiXYI/AAAAAAAAAEM/s0PwQfIpWFY/s1600-h/copy+3.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197938711075118466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 180px; CURSOR: hand; HEIGHT: 172px" height="200" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCLJt8XiXYI/AAAAAAAAAEM/s0PwQfIpWFY/s200/copy+3.bmp" width="167" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;M&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;asih segar dalam ingatan kita, akan kematian Marsinah, lalu kematian Theys Hiyo Eluay dari Papua, dan trio hukuman mati Tibo cs, lalu tragedi kematian Munir. Belum tuntas masalah munir, kita kembali dikejutkan oleh kematian pendeta Irianto Kongkoli di poso pada tanggal 19 0ktober 2006. Kematian mereka berkahir dengan tidak menyentuh akar persoalan. Kematian mereka menyisahkan sebuah pertanyaan besar bagi rakyat dan bangsa besar ini. Ada apa di balik semuanya ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Potret buram demokrasi &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada banyak warga indonesia yang nyawa mereka melayang begitu saja. Ada yang mati karena penyakit flu burung, bencana alam, bunuh diri dan busung kelaparan, rabies dan lain-lain. Kebanyakan orang tidak perdebatkan. Tetapi ketika kematian bernuansa “politik” selalu menyisahkan seribu satu persoalan dalam negara yang berwajah demokrasi ini. Kematian Marsinah, Theys Hiyo Eluay, Tibo cs, Munir dan Kongkoli boleh merupakan sebuah potret buram betapa kejamnya demokrasi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keburaman demokrasi di negeri ini merupakan akumulasi kegagalan pemerintah menghidupi napas demokrasi itu sendiri: dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pemerintah kita lupa bahwa kuasa yang mereka miliki berasal dari rakyat. Kekuasaan yang berada di atas pundak mereka merupakan perpanjangan kekuasaan rakyat. Kekuasaan yang mereka miliki akan tidak memiliki arti kalau tidak berfungsi untuk melayani kebutuhan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas Hobes mengatakan kalau kekuasaan sedang memonopoli seseorang atau sekelompok orang maka orang cenderung menjadi “srigala bagi yang lain”. Antara kekuasaan dan kejahatan hanya tipis distant perbedaan baik buruknya. Arogan kekuasaan hanya cenderung bersikap barbar. Ketika kekuasaan berjalan sendiri dan rakyat berjalan sendiri maka rakyat biasa selalu menjadi korban kekalahan dan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita ingin kembali menghidupi demokrasi di negeri ini, dengarlah lebih banyak dari rakyat. Belajarah banyak dari penderitaan rakyat! Bacalah hati rakyat! Rakyat itu sendiri merupakan pengetahuan dasar demokrasi sebaliknya ketika banyak rakyat yang mati akibat korban kekahaosan politik berarti demokrasi kita hampir mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati situasi apa yang terjadi di republik ini, ada satu pesan serius dibalik kematian anak-anak bangsa yaitu pemerintah kita kelihatannya tidak menaruh hati atas keterlukaan hati dan kematian rakyatnya. Contoh saja, hampir publik tidak percaya bahwa aktor pembunuh Munir, tidak terjamah oleh profesionalisme polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal polisi kita sekarang pintar-pintar. Kalau kita tidak temukan siapa aktor pembunuhnya, apakah kita harus akui bahwa ada setan atau dewa kayangan dari singgah sana yang mencaplok jiwa orang tak bersalah ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa bayangkan kalau keluarga Kongkoli, Theys, Marsinah, Munir atau keluarga Tibo dkk. adalah orang beruang dan berkuasa di negeri ini. Saya jamin seratus persen bahwa kasus demi kasus pasti sangat rapih diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin dengan kuasa dan uang apa yang menjadi misteri bisa berubah menjadi tersentuh, yang sulit sekalipun bisa berubah menjadi gampang, apa yang benar pun bisa berubah menjadi salah atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadinya, siapa yang berkuasa dia bertahan. Siapa yang beruang dia menang. Orang kecil tidak memiliki apa-apa. Rakyat kecil menjadi sampah demokrasi yang siap didrop ke tempat pembuangan. Mereka selalu menjadi korban kekalahan. Bahkan kematian adalah taruhan termahal atas kehidupannya. Kepada siapa rakyat harus megaduh atas kekalahan mereka kalau bukan kepada pemimpin mereka. Siapa lagi yang meneguhkan rakyat ketika orang yang paling mereka cintai dirampok dan dibunuh oleh orang-orang tidak ketahui identitasnya kalau bukan pemimpin mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit dibayangkan tetapi sungguh terjadi. Ketika orang kecil seperti Tibo dkk. dengan mudah diklaim sebagai aktor intelektual perusuh peristiwa Ambon berdarah. Tetapi begitu gampang upaya hukuman mati mereka diproses. Sulit dibayangkan seorang Munir masuk dalam pesawat dengan tubuh yang hidup dan ke luar dari pesawat dengan tubuh kaku tak bernyawa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi begitu gampang seorang Pollicarpus B. Priyanto kapten pilot Garuda yang diduga pendalang kematian Munir dibebaskan dengan tidak terbukti salah. Tidak fair! Gila benar republik ini!&lt;br /&gt;Kasihan orang kecil selalu menjadi kelinci percobaan. Orang kecil selalu siap dicoba untuk aneka konspirasi politik murahan dan hedo politik yang keterlaluan. Kasihan orang kecil sebab selalu siap tumbal kapan dan di mana saja ketika kuasa membutuhkanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Belajar dari ketersesatan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun kita tidak menghendaki bangsa ini mati dan kehilangan masa depan. Deretan kematian anak bangsa yang sudah terjadi merupakan inspirasi baru bagi kita untuk merefleksi kembali ketersesatan bangsa ini. Ketersesatan bangsa ini telah menjadi bencana nasional yang tidak disadari tetapi berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah “modus operandi pembunuhan anonim” harus dihentikan. Plato dalam konsep negara idealnya, ia memaparkan salah satu ketakutannya yang merusak tatanan negara ideal adalah proses “mimesis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plato menjelaskan bahwa peniruan itu baik kalau modelnya baik dan peniruan itu buruk kalau modelnya buruk (imitation is good if the model is good, and bad if the model is bad). Plato tidak ragu mengatakan mimesis inse dalam dirinya destruktif, yaitu tindakan yang secara potensial merusak republik karena orang lebih banyak meniru yang buruk dari model yang buruk untuk tujuan buruk (Derrida. ‘Platons mimesis, Agora 2/3, Oslo 1989 hal. 94).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Marsinah, Theys, Munir dan Tibo cs, Kongkoli merupakan modus operandi peniruan yang buruk atas penyelesaian konflik yang ada. Yang jelas proses pembunuhan ini merupakan akumulasi peniruan yang buruk atas model buruk, dengan tujuan buruk, dan pelaku buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembunuhan ini akan lebih dipertegas ketika aktor pembunuh sebenarnya (real killer) berakhir dengan kehilangan jejak. Boleh jadi peniruan ini merupakan pola pembunuhan yang sudah akut dari orang yang sama dan akan terus diwariskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modus operandi pembunuhan yang sama ini, biasanya akan bersembunyi di balik slogan lama. Negara kita adalah negara hukum. Jangan bertindak anarkis “biarkan hukum yang menyelesaikan persoalan”. Slogan hukum diperkuat lagi oleh slogan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara kita adalah negara demokrasi karena itu selesaikan “persoalan secara demokratis”. Slogan ini menjadi logika yang ampuh dan mapan untuk mengaburkan persoalan demi persoalan. Padahal, sekian sering kinerja hukum dan demokrasi kita dipeributkan dan sangat kontroversial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pemerintah dan seluruh aparaturnya, coba merefleksi kembali esensi jabatan yang sedang ada di atas pundak mereka. Rakyat percaya bahwa jabatan yang sedang mereka emban bukan hasil peniruan atas model yang buruk (bad model). Jangan sia-siakan kepercayaan rakyat itu. Buktikan kepada rakyat dan bangsa yang besar ini kesejatian kepemimpinan anda. Kita henti mewariskan “model” yang buruk kepada generasi baru kita dalam menyelesaikan konflik sosial lewat kekerasan dan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah adanya “gap yang melebar” antara kepentingan rakyat dan pemerintah di negeri ini. Gap ini melebar dan semakin parah dan paten. Gap ini terlihat jelas ketika perjuangan rakyat bukan lagi menjadi perjuangan pemerintah dan visi pemerintah bukan lagi cetusan kebutuhan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab apa diperjuangkan pemerintah adalah apa yang bukan menjadi kebutuhan rakyat. Sebaliknya apa yang menjadi perjuangan rakyat adalah apa yang bukan menjadi kebutuhan pemerintah. Gap yang melebar ini membuat setiap pihak berdiri di atas perasaannya dengan dalil untuk memenangkan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seandainya tuan presiden atau mahkmah agung berada dan masuk di tengah jeritan jutaan tuntutan rakyat yang memohon hentikan hukuman mati atas negeri ini atau masuk dalam perasaan jutaan pendukung ungkit tuntas kematian Munir maka situasinya akan megubah segala-galanya. Selapar-laparnya harimau tetapi ia tidak pernah memangsa anaknya. Kalau binatang saja tahu menyanyangi anaknya apalagi manusia, bukan? Kadang binatang juga memberi pelajaran yang bermakna bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari ketersesatan itu baik! Kalau kita ingin menyelamatkan negeri ini maka kita harus menyadari bersama dua persoalan akut di atas. Modus operandi pembunuh kematian anonim, misterius bukan menjadi model yang baik penyelesaian konflik sosial di dalam negeri ini. Adanya gap antara pemerintah dan rakyat yang semakin melebar bukanlah model yang baik yang patut ditiru untuk membangun negara ideal seperti yang diusung oleh Plato dalam konsep negara idealnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pemerintah sebagai “main player” tidak membuat perubahan yang signifikan atas dua persoalan fundamental di atas maka entah sadar atau tidak, entah lama atau tidak, kita sedang menggali kubur untuk diri kita sendiri. Kita sedang memperpendek usia bangsa ini. Kapan kita seperti Jepang, Cina, dan India?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Alumnus STFK Ledalero&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-5347518050818285033?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/5347518050818285033/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=5347518050818285033' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/5347518050818285033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/5347518050818285033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/demokrasi-mematikan.html' title='DEMOKRASI MEMATIKAN'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCLJt8XiXYI/AAAAAAAAAEM/s0PwQfIpWFY/s72-c/copy+3.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-4845615325639156876</id><published>2008-05-08T02:12:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T23:56:08.051-07:00</updated><title type='text'>EROSI KEJUJURAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCLEWcXiXXI/AAAAAAAAAEE/hBzcwagoDH0/s1600-h/DSC05546.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197932809790053746" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 276px; CURSOR: hand; HEIGHT: 232px" height="165" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCLEWcXiXXI/AAAAAAAAAEE/hBzcwagoDH0/s200/DSC05546.JPG" width="200" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;J&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;angankan kita ditipu, sangat dibenci. Menipu pun dilarang keras bahkan berdosa. Jika demikian, mengapa orang boleh tipu alias bohong pada hari tipu, setiap tanggal 1 April? Mengapa tidak ada hari kejujuran? Apakah ini, isyarat kejujuran yang kian terkikis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;Poisson d’Avril&lt;/strong&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kisah pupular tentang asal-muasal hari tipu berasal dari Perancis yang dikenal “Poisson d’Avril” (April Fish).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, hari tipu berawal ketika Paus Gregory XIII memberlakukan kalender Kristiani tahun 1582. Raja Perancis Charles IX adalah pemimpin dunia pertama yang mengadopsi kalender Gregorian diberlakukan di Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberlakuan kalender Gregorian ini menyebabkan pergeseran perayaan tradisi tahun baru di Perancis dari 1 April menjadi 1 Januari. Sebagai pergeseran pesta “Vernal Equinox”, perayaan menjemput tibanya musim semi sekaligus tanda lahirnya tahun baru (berkisar tanggal 25 Maret sampai puncaknya 1 April).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penduduk yang masih merayakan pesta tahun baru tanggal 1 April biasanya diolok-olok oleh tetangganya dengan teriakan “Poisson d’Avril”. Mereka ini dipersonifikasi seperti ikan kecil yang biasanya inocent, lugu, lamban, mudah dijebak dan ditangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, orang yang terkena korban trik tipu pada hari tipu diteriaki “April Fish atau April Fool”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kejahatan Eternal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan hari tipu di Indonesia pun, tidak ketinggalan gregetnya untuk dirayakan. Orang mengecoh trik tipu di mana-mana. Misalkan, kirim surat kaleng, berita menang undian bohong via SMS, kirim berita bohong ibu sakit dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya, ada-ada saja trik untuk mengerjain orang lain, pada hari tipu. Jika trik itu terlanjur ketahuan maka diteriaki, kapok hari tipu lho! Entah apapun model trik tipu pada hari tipu, setidaknya ia memantulkan realitas obyektif, apa yang sedang terjadi dalam masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tanpa hari tipu pun, orang sudah biasa bohong-membohong. Tiada hari tanpa bohong. Atasan bohong bawahannya sudah biasa. Pemimpin berlaku bohong terhadap rakyatnya sudah common. Suami bohong istrinya sudah tidak menjadi rahasia lagi. Sopir taksi bohong penumpang dengan cargo palsu sering terdengar, bahkan beredarnya uang palsu kian menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma bedanya, trik tipu pada hari tipu, “dikemas” untuk melahirkan lelucon segar dan kejutan kegembiraan kepada relatif, keluarga, kawan, atasan-bawahan, guru-murid dan lain-lain. Sejauh batas-batas kewajarannya tetap terjaga, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, misalkan orang bisa shock, depresif dan sakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tipu-menipu adalah kejahatan eternal. Ia telah eksis setua usia manusia menghuni planet bumi ini. Ia telah mengerangkeng dan mengikis ruh kejujuran, yang seharusnya dimiliki oleh setiap insan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Runtuhnya Kejujuran Sosial&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasi riil terkikisnya kejujuran adalah lahirlah aneka kehancuran (perang, bencana dan penyakit), keputusan yang tidak bijaksana, dan ketidakadilan di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana alam datang silih berganti, perang tetap berkecamuk, epidemik penyakit baru adalah bahasa sempurna, bahwa manusia sebenarnya sedang tidak berlaku jujur terhadap dirinya, alam, sesama bahkan Tuhan yang diyakininya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja masalah Timur Tengah, AS berkali-kali berjanji menjadi Big Brother memediasi sengketa Israel-Palestina tapi nyatanya sampai saat ini sengketa itu kian kelabu. Apa yang salah sebenarnya? Seandainya AS berlaku jujur terhadap dua pihak, mungkin masalahnya tidak separah sekarang ini. Berlaku jujur adalah kunci utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan HAM di Tibet yang terus berkecamuk akhir-akhir ini adalah wajah lain dari erosi kejujuran itu. Banyak orang mendiskreditkan kebijakan Bejing. Tapi, kita lupa bertanya, berlaku jujurkah pengikut Dalai Lama terhadap gerakan kemerdekaan Tibet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalah artinya kerinduan berdialog, kalau para demonstran memilih bertindak anarkis untuk merdeka sekaligus mencoreng nama baik Cina di tengah persiapan pesta Olympic Bejing 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, erosi kejujuran lain lagi. Kasus Lumpur Lapindo, busung lapar dan jual hutan seharga “pisang goreng” adalah salah satu bukti riil bagaimana kejujuran pemimpin kita kian redup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih adakah kejujuran yang tersisah di hati pemimpin kita, ketika ibu pertiwi ini dirundung sedih, menyaksikan berjejernya balita terjangkit penyakit busung lapar, kurang gizi dan terjualnya hutan seharga pisang goreng?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu. Kasus susu formula, yang menurut penelitian Fakultas Kedokteran Hewan IPB terbukti mengandung Enterobacter Sakazakii membahayakan bayi, dengan sekejap pemimpin menepis hasil penelitian itu. Jujurkah pemimpin kita untuk menghargai hasil obyektivitas ilmu pengetahuan? Jika obyektivitas ilmu pengetahuan saja “disepelehkan” apalagi niat tulus nan suci memperbaiki dunia pendidikan itu sendiri, jangan diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua realitas ini mengindikasikan bahwa dunia dan bangsa kita sedang mengalami bencana erosi kujujuran, runtuhnya kejujuran sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bukan tipu-menipu alias bohong-membohong yang bisa menyelamatkan kita, lantas apa? Thomas Jefferson menjawabnya dengan lantang, “honesty is the first chapter of the book of wisdom” (Presiden Ketiga AS, 1801-1809).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat memperingati Hari Tipu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Staf Televisi TBN Asia, Tinggal di Manila&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-4845615325639156876?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/4845615325639156876/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=4845615325639156876' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/4845615325639156876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/4845615325639156876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/erosi-kejujuran.html' title='EROSI KEJUJURAN'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCLEWcXiXXI/AAAAAAAAAEE/hBzcwagoDH0/s72-c/DSC05546.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-5846853744089703419</id><published>2008-05-08T01:37:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T23:57:50.743-07:00</updated><title type='text'>“SUARA DIAM” DI ATAS TEMBOK RAKSASA CINA</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCK9B8XiXWI/AAAAAAAAAD8/USQ5oyAcnyY/s1600-h/273017-Tembok-Besar-China--Great-Wall-of-China-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197924761021341026" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCK9B8XiXWI/AAAAAAAAAD8/USQ5oyAcnyY/s200/273017-Tembok-Besar-China--Great-Wall-of-China-1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;i atas Tembok Raksasa Cina terpancang sebuah billboard besar bertuliskan One World One Dream (Satu Dunia Satu Mimpi). Ribuan pelancong asing tiap hari sulit mengelakan matanya memana billboard fenomenal itu. Tak sedikit pengunjung berdecak cela-tanya, apakah impian Cina sesungguhnya? Pertanyaan itu adalah “ole-ole” yang dibawa pulang para pelancong ke negeri asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pelancong yang sedang bubrah dengan demam olympic Bejing 2008, tentu tahu pasti “One World One Dream” yang dipajang di tali pusar Tujuh Keajaiban Dunia itu adalah motto olimpiade Bejing 2008. Impian Cina diliris indah dan sangat sentimentil dalam lirik lagu pembukaan olimpiade Bejing 2008: Forever Friend (Berkawan Untuk Selama-lamanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, siapa tak sangka jika di balik motto menyejukkan itu, terselip “suka-duka” yang menciut bilik terdalam negeri Tirai Bambu itu. Cina tergagap-gagap membendung emosi publikya, lantaran tak sabar merayakan olimpiade Bejing dan menahan amarah terseruaknya masalah Tibet sulit ditemukan titik simpulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibet bak duri dalam daging bagi Cina. Dalai Lama dan pendukung setianya di Tibet memang pintar berstrategi menggoyang pemerintahan Cina. Peristiwa kekerasan Lasha baru-baru ini, adalah puncak upaya Dalai Lama dan simpatisannya untutk menjerit bantuan Internasional atas masalah HAM di Tibet, yang sering dicap “keparat pengusik” oleh Bejing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Tibet, dunia pun terkotak-kotak. Kiritikan dan ancaman datang berlapis-lapis menampar Bejing. Ada negara, yang terang-terangan mengajukan ancaman boikot acara pembukaan olimpiade Bejing. Sebagian lagi, ancam boikot olimpiade secara keseluruhan. Bahkan, ada juga yang ancam tidak mengirimkan para atlet olimpiade. Apakah ini solusi terbaik? Wait and see!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur bahwa di Indonesia tidak terjadi demo pemboikotan olimpiade Bejing. Harap ini menjadi indikator keharmonisan relasi Bejing-Jakarta yang lebih menyejukkan dan konstruktif-produktif .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motto olimpiade Bejing mengandung pesan universal. Mimpi merajut tali persahabatan abadi. Pesan sejuk ini merangsang cakrawala saya melayang-layang ke NTT. Semoga spirit olimpiade Bejing 2008 menghembus sampai ke NTT. Panggilan untuk bersatu membangun NTT, lebih-lebih ketika musim Pilkada dan Pemilu tiba, rakyat sering terkotak-kotak menurut suku dan asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut Bejing, teringatlah saya akan suku Tionghoa di NTT. Suku yang cukup “berpotensial” tapi masih “susah diakui” legitimasinya secara publik. Keberadaan suku Tionghoa di NTT tak ubahnya “mesin ekonomi” di belakang layar, yang memberi warna spesial pertumbuhan ekonomi daerah. Tekad dan kerja keras mereka dalam “diam” menjadi sumbangan berharga pertumbuhan ekonomi NTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sayangnya kita belum merangkul dan memberi perlindungan “hukum yang utuh” terhadap mereka. Ketika terjadi gejolak sosial di daerah kita, suku Tionghoa selalu saja “dikambinghitamkan” dan menjadi sasaran jarahan harta toko mereka. Kejadian ini berulang-ulang. Mereka tidak protes. Diam, mungkin jauh lebih menyelamatkan daripada “berkokok” di depan publik. Bahkan, mereka terkesan harus “membeli” perlindungan untuk hidup nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak heran ruang gerak mereka begitu “sempit” bahkan terkesan orang asing di negerinya sendiri. Sebab takut kapan saja bisa menjadi korban gejolak sosial. Perlindungan hukum yang “kurang utuh” membuat mereka enggan muncul ke publik. Padahal, mereka adalah jelas-jelas warga kelahiran NTT, yang hanya kebetulan nenek moyang datang dari daratan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasinya, ada banyak aset (human capital) suku Tionghoa yang belum terkelola untuk perbaikan hidup publik. Aset ini kalau “dikelola” baik oleh pemerintah lokal untuk membangun daerah maka akan mendatang hasil yang luar biasa. Tergantung intens perlindungan dan sikap nondiskriminatif kita, untuk memotivasi suku Tionghoa bergerak di segala lini kehidupan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Imlek 2559 kali lalu, adalah salah satu perubahan signifikan yang perlu diapresiatif. Ada sejumlah aktivitas sosial suku Tionghoa patut ditulis dengan tinta emas. Pertama, pergelaran sekaligus peresmian “Borangsai Naga Timur” di Kupang. Bahkan, ketua paguyuban Tionghoa Charles Pitoby menjelaskan, sekalipun budaya Barongsai adalah kultur Cina tapi sekarang ia menjadi kebanggaan budaya orang NTT (PK, 13/1/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pergelaran aksi sosial pembersihan pantai Pede dan sumbangan material pembangunan Mesjid di Gorontalo oleh paguyuban suku Tionghoa di Labuan Bajo, Manggarai Barat (Kompas, 7/2/2008). Menurut hemat saya, aksi sosial ini adalah kemajuan positip luar biasa, yang patut ditumbuhkembangkan. Ini sejarah peretas kerinduan suku Tionghoa memajukan daerah kian terkonstruk. Sejauh mereka diberi perlindungan hukum sama dan diberi kesempatan seluas-luasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, di Ruteng Manggarai, paguyuban suku Tionghoa mengadakan aksi sosial tanam seribu pohon (Kompas, 5/2/2008) adalah kebanggaan yang perlu diteladani oleh setiap orang, suku atau kelompok apa saja. Artinya, suku Tionghoa memiliki “sense of belonging” atas daerahnya, yang menuntut pengafirmasian publik. Bahwa, mereka bukan orang asing (nonpribumi) di NTT seperti pemahaman pincang kebanyakan masyarakat. Ini kerinduan lama, yang sudah lama dinantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Paguyuban Sosial Warga Tionghoa Indonesia (PSWTI) NTT Tionghoa membantu korban gizi buruk di Rote-Ndao baru-baru ini adalah salah bukti ketajaman concern publik suku Tionghoa terhadap situasi di sekitar kita. Sejauh kita merangkul dan memberi kepercayaan kepada mereka maka persoalan dan penderitaan bersama bisa dihadapi dengan energi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini beberapa aktivitas publik suku Tinghoa yang sempat direkam media. Masih ada aktivitas sosial dan individual lain yang tak sempat direkam oleh media. Hanya Tuhan yang tahu. Kita harapkan agar suku Tionghoa lebih elegan tampil ke ranah publik di masa yang mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga “suara diam” One World One Dream: Forever Friend di atas Tembok Raksasa Cina menjadi sapaan perekat antarsuku, agama dan budaya kita. Khususnya, concern yang mendalam akan suku Tionghoa yang sudah lama eksis di NTT tapi belum dirangkul secara penuh oleh pemerintah dan masyarakat luas sebagai salah satu “batu penjuru” pembangunan NTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indahnya “Forever Friend”, lihatlah “bola mata”. “Ketika tidur mereka terkatup bersama-sama. Ketika bangun mereka terbuka bersama-sama. Ketika sedih mereka menangis bersama-sama. Ketika gembira mereka kedip bersama-sama. Ketika sakit mereka menderita sama-sama. Ketika tutup usia mereka pun tutup sama-sama”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Alumnus STFK Ledalero, kini staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-5846853744089703419?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/5846853744089703419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=5846853744089703419' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/5846853744089703419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/5846853744089703419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/suara-diam-di-atas-tembok-raksasa-cina_08.html' title='“SUARA DIAM” DI ATAS TEMBOK RAKSASA CINA'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCK9B8XiXWI/AAAAAAAAAD8/USQ5oyAcnyY/s72-c/273017-Tembok-Besar-China--Great-Wall-of-China-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-445175838609428487</id><published>2008-05-08T00:01:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T23:59:04.458-07:00</updated><title type='text'>SEKOLAH "BERHATI IBU"</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCKnZsXiXNI/AAAAAAAAAC0/ZtSOY1xj2e4/s1600-h/317355_anak01.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197900979787422930" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCKnZsXiXNI/AAAAAAAAAC0/ZtSOY1xj2e4/s200/317355_anak01.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;isah bunuh diri (attempted suicide) NES siswa kelas II SMP Muhamahdiyah Playen Yogyakarta (Kompas, 24/5/2007) menghentak. Ia menambah deretan peserta didik yang mengambil jalan tragis ini. Sayangnya, kita tidak pernah memosisikan persoalan ini dalam bingkai refleksi, hal mana menjadi latar belakang tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;The cost of poverty&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ujung-ujungnya adalah kemiskinan. Realitas kemiskinan yang sudah mengakar telah membunuh idealisme anak-anak sejak dini. Sejak kecil, anak-anak memikul beban warisan kemiskinan keluarga. Kondisi itu lebih dipertegas lagi ketika mereka mulai masuk sekolah. Wajah sekolah yang didominasi oleh anak-anak orang kaya yang memiliki handphone, uang jajan, dan berpakain “luxury” membuat mereka tertukik ke dalam kondisi helplessness (Martin Seligman,1975).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ketaktertolongan ini, telah menyeret anak-anak kepada rasa pupusnya harapan (feeling of hopelessness), termasuk harapan untuk hidup. Hidup terasa sulit dipertahankan apalagi menikmati hidup seperti kerinduan Chairil Anwar: Aku mau hidup seribu tahun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya itu. Kemiskinan keluarga berangsur-angsur menjadi virus yang mematikan. Virus yang memangkas harga diri (feelings of worthlessness). Mereka merasa diri tak bernilai, dan lebih menyerupai “sampah yang menyesakkan” (being of a waste space), di antara dualitas kemiskinan dan tekanan kompetitif arus globalisasi yang merumuskan pendidikan sebagai panglima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu berarti, anak-anak miskin yang tidak terjamah oleh pendidikan semakin tereleminasi dalam percaturan ekonomi lokal yang selalu tunduk di bawa “palu” free global market.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, implikasi konfliktual kemiskinan keluarga, bukan hanya meregenerasi kemiskinan dari keluarga ke keluarga dan dari bangsa ke bangsa tetapi juga menghadirkan wajah generasi muda yang depresi, frustasi, dan “doyan” bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“duty of care”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah sekolah bisa membangun kultur pendidikan yang berhati ibu? Peran sekolah bukan hanya sebagai institusi kognitis yang mencetak anak didik, dengan formulasi kritis-pragmatis (know how dan know why) untuk melahirkan generasi bangsa yang lebih cerdas, pandai, dan berbudi pekerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tidak cukup. Tanggung jawab sekolah yang paling luhur adalah menjadi ibu, duty of care bagi peserta didik. “Ibu” (baca:almamater) yang mencinta, mengandung, melahirkan, memelihara, dan membesarkan peserta didik (Paula A Treichler, 1985).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sekolah mengambil peran ibu yang ringan tangan menolong (help) peserta didik. Sentuhan tangan seorang ibu di tengah kondisi ke-helplessness-an perserta didik merupakan upaya mendongkrak potensi kehidupan (zest of living) yang kian sulit dipertahankan akibat realitas kemiskinan yang menukik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah semestinya menjadi ruang kehidupan di mana peserta didik merasa at home, dilindungi dan ditolong (Nelson, 2000) dengan dibentuknya “wadah solidaritas” sekolah untuk membantu anak-anak miskin di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sekolah menjadi ibu yang selalu memberi hope kepada anak didik. Peserta didik yang sedang mengalami situasi helplessness akan sangat rentan merasa diri hoplessness. Keputusasaan yang sudah terpatologis akan mudah melahirkan rasa diri worthlessness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada level ini, mereka merasa diri sebagai sampah, yang dibuang, dpinggirkan dan harus dimusnahkan. Di sini, sekolah mengambil inisiatip untuk memberi harapan hidup yang lebih realistik dan idealistik dengan mengaktifkan “team konseling” profesional di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah perlu mensoalisasikan tujuan dan manfaat konseling kepada peserta didik agar stereotipe buruk ruang konseling adalah ruang anak "bermasalah" dapat dihindari. Sebaiknya konselor sekolah tidak perlu mengangkang dua jabatan mengajar sekaligus konselor. Konselor terfokus dengan pekerjaan pembinaan psikologis anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, motivational theory (Pintrich &amp;amp; Schunk, 1996), peran sekolah adalah menjadi ibu yang memotivasi dan membangkitkan self-confidence anak didik. Kondisi worthlessness peserta didik yang terlampau berat akan sangat gampang jatuh pada pilihan membunuh diri (Durkheim, Suicide,1897).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai langkah preventif, para pendidik perlu melakukan “pendampingan kreatif-psikologis” secara personal kepada anak didik. Banyak peserta didik akan mengenang guru mereka, pada dasarnya bukan karena “cakepnya” metodologis pengajaran, tapi soal kedekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan itulah yang membuat semua orang memutuskan untuk bersahabat, berkawan, dikenang, bahkan pada level yang paling tinggi adalah mencinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pendekatan kreatif-psikologis ini, mereka merasa diri didengar dan dibela dalam kondisi keretakkan kepribadian akibat lingkaran setan helplessness, hopelessness, dan worthlessness yang sudah kronis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-445175838609428487?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/445175838609428487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=445175838609428487' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/445175838609428487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/445175838609428487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/sekolah-berhati-ibu.html' title='SEKOLAH &quot;BERHATI IBU&quot;'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCKnZsXiXNI/AAAAAAAAAC0/ZtSOY1xj2e4/s72-c/317355_anak01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-6812235207642769569</id><published>2008-05-07T23:52:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T00:52:06.344-07:00</updated><title type='text'>SOLIDARITAS HATI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCKkyMXiXMI/AAAAAAAAACs/ACAKCi6FF-M/s1600-h/360863312.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197898102159334594" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCKkyMXiXMI/AAAAAAAAACs/ACAKCi6FF-M/s200/360863312.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Sumpah Pemuda baru kita lewati. Semua pemimpin baik dari pusat ibu kota maupun di desa-desa punya intisari pidato yang sama. Bagaimana mereaktualisasi ikrar Bertanah air, Berbangsa dan Berbahasa satu yaitu Indonesia 79 tahun yang silam ke dalam situasi kita sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi 28” menitip sebuah impian besar di atas pundak kita, agar dengan modal “three in one” ini, kelak Indonesia mengukir kejayaan seluas-luasnya. Kurang lebih 79 tahun sudah, pintu gerbang menuju kejayaan itu, yang berpuncak pada 17 Agustus 1945 telah dibuka seluas-luasnya, sampai kita bisa berdiri tegak sekarang dan di sini, NKRI. Hanya, mengapa kejayaan bangsa itu tak kunjung-kunjung tiba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Solidaritas “Semu”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Makna Sumpah Pemuda boleh “dimaknai” sana sini untuk mendapat makna lebih segar tapi sejatinya adalah aura persatuan bangsa. Ada keresahan, peloncatan generasi yang tidak dibekali oleh warisan sejarah yang baik menyebabkan generasi baru seperti sleepwalkers (Lynne V. Cheney, 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat “berjalan sambil tidur” maka mosaik ikrar Sumpah Pemuda tidak lagi dipandang secara utuh oleh generasi sekarang. Ia dipandang sekadar taken for granted sebagai warisan “sejarah persatuan” (wilayah, hukum, catatan sejarah di sekolah) dan tanpa “dikelola” untuk meraih cita-cita bangsa. Kita lebih merasa dipersatukan oleh “benda” sejarah daripada ikatan psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasinya, lahirlah solidaritas semu. Di mana, banyak orang mengklaim suku, daerah, agama, partai ataupun dialeknya sebagai tanah air, bangsa dan bahasa “Indonesianya mereka”. Benar apa yang dikatakan oleh Francis Fukuyama bahwa Indonesia termasuk negara yang “low trust society”. Ada beberapa fenomen “sedikit” membenarkan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, konsep bertanah air satu rapuh. Perang antarsuku di Papua terus berkecamuk sampai hari ini adalah satu contoh bagaimana konsep bertanah air satu itu begitu rapuh. Orang dikotak-kotak. Kami dan mereka. Suku asli dan pendatang. Pribumi dan nonpribumi. Orang Flores merantau di Jawa, urusan KTPnya dipersulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, orang Jawa masuk Flores kembali diperlakukan sama. Bangunan Mesjid di Batak dipersulit sementara bangunan Gereja di Jakarta lebih sulit daripada bangun motel pijat. Begitupun di daerah lain. Lingkaran saling mempersulit pun semakin tajam. Lalu, di mana tanah air bersama itu? Kalau kita tidak sepenuh hati menerima satu dengan yang lain di atas tanah air tumpah darah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi, pengelolaan tanah air yang amburadul. Kasus lumpur Sidoarjo yang hanya menunggu waktu untuk menenggelamkan sebagian manusia dan Tanah Air ini, terasa “angin lalu” saja. Rasa simpati bangsa sayup-sayup terdengar. Ini baru pemandangan di pusat negara. Belum terhitung pengelolahan tanah air di daerah yang menyisahkan seribu satu macam persoalan deekologis, depopulatif, dan degradasi identitas masyarakat lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan tanah air yang kaya raya ini, dikelola oleh orang-orang egois dan narsis. Tidak pernah dipikirkan apa blueprint yang disiapkan untuk 20 tahun ke depan. Yang dipikir adalah bagaimana memenuhi perut sekarang. Sekali lagi, perut, perut dan perut! Akhirnya, kita hanya mewarisi generasi yang perutnya besar daripada otaknya besar. Boleh Anda menebar senyum di sini tapi pulang rumah sebentar, jangan malu-malu makan banyak. Yang penting jangan lupa prinsip “makan untuk hidup bukan hidup untuk makan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, konsep berbangsa satu pun terkoyak. Aksi robekan bendera Merah Putih terjadi di Belanda oleh pejuang Papua Merdeka (youtube). Bagaimanapun Anda dan saya pasti merasa hati gatal ketika menyaksikan orang kita sendiri dengan semena-mena merobek-robek bendera kebangsaan kita. Bahkan, dalam acara perobekan itu disertai caci maki. Tak berhenti di situ. Pengibaran bendera RMS di depan Presiden di Ambon kali lalu sangat meyayatkan. Hanya di Indonesia yang terjadi demikian. Generasi apa macam itu? Lebih parah lagi, kembali bangkitnya GAM setelah kedamaian bersemi di Aceh. Mengapa luka lama kembali digores dan luka baru terus diciptakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa benci terhadap negara begitu mudah tersulut. Ada-ada saja upaya menjelekkan negara dan pemerintah. Padahal, kita sendiri enggan bekerja keras. Lalu, selebihnya menuding pemerintah penyebab kemiskinan. Enggan sekolah dengan serius. Senin kamis masuk sekolah, sisahnya nongkrong. Lalu, sebentar turun ke jalan protes pemerintah kenapa ada pengangguran. Kenapa itu kanapa ini...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, konsep berbahasa satu terkesan tidak menyatukan. Aksi hujat menghujat pemimpin dan partai politik di pentas publik tak karuan. Bahasa emosi dan marah-marah adalah pemandangan yang lebih enak ditontonkan kepada publik daripada bahasa santun, bijak dan toleransi. Anak muda pun tak ketinggalan. Kata-kata sejuk tidak mempan untuk memecahkan persoalan sosial maka tawuran dan demonstrasi berujung pada aksi kekerasan adalah pilihan pahit yang memiluhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa yang satu dan sama itu lebih banyak digunakan untuk mengeritik daripada memberi pujian kecil. Akhirnya, kita terceraiberai. Bikin blok sana sini entah menurut suku, dialek ataupun daerah. Karena blok semakin kuat maka pemakaian bahasa daerah sulit dihindar. Menyebabkan orang lain merasa asing dan menyendiri di tengah keramaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah alami ketika teman saya sekantor berbicara bahasa mereka sendiri maka rasanya dunia begitu kejam. Akhirnya saya memilih ke toilet saja. Itu baru contoh kecil. Artinya, bagaimana mengukir kejayaan bangsa jika pemimpin dan rakyatnya terdiridari kerumunan yang terceraiberai oleh karena faktor suku, bahasa, agama, partai dan sebagainya yang sangat kental. Adakah paradigma baru yang bisa mengangkat kembali jiwa persatuan bangsa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Solidaritas Hati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sara Paddison, dalam bukunya The Hidden Power of the Heart (1997) mengatakan setiap orang punya inner antena yaitu hati. Inner antena itu dilukiskannya sebagai mata air kehidupan, mengalir jauh dan punya kerinduan bersatu. Darinya, solidaritas hati mengalir. Ia mengalir seperti air dari kaki gunung, menyusui kehidupan meski ia melewati lembah dan ngarai, terjulur di tebing tinggi, tersumbat, tergenang dan berlahan-lahan bersatu membentuk samudera luas. Di sanalah kehidupan penuh damai dan cinta bersemi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solidaritas hati pun demikian. Ia mesti bergerak dari dalam diri. Lalu, berlahan-lahan mengalir ke luar. Ia menyapa orang lain dengan kehidupan yang menyejukkan. Ia bisa lentur menyantuni kebhinekaan. Jalannya berkelok-kelok, terjal dilaluinya, bahkan melelahkan tapi ia menjanjikan samudera kehidupan luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solidaritas hati menjanjikan air kehidupan. Samudera luas tidak terjadi dengan dirinya sendiri. Ia terbentuk dari riak-riak sungai kecil, yang mengalir dari kejauhan menuju kejauhan. Ia tidak egois. Setiap perjalanannya menyusui kehidupan yang dilewatinya. Ia tidak menabrak batu penghalang yang keras dengan kekerasan. Ia justru mengandalkan kelenturannya. Ia tidak melawan tebing yang tajam dengan teriakan penuh caci maki. Justru, hanya riak kecil penuh bersahaja terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sebentar tersumbat dan tergenang di tengah lobang kegelapan. Tapi, Ia sadar perjuangan sangat dibutuhkan. Mengumpulkan tenaga adalah adalah upaya membebaskan dari kebusukan, kesengsaraan, kemalasan dan kematian daripada memaki diri sendiri atau menyalahi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, semuanya berlalu. Tebing yang tajam berlalu dan kegembiraan samudera menanti. Batu keras berlalu dan kelembutan samudera menyambut. Kebusukan berlalu dan aroma sumudera menjemput. Kemalasan berlalu dan kemegahan samudera membentang luas. Lubang kematian berlalu dan samudera kehidupan yang indah, damai dan penuh cinta bersemi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak satupun aliran sungai mengkapling samudera adalah miliknya. Asal gunung boleh berbeda, nama sungai boleh berbeda, tapi substansi airnya tetap tawar. Tujuannya pun tetap satu yaitu menghidupi kehidupan di samudera luas. Samudera pun rela membakari dirinya oleh sengatan matahari demi menghasilkan awan, lalu turun hujan dan akhirnya gunung membidani kelahiran anak-anak sungai dan samudera pun menjadi hamparan air tak berkekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, solidaritas hati diandaikan. Ia lahir bergerak dari kedalaman individu, lalu keluarga, masyarakat dan negara. Itulah sebabnya, dari dulu Blaise Pascal terlalu percaya bahwa “Logika Hati” mampu mengubah segala-galanya termasuk yang tidak dimengerti oleh rumusan otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah Pemuda dan pidato berbusa-busa boleh berlalu tapi solidaritas hati terus mengalir. Mengalirlah sampai sejauh-jauhnya. Terjal, tebing, batu, lobang akan berlalu selagi kita tetap bersatu. Maka, bangsa dan daerah kita akan menjemput “samudera luas” sebagaimana impian yang dititipkan oleh pendahulu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Staf Televisi TBN of Asia Tinggal di Manila&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-6812235207642769569?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/6812235207642769569/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=6812235207642769569' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/6812235207642769569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/6812235207642769569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/solidaritas-hati.html' title='SOLIDARITAS HATI'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCKkyMXiXMI/AAAAAAAAACs/ACAKCi6FF-M/s72-c/360863312.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-7914029259706336263</id><published>2008-05-07T02:11:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T01:31:58.798-07:00</updated><title type='text'>Nangis Untuk Adikku</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJlYMXiXDI/AAAAAAAAABk/JZfuvmwnwJg/s1600-h/86869633.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197828386250185778" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 253px; CURSOR: hand; HEIGHT: 210px" height="108" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJlYMXiXDI/AAAAAAAAABk/JZfuvmwnwJg/s200/86869633.jpg" width="117" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!" Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi." Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..." Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.." Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini." Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?" Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya." Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;[Diterjemahkan dari "I cried for my brother six times"]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-7914029259706336263?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/7914029259706336263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=7914029259706336263' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/7914029259706336263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/7914029259706336263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/saya-nangis-untuk-adikku-enam-kali.html' title='Nangis Untuk Adikku'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJlYMXiXDI/AAAAAAAAABk/JZfuvmwnwJg/s72-c/86869633.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-6565820213700127358</id><published>2008-05-07T01:00:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T01:38:39.030-07:00</updated><title type='text'>TARUHAN MAHAL KETIKA "PENA BERBICARA"</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJssMXiXFI/AAAAAAAAAB0/hrJJvB_GqPA/s1600-h/3170161904.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197836426428963922" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="145" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJssMXiXFI/AAAAAAAAAB0/hrJJvB_GqPA/s200/3170161904.jpg" width="119" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;(&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kritikan Keras Penganiayaan Wartawan di Mabar&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Harian Nasional Kompas (18/2/2008) menurunkan berita lokal yang sama sekali “mengejutkan”. Wartawan Pos Kupang, Yacobus Lewanmeru (Obby) dianiayai oleh empat orang preman, sampai ia digotong ke rumah sakit dalam keadaan semaput. Penganiayaan Obby hanya menambah jumlah deretan wartawan yang nasibnya kian malang melingtang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Penganiayaan wartawan bukan kasus pertama kali terjadi di NTT. Tapi, baru kali ini, berita penganiayaan wartawan di Flores diekspos ke tingkat nasional oleh Kompas. Harian Kompas melansir bahwa pelaku kekerasan itu adalah “preman”. Saya tidak habis berpikir kota kecil seperti Labuan Bajo, apa benar-benar ada preman sebajingan ini? Atau jangan-jangan ada “aktor intelektual” yang mengotak-atik preman ini?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a id="more-6186"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Maaf atas kuriositas ini, namanya juga curiga. Jadi, boleh saja saya keliru. Tapi, setelah saya membaca keseluruhan artikel ini, di alinea lain ia menulis motif penganiayaan itu menurut “sejumlah pihak”, terkait pemberitaan Obby soal proyek singkong senilai Rp 2,8 miliar yang diduga fiktif”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Akhirnya, saya sadar ternyata banyak orang di belakang saya, yang berpikir persis seperti apa yang saya pikirkan. Setidaknya, membenarkan intrik pihak ketiga, yang boleh jadi bermain di balik kasus ini. Maka, porsi kecurigaan saya semakin mengalir bebas dan luwes.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sejak awal Harian Pos Kupang memang getol menurunkan berita proyek ubi kayu di Mabar yang sarat bermasalah itu. Kita angkat jempol untuk keberanian Pos Kupang untuk mencecar-cecar persoalan ini “dikunyah” publik. Saya yakin di balik pemberitaan PK ini, tidak ada motivasi subversif apalagi demi interese pribadi. Kalau bukan untuk kepentingan banyak orang. Jika demikian, mengapa wartawan digebuk preman?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Awak pers hanya menjalankan amanat publik yaitu memberi informasi yang seharusnya diketahui publik, lalu dijadikan formasi untuk melakukan solusi-transformatif publik atas proyek bermasalah ini. Sebagai putra daerah Mabar dan pembaca setia Pos Kupang saya salut dan berterimakasih. Sebab, harian ini telah mengontribusi informasi yang solid kepada khalayak tentang proyek ubi kayu yang tidak jelas nasibnya. Dengan harapan, semua orang turut membantu mengeksekusi persoalan ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tak disangka, jika hasil guratan tinta pena si Obby, berujung “digebuk” oleh preman. Inikah taruhan mahal ketika pena berbicara? Obby menderita traumatik psikis-fisik. Publik juga merasa dirugikan. Rugi karena publik kehilangan informasi aktual dari hasil torehan segar pena si Obby. Karena publik tidak mendapat informasi yang selayaknya maka secara inheren rakyat dibodohi. Ketika rakyat dibodohi maka rakyat tak ubahnya sebuah kerumunan yang dungu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ketika rakyat menjadi dungu maka kita tidak tahu lagi, bagaimana nasib kerumunan warga yang diimipikan dalam Negara Ideal Plato. Pasti hanya tunggu waktu untuk hancur lebur, karena baik pemimpin maupun yang dipimpin sama-sama terpasung dalam kotak dungu ( bukan pecinta filsafat)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sebagai pembaca yang kritis, tentu merasa aneh, naif. Rasa aneh kita tidak terlepas dari rasa kecurigaan. Curiga, jangan-jangan preman ini dipakai oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, hanya untuk memberi “efek jera” kepada wartawan, membungkam ruang publik dan tentunya dengan optimisme kerdil perkara akan tersumbat. Berlaku prinsip, bunuh seekor ayam untuk menakuti seribu ekor kera di hutan. Apakah berhenti di sini?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Rakyat sekarang semakin otokritik menganalisis persoalan sosial mereka. Mereka mencurigai sana-sini. Tidak semua kecurigaan adalah negatif. Filsuf Descartes dalam teori dubium methodicum-nya menganjurkan betapa pentingnya metode dubium (kecurigaan) membedah kasus sekecil apapun untuk melacak titik kebenaran. Lantas bagaimana kecurigaan kita terpana?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Hari-hari belakangan ini kasus dugaan koruptif proyek ubi kayu Mabar bagaikan “bola liar”. Tak sedikit orang dibikin panik, stress. Bola liar itu menggelinding dari kepala ke kepala, tangan ke tangan dan mulut ke mulut. Ada yang merasa diri gawang pertahanannya nyaris jebol. Hal ini terlihat aksi tuding menuding antara pemimpin (eksekutif versus legislatif) atas proyek ubi kayu ini. Bak gayung disambut, PK mengangkat dan memuat kasus ini untuk dijamah publik (good news is bad news).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Persis dalam keadaan “mendidih” seperti ini, tiba-tiba terbetik berita wartawan PK digebuk oleh preman. Adalah wajar jika publik angkat bicara kenapa wartawan digebuk? Adakah korelasi antara wartawan digebuk dengan kasus dugaan korupsi proyek ubi kayu di Mabar? Walaupun menurut hasil penyelidikan sementara polisi, penganiayaan ini cuma “kesalahpahaman” dan “dendam pribadi”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tentu, publik tidak mudah percaya, apalagi mengamini begitu saja bahwa penganiayaan itu hanya soal kesalahpahaman dan dendam pribadi. Entah apa saja alasannya, tindakan kekerasan ini perlu dikutuki. Apalagi tindakan kekerasan ini berpautan dengan profesi. Obby digebuk dengan terlekat profesi wartawan. Jangankan orang pintar bisa beranalisis, penjual sayur di sudut pasar baru Labuan Bajo pun, punya second thought tentang posibilitas “pihak ketiga” yang patut dicurigai di balik aksi penggebukan wartawan ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Rasionalitas berpikir seperti ini bukan ciri kritis yang baru mengidap masyarakat modern sekarang, sudah jauh-jauh sebelumnya, berlaku teori Sinteses Hegel bahwa untuk mengetahui persoalan (sintesis), pikiran mesti “dibelah dua” antara yang positif dan negatif diacak, dipisahkan dan dipertautkan maka dengan sendirinya persoalan terbongkar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Lantas, siapa yang patut dicurigai? Kita tidak perlu menyebut siapa mereka. Ini tugas polisi. Toh, tanpa disebut pun semua orang tahu. Kultur presepsi masyarakat seperti ini setidaknya segerak lurus dengan kata bijak Socrates “apa yang kita tahu dengan pasti adalah kita tidak tahu”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Dengan demikian, pengetahuan kita semakin luas, tajam, akurat dan teruji kebenarannya.Kalau Plato masih hidup sekarang, kita boleh berdebat, teori Mimesis-nya, yang sering menuding rakyat suka meniru tindakan biadab menjadi awal kehancuran republik bisa digugat habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Teori Plato ini akan diuji kesahihannya di era sekarang ketika yang terjadi terjungkir balik. Justru para “filsuf” yang selalu meniru dan mewariskan tindakan biadab kepada rakyat. Sebenarnya, para pemimpin yang selalu menjadikan rakyat sebagai “kelinci percobaan” perlu diberi “efek jera” agar republik ini bisa langgeng menuju pusaran impian negara ideal ala Plato.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Di era gegap gempita demokrasi sekarang ini, kebebasan dibentang selebar-lebarnya. Selebar itu pula kesempatan berbicara-dibicarakan atau menulis-ditulis apa saja, sejauh apa yang dibicarakan dan dituliskan dapat dipertanggungjawabkan. Ada cara etis mengemukan pendapat. Demikian pun, hak menggugat selalu menggunakan cara beradab. Bukan gunakan otot atau urat!&lt;br /&gt;Kekerasan fisik hanya pratanda kotak kita tumpul. Ketika otak tumpul maka yang bisa ditemukan adalah tindakan dungu, ruang politik juga dungu dan hasilnya juga dungu. Dungu yang benar-benar dungu, bukan sekadar “dungu”. Padahal, sejatinya politik oleh Michel Foucault, (1979) dilihat sebagai cara ampuh untuk saling memeriksa dan mengkritisi sehingga tak ada dominasi yang akan melahirkan tindakan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Terlepas benar tidaknya, penganiayaan wartawan PK di Labuan Bajo, terkait dengan kasus dugaan koruptif proyek ubi kayu di Mabar maka kita serahkan kepada polisi menyelidiki kasus ini. Ini ujian terberat profesionalisme polisi Mabar sekarang dan menjadi titik penentu kepercayaan masyarakat ke depan. Kita bukan hanya mendukung polisi secara moral untuk menyelidiki kasus penganiayaan ini sampai tuntas tapi jauh lebih penting tugas utama polisi adalah mengusut tuntas dugaan koruptif proyek ubi kayu di Mabar ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tidak berlebihan jika kehadiran media sekarang persis sebagai pemimpin alternatif di tengah masyarakat.Pemimpin yang mengakomodasi aspirasi rakyat.Meneguh, menghibur, mengarahkan dan menuntun masyarakat dengan sejumlah informasi terkini. Sekalipun, mereka tidak digaji oleh rakyat. Ide liar yang tertumpah lewat tinta pena mereka hanya salah satu bentuk ekspresi pengabdian atas nama cinta. Berjuang tanpa pamrih untuk kepentingan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Dedikasi wartawan seperti ini perlu dicontohi dan bila perlu bersemi di pojok hati para pemimpin dan wakil rakyat yang sudah terpilih maupun yang akan terpilih. Bukan sebaliknya, mencekik, menjerat membunuh kaki, tangan, hati dan kepala wartawan. Anda digaji oleh rakyat, punya mobil dinas, punya body guard, uang saku, dan akomodasi yang berkecukupan. Di manakah perjuangan Anda untuk rakyat? Ingat, rakyat yang miskin, bodoh, dan lapar bahkan yang sudah mati di liang kubur sana masih menagih perjuangan Anda.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Penulis, Staf Televisi TBN Asia, di Manila &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;(Dimuat di NTT online 2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-6565820213700127358?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/6565820213700127358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=6565820213700127358' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/6565820213700127358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/6565820213700127358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/taruhan-mahal-ketika-pena-berbicara.html' title='TARUHAN MAHAL KETIKA &quot;PENA BERBICARA&quot;'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJssMXiXFI/AAAAAAAAAB0/hrJJvB_GqPA/s72-c/3170161904.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-8613806151338464622</id><published>2008-05-07T00:55:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T01:42:15.590-07:00</updated><title type='text'>MANGGARAI BARAT: THE SECOND BALI?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJuucXiXHI/AAAAAAAAACE/PC8k2pHhiJM/s1600-h/2413499742.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197838664106925170" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 191px; CURSOR: hand; HEIGHT: 154px" height="154" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJuucXiXHI/AAAAAAAAACE/PC8k2pHhiJM/s200/2413499742.jpg" width="130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Fidel Hardjo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;“Raksasa akan segera bangun dari tidurnya yang pulas”. Demikian, wartawan Bali Post menebar “optimisme segar” ketika terbentuknya Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) pada tahun 2003. Mabar akan diprediksi menjadi industri wisata yang bisa menggeser posisi Bali ke depan. Apakah itu mungkin?&lt;br /&gt;Optimisme wartawan ini tentu tidak mengada-ada. Mabar punya tipikal istimewa dianugerahi aneka obyek wisata. Kita kenal satwa endemiknya biawak Komodo yang telah menjadi ikon pariwisata Manggarai Barat, bahkan Nusa Tenggara Timur secara umum.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a id="more-6245"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Obyek wisata lain adalah panorama alam eksotik, bentang laut dengan hamparan pasir putih yang bersih, keindahan alam bawah laut yang memukau dengan spesies terumbu karang dan ikan hiasnya, goa alam, air terjun hingga danau berkadar belereng seperti danau Sano Nggoang. Belum lagi, fosil-fosil kayu yang ditemukan di sejumlah desa sperti di Warloka serta bangunan benteng-benteng perang yang bisa dijumpai di ini terpental melambung jauh.&lt;br /&gt;Sayangnya, potensi wisata ini belum dikelolah secara baik. Rasa-rasanya, kata sihir wartawan Bali Post di atas, sulit didamaikan dengan realitas kini. Apa yang kita jumpai di Mabar sekarang, masih banyak desa dan obyek wisatanya terisolasi tanpa terekat oleh infrastruktur transportasi. Selama lima tahun, Mabar terkesan bagaikan “raksasa yang berjalan sambil tidur”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Usia lima tahun sebenarnya, sudah cukup matang dalam menggenjot akselerasi pembangunan. Paling kurang, runtuhnya sekat-sekat isolasi di desa-desa terpencil dan kawasan wisata lewat energisitas proyek infrastruktur transportasi.&lt;br /&gt;Belum lekang dalam ingatan saya.Tahun lalu, ketika Bupati Fidelis Paranda mengunjungi desa Pota Wangka, yang letaknya tak seberapa jauh dari pusaran kota Labuan Bajo. Kebetulan saya hadir juga di tempat itu. Saya seperti warga lain, merasa senang melihat Bupati secara dekat. Tanpa basa-basi, waktu itu diatur sesi tanya-jawab. Meskipun kehadiran rombongan Bupati kali itu untuk merayakan pesta emas syukuran Paroki St. Maria Fatima Wangkung Boleng.&lt;br /&gt;Dalam sesi tanya jawab itu, saya menyaksikan betapa rakyat tergebu-gebu minta satu hal: Bapak Bupati tolong buka jalan raya untuk desa kami! Rakyat melihat peluang ini untuk minta dan minta. Sepertinya rakyat adalah pengemis pembangunan? Begitu, cetusku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Akhirnya, saya sadar. Ternyata, rakyat di daerah terpencil seperti ini, punya kesadaran besar akan mobilitas pembangunan. Tinggal saja, bagaimana pemerintah merespon kesadaran rakyat ini. Sekian sering, transformasi pembangunan tak bersentuhan dengan kerinduan rakyat. Sebab, mobilitas pembangunan tidak mampu menjebol getho isolatif rakyat di desa-desa terpencil.&lt;br /&gt;Pembangunan transportasi dan komunikasi adalah pintu gerbang pemberdayaan masyarakat terpencil dan terasing. Seperti apa yang tertuang dalam Keppres No. 111/1999 dan Kepmensos No. 06/PEGHUK/2002. Komunitas terpencil adalah “kelompok sosial yang bersifat lokal dan terpencar serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial, ekonomi maupun politik”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJumsXiXGI/AAAAAAAAAB8/PN97zBU28fM/s1600-h/3911811283.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197838530962938978" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="105" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJumsXiXGI/AAAAAAAAAB8/PN97zBU28fM/s200/3911811283.jpg" width="135" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pembangunan daerah sejatinya ditakar oleh kehidupan warga desa terpencil. Teraksesnya jalan raya ke desa-desa terpencil merupakan prioritas utama pembangunan.Tujuan pembangunan harus terorientasi kepada orang miskin sebagai sasaran langsung pembangunan. Orang-orang miskin adalah orang-orang yang paling menderita dan sering dilupakan demikian kata Schumacher (Schumacher, 1979).&lt;br /&gt;Selama ini, Mabar disesaki oleh berbagai proyek pembangunan. Itu signal yang positip sekaligus sebuah ironis. Sayangnya, proyek-proyek yang sedang menggeliat ini, tanpa diimbangi oleh pengawasan yang maksimal.&lt;br /&gt;Misalkan saja, pengerjaan ruas jalan route Nggorang-Lando yang dilaporkan dalam sidang paripurna DPR 2007 bahwa proyek ini adalah proyek paling bermasalah dan menelan begitu banyak uang. Ditenggarai, pada tahun 2004 lalu Mabar mengalokasikan dana Rp 599.975.00,00, Rp 850.000.000,00 (2005) dan Rp 1.627.465.000,00 (2006) (Pos Kupang, 18/7/2007) .&lt;br /&gt;Tapi lihat hasilnya, belum selang tiga bulan, jalan ini sudah rusak total. Bayangkan, jalan Nggorang-Lando, kondisi jalanya sulit dibedakan lagi antara jalan raya atau “pate wonok” (jalan berburu) . &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Padahal ada beberapa desa sepanjang Nggorang-Lando yang masih terisolasi yaitu desa Tanjung Boleng dan Pota Wangka dan menuju Warsawe (Desa Cunca Wulang).&lt;br /&gt;Wajah keterisolasian wilayah ini bukan hanya mematikan elan vital ekonomi tapi juga melumpuhkan pendidikan. Sebab, penduduk sekitar ini terpaksa berjalan kaki memikul bakul jualan mereka ke pasar. Anak-anak mereka harus berjalan kaki puluhan kilometer menuju Labuan Bajo sambil pikul bekal, untuk melanjutkan SMP atau SMA. Inikah ironi sebuah pembangunan yang tak berwajah rakyat?&lt;br /&gt;Rendahnya kualitas pengerjaan jalan raya Nggorang-Lando baru-baru ini merupakan letupan gunung es. Bahwa, ada hal yang terbaikan dalam gegap gempita pembangunan Mabar sekarang. Terlihat tapi terabaikan. Bagaimanapun yang berlalu telah berlalu. Tapi, setidaknya kita perlu belajar dari kesalahan masa lalu (learning by mistake).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sekarang terserah kita. Membiarkan Mabar seperti “raksasa yang terus tertidur pulas” atau kita perlu bangunkannya dari kondisi ketidurannya itu. Yah, kembali ke tangan nahkoda utama kabupaten Mabar, perlu menyiasati gejolak pembangunan daerah ini secara produktif.&lt;br /&gt;Pertama, betapa pentingnya pengawasan pemerintah akan seluruh proyek jalan raya Mabar. Proyek-proyek daerah, perlu diawasi secara serius dan intensif. Agar siapapun Kontraktor pemenang tender proyek daerah tidak sekali-kali mengibuli pengerjaan jalan atau apapun jenis proyek daerah lainnya dengan kualitas palsu.Kedua, pentingnya manajemen pembangunan. Pada prinsipnya, pembangunan awal daerah adalah masa yang paling sulit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Periode awal mesti dibenahi dengan fondasi yang kokoh demi kontinuitas pembangunan selanjutnya. Setidaknya, ada perencanaan bertahap dan matang. Saya ambil contoh saja. Proyek pengadaan stek ubi kayu yang sarat bermasalah. Untuk proyek ini pemerintah mengalokasi 2,8 miliar dana APBD, telan begitu banyak uang daerah (Pos Kupang,21/3/2007).&lt;br /&gt;Alhasil, proyek ubi kayu ini makan energi dan ongkos. Hasilnya, apa? Apalagi sampai sekarang wartawan Pos Kupang tidak pernah kabarkan lagi berita seputar proyek ubi kayu itu. Ini hak rakyat, untuk mengetahui apa dab bagaimana proyek selanjutnya. Jangan beri kesan kelompok penggebuk wartawan Pos Kupang kali lalu berhasil menjerakan wartawan untuk tidak megekspos proyek ubi bermasalah itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ketiga, menjebol semua getho isolatif desa-desa terpencil dan tempat-tempat obyek wisata merupakan kebutuhan yang sangat urgent untuk Mabar sekarang. Sebab, ketika transportasi berjalan lancar maka wisatawan mudah mengunjungi tempat wisata, dan rakyat mudah mengakses informasi, pasar, pendidikan dan kesehatan. Pada gilirannya, rakyat tergerak berpacu secara aktif-partisipatif dalam roda pembangunan daerah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pada moment seperti inilah, kita butuh kehadiran sosok seorang pemimpin yang punya naluri agresivitas pembangunan tinggi. Sehingga, impian kita yang sudah lama terpendam (das sollen) bahwa suatu saat Mabar bisa menjadi “The Second Bali” akan menjadi kenyataan (das sein). Jangan hanya merasa nyaman dengan bermimpi!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Penulis, Staf Televisi TBN Asia &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;(Dimuat di Flores Pos 2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-8613806151338464622?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/8613806151338464622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=8613806151338464622' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/8613806151338464622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/8613806151338464622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/manggarai-barat-second-bali.html' title='MANGGARAI BARAT: THE SECOND BALI?'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJuucXiXHI/AAAAAAAAACE/PC8k2pHhiJM/s72-c/2413499742.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-475927734751859059</id><published>2008-05-07T00:52:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T01:57:02.024-07:00</updated><title type='text'>“SELAMATKAN RUMAH GLOBAL”</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;(&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Awasan Bersahaja untuk Pengontrak Rumah di “Ujung Timu&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;r”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Bumi ini adalah global village (kampung global). Pelekatan nama ini diyakini benar berkaitan dengan apa yang disebut “globalisasi”. Tapi, anehnya para ekolog lebih suka menyebut bumi ini sebagai “rumah global”, global home (Jhon McConell - Founder Hari Bumi Sedunia – eks Senator AS, dengan motto agungnya: “Justice, Peace, Care Earth”, 1970).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Bumi ini memang lebih pas disebut “rumah global”. Ia adalah tempat kita dilahirkan, bermain, berkumpul, menggantung nasib, meraih mimpi, merayakan kehidupan, menenangkan jiwa yang gelisah dan menjadi “kemah terakhir” di mana tubuh manusia kembali serupa dengan tanah dan debu, lalu jiwanya naik “ke atas sana” .&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a id="more-6168"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sebut rumah, tentu ada kamar-kamarnya. “Kamar-kamar” itu, kita sebut, apa yang dinamakan negara-negara sekarang. Setiap kamar pun masih ada “sekat-sekat”. Sekat-sekat itu kita beri nama provinsi, kabupaten, kecamatan, dan seterusnya, sesuai dengan selera nama diberikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Jadilah kita sebagai satu keluarga besar di atas bumi ini. Sebagai sebuah keluarga, tentu “merasa memiliki” rumah global ini. Rumah mesti dibersih sebersih mungkin. Ia harus dijaga senyaman mungkin. Dilindungi sebisa mungkin. Atap rumah yang bocor mesti diperbaiki. Jendelanya mesti diperhatikan agar sirkulasi udara lancar. Punya taman yang mungil tentu jauh lebih enak dipandang. Singkat kata, biar para penghuni merasa “at home” di rumahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Inilah planet yang kita sebut rumah global. Rumah global itu adalah bumi (globe). Sayangnya, Tuhan beri rumah global ini cuma satu. Karena, ia cuma satu maka setiap para penghuni di dalamnya butuh solidaritas yang kuat untuk merawat, menata dan mempercantiknya menjadi sebuah rumah idaman. Sekali dirusak, susah diganti apalagi dibeliin yang baru. Karena, sampai sekarang, para astronot belum temukan planet lain yang seindah dan senyaman bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sekalipun manusia “dikamarkan dan disekat” menurut (ruang-waktu) negara, agama, suku dan alamatnya di setiap belahan bumi tapi itu tidak mengurangi rasa “sense of belonging” terhadap rumah global ini. Sebagai satu keluarga besar tentu punya hak dan tanggung jawab yang sama. Hak untuk menghuni dan tanggung jawab untuk menjaga keadilan, kedamaian, kebersihan, ketertiban, keamanan dan keindahan rumah global ini sampai akhir hayat dikandung badan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Baik buruk rumah global ini ada di tangan kita. Akhir-akhir ini, para penghuni rumah global resah dan gelisah. Lantas rumah global ini kian pengap dan panas (global warming). Air bersih semakin susah. Gagal panen menyebabkan harga beras meroket. Longsor dan banjir adalah ancaman serius. Penyakit flu burung, gizi buruk, AIDS susah dihindari. Adakah sesuatu yang tidak beres?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Banyak ilmuwan sudah mendulangkan kajian ilmiah mereka. Kalau-kalau aneka bencana ini adalah ulah manusia itu sendiri. Rasa egois kian runcing. Tiap “kamar” ingin makmur sendiri. Proyek industri berlomba-lomba. Hutan diobrak-abrik tanpa belaskasihan. Kota-kota disemaraki oleh bangunan berkaca dan mencakar ke langit. Sampai lahan untuk tanam bunga di halaman rumah kewalahan. Dan, anak-anak kehilangan tempat bermain dan bersukaria.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Rasanya tidak adil. Ketika rumah global ini diciderai bencana kepanasan (lapisan ozon menipis) para penghuni saling melemparkan kesalahan. Semuanya ingin menang sendiri. KTT iklim PBB di Bali baru-baru ini gagal adalah contoh bagaimana solidaritas penghuni rumah global ini kian redup. Sementara para penghuni di dalamnya terus digilas oleh kegetiran akibat perubahan iklim.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Mungkin tepat jika kita perlu redefinisi dan reinterpretasi keberadaan rumah global ini. Siapa “tuannya”? Apakah ia menjadi gubuk global yang terlupakan? Sebab, atap rumah global ini sudah kebocoran. Jendela-jendelanya sudah tidak dilalui lagi oleh udara sejuk melainkan asap yang memabukan. Badai topan dan petir menakutkan. Longsor dan banjir datang dari empat penjuru mata angin. Apakah ini isyarat, rumah global ini terkubur dalam egoisme sempit penghuninya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Indonesia adalah salah satu penghuni “kamar” rumah global ini. Di ujung Timur kamar itu ada “sekat” khusus yang diberi nama NTT. Di sanalah orang NTT berada. Egoisme sempit merusak rumah global ini pun menyadap di wilayah kita. Hutan ditebang dari desa ke desa, dari kota ke kota. Sampah dibuang kapan dan di mana saja. Kebakaran hutan dan padang sering terjadi di musim kemarau. Inilah egoisme laten terbesar kita menambah kehancuran rumah global ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tak pelak, “sekat ” yang beralamatkan NTT ini sedang terusik oleh bencana. Ibu-ibu terpaksa gantung priuk akibat gagal panen. Bayi-bayi mengidap penyakit gizi buruk. Anak-anak pergi sekolah dengan perut kosong. Air minum yang bersih susah didapat. Apalagi, air untuk mandi lebih tidak ada lagi. Jangan heran bibit penyakit mudah menyerang tubuh siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Banjir dan longsor terjadi setiap tahun. Bahkan tak jarang sebuah kampung ditelan longsor. Pijar terikan matahari membuat kita tak bertahan bekerja, belajar dan bersantai di siang bolong. Malam hari juga, kamar tidur terasa panas sangat menyebalkan, menyebabkan kita susah tidur dengan nyenyak dan mencuri mimpi-mimpi indah di penghujung malam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Banyak orang bijak, menjelaskan inilah akibat “pergaulan bebas”. Kita bebas menjual hutan perawan. Bebas membiarkan pencuri masuk keluar hutan. Pencuri hutan pun dibebaskan tanpa diadili. Belum puas hutan dijual, kita sendiri bebas memperkosa hutan sendiri. Inilah yang disebut sebagai “incest ekologi”. Sebab hutan yang perawan digunduli sendiri, laut yang perawan diledaki bom, padang belantara yang indah dibakar sendiri dengan buang bebas puntung rokok.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Orang sering menuding globalisasi sebagai biang kerok pergaulan bebas itu. Padahal, semuanya lahir dari kerakusan dan ketamakan diri. Kerakusan dan ketamakan ini menyerang siapa saja. Mulai dari intitusi “kacangan” sampai dengan intitusi “gedehan”, mulai dari “orang kecil” sampai dengan “orang besar”, mulai dari orang “kepalanya kecil” sampai dengan “kepalanya besar”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tanpa disadari, sekat yang bernama NTT ini kian tidak nyaman. Ia juga berdampak pada ketidaknyaman bagi para penghuni lainnya di rumah global ini. Lalu, di manakah tanggung jawab kita sebagai penghuni rumah global ini? Rumah global ini diberi gratis oleh Sang Pencipta. Kalau saja Tuhan boleh marah, seperti bagaimana orang NTT lagi marah, maka kita semua ini bisa saja diusir dari planet tunggal ini, seperti kisah ‘the lost paradise’, manusia pertama di bumi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Apalagi kalau “sang empunya bumi ini” meminta ganti rugi atas segala kerusakan bumi yang pernah kita buat. Siapa yang bisa membayar semuanya? Siapa yang bertanggung jawab? Yang pasti, semua orang siap “mambayar” ongkos ganti rugi kerusakan rumah global ini, dengan “merevolusi” gaya hidup, sekecil dan sesederhana apapun, yang penting lahir dari kesadaran penuh. Mulailah dengan hal kecil-kecil.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pertama, hidupi budaya hijau dari rumah sendiri. Alangkah indahnya rumah jika dihiasi oleh taman mini dengan ditanami bunga-bungaan. Kita bayangkan jika setiap keluarga di NTT punya taman bunga di halamanya maka betapa semaraknya kampung-kampung dan kota-kota kita. Tentu lebih indah jika jantung kota-kota juga diperhiasi oleh taman-taman dan pepohonan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Taman rumah bisa berfungsi perekat tanah agar rumah tidak longsor ketika hujan tiba, “filter” debu-debu yang beterbangan masuk ke rumah kita. Selain itu, kita bisa hirup udara sejuk dan segar dan selebihnya kita menjadi kontributor melepaskan CO2 ke rumah global ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kedua, hidupi budaya bersih dan sehat. Prilaku buang sampah, puntung rokok, ludah dan kecing di sembarang tempat perlu diperbaiki . Selokan, sungai, laut dan sudut-sudut kota bukan tempat buang sampah. Ketika sampah menyesaki daerah aliran sungai menyebabkan aliran air terhambat dan meluap ganas. Udara tercemar dengan menyebar penyakit dan bau busuk yang menyengat akibat orang kencing, berak dan ludah di mana-mana. Demikian pun puntung rokok. Kadang kebakaran hutan dan padang terjadi hanya karena terlena membuang sepuntung rokok.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ketiga, hidupi budaya hemat. Kadang orang mulai berpikir hemat ketika hidup di ambang kesengsaraan. Selagi kaya, tidak ada kata hemat dalam kamus hidup. Mungkin attitude ini perlu diubah. Contoh saja, orang ber-uang, tidak boleh sefoya-foyanya membiarkan air terus mengalir di keran atau listrik menyala siang dan malam tanpa fungsi, hanya karena rekeningnya bisa dilunasi. Bukan soal bisa dilunasi atau tidak tapi hemat energi yang kita kurasi dari perut bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Keempat, hidupi budaya ramah terhadap alam perlu dikembangkan. Perlakuan salah terhadap binatang, pohon, tanah, air, laut dan udara kadang tidak dilihat sebagai kekerasan melainkan hal biasa bahkan sudah seharusnya manusia menjadi “tuan” atas alamnya. Tapi, tidakah kita jera ketika alam juga tahu bermain kasar lewat bahasa brutalnya tersendiri. Tanpa mengecil peran manusia sebagai “homo faber” , maka tetap diperlukan membangun relasai santun dengan alam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Inilah awasan bersahaja untuk pengontrak rumah sebuah “sekat” di Ujung Timur “kamar” rumah global ini yang bernama NTT, dalam rangka memperingati Hari Bumi Sedunia (Earth Day) 22 April tahun ini. Hari Bumi mengingatkan kita, “setiap orang punya hak yang sama untuk mendiami “rumah global” ini tapi pada saat yang sama dituntut tanggung jawab setimpal untuk menata dan memperbaikinya lebih baik” (Teks Proklamasi Earth Day 1970).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di NTT Online, 2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-475927734751859059?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/475927734751859059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=475927734751859059' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/475927734751859059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/475927734751859059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/selamatkan-rumah-global.html' title='“SELAMATKAN RUMAH GLOBAL”'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-5354515062606520358</id><published>2008-05-07T00:45:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:02:15.461-07:00</updated><title type='text'>JANGAN TERLENA DENGAN  FLU BURUNG!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCMWDMXiXdI/AAAAAAAAAE0/6XtzO5mfDK8/s1600-h/2312882646.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198022639031049682" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 205px; CURSOR: hand; HEIGHT: 169px" height="159" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCMWDMXiXdI/AAAAAAAAAE0/6XtzO5mfDK8/s200/2312882646.jpg" width="150" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NTT positip terserang flu burung! Demikian, hasil verifikasi Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional VI Denpasar, Bali, tahun 2004 hingga 2006. Setidaknya, ada tiga belas Kabupaten di NTT positip tertular virus Flu burung (H5N1) alias Avian Influenza (AI). Sekejap rasa takut dan cemas meracik psiko-historikku. Akankah sejarah “Holocaust Virus AI” di Spanyol (1918), Hongkong (1968), Singapura (1968), yang merenggut jutaan jiwa manusia kembali terulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ganasnya Flu Burung&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Keganasan virus AI lebih dasyat dari revolusi perang dunia II atau Nazi Jerman, atau perang Irak sekalipun. Ini bukan sekadar hiperbolik! Namun, fakta historis membuktikan hal itu. Pademi flu burung di Spanyol tahun 1918,1968 telah menewaskan sebanyak 20-40 juta orang. Dampaknya meluas jauh. Sebanyak, 675.000 orang Amerika meninggal dunia. Di mana 200.000 orang di antaranya meninggal dunia dalam bulan Oktober 1918. Dan, sebanyak 11.500 orang Australia meninggal dunia tahun 1919. Lalu, menyusul di Asia seperti di Hongkong 1968-1969 dan terakhir 1997 yang merenggut tak sedikit jumlah korban. Kemudian, tahun 2000-an penyakit ini merebaknya secara sporadis di kawasan Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Michael Rathford dalam bukunya The Nostradamus Code: World War III (2007) memprediksi abad 21 sebagai periode inisiasi Perang Dunia III (2008-2012). Di mana “natural holocaust ” (tsunami, gempa bumi, banjir, perubahan iklim, flu burung) menjadi musuh, evil dan “penjajah baru” yang mencabik-cabik ruang kenyaman manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prediksi Rathford ini memang tidak meleset. Kenyataannya, masyarakat dunia sekarang terciprat oleh panik “Perang Dunia III” . Misalkan saja, masalah warming global telah meresahkan masyarakat penghuni planet tunggal ini. Akan apa yang bakal terjadi 20 tahun ke depan jika bumi makin panas. Sementara kawasan Asia kebablasan dengan pademi flu burung. Apalagi dunia medis masih kecantol mendiagnosis virus ini sebatas diagnosa “kelinci percobaan”. Belum ada obat super efektif. Tapi, jumlah korban terus tergerus tanpa permisif.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Hingga &lt;/span&gt;&lt;a title="6 Juni" href="http://id.wikipedia.org/wiki/6_Juni"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;6 Juni&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a title="2007" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2007"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;2007&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;a title="WHO" href="http://id.wikipedia.org/wiki/WHO"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;WHO&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; telah merecord sebanyak 310 kasus dengan 189 kematian manusia di kawasan Asia yang disebabkan &lt;/span&gt;&lt;a title="Virus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Virus"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;virus&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; AI. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Di &lt;/span&gt;&lt;a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; sebanyak 104 kasus dengan 83 kematian. Sebanyak 139 kabupaten di 22 provinsi Indonesia telah menjadi zona pengendapan endemis Avian Influenza. NTT adalah salah satu di antaranya. Selain provinsi Jabar, Banten, DKI Jakarta, Bali, NTB, Lampung, Sumsel, Bengkulu, Bangka Belitung, Sumbar, Jambi, Sumut, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulsel dan Sultra. Saya sangat apresiatif keseriusan pemda Jabar yang merintis terbentuknya perda khusus tentang kasus flu burung. Itu berarti ada upaya solusi permanen terhadap kasus flu burung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana NTT?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sekarang kita bisa paham bahwa dalam alur sejarah peradaban manusia ternyata virus AI berimplikasi fatalistik depopulatif manusia. Setidaknya, data-data kasus flu burung di atas bisa menggenjot “elan” solidaritas psikologis sosial kita (Maurice Duverger, 1979). Agar siapa pun terpanggil secara psikologis untuk lebih solider mencegah penyakit ini dan membangun dunia bersama yang lebih sehat dan nyaman untuk dihuni.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sebagaimana kita ketahui bahwa sebanyak 13 kabupaten di NTT terserang virus AI. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Walaupun TTS, Ende dan Manggarai Barat belum tertular. Tapi, hemat saya soal perkara waktu saja. Sebab, kondisi rekonfigurasi geografis dan faktor culture style NTT memungkinkan kegesitan penyebaran virus ini menukik secara menyeluruh. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Bagaimanapun kita butuh ekstra solidaritatif kolektif dan ketulusan sosial untuk menangani kasus ini. Sebab bukan tidak mungkin, kita akan terbentur dengan beberapa kecemasan parsial. Pertama, kecemasan itu tentu punya korelatif dengan operasi eleminatif ternak perunggasan. Sebab, berdasarkan riset bahwa unggaslah yang rentan mentransfer virus ini kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Jangan Takut Hilang Ayam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Persoalannya, hampir kebanyakan warga NTT pelihara ayam. Yang walaupun jumlahnya tidak banyak tapi hampir setiap rumah punya ayam. Apakah kita rela mengeksekusi semua ayam ini? Kalaupun, semua ayam ini divaksin antivirus flu burung tapi sampai kapan subsidi vaksin itu bertahan. Kedua, ritus budaya yang selama ini mengagung-agungkan ayam sebagai bahasa kekuatan adat dalam multiritualistik adat akan mengalami kehampaan makna jika ritual adat tidak tanpa ayam. Apakah kita bersedia menerima kenyataan itu?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ketiga, kecemasan para pebisnis industri ternak dan warung makan ayam. Mereka akan kehilangan pekerjaan sekaligus kondisi ekonomi akan tergelatak kacau balau. Para pecinta daging ayam pun terpaksa harus mengurung selera makan daging kesukaan mereka. Namun, pada moment kritis eksistensial seperti ini, “spirit kehendak tulus” sosial (Schumpeter, 1957) akan teruji derajat pencapaiannya. Tidak ada paksaan. Yang ditonjolkan adalah kesadaran mengagumi hidup bersama secara tulus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Logikanya sederhana. Apakah kita jauh lebih sedih jika ayam piaraan kita dibunuh ketimbang terpaksa kehilangan orang yang paling kita sayangi untuk selama-lamanya. Hanya, karena kita tidak tegah membunuh ayam piaraan kita. Namun, apalah artinya kemudian menangis terseduh-seduh meratapi kematian jika kita bersikap indiferensif terhadap solusi kemungkinan yang disodorkan sebelum bencana kematian menjemput, yang semestinya tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Belajar dari kegopohan penanganan kasus anjing rabies beberapa tahun yang lalu, yang pernah menyerang sebagian wilayah NTT. Setelah jumlah korban berjatuhan semakin banyak baru kita terperangah. Baru kita sibuk mengeliminasi semua anjing. Konyol bukan main, bukan? Tapi mau apa dikatakan. Inilah taruhan mahal keteredupanya ketulusan sosial dan terkikisnya solidaritas psikologis publik kita. Semestinya, belajar dari kasus ini. Kita berjuang semaksimal mungkin agar tidak teperosot dalam lubang hitam yang sama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Saya masih ingat kasus yang sama pernah terjadi di Hongkong tahun 2003-2004. Di mana pemerintah dengan ketat melakukan pengujian laboratoriun terhadap ayam impor dari daratan Cina masuk Hongkong. Pemerintah juga memberi alarm dalam tenggang waktu tertentu dan disusuli dengan ultimatum kepada masyarakat untuk membunuh semua ayam piaraan. Yang membandel diberi sanksi. Titik. Kecuali, para pebisnis dan peternak daging ayam demi kemudahan pengontrolan vaksinasi dan terpenuhinya suplai daging bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Rakyat justru merespon himbaun pemerintah secara tulus. Karena mereka sudah merasakan penderitaan dampak virus flu burung. Banyak anggota keluarga mati dan sebagian terpaksa diisolasi dari yang lain. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun korban AI dikarantina di kamar pengasingan dan sebagiannya di rumah sakit. Hanya, demi tidak tersebarnya virus ini ke pihak yang lain. Dan mereka tulus menghadapi kenyataan itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Setidaknya, pengalaman ini perlu dicontohi. Pertama, pemerintah semestinya mencari posibilitas solusi kemungkinan. Merancang perda khusus dalam kasus ini mungkin perlu dipertimbangkan. Sebab, dengan adanya perda itu nanti maka dasar pijakan kita jelas dan terarah serta terkontinuitas. Kedua, perlu mensosialisasikan kepada masyarakat apa dan bagaimana dampak virus flu burung. Dengan demikian bisa terbangun kesadaran solidaritas psikologis dan ketulusan sosial masyarakat. Ketiga, membangun kerjasama penanganan pencegahan pademi flu burung lintas kabupaten dan provinsi sangat diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Keempat, kepada masyarakat diharapkan berpartispasi aktif dalam pencegahan penyakit ini dengan lebih mengasah ketulusan sosial. Termasuk, jangan sedikit-sedikit minta ganti rugi, hanya karena ayamnya minta dieksekusi oleh pemerintah. Mentalitas parasit itu perlu dilucuti. Demikian pun pendekatan pemerintah terhadap masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Prinsipnya, fortite in re suwiter in modo, tegas dalam prinsip, lembut dalam cara. Artinya, gaya dan pesona akan kehilangan makna kalau pemimpin labil dalam prinsip. Perubahan terjadi di tangan pemimpin yang berprinsip tegas tapi berperangai lembut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Semoga holocaust flu burung tidak terjadi di daerah kita, yang miskin ekonomi tapi kaya bencana !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Staf Televisi TBN Asia tinggal di Manila&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;(Dimuat di NTT Online 2008)&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-5354515062606520358?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/5354515062606520358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=5354515062606520358' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/5354515062606520358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/5354515062606520358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/jangan-terlena-dengan-flu-burung.html' title='JANGAN TERLENA DENGAN  FLU BURUNG!'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCMWDMXiXdI/AAAAAAAAAE0/6XtzO5mfDK8/s72-c/2312882646.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-4644003459918180906</id><published>2008-05-07T00:43:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:13:32.984-07:00</updated><title type='text'>GERAKAN “NTT CINTA BUDAYA ANTRE”</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas kita melirik kota-kota se-NTT. Entah kota propinsi, kabupaten maupun kecamatan tidak terluput oleh suasana kesemrawutan. Bukan hanya arsitek kota yang semrawut tapi manusia pun terjangkit oleh penyakit kesemrawutan. Pemandangan kesemrawutan tercarut marut di mana mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang main serobot-serobotan adalah wajah telak penyakit kesemrawutan. Penyakit ini terlihat jelas, katakan saja realitas kesemrawutan transportasi (laut, udara dan darat). Orang serobotan beli tiket, serobotan naik ferry, di bandara yang banyak orang asing juga demikian. Di darat lebih kacau lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus, angkot, dan ojek juga tidak kalah sengit merebut penumpang. Di mana dan kapan saja mereka bisa berhenti seenaknya. Pejalan kaki juga merasa diri king of road berjalan seenaknya. Kalau disenggol apalagi kalau ditabrak oleh kendaraan, biar jelas-jelas terbukti salah tapi selalu saja pemilik kendaraan dituding bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak! Suasana kesemrawutan ini tergores kesan kuat bahwa kota-kota di NTT seperti “kota tak bertuan”. Terlihat tapi terabaikan. Tidak pelak frekwensi kecelakaan lalu-lintas sangat tinggi. Sopan santun publik kian culas, dan polantas juga kebingungan karena kemacetan lalu lintas tidak pernah berubah. Tiap hari hadapi problem macet-macet!&lt;br /&gt;Penyakit kesemrawutan ini meramba luas ke tempat atau kantor pelayan publik lainnya. Sudah jelas-jelas ditulis Harap Antre! Tapi, masih saja orang memilih serobot-serobotan. Tak disangka, kalau benih korupsi, kolusi dan nepotisme bertumbuh segar di sana. Mengapa? Karena, orang ingin jalan pintas.&lt;br /&gt;Tak sulit ditebak. Orang “ber-uang”, “punya orda” dan “ber-kuasa” adalah orang hanya bisa “berlaga unjuk gigi” di sana. Katanya, ini birokrasi pak! Muak dengan birocrazy ini. Semuanya dikemas dengan alasan birokrasi, padahal ujung-ujungnya adalah uang.&lt;br /&gt;Entah bagaimana dengan nasib orang lemah dan miskin? Mereka semakin terpinggir. Jauh dari pelayanan yang selayaknya. Orang asing? Mereka juga kebablasan. Kita ajari mereka main sogok. Tontoni prilaku serobot-serobotan.&lt;br /&gt;Maaf atas rasa kuriositas ini. Tapi, sebetulnya penyakit kesemrawutan ini bukan hanya mendera NTT saja. Kota metropolitan seglamor Jakarta saja masih cengeng dengan penyakit kesemrawutan ini. Apakah kita mesti selalu mendikte Jakarta?&lt;br /&gt;NTT bisa berbuat lebih. Munculkan gebrakan baru yaitu gerakan cinta budaya antre. Bila perlu, ini menjadi produk unggulan kebijakan daerah, yang kemudian bisa menjadi panutan bagi propinsi lain bahkan Jakarta sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa itu antre?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata antre berasal dari kata Latin yaitu cauda (genitive caudae) yang artinya ekor (tail). Dalam terminologi musik dikenal term coda (Italia). Artinya “ekor”, ujung akhir dari komposisi lagu (a tail end of composition). Benar kata orang, meng-antre berarti seni “mengekor”. Yang pertama menjadi “kepala” dan yang lain adalah “ekor”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata antre dalam bahasa Inggris “queue” (please on queue). Kata queue diadopsi langsung dari kata Perancis yaitu queue yang artinya ekor (tail). Sejak tahun 1748, kata queue secara resmi dimasukan sebagai kosa-kata resmi Inggris, yang artinya orang, kendaraan, atau obyek apa saja yang sedang dalam barisan menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, antre dalam bahasa Indonesia diturunkan dari kata Belanda yaitu aantreden berarti berantre. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), antre berarti orang berdiri berbaris menanti giliran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi dasar budaya antre adalah “first in first out” (datang pertama keluar pertama) Impaknya adalah first come first service (datang pertama dilayani pertama). Uniknya, budaya antre lahir dari kesadaran individual (self-awareness).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sanksi jika dilanggar. Tanpa diatur, orang sudah semestinya teratur. Di sanalah keindahan natural yang meniscahayakan bahwa memang manusia adalah binatang paling cerdas di bawa kolong langit ini.&lt;br /&gt;Paradoks filosofi di atas adalah “last in first out” (datang terakhir keluar pertama). Inilah yang dinamakan budaya terabas (baca: serobotan). Di mana, orang (kerumunan) ingin “first service tanpa peduli last come atau first come. Dari sinilah asal-muasal kesemrawutan mengalir ke segala lini kehidupan.&lt;br /&gt;Implikasinya, kita mudah stres, marah, jengkel, maki dan irihati bahkan ujung-ujungya keributan, kecelakaan dan kekerasan. Lebih-lebih setelah kita tak sabar mununggu dan tiba-tiba ada pihak lain (queue jumpers) yang datang kemudian dilayani dan keluar lebih awal.&lt;br /&gt;Siapapun tak ingin tertimpah oleh situasi buruk seperti ini. Kita butuh solusi. Selain kita menyokong nyali kebersamaan kita untuk menghidupi budaya antre. Ini mengandaikan ada perspektif inspirasional yang sama, untuk menggali nilai-nilai pedagogis publik di balik budaya antre itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Nilai Pedagogis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pertama, budaya antre membantu kita untuk hidup lebih produktif. Hidup produktif itu terbaca jelas dalam aktivitas, penggunaan fasilitas dan pelayanan publik yang efektif. Orang yang melayani bisa kita bekerja secara efektif. Kita yang dilayani pun mendapatkan pelayanan (first in first out) proposional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika setiap orang menganuti cara dan mekanisme antre yang benar maka sebetulnya kita hidup lebih produktif yaitu bersikap adil, respek perjuangan sekecil apapun dan hemat waktu, tenaga dan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menghidupi budaya antre adalah salah satu disiplin sosial memberantas praktik korupsi, nepotisme dan kolusi. Budaya antre menekankan proses. Tentunya proses yang fair, adil dan jujur. Andaikan kita menghargai proses ini maka sebenarnya KKN bukanlah perkara besar untuk diberantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, tidak hanya uang yang bisa dikorupsi, dikolusi dan dinepotis. Waktu, tenaga, pikiran orang lain pun bisa digilas oleh napsu korupsi, kolusi dan nepotisme. Inilah KKN yang paling sadis sebenarnya. Karena ia berparas tengkulak penghisap keringat orang lain secara sadar dan terang-terangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dengan membiasakan budaya antre berarti kita sedang “mendandan” ruang publik kita lebih indah, damai, aman, dan beradab. Di mana orang bisa belajar bersabar, mengikuti proses, bersikap adil, sopan-santun, tertib dan disiplin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan kota tidak hanya tergantung tata estetik ruang, bangunan dan taman yang indah. Manusia-manusia pun perlu disiplin dan tertib. Dengan demikian, suasana kota lebih anggun dan beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Butuh Sosialisasi&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kita butuh elan vital bersama untuk mensosialisasi budaya antre. Kita boleh mengemas sticker indah katakan gerakan “NTT Cinta Budaya Antre”. Bagaimana memulainya?&lt;br /&gt;Pertama, budaya antre mesti dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga menjadi basis pendidikan antre. Anak dididik untuk menghargai waktu, perjuangan dan proses. Berbaris mendapat makanan atau apa saja yang melibat banyak orang. Tanpa pandang bulu, kecil besar dan tua muda. Harap antre!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya ini memang bertolak belakang dengan budaya patriakalistik kita. Di mana diatur baru teratur. Orang berjenggot dan berpangkat selalu didahului. Dalam kadar tertentu kita tetap melestarikan budaya respek ini. Di sisi lain kita juga mesti terbuka dengan peradaban modern yang bisa menambah keanggunan budaya kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin orang tidak sadari bahwa kebiasaan baik dalam keluarga ini akan terbawa dalam konteks relasi yang lebih luas. Habitus sering dipahami sebagai hasil keterampilan yang menjadi tindakan praktis, yang tidak selalu harus disadari. Tindakan praktis itu menjadi suatu kemampuan yang kelihatannya alamiah dan berkembang dalam lingkungan sosial tertentu (Bourdieu, 1994 : 16-17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pendidikan antre di sekolah. Lingkungan sekolah (TKK-PT) menjadi locus yang cocok untuk mengaktualisasi budaya antre dengan kadar disiplin tinggi. Tentunya dimotori oleh pemimpin sekolah dan staf guru. Semua tempat pelayanan publik di sekolah dipajang sticker Harap Antre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang yang melanggarnya perlu diberi peringatan. Orang yang membandel antre tidak perlu segan untuk diminta mengikuti antre. Kebiasaan ini awalnya sulit tapi lama-kelamaan ia akan bertumbuh sebagai kesadaran individual. Diharapakan agar dunia pendidikan menjadi perintis gerakan cinta budaya antre ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pendidikan antre di tempat publik. Kita perlu mempromosikan budaya antre kepada publik lewat seminar, pembinaan umum atau lewat pemasangan iklan atau sticker cinta budaya antre di TV, radio dan media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah disosialisasikan kepada publik, pemerintah yang dibantu oleh polisi atau sukarelawan (pelajar/mahasiswa/LSM) turut mengajar langsung mekanisme antre kepada masyarakat di tempat-tempat publik. Kita mengharapkan kontribusi rekan-rekan mahasiswa untuk membantu mengaktualisir gerakan cinta budaya antre ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktikan bahwa mahasiswa NTT yang sering dinobat sebagai “Intelektual Timur” juga mampu membuat gebrakan baru terhadap masyarakat. Lebih kreatif menyalurkan prestasi dan bakat kepada masyarakat. Misalkan, ciptakan kelompok cinta alam, cinta budaya sehat, kelompok menulis, dan cinta budaya antre etcetera. Apalagi hampir setiap kabupaten di NTT sekarang minimal punya perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik pembelajaran antre ini bisa dimulai di kantor pelayanan publik, toko perbelanjaan, penjualan tiket, di pelabuhan laut, bandara serta di terminal (bus, angkot, ojek) perlu menghidupi budaya antre. Tanpa kecuali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita punya tekad bersama untuk menggalakan cinta budaya antre di NTT maka hasilnya soal perkara waktu saja. Orang bijak mengatakan, hanya orang yang tidak pernah mencoba adalah orang selalu gagal! Semut saja koq bisa antre!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, staf Televisi TBN Asia tinggal di Manila&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-4644003459918180906?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/4644003459918180906/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=4644003459918180906' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/4644003459918180906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/4644003459918180906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/gerakan-ntt-cinta-budaya-antre.html' title='GERAKAN “NTT CINTA BUDAYA ANTRE”'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-2786887364687257306</id><published>2008-05-07T00:39:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:06:33.524-07:00</updated><title type='text'>“TNI-KU SAYANG TNI-KU MALANG”</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCMXoMXiXeI/AAAAAAAAAE8/2dpblaiiUCs/s1600-h/2312922411.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198024374197837282" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 165px; CURSOR: hand; HEIGHT: 161px" height="161" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCMXoMXiXeI/AAAAAAAAAE8/2dpblaiiUCs/s200/2312922411.jpg" width="130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Fidel Hardjo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskursivitas penolakan Korem di Flores kembali senyap. Tapi, substansi persoalanya akan tunggu waktunya ledak kembali. Mungkin perlu dihidupi terus wacana ini, biar semua orang bisa meninjau dari pelbagai multiperspektif, yang bisa menuntun perbedaan pendapat menuju bonum commune.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dianalisis wacananya. Gema penolakan lebih nyaring gaungnya daripada menerima seadanya. Argumentasi penolakan pun menarik. Flores dideskripsikan sebagai daerah yang kecil, aman, damai, rukun, toleransi, belum propinsi dan masih banyak hal positip secara inheren melekat padanya. Ditambah lagi, justifikasi traumatik pelanggaran HAM yang pernah merengkuh tubuh TNI. Maka, semakin bulatlah logika penolakan Korem itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara image TNI “dicurigai” secara ekstrem. Seakan-akan kehadiran Korem akan menegasi semua nilai-nilai adiluhung di atas, yang sudah membumi di pulau Nusa Bunga ini. Anehnya, kita begitu melek melihat hal positip dari pembentukan Korem. Tapi, hal negatip justru terlihat secara jelas dan sempurna. Menarik untuk dipertanyakan lebih lanjut. Sungguh beningkah pikiran dan hati kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah tidak ada hal yang positip lagi dari pembentukan Korem itu? Pertanyaan ini setidaknya membangun “penglihatan yang utuh” diskursif kita. Terutama, menangkap nilai optimisme di balik pembentukan Korem di Flores. Amat sayang, jika kita menolak Korem tanpa mengajukan sebuah kritik ontologis korektif positip yang proposional. Arus pesimisme jauh lebih menyengat. Sementara optimisme ditelikung ke titik zero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak dapat disangkal, dalam sejarah kiprah TNI tidak luput dari tindakan pelanggaran HAM. Terutama berkaitan dengan aksi separatisme seperti kasus Timor-Timur, Ambon, Aceh, Papua dan lain-lain. Kasus-kasus ini telah meresahkan masyarakat dan mempertajam traumatik dan fobia TNI. TNI hendaknya mengakui realitas ini dengan lapang dada. Sambil mengoreksi diri secara totalitas dan selalu setia meniti rekonsiliasi dengan rakyat. Itulah sebabnya, TNI sekarang sedang kewalahan bagaimana mengembalikan jati dirinya kepada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, amat tidak terpuji, jika niat TNI mengakrabi masyarakat Flores dipreteli sebagai upaya “menjadikan” Flores sebagai Ambon dan Aceh II atau apa saja namanya? Itu juga pesimistik berlebihan. Tidak seburuk imaginatif itu, image TNI di usianya ke 62, tahun ini. Kiprah TNI tempo doeloe atau kemarin-kemarin tentu tidak sama dengan TNI sekarang. Eksistensi TNI sekarang tidak tepat lagi kalau direferensi oleh cara dan pandangan lama. Persoalannya, kita masih berkutat pada upaya memotret tantangan baru dengan pesona solusi lama. Implikasinya, image TNI dijepret ulang di atas potret yang kusam itu. Padahal, kiprah TNI sekarang jauh lebih mebanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah sekian sering Flores ataupun daerah lain tertimpa bencana dan TNI mengerahkan personelnya untuk membantu pemulihan atau pertolongan? Kerusuhan lokal di beberapa daerah, perang tanding, sengketa batas wilayah membuat kita sekian sering menitip harapan kepada TNI. Belum lagi, aksi separatisme yang sekian sering mengguncang NKRI malah kita merindukan kehadiran TNI. Karena kita tidak tega Indonesia ini terbelah. Kita terlanjur menghidupi petuah nenek moyang kita: makan atau tidak makan yang penting berkumpul mesrah di bawah payung NKRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperjuangkan roh kebersamaan itu, TNI tak pelak rela korban jiwa dan raganya. Sekalipun resikonya paling berat yaitu memilih kubur atau penjara. Jika ditembak mati tentunya akan digotong ke kuburan. Tidak mati juga siap diseret ke penjara. Serba salah di mata publik. Tidak heran lahirlah lamentasi menyayat: TNI-ku sayang TNI-ku malang! Begitu cepatkah semua hal positip dan dedikasi TNI ini terkubur dalam pesimisme kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menolak dan terus menolak Korem tentu bukan pilihan tepat. Lebih baik kita mengsinergi kehadiran Korem untuk korporatif pembangunan akseleratif masyarakat Flores pada umumnya. Saya lebih optimis bahwa TNI bisa berbuat banyak bersama rakyat untuk memerangi kemiskinan, korupsi, dan buta huruf dan bencana. Sebaliknya, masyarakat Flores bisa membantu (kritik positip) TNI untuk berkiprah lebih baik dan lebih membanggakan. Tergantung, apa masih ada ruang saling percaya di antara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan hanya karena noda setitik merusak susu sebelangga. Jangan hanya karena kasus Ambon, Aceh, Papua lalu kita pukul rata (generalisasi) dengan apa yang mungkin bakal terjadi di Flores. Kecurigaan, firasat, atau isu negatip seperti ini perlu dikelolah secara baik. Lebih baik kita membangun optimisme publik yang dapat memberi benefitas sosial seluas-luasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, masyarakat hendaknya perlu mendistingsikan substratum esensial penolakan antara menolak Korem atau Militerismenya. Kalau boleh kita sepakat. Kita sepakat menolak pendekatan militerismenya. Mengapa? Sebab, jalan demokratis adalah jalan yag mesti kita tapaki bersama. Selain itu, terbuka akan sebuah korektif terhadap karakteristik TNI ke depan. Yang pada gilirannya, memberi nilai mutualprofit. Jadi, bukan menolak Koremnya (pribadi atau institusi). Bagaimanapun TNI adalah Tentara kebanggaan Rakyat dan Negara yang senantiasa merindukan perbaikan dari masyarakat menuju proses kematangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penempatan Korem di Flores bukan berarti pendirian “kemah perang”. Kita mesti baca niat baik TNI sebagai upaya “friendly approach” (pendekatan bersahaja) untuk lebih mengakrabi masyarakat. Bagaimana TNI bisa mengakrabi rakyat dan rakyat bisa “bermesraan” dengan TNI jika kita sendiri tidak memberi kesempatan kepada TNI membumi bersama masyarakat. Sampai kapan kita menolak? Sepanjang itu juga, kita hidup dalam kecurigaan dan pesimistik terhadap TNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah salah satu kegagalan rakyat. Rakyat tidak bisa membantu TNI menjadi Tentara Rakyat yang lebih baik. Karena, lebih banyak mencurigai daripada mengoreksi dan lebih banyak pesimisme daripada optimisme. Jadi, menolak bukan solusi terbaik. Memaksa pembentukan Korem juga bukan pilihan tepat. Lalu apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tersapa untuk duduk bersanding memetakan persoalan adalah jalan terbaik. Tanpa mengantongi negative thinking dan tanpa mengekori partner sebagai “evil” pengusik ruang kenyamanan. Dalam suasana penuh akrab nan sejuk itulah kita boleh merumuskan cita-cita bersama ke depan. Nuansa harmonis seperti ini sekian sering diloncat. Padahal, jauh lebih ampuh dari kontruksi formulasi solusi konflik modern sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, salah satu penyebab munculnya “kisruh” penolakan TNI adalah orang Flores tidak memahami apa visi misi TNI ke Flores. Aspiratif penolakan justru terbangun di atas logika kecurigaan-kecurigaan, ignorantia, isu, firasat, dan pengalaman traumatis fragmentatif. Oleh karena itu, TNI perlu merumuskan secara transparatif apa misi dan visinya pembentukan Korem di Flores.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah penting lagi adalah TNI perlu melakukan pendekatan terhadap Gereja lokal di Flores. Kebanggaan dan kemajuan Flores hingga saat ini tidak terlepas dari peran domain Gereja lokal. Pengaruh Gereja selalu mendapat tempat di hati rakyat Flores. Hendaknya TNI mengakrabi dan membangun kerja sama dengan Gereja lokal Flores. Ini langkah awal yang menurut saya sangat menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktikan secara profesional tekad bulat dan tulus mengabdi masyarakat Flores. Kalau dulu profesionalisme TNI terfokus pada perang melawan penjajah. Maka, sekarang sepatutnya profesionalisme TNI tercurah kepada pembangunan masyarakat secara utuh. Sambil terus mereformasi diri agar kiprah TNI tetap mendapat tempat di kalbu rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, teken mutual kontrak. Mungkin solusi ini sangat ekstrem. Rakyat dan TNI mesti urutkan list kontrak kerjasama. Urutkan pula norma-norma aturan mainnya. Apa sanksinya, jika dilanggar? Semuanya mesti hitam putih di atas kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ”Janji sudah kita dengungkan, tekad sudah kita tanamkan, semua ini tidak akan bermanfaat bagi tanah air kita, apabila janji dan tekad ini tidak kita amalkan dengan amalan yang nyata. Mata seluruh rakyat, negara dan pemerintah sedang memandang kepadamu dengan penuh harapan dan penuh kepercayaan” (Amanat Panglima Besar Jenderal Soedirman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, ada juga anak, om, saudara, adik, kakak, kakek kita yang sudah, sedang dan akan jadi TNI!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis, staf Televisi TBN Asia tinggal di Manila&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-2786887364687257306?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/2786887364687257306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=2786887364687257306' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/2786887364687257306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/2786887364687257306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/tni-ku-sayang-tni-ku-malang.html' title='“TNI-KU SAYANG TNI-KU MALANG”'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCMXoMXiXeI/AAAAAAAAAE8/2dpblaiiUCs/s72-c/2312922411.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-8043097435186954901</id><published>2008-05-07T00:34:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:07:34.413-07:00</updated><title type='text'>"Panes et Circus"</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;(Mencermati Romantisme Janji Politik Pilkada NTT)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Penulis, Sarjana Filsafat Ledalero, kini staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;TAHUKAH Anda bagaimana mencuri simpatik rakyat? Cukup berilah roti dan circus (panes et circus)! Demikian, strategi politik yang diusung oleh Julius Caesar, yang dijuluki "Father of the Fatherland" ribuan tahun yang silam, untuk menggasak kebuasan rakyat Romawi, terenyuh di bawah bola kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menurutnya, mengapa rakyat sering ngamuk dan galak, jika kalau bukan lapar. Karena itu, nomor satu adalah rakyat mesti diberi makan (panes). Rakyat yang kenyang akan mudah menjadi penurut bahkan (tak tanggung-tanggung) menjilat kaki Anda.&lt;br /&gt;Kedua, setelah rakyat kenyang, ada tendensi berikut, yang tidak boleh disepelehkan yaitu rakyat yang kenyang butuh rileksasi (circus). Untuk itu, perlu diselenggarakan pesta rakyat, yang dikenal dengan pesta circus Atena, sebagai cikal bakal lahirnya pesta olimpiade, yang tahun ini dirayakan di Bejing.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam atraksi ini, dipilih beberapa budak perkasa, untuk bertarung dengan singa buas, yang sedang lapar hebat, terkurung di arena circus. Atraksi ini dipertonton kepada publik, untuk mengalihkan konsentrasi rakyat, dari segala "kebobrokan istana" dengan menyuguhkan atraksi yang mendebarkan publik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ketika rakyat sedang tergelayut dalam kegembiraan, maka apa pun perkara hidup, kegelisahan dan kebosanan hidup akan dikubur sekejap. Perilaku jahat sang pemimpin, yang sama sekali biadab pun, bisa disulap menjadi komedi. Gosip politik pun "dipental", dengan gosip (semacam "reply") seputar pesta yang menegangkan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Politik Panes et Circus&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kisah politik Romawi kuno di atas tentu sangat relevan untuk mencermati janji-janji politik (kampanye politik) para kontestan pilkada (cagub/cabub) di NTT selama ini, baik yang sudah-sudah, maupun yang sedang heboh sekarang, bahkan yang sebentar lagi akan siap meniup peluit ketel mereka masing-masing, bertarung dalam circus kampanye politik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jejak kampanye politik kita tiap pilkada tidak pernah berubah. Ada janji politik, bagi nasi bungkus (panes), ada hiburan massal, joget-jogetan dan artis (lokal) pun diundang (circus). Bahkan lebih celaka lagi, tak jarang dibuka jurus black campaign (kampanye hitam) yang berbasis pada isu-isu privat untuk melakukan pembunuhan karakter (character assassination) kandidat lain atau elit politik atau partai tertentu. Betul-betul potret telak dagelan politik "panes et circus".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Padahal, ujung-ujungnya kampanye politik itu hanya ingin mencuri simpati rakyat, bahkan memberangus lawan secara tidak etis lalu menguasainya. Namun, sadarkah kita hampir 90% janji-janji politik yang sudah-sudah, tak satu pun sukses dijalankan? Rakyat kecewa, mau apa dikata, selain garuk kepala, seraya berseloroh, coba kalau saya bukan pilih dia, menyesalnya bukan main. Terasa, habis manis sepah dibuang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Giliran pilkada berikutnya tiba, lagi-lagi terperosok kesalahan yang sama. Rakyat tidak sedikit pun jera. Lagi-lagi, pilih kandidat yang kurang lebih memakai strategi politik panes et circus (bagi nasi bungkus, joget-jogetan dan minum-minuman). Seakan-akan, hidup yang selalu disemaraki gratis nasi bungkus dan pesta adalah transendensi kehidupan riil, yang bakal "dijanjikan" kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Nyatanya, rakyat selalu gigit jari. Inilah persoalan krusial kita, setiap pilkada tiba. Bahwa, janji-janji politik atau lebih keren disebut visi misi para kandidat pemimpin, yang selalu dipekakkan ke telinga rakyat begitu menyihir rakyat tapi sangat sulit diaktualisir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tidak salah punya visi misi yang indah. Hanya jangan beri kesan, "memelintir" visi misi yang indah dan bombastik itu jauh lebih penting, daripada menimbang, apakah kemudian hari, janji-janji politik itu, bisa direalisasikan atau tidak. Alhasil, seribu satu macam janji politik itu, hilang tanpa membekas. Buktinya, sampai detik ini, NTT masih bertengger pada urutan "hampir bontot" propinsi termiskin di Nusantara ini, setelah posisi Papua.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jujur saja, kalau kita kumpul-kumpul visi-misi politik para kandidat pemimpin (baik bupati maupun gubernur NTT) dari periode ke periode, sudah hampir membubung ke kaki langit. Semua janji politik itu, bunyinya indah-indah bahkan over bombastik. Semuanya, teken isu keren, seperti perbaikan ekonomi, kesehatan, pendidikan, penuntasan korupsi, perbaikan nasib petani, listrik/jalan masuk desa, reboisasi, proyek air bersih, et cetera.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tapi, kenapa NTT ini masih kebablasan dengan isu-isu yang sama, atau meminjam istilah Megawati "republik poco-poco" maju dua langkah, mundur dua langkah. Di manakah janji-janji politik itu? Mengapa janji-janji politik itu kian hari kian sulit mendongkrak kesuraman hidup rakyat NTT? Jawabannya sederhana, karena cara berpolitik kita masih tereuforia oleh politik panes et circus. Di mana, aspek circus masih "diunggulkan" daripada pengfokusan janji politik yang bisa diwujudnyatakan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Fokuskan janji politik&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sebenarnya, bukan soal minimnya kualitas janji politik kita yang menyebabkan gagal diaktualisasikannya. Tapi, memang kita bingung dengan janji kita sendiri, sebab kita mengangkang dengan seribu satu macam janji. Seakan-akan kandidat yang mengantongi banyak janji adalah kandidat yang bakal menggiring kita ke gerbang kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Padahal, sejarah yang sesudah-sudahnya sudah membuktikan. Bahwa janji yang banyak-banyak itu, bukan hanya bikin kita bingung, tapi susah juga untuk diaplikasi. Mengapa, para kandidat kita tidak berani mengusung fokus satu janji? Sebut saja, untuk cagub periode 2008-2013, kita fokus tuntaskan masalah kemiskinan secara detail-komprehensif. Kita mesti komit dan konsentrasi dengan satu janji ini. Ditambah bekerja ekstra keras, maka soal keberhasilan adalah perkara waktu saja. Periode berikutnya, kita alihkan fokus kepada perbaikan masalah pendidikan dan seterusnya. Step by step, slowly but surely (sejengkal demi sejengkal tapi pasti)!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Akhirnya, kita bisa katakan, kita cukup butuh empat atau lima figur pemimpin NTT menuju visi Indonesia 2030, jika setiap mereka usung satu-satu janji politik (entah ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, bukan raut semuanya) maka kita bisa tarik nafas legah, bahwa bakal NTT ini, di tahun 2030, sudah bebas dari melek huruf, kurang gizi, miskin, bencana alam dan masalah-masalah lainya. Yang penting komitmen politik kita terfokus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Wajah pucat lain dari politik panes et circus adalah di mana diyakini klimaks politik plus demokrasi : sekadar bagi nasi bungkus, borong janji politik, menang pilkada dan rengkuh jabatan. Implikasinya, apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab serta pengabdian selama jabatan berlangsung menjadi prioritas sekunder. Tidak heran, sekalipun usia NTT sekarang sudah lewat dari 50 tahun, tapi kualitas hidup rakyatnya sangat jauh dari harapan, pembangunan loncat di tempat, masalah sosial bertumpuk-tumpuk.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Oleh karena itu sudah saatnya rakyat sadar, bahwa jangan terbuai memilih kandidat yang mengobral politik panes et circus. Pilihlah kandidat yang mengusung satu janji! Satu janji saja, sudah sulit diwujudkan, apalagi dua, tiga, empat dan seterusnya, pasti lebih sulit! Demikianpun, para kontestan, lakoni kampanye politik yang bisa membangun (bukan utopia) dan mencerdaskan rakyat. *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;(Dimuat di Pos Kupang,16/4/2008)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-8043097435186954901?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/8043097435186954901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=8043097435186954901' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/8043097435186954901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/8043097435186954901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/panes-et-circus.html' title='&quot;Panes et Circus&quot;'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-6927549044596048269</id><published>2008-05-07T00:24:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:11:42.223-07:00</updated><title type='text'>GIZI BURUK DAN “LOST GENERATION”</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; &lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;"&lt;strong&gt;It is better to be a cow in Europe than to be a poor person in a developing country", (Stiglitz, 2006:85).&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;KORBAN gizi buruk di NTT kembali merenggut lima balita di Rote Ndao (Kompas, 7/3/2008). Hati kita serentak tergugah, terengah lalu terhanyut hilang. Ketika korban berikutnya muncul dan muncul lagi, reaksi kita tetap sama: tergugah - terengah - terhanyut hilang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Reaksi dan cara kita sudah menjadi rutinitas sekenanya saja. Tanpa disadari korban terus berjatuhan, tolong jangan dianggap angin lalu saja! Ini penyakit serius yang men-trigger lost generation baru kita. Kita menghitung jumlah korban tak ubahnya menghitung biji kelereng. Bayangkan, tahun 2005 sebanyak 66.685 balita di NTT mengalami gangguan gizi (Pos Kupang, 10/3/2008). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Setiap tahun angka korban ini terus meroket. Jumlah angka korban pun tak jarang dipolitisir. Sampai kita tidak tahu mana data yang akurat, karena kalkulasi korban sudah kecantol dengan akrobat politik. Terlepas akurat tidaknya data korban tapi satu hal yang pasti, korban sudah eksis dan terus bertambah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ini salah satu bukti nyata bahwa para pemimpin kita memang belum punya tekad yang serius menyelamatkan nasib anak-anak gizi buruk ini. Apalagi, kebanyakan korban gizi buruk begitu akrab dengan keluarga miskin, kurang berpendidikan, dan tidak mengerti apa itu hidup sehat dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Situasi batas inilah yang menyeret mereka tidak berdaya. Siapakah yang memedulikan nasib mereka? Mau mengemis bantuan ke samping, ke belakang, ke depan tapi semua tetangga, kurang lebih tertimpa nasib yang sama. Sama saja menggantung harap pada akar yang lapuk. Satu-satunya harapan mereka adalah pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pemerintah adalah 'kepalanya' rakyat. Fungsi kepala manusia sama persis dengan fungsi kepala (baca: pemimpin) pemerintahan. Kepala kita diberi dua mata, dua telinga, dua lobang hidung, dua otak kiri-kanan. Artinya, dengan kesempurnaan indrawi kepala, posisinya lebih tinggi berfungsi untuk mengatur tatanan tubuh agar berjalan secara maksimal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Begitupun eksistensi pemimpin dalam arti sesungguhnya adalah 'kepalanya' rakyat. Sebagai kepala, ia harus mampu berdiri sama tegak, duduk sama rendah dengan rakyat, untuk mengatur tatanan sosial secara optimal. Ia melindungi dan mengupayakan keselamatan rakyat dalam situasi emergensi sekritis apa pun. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kita sadar bahwa ada banyak banyak persoalan yang telah menyedot energi pemimpin kita. Tahun 2008, NTT sibuk dengan suksesi politik beruntun, mulai dari suksesi pemilihan gubernur sampai pemilihan bupati. Pusing tiada duanya. Sementara tahun 2009, kita sibuk dengan pemilu presiden, tentu lebih heboh. Bukan tidak mungkin, persoalan gizi buruk akan tinggal menjadi 'riak-riak kecil' yang bisa terlupakan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Jangan memberi kesan, pesta politik jauh lebih penting daripada penyelamatan korban gizi buruk yang sedang berada di depan pelupuk mata kita. Pemerintah sebaiknya peka terhadap persoalan emergensi yang sedang mendekap rakyat. Nilai emergensitas itu sangat ditakar oleh impak kritikal penderitaan. Kalau korban gizi buruk sudah lebih dari 66.685 orang, itu bukan lagi penyakit biasa tapi itu sudah terkategori 'bencana' atau kejadian luar biasa. Mengapa? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Karena, selama ini kita sering melihat perspektif korban sebagai korban penyakit biasa. Implikasinya, cara dan solusi yang kita berikan juga biasa-biasa, bahkan terkesan paling meremehkan. Tak heran, hasilnya seperti apa yang kita saksikan sendiri sekarang, jumlah korban terus melambung. Dengan mendifinisikan secara tepat, situasi korban dalam perspektif 'bencana' maka akan membantu mindset dan attitude kita untuk bereaksi cepat, tepat dan efektif. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Penderitaan korban gizi buruk di NTT sama halnya nasib para korban gempa bumi atau bencana alam, yang pernah menghantam beberapa belahan nusa Flobamora ini. Korban jiwa berjatuhan. Padahal, semuanya masih bisa diantisipasi sedini mungkin. Hanya bedanya, korban gizi buruk menyerang dan merenggut korban satu persatu dalam barisan antrean yang panjang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tapi, kalau jumlah korban dihitung-hitung maka jumlah korban gizi buruk boleh jadi lebih banyak daripada korban dissaster yang pernah menghempas kita. Lima korban anak gizi buruk dari Rote Ndao baru-baru ini, hanyalah gunung es yang mengindikasi bahwa penyakit gizi buruk di daerah kita memang sudah pada level parah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Inilah realitas critical point yang perlu mendapat concern ekstra dari pemimpin kita. Situasi emergensitas terindikasi oleh berjejernya barisan para korban yang sudah dan sedang menuju liang lahat. Pada umumnya, para korban adalah anak-anak balita, yang tidak mengerti apa-apa akan destini kehidupan mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kalau saja, mereka disuruh untuk memilih: apakah mau dilahirkan di wilayah gersang seperti NTT ini atau tidak, mungkin saja mereka memilih untuk tidak memilih dilahirkan. Mengapa? Karena, anak-anak ini dilahirkan secara miskin dan dibesarkan pula secara miskin. Selain keluarga miskin melarat, pemerintah juga pelit hati untuk mengurus nasib mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Padahal, anak-anak ini menjadi tiang penyangga nasib NTT ini ke depan. Dari sekian anak-anak ini, ada banyak potensialitas yang mereka miliki untuk menyangga keberlanjutan NTT ini melalui prestasi, talenta dan kecerdasan mereka. Mungkin saja, ada di antara mereka yang genius di bidang pertanian, kelautan, hightech, bahkan astronot sekalipun. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tapi, sayangnya kita tak peduli dengan nasib mereka sekarang. Semua talenta, kecerdasan dan prestasi mereka, kita kuburkan pagi-pagi dengan ketidakpedulian. Itu berarti secara tidak langsung kita menggiring NTT ini memasuki babak gelap yaitu babak lost generation, yang memangkas berlahan-lahan masa depan propinsi ini. Maka, benar kata Stiglitz, lebih baik menjadi sapi piaraan di Eropa daripada menjadi anak-anak di negara miskin, apalagi menjadi anak-anak NTT.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sebelum korban gizi buruk terus berjatuhan, sebaiknya pemerintah mengambil langkah antisipatif signifikan. Paling tidak, kita berupaya menyelamatkan masa depan NTT tercinta ini, dengan menyelamatkan balita yang sedang bergulat dengan penyakit gizi buruk ini. Kita sering terbentur dengan masalah dana. Apalagi, kita hanya berpasrah dengan proposal dana ke Jakarta. Kalau dana itu belum dikabulkan atau dicairkan maka entah sampai kapan kita menunggu dan menunggu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Penyakit menunggu ini (cargo cult mentality) menurut Sosiolog Eri Seda, menciptakan kesadaran palsu (false consciousness). Kita pasrah miskin, bodoh dan tidak bisa apa-apa, selain mengandalkan orang lain untuk mengubah keadaannya. Sampai kapan? Mengapa kita tidak bisa berbuat lebih? Dana dari pusat digulir, lalu kita ramai-ramai beli biskuit dan susu, kemudian dibagi-bagikan kepada keluarga anak-anak korban gizi buruk. Bagi-bagi susu dan biscuit tidak menyentuh persoalan sebenarnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Mengapa kita tidak bisa lebih kreatif memasak sumber makanan yang merupakan hasil keringat kita sendiri. Daerah kita bisa tanam jagung dan umbi-umbian. Manfaatkan produksi lokal ini.Kita bisa mengelola jagung dan umbi-umbian menjadi makanan yang berenergi bukan sekadar menyuplai biskuit dan susu. Potensi laut kita juga masih perawan. Lautan kita kaya akan banyak ragam ikan. Mengapa kita tidak bisa mengerahkan kekuatan daerah untuk memanfaatkan potensi laut ini? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Masyarakat diberi pendidikan gratis untuk terjun bekerja sebagai nelayan. Dengan demikian, selain kita dapat jual ikan dan kita sendiri bisa makan ikan sebagai makanan yang bergizi. Dengan demikian dana bantuan dari pusat dikonsentrasikan kepada biaya penelitian. Penelitian terhadap penyakit gizi buruk ini sangat diperlukan. Agar kita tahu data dan formula yang akurat dan selanjutnya dapat menentukan kebijakan yang tepat. Dana ini juga bisa dipakai untuk biaya datangkan dokter ahli dengan pengobatan gratis kepada rakyat miskin. Bukan untuk beli biskuit, susu dan permen, lalu habis perkara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Inilah yang dinamakan kreatif. Seorang pribadi kreatif berjiwa optimisme. Ia melihat kesempatan dalam setiap kesulitan bukan sebaliknya melihat kesulitan di setiap kesempatan (Winston Churchil, mantan Perdana Menteri Inggris). Orang kreatif bukan hanya tahu mengonsumsi, tapi selalu eksplorasi dengan kreativitas baru. Lucuti mental konsumtif kita. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Dari laporan Sri Hartati Samhadi di Kompas (23/12/06) tentang busung lapar di NTT menyatakan, menggerojok dana ke NTT seperti 'menggerojok air' ke padang pasir. Padahal, setiap tahun dana yang digelontorkan ke NTT mencapai Rp 4,5 - Rp 5 triliun. Namun kesejahteraan tak membaik. Mengapa? Karena, kita tidak punya komitmen sejati untuk mengelolah uang itu secara efektif dan tepat sasar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Oleh karena itu, marilah kita bahu-membahu menanggunglangi penyakit gizi buruk di NTT dengan komitmen yang serius. Korban gizi buruk adalah bencana, bencana lost generation NTT! *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Fidel Hardjo, staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;(Dimuat Di Pos Kupang, 18/3/2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-6927549044596048269?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/6927549044596048269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=6927549044596048269' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/6927549044596048269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/6927549044596048269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/gizi-buruk-dan-lost-generation.html' title='GIZI BURUK DAN “LOST GENERATION”'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-1122711965982139394</id><published>2008-05-07T00:21:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:12:54.353-07:00</updated><title type='text'>Hati-hati sebelum ‘berbuih’</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCMUd8XiXcI/AAAAAAAAAEs/42R46qjv7Tk/s1600-h/2309806243.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198020899569294786" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 165px; CURSOR: hand; HEIGHT: 194px" height="160" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCMUd8XiXcI/AAAAAAAAAEs/42R46qjv7Tk/s200/2309806243.jpg" width="149" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Fidel Hardjo *&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;"KENAPA hanya pada katabodoh"! Begitulah Yustinus Kapitan (Pos Kupang, 2/6/2007) merangsek tulisan saya sebelumnya. Pertanyaan untuk Kapitan, apa maunya Anda? Anda, mungkin ingin menagih solusi dari tulisan saya. Kita memang pernah belajar filsafat bersama di bawa barak, memory of Barak (baca: tempat perkuliahan STFK Ledalero pasca gempa 92). Sebagaimana apa yang kita pelajari, filsafat bukan epistemik solusif instanik. Filsafat adalah ruang bertanya. Sejauh ingat saya, dosen filsafat kita, DR. P. Kondrad Kebung, SVD pernah berkata "ketika Anda bertanya sebenarnya Anda sedang berfilsafat". Artinya, dengan terbukanya ruang filsafat ini, ada harapan terbersit, agar pemerintah, rakyat, akademisi, jurnalis, relawan di mana saja berada membuka mata lebar-lebar akan konstruksi ruang filsafat di balik pro-kontra penambangan Lembata. Lalu, ambilah keputusan!&lt;br /&gt;Memang sejak awal tulisannya, saya sudah bisa duga. Ke mana Kapitan hendak "berbuih". Kalau bukan mendoma perspektif publik, setidaknya "memuluskan" ide Charles Beraf, yang menurut tukang ojek Wairpelit, Beraf itu mungkin tim suksesnya....? (Hendrik Nong, Pos Kupang, 27/6/2007). Harap, besok-besok tak ada lagi tukang ojek ataupun penjual sayur lain yang berkata, jangan-jangan Kapitan juga adalah tim suksenya si Beraf...! Sedih bukan main! Jangan biarkan kesejatian intelektual Anda dinodai oleh sinisme yang datang dari mulut orang-orang sekarat seperti itu.&lt;br /&gt;Sebagaimana Anda berdalil bahwa memahami tulisan Beraf takcukup menangkap judulnya, apalagi kata perkata atau perkalimat. Itu nasihat cerdas, layaknya profesi seorang filsuf kinian. Sayangnya, analisis Anda terlalu dini. "Felix qui potuit rerum cognoscere causas. "Berbahagialah, mereka yang dapat mengerti penyebab sesuatu" (Vergilius, Georgicon II: 490). Sebab, tulisan Anda menunai kebingungan untuk saya dan boleh jadi untuk sidang pembaca yang lain.&lt;br /&gt;Lalu, hati kecil saya bergumam, jangan-jangan Kapitan yang muncul di Pos Kupang ini bukan Kapitan yang dulu merupakan kawan kelas saya. Setahu saya, Kapitan adalah teman saya yang cerdas dan idenya biasa brilian. Entahlah, nanti saya terjebak dengan argumentum ad hominem. Lupakan itu! Yang penting, formasi epistemilogik dalam tulisan Saudara patut saya cela-tanya. Berpijak dari mana dan hendak ke mana, sampai-sampai Anda mengatakan bahwa tulisan saya "cuma" mengobrak-abrik judul saja? Judul-judulan!&lt;br /&gt;Tulisan saya bukan hanya menyoalkan judul. Anak TKK juga bisa bicara demikian. Katakan, seorang anak baca puisi "Tomat" di kelas. Sebelumnya, guru menuntunnya bagaimana mengimprovisasikannya. Bahwa Tomat itu bentuknya bulat dan seterusnya. Tak ada yang lebih dari itu. Kemudian, setibanya di rumah, ia melihat sebuah "buah" lain, yang bentuknya juga bulat. Lalu, ia mengatakan "Bu ini tomat yah..? Padahal itu lombok! Hanya, karena bentuknya juga bulat. Begitupun, tulisan saya, mungkin resonansi judulnya bertendensi judul menyerang judul (argumentum ad titulum). Berangkat dari view ini, Anda dengan enteng mengatakan, saya hanya berkutat pada judul. Apa bedanya, kita dengan anak TKK kalau Anda berpikir seperti itu? Kalau Anda masih punya waktu, bacalah sekali lagi tulisan saya.&lt;br /&gt;Tulisan saya sebenarnya mengecam Beraf atas teriakan brutalnya atas proses demokratisasi di Lembata. Walaupun ada cela lain, yang juga tidak beres. Saya hanya mengangkat ke permukaan yaitu relevansi logis-implikatif teriakan brutal dengan pertumbuhan demokrasi. Sehingga, nasihat cerdas lewat tulisan Anda akhirnya salah alamat di sini atau dengan logat kejawaan Anda yang kental "tak nyambung" . Mungkin terlalu cerdas sampai roh pencerdasannya mengabur kewibawaan teleologi kualitas pesan yang hendak mau disampaikan.&lt;br /&gt;Saya kira tulisan Beraf tak perlu mendatangkan seorang analisis teks sekaliber Cliffort Geertz sekalipun, untuk menjelaskan esensi tekstual tulisannya. Buktinya, tukang ojek saja sudah berkomentar. Karena apa yang hendak dibahasakan Beraf sudah jelas. Bukan pula bahasa hantu. Isinya pun terang-terangan yaitu imbauan unilateralistik agar rakyat jangan bertindak bodoh atas penolakan penambangan di Lembata. Jika saja Beraf mengatakan rakyat dan pemerintah jangan bertindak bodoh mungkin bisa diterima oleh publik. Di sini sebenarnya, awal kepincangan berpikir.&lt;br /&gt;Persoalannya adalah masalah dibedah secara monokausalistik. Rakyat dilihat dengan gaya "pendekar mata satu" bahwa rakyat memang sebuah kerumunan psikologis yang bertindak "membeo". Seperti teori psychological crowd-nya Le Bon (1895). Le Bon mengatakan, individu dalam kerumunan mengalami hipnosis karena tenggelam dalam psikologi kolektif yang menular secara psikologis, cenderung mudah dipengaruhi, mudah percaya, dan loyal pada kelompok tertentu. Atau dengan kata lain, seperti kerumunan kuda liar yang terperanjat dan berlari tanpa arah karena seekor kuda yang lain melepaskan kentut. Benarkah protes rakyat terkelepot sesedih itu? Sayapikir, rakyat tidak terlalu bodoh, sebodoh kuda liar yang terperanjat hanya karena kentut kawannya lalu lari tunggang langgang. Kita sebagai akademisi perlu ekstra hati-hati berbuih kata-kata. Sebelum diadili oleh orang yang sering dicap paling bodoh sekalipun.&lt;br /&gt;Alur pikiran kita tetap jelas. Kita tidak perlu mereka-reka apa maunya si Beraf di balik teriakannya, "jangan bertindak bodoh" karena obyek yang diteriakinya jelas. Tapi tiba-tiba, Kapitan muncul dengan "gertak 45", coba mengajak publik untuk mereka-reka apa maunya Beraf. Dengan meyakini publik dengan formulasi logika dan filsafat yang pernah dipelajarinya bahwa pikiran Beraf memang benar. Bahwa perlu dinasihati, dikawali, dijinaki kegabahan rakyat Leragere. Seperti apa porsi gegabahnya, juga tidak jelas. Karena, refleksi Anda kelihatannya hanya untuk membela tulisan Beraf secara artifisialistik. Pernahkah Anda memikirkan bahwa yang paling gegabah sebenarnya adalah pemerintah? Pikirkan itu baik-baik. Tidak ada penyebab tanpa disebabkan.&lt;br /&gt;Argumen Anda pun sama, atau meminjan kata Anda sendiri "terjangkit" dengan logika Beraf. Walaupun di akhir tulisan Anda, ada solusi. Tapi hemat saya, munculnya solusi-solusi itu cuma pelengkap saja. Layaknya, orang lagi bongkar kema, akan belum lengkap kalau tanpa ada minum moke. Tapi itu tidak berarti tulisan Anda tidak punya pesan signifikan. Sekali lagi ruang bertanya semakin jernih. Itulah tugas kita. Artinya, kita sebagai figur intelektual perlu membuka ruang diskusi seluas-luasnya agar ruang publik lebih dipenuhi dengan keputusan-keputusan yang arif, terutama menyangkut hajat hidup orang banyak.&lt;br /&gt;Semoga dengan membuka wacana publik ini, pemerintahjangan-jangan malu-malu untuk bersuara dan mengatakan bahwa industri ekstraktif Lembata ini akan tidak diteruskan. Bukan kali ini, mungkin lain kali. Begitulah bahasa diplomatisnya. Dan kepada PT Meruhk, juga jangan enggan-enggan untuk angkat kaki dari Lembata. Proyek Anda bukan tidak berhasil kali ini, tapi cuma "tertunda". Orang Lembata akan menulis nama Anda dengan tinta emas kalau Anda dengan berani meninggalkan lokasi penambangan Lembata secara terhormat. Bahkan, orang yang sudah di liang kubur sana pun akan mendoakan dan merestui kepergian Anda.&lt;br /&gt;Saya berterima kasih kepada Pos Kupang atas peran aktifnya memediasi pikiran publik atas masalah penambangan ini dalam rubrik opininya. Kalau saja, Pos Kupang tidak mengangkat persoalan penambangan Lembata untuk dicecar-cecar oleh publik, maka bukan tidak mungkin proyek industri penambangan ini akan berjalan mulus di bawah jurus-jurus silat maut pemegang kekuasaan. Saya tidak temukan keunikan yang seistimewa ini, di koran lokal lain di negeri ini. Proficiat Pos Kupang!&lt;br /&gt;Semoga solidaritatif-kolektif ini tetap membahana ke depan. Ini baru langkah pertama dari ribuan langkah yang sedang menanti di depan mata kita. Peran rekan jurnalis, akademisi, media, relawan, tukang ojek sekalipun akan menjadi kekuatan baru dalam menghadapi ruang publik kita yang sering rapuh dan tersumbat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;* &lt;strong&gt;Penulis, staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;(Dimuat di Pos Kupang, 9/7/2007)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-1122711965982139394?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/1122711965982139394/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=1122711965982139394' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/1122711965982139394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/1122711965982139394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/hati-hati-sebelum-berbuih.html' title='Hati-hati sebelum ‘berbuih’'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCMUd8XiXcI/AAAAAAAAAEs/42R46qjv7Tk/s72-c/2309806243.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-6032121652618216502</id><published>2008-05-07T00:14:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:14:33.196-07:00</updated><title type='text'>KAPAN PROVINSI FLORES DIBENTUK?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCMSq8XiXaI/AAAAAAAAAEc/Ocg8B5ZbKsg/s1600-h/2303130463.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198018923884338594" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 154px; CURSOR: hand; HEIGHT: 174px" height="145" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCMSq8XiXaI/AAAAAAAAAEc/Ocg8B5ZbKsg/s200/2303130463.jpg" width="122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Fidel Hardjo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;NTT saat ini dinilai terlalu luas. Pengawasan, pengendalian, dan pelayanan atas peyelenggaraan struktur pemerintahan tidak pernah berjalan efektif (Cyber Kompas,8/3/2007). Salah satu wilayah NTT yang perlu dan pantas dimekar adalah provinsi Flores (Flores-Lembata).&lt;br /&gt;Gerakan pemekaran provinsi Flores sudah ada sejak tahun 1958. Itu berati usianya hampir setua dengan usia kemerdekaan republik ini. Impian ini terkatung-katung begitu lama. Aspirasi ini "muncul tenggelam" tanpa terealisir. Ini yang membuat kita tertinggal dengan provinsi lain.&lt;br /&gt;Sangat ironis! Ketika beberapa daerah di provinsi lain di wilayah republik ini seperti Tapanuli, Gorontalo, Papua, Maluku berhasil dimekar menjadi provinsi otonomi. Padahal, secara konseptual gerakan pemekaran mereka, baru muncul setelah orde baru dan orde reformasi lahir.&lt;br /&gt;Kapan provinsi Flores dibentuk? Jangan terlalu lama berpangku tangan. Mari kita hidupkan kembali aspirasi pemekaran provinsi Flores. Aspiratif publik yang sudah lama terkubur ini perlu direalisir secepatnya.&lt;br /&gt;Pemekaran Flores menjadi provinsi bukan semata-mata rekayasa social-politis (social-politic engineering). Ketakutan dan kecurigaan warga nonpolitisian yang berlebihan atas rekayasa social-politis di balik spirit pemekaran provinsi Flores juga tidak proposional.&lt;br /&gt;Konstruksi dasar pemekaran provinsi Flores lebih merupakan proyeksi idealisme masyarakat grassroot akan mimpi sebuah kehidupan yang lebih baik, bonum cummune. Terutama ketika penanganan masalah kemiskinan, pendidikan, transportasi dan pemberdayaan civil society yang masih jauh dari harapan (Kompas16/6/2003).&lt;br /&gt;Lihat saja kenyataan di Flores dan Lembata. Contohnya, jalan raya provinsi dari ujung barat sampai ke ujung timur pulau Flores sangat amburadul, lobang sana-sini. Sangat sedih! Belum lagi, jalan kabupaten masuk pedesaan pasti lebih "kacau" lagi.&lt;br /&gt;Bukankah masyarakat Flores-Lembata mempunyai hak untuk menikmati kehidupan yang lebih baik, seperti apa yang dialami oleh saudara-saudarinya di provinsi lain? Persoalannya, mengapa pembentukan provinsi Flores begitu lamban dan stagnan?&lt;br /&gt;Kelambanan pemekaran provinsi Flores merupakan ulah kaum opurtunis-politis yang ingin menunggang aspirasi pemekaran ini dengan perebutan kekuasaan yang tidak sehat. Interese privasi elite politik terlalu dominan. Mereka lupa menangkap aspirasi rakyat.&lt;br /&gt;"Kecolongan" elite politik ini telah menyebabkan misinterpretasi misi fundamental pemekaran daerah. Akibat fatal adalah upaya pemekaran mengalami titik buntu. Munculnya aneka kecurigaan dan keputusasaan baik dari jalur masyarakat maupun institusi pemerintahan itu sendiri.&lt;br /&gt;Hakikat dasar pemekaran adalah proses merevitalisasi percepatan pembangunan kesejahteraan masyarakat yang lebih terfokus dan efektif. Beberapa provinsi lain di Indonesia justru mampu menginternalisasi dan menangkap peluang pemekaran ini sebagai blessing disguise dalam menata kehidupan daerah mereka lebih efektif dan efesiensi. Mereka sangat berhasil.&lt;br /&gt;Sementara kita orang Flores-Lembata mundur ribuan langkah ke belakang. Bayangkan, pemekaran provinsi belum terbentuk tapi para elite politik sudah sibuk dengan polemik siapa gubernurnya, di mana rumah jabatannya, mobil dinasnya, dan masih banyak "tetek bengek infantil" yang lain. Kendatipun demikian, masih banyak orang yang berjuang tanpa ada intensi negatip dalam tekad perjuangan pemekaran ini.&lt;br /&gt;Pemekaran provinsi Flores merupakan aspirasi perjuangan “wong cilik”. Suara orang kecil ketika kultur kemiskinan sulit dipisahkan. Ketika urusan transportasi, pendidikan, listrik, air minum, pemasaran bagi masyarakat susah dijangkaui. Kemiskinan rakyat bukan harga mati. Potensialitas untuk ke luar dari kemiskinan selalu ada solusinya. Tinggal kegesitan dan kepekaan kita untuk membaca realitas dan menangkap momentum yang tepat.&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Flores dan Lembata, inilah momentum yang tepat. Kita menata kondisi kehidupan ekonomis dan politis lokal lebih baik, dengan mempercepatkan pemekaran provinsi Flores. Apalagi, baru beberapa bulan yang lalu, Presiden SBY telah menyaksikan sendiri kondisi riil di NTT umumnya dan Flores pada khususnya.&lt;br /&gt;Sekurang-kurangnya, ketika desakan kita mengalir ke pusat, Presiden SBY sudah ada bayangan riil tentang Flores. Kita menargetkan agar sebelum presiden SBY turun dari kursi presidennya tahun 2009, Flores sudah harus menjadi provinsi definitip atau paling kurang sudah ada dalam pembahasan Komisi II DPR pusat.&lt;br /&gt;Optimisme pemekaran provinsi Flores sangat kuat, baik pada level nasional maupun lokal. Sekarang, kita tingggal menanti desakan responsif dan co-operatif aktual masyarakat Flores dan Lembata. Aspek solidaritas dan optimisme selalu menjadi fondasi idealisme pemekaran provinsi ini. Sebab bukan tidak mungkin perjuangan pemekaran ini tanpa ada masalah dan tantangan.&lt;br /&gt;Ingat, kendala yang sama, juga dialami oleh provinsi lain, di awal aspirasi pemekaran mereka. Contohnya, konflik internal di provinsi Tapanuli ketika gerakan pemekaran bergulir justru pemerintah daerah tidak memberi rekomendasi. Belum lagi kondisi di Papua. Masyarakat tidak ingin pemekaran tapi pemerintahan eksekutif pusat justru mendesak adanya pemekaran.&lt;br /&gt;Masalah dan tantangan internal dan eksternal biasa terjadi. Cuma pergolakan ini harus selalu diinterpretasi sebagai kontribusi positip dalam proses pemurnian intensionalitas pemekaran daerah dan bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;Kalau kita berpikir jeli dan menangkap realitas di masyarakat, sebenarnya tak ada persoalan yang lebih signifikan pemekaran provinsi Flores. Pada tingkat eksekutif provinsi NTT justru memfasilitasi aspirasi ini dengan antusias (NTT Online,18/1/2007). Cuma persoalan internal sekunder masyarakat Flores-Lembata yang berbau politis lokal masih kental.&lt;br /&gt;Pertama, tarik ulur kepentingan antara elite politik terutama para elite politik yang masih "kecantol" dengan isu primodialistik dan individulistik perlu dilucuti. Termasuk pergolakan pemilihan kota propinsi (Cyber Kompas,21/5/2001).&lt;br /&gt;Tidak perlu dibahas secara bertele-tele soal pemilihan kota provinsi. Prinsip dasarnya adalah kota pusat provinsi mesti strategis dalam aspek aministratif, komunikatif dan transportasi. Kalau kita mau jujur (pendapat pribadi saya), Maumere adalah kota yang tepat dan layak untuk mendapat previlese kota provinsi Flores karena kota hidup, komunikatif dan fasilitatif.&lt;br /&gt;Hanya, sekarang tergantung kerelaan pemerintah Sikka untuk menyikapi aspirasi ini. Kita juga mengharapkan dukungan politis setiap kabupaten se-Flores-Lembata untuk meringankan langkah positip pemekaran provinsi Flores.&lt;br /&gt;Kedua, munculnya pesimisme yang biasanya tampil lewat kritikan profetis pihak gereja atau lembaga sosial lainnya. Kita butuh orang seperti ini. Gejolak pesimisme "kaum awam" tentu beralasan. Dasar substansial pesimisme pihak luar lebih merupakan "awasan moral" kepada para elite politik agar jangan sekali-kali mengunakan "kesempatan dalam kesempitan".&lt;br /&gt;Pemekaran provinsi Flores bukan moment investasi kekuasaan ataupun popularitas pribadi. Misi luhur kita adalah upaya memaksimalkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Flores-Lembata. Oleh karena itu, tugas para elite politik sekarang adalah menjembatani semua aspirasi dari poros bawa, termasuk mendengarkan suara gereja lokal Flores sebagai fondasi awal kemajuan masyarakat Flores dari dulu sampai sekarang.&lt;br /&gt;Ketiga, kecemasan faktor SDA dan SDM. Maturitas pemekaran Flores menjadi provinsi definitip tentu tidak perlu diragukan. Aset daerah, hampir 67 persen dari product domestic regional brutto (PDRB) NTT justru kontribusi dari Flores-Lembata (Kompas16/6/2003). Faktor sumber daya manusia bukan masalah primer.&lt;br /&gt;Kehadiran beberapa sekolah dan perguruan tinggi katolik dan negeri yang tersebar di Flores dan Lembata menjadi aktor kunci pemberdayaan civil society masyarakat provinsi Flores ke depan. Kita mengharapkan, agar kerjasama pemerintah dan pihak gereja ke depan semakin terpola dan lebih terstruktur.&lt;br /&gt;Keempat, jaringan network (Koordinasi Perjuangan Pembentukan Provinsi Flores (KP3F) yang memfasilitasi aspirasi pemekaran belum solid. Paling utama adalah rekonsilidasi komisi pemekaran di setiap kabupaten di Flores dan Lembata lalu pada tingkat provinsi dan bergerak ke pusat harus lebih kredibel dan solid.&lt;br /&gt;Singkatnya, kita butuh perjuangan esktra tanpa pamrih. Pemerintah tidak bisa berjalan sendirian. Upaya pemekaran ini mengharapkan bantuan suport gereja, lembaga sosial dan organisasi masyarakat, mahasiswa, pelajar dan masyarakat Flores-Lembata itu sendiri.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, mari kita tekadkan niat, satukan hati untuk mempercepat gerakan pemekaran provinsi Flores. Nasib provinsi Flores ada di tangan kita. Mengapa daerah kecil saja di provinsi lain bisa menjadi provinsi?&lt;br /&gt;Apalagi Flores-Lembata dengan 1,7 juta jiwa penduduk dan memiliki sejuta kekayaan serta keluasan wilayah yang sangat dasyat. Kapan lagi provinsi Flores dibentuk kalau bukan sekarang dan siapa lagi kalau bukan kita. Vivat provinsi Flores!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;*&lt;strong&gt;Penulis, staf Televisi TBN Asia tinggal di Manila&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;(Dimuat Pos Kupang, 2007)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-6032121652618216502?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/6032121652618216502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=6032121652618216502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/6032121652618216502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/6032121652618216502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/kapan-provinsi-flores-dibentuk.html' title='KAPAN PROVINSI FLORES DIBENTUK?'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCMSq8XiXaI/AAAAAAAAAEc/Ocg8B5ZbKsg/s72-c/2303130463.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-4167318175326744877</id><published>2008-05-07T00:08:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:15:13.467-07:00</updated><title type='text'>Jangan berpikir bodoh</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCK68MXiXVI/AAAAAAAAAD0/e817Z3u3Xts/s1600-h/i.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197922463213837650" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 92px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" height="92" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCK68MXiXVI/AAAAAAAAAD0/e817Z3u3Xts/s200/i.jpg" width="76" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;(Awasan untuk Charles Beraf)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Oleh Fidel Hardjo *&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;TULISAN Charles Beraf dengan judul "Jangan Bertindak Bodoh" yang dimuat di Harian Pos Kupang (18/6/2007) memang sangat menukik. Menarik untuk dicermati lebih serius. Letak keseriusannya, hemat saya, bukan karena judulnya yang yang vulgar atau terlalu sensasi tetapi apakah isi tulisan itu mengontribusi nilai pencerahan kepada publik atau tidak. Inilah persoalannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kita boleh sepakat bahwa problematik industri ekstraktif di Lembata merupakan pelajaran berharga untuk mendesain demokrasi kita secara arif dan proposional. Beraf dalam tulisannya menguraikan hal itu secara sistematis. Menurutnya, prinsip diskursus demokrasi: semakin kuat antitese, semakin kuat pula diskursus demokrasi yang terbangun di tengah masyarakat. Itu benar. Dan itulah faktum yang sedang berbicara di Lembata sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Dengan kata lain, semakin derasnya protes dan gelombang demonstrasi (baca:antitese) dari rakyat atas proyek pertambangan ini (baca:tese), maka semakin terkukuhnya pendirian demokrasi (baca:sintese). Lalu, mengapa Beraf berteriak "jangan bertindak bodoh" kalau memang antitese-antitese itu adalah logika substansial demokrasi. Ataukah Anda yang mengsinterpretasi secara keliru (error interpretation) atas upaya demokratis rakyat kecil seperti ini. Kecemerlangan ide Anda mengalami peruntuhan mutlak di sini ketika tese, antitese dan sintese yang Anda bangun terkontradiktif an sich.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Biarlah rakyat menentukan sendiri wajah demokrasi mereka. Sudah lama zona demokrasi mereka dipasung dan dipenjara. Sejauh, mereka tidak mengusung "antitese" dalam bentuk kekerasan fisik. Demokrasi butuh proses. Apa pun alasan dasar di balik pro-kontra proyek industri ekstraktif Lembata, yang pasti demokrasi terus berproses menjadi (in the making) menuju kematangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Alex Inkeles (Introduction: On Measuring Democracy, 1990), demokrasi ibarat pengembara di padang pasir, yang dalam perjalanannya mencapai tanjakan-tanjakan kecil, terkadang lintasan terjal berliku, hingga akhirnya mencapai ketinggian tertentu. Kita boleh katakan, demokratisasi di Lembata baru ada pada level "terjal". Itu berarti perjalanan demokrasi dan tantangannya semakin luas dan kompleks.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Saya "angkat jempol" kepada penulis warga Takaplager ini, karena ia juga mengusung UU No. 23 /1997 tentang pengelolaan lingkungan, sebagai kerangka acuan proyek pertambangan Lembata. Setidaknya, menurut Charles, ada tiga tahap AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan), RKL (Rencana Kelola Lingkungan) dan RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan). Saya berpikir, ini hal yang penting. Eksplorasi kekayaan alam harus dimbangi dengan pemeliharaan (duty of care) atas alam itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Hanya rakyat kecil (kontra) tidak tega menunggu proses itu. Kasus Freeport dan Lapindo adalah "guru" paling berharga bagi mereka. Kalau Charles melihat kasus Lapindo dan Freeport berakar pada soal "ketidakcermatan" survai, maka saya menepis pendapat Anda dalam ranah ini. PT Lapindo atau Freeport merupakan industri ekstraktif yang terbesar dan lebihterprofesional di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tentunya, para ahli dengan segala keahlihan dan kecermatan sudah melakukan survai. Bahkan, mereka mengikuti kerangka acuan AMDAL, RKL, dan RPL seperti apa yang juga "dimutlakkan" oleh Charles atas proyek pertambangan Lembata. Atas hasil survai para ahli ini pun maka "palu" pun diketuk tanda proyek segera dimulai. Sayangnya, hasil survai para ahli profesional (baik ahli asing maupun pribumi) kedua PT besar ini berujung pada situasi yang mencekam. Bukan hanya habitus envioromental yang rusak tapi manusia itu sendiri terancam: kesengsaraan, pengungsian, kesakitan bahkan kematian. Lagi-lagi siapa yang bertindak bodoh?&lt;br /&gt;Saya kira rakyat tidak terlalu bodoh untuk "menunggu" pertambangan Lembata berakhir dengan drama "ratap tangis’ seperti apa yang dialami oleh saudara-saudarinya di Papua atau di Jawa. Kalaupun kita menunggu, taruhannya sangat mahal. Antara mati atau hidup! Saya merasa heran dengan pemimpin kita, seakan-akan tanpa pertambangan ini kita tidak akan bisa hidup lagi. Rakyat sudah lama hidup tanpa industri tambang seperti ini, toh mereka masih bisa hidup. Jangan-jangan ada udang di balik batu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kearifan rakyat kecil yang kerap "dicap" bodoh perlu dicontohi oleh para pemimpin atau siapa saja, termasuk penulis Takaplager yang menulis opini "Jangan Bertindak Bodoh". Kalau saja Hobbes bisa diajak bicara sekarang, maka teorinya tentang "Leviathan" di mana rakyat dengan natural liar berperilaku biadab perlu ditertibkan akan ditentang habis-habisan. Yang perlu ditertibkan sekarang adalah tabiat pemimpin yang tidak "beres". &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pemimpin yang tidak mendengarkan orang lain, yang semestinya didengari yaiturakyatnya sendiri. Kebiadaban tahbiat ini meluas dengan praktik kecolongan "mulut kotor" termasuk mencap orang lain yang berseberangan pendapat: bodoh, sampah, binatang dan boleh anda tambah sendiri yang lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Logika pembangunan daerah itu baik. Promosi dan cari investor sebanyak-banyaknya untuk menanam investasi di daerah kita juga tidak keliru. Hanya, kadang tujuannya baik tapi caranya "kurang elok". Rakyat tidak diberi "common space" untuk berbicara. Saya pikir ini dasar substansial pemotresan masyarakat. Artinya, baik pihak pro maupun kontra berpijak pada argumentasi masing-masing. Tapi apalah artinya kalau hanya mutlak-mutlakan antitese-antitese sendiri yang tidak solusif. Itu hanya mengerucutkan nalar sosial kita kepada titil nol.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Banyak persoalan yang terpresepsi dalam masyarakat oleh motif rasionalisasi "tujuan baik cara buruk". Unsur tujuan dijagokan sementara aspek cara yang bersifat pencerahan diabaikan. Misalkan saja, tujuan Charles dengan tulisannya: Jangan Bertindak Bodoh! Tujuannya baik, hanya cara mengapresiasinya, hemat saya, tidak mencerahkan publik. Itu juga dosa demokrasi. Karena dalam ranah demokrasi silang pendapat itu biasa tapi mencaci maki orang lain, apalagi mencap orang lain bodoh adalah kutukan berat atas pertumbuhan demokrasi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Oleh karena itu, adalah keliru besar kalau kita menangani konflik pertambangan Lembata dengan jurus maki-makian, mutlak-mutlakan, dan apalagi mencap orang lain "bodoh". Semua perilaku biadab ini tidak pada tempatnya. Perilaku seperti ini hanya menampilkan kebanalitasan kita. Lihat, sekarang kita "berkelahi" antara rakyat (pro) dengan rakyat(kontra) bahkan rakyat dengan DPR atau Bupati tapi PT. Merukh Enterprise tinggal duduk manis dan senyum "diam-diam".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kalau saja rakyat bisa diajak intervensi, maka mereka juga akan berteriak hal yang sama "jangan berpikir bodoh". Karena bagaimanapun, don’t step on the underdogs (istilah Sutan Syahrir). Jangan pernah menginjak orang yang sekarat!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;* Penulis, staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;(Dimuat di Pos Kupang, 25/6/2007)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-4167318175326744877?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/4167318175326744877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=4167318175326744877' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/4167318175326744877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/4167318175326744877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/jangan-berpikir-bodoh.html' title='Jangan berpikir bodoh'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCK68MXiXVI/AAAAAAAAAD0/e817Z3u3Xts/s72-c/i.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-6170099278057439917</id><published>2008-05-06T23:10:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:16:34.371-07:00</updated><title type='text'>Kegelisahan pendidikan NTT</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCK4VMXiXUI/AAAAAAAAADs/Xs3FM0MkHwc/s1600-h/an.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197919594175683906" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 135px; CURSOR: hand; HEIGHT: 110px" height="103" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCK4VMXiXUI/AAAAAAAAADs/Xs3FM0MkHwc/s200/an.jpg" width="124" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCK2tcXiXTI/AAAAAAAAADk/0QvMNwEDYDY/s1600-h/anak.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;(Refleksi di balik memperingati Hari Pendidikan Nasional)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Oleh Fidel Hardjo *&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;DARI 4 juta lebih penduduk NTT, sebanyak 370.710 warganya buta huruf, sementara penganggur terbuka berjumlah 104.832 orang. (Kompas 15/7/ 2006). Jumlah warga buta huruf dan pengangguran daerah ini sangat memrihatinkan. Bukan tidak mungkin pengangguran, kemiskinan dan kebodohan bergeser ke level yang lebih akut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pemerintah daerah sebagai stakeholder pendidikan lokal semestinya mencermati realitas ini dengan serius. Keterabaian sektor pendidikan ternyata menciptakan ketidakberdayaan dalam skala yang lebih kompleks. Menelisik akar persoalan kemiskinan dan kebodohan di NTT memang pelik. Sama peliknya ketika kita berhadapan dengan pertanyaan mana yang lebih dulu telur atau ayam? Kita bodoh karena miskin atau miskin karena bodoh?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Bodoh karena miskin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kita bodoh karena miskin. Ada banyak alasan. Pertama, faktor kemiskinan orangtua. Hampir 90 persen jumlah penduduk NTT adalah mayarakat petani, yang juga merupakan keluarga miskin. Pekerjaan utama mereka adalah berkebun dan bersawah. Segala harapan dan mimpi masa depan terbentang luas di ladang dan sawah. Nasib mereka sangat ditentukan oleh kebaikan alam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Di awal tahun 2007, propinsi ini dihantam kemarau panjang dan bencana longsor habis-habisan. Semua usaha, harapan dan mimpi telah menjadi sirna. Problem ekonomi terasa semakin sulit. Problem ekonomi meluas pada masalah pendidikan. Idealisme pendidikan kini terbentur dengan beban ekonomi yang terseok-seok. Sekolah gratis pada level sekolah dasar (Universal Basic Education) pun terasa sulit. Namanya gratis tapi masih ada biaya seragam, beli pensil dan buku. Seragam sekolah, sepatu, pensil dan buku bagi seorang petani miskin merupakan barang mahal. Sekalipun barang-barang itu tidak semahal dengan apa yang dibayangkan. Mau apa dikatakan, mereka terlanjur hidup kultur kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kedua, kemiskinan negara. Bukan hanya orangtua yang miskin, negara juga miskin. Sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai turut "menelantarkan" anak-anak. Pandangan ini dipertegas Amartya Sen (pemenang Nobel Ekonomi tahun 1998) dalam bukunya Inequality Reexamined (1992) yang menekankan kurangnya kesempatan (entitlement) dan penyediaan lembaga pendidikan dan sekolah telah membuat orang yang paling miskin tidak bisa menikmati pendidikan seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Masalah transportasi merupakan salah satu bukti kemiskinan negara. Anak-anakyang berumur 6 sampai 10 tahun harus berjalan kaki belasan kilometer untuk menempuh sekolah mereka. Lokasi sekolah yang tak tersentuh oleh sarana transportasi telah membuat anak-anak menghabiskan waktunya lebih banyak di jalan daripada di sekolah. Kalau pemerintah tidak menyikapi persoalan ini dengan serius, maka secara tidak langsung negara juga turut mewarisi kebodohan ke generasinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ketiga, kemiskinan sosial. Masyarakat NTT sangat akrab dengan prinsip, "makan atau tidak makan yang penting berkumpul". Sayangnya, konsep ini hanya kuat dalam ranah adat istiadat. Hanya, pertanyaannya mengapa kita tidak memiliki spirit yang sama dalam ranah pendidikan? Peluang keramahan budaya ini semestinya dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menjalankan misi pendidikan yang lebih hemat dan produktif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kempat, kemiskinan daya juang anak itu sendiri. Banyak anak NTT yang mengerti dunia mereka sendiri sebatas kebun, sawah dan ladang. Mereka merasa puas dengan keadaan mereka. Daya juang mereka ditakar dengan bagaimana berkebun dan berladang.&lt;br /&gt;Tugas kita sekarang adalah bagaimana membangkitkan idealisme baru bagi kehidupan anak-anak yang sudah terkubur dalam kemiskinan dan kebodohan. Tugas ini memang berat. Kita butuh support banyak pihak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Miskin karena bodoh&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kita miskin karena bodoh. Dari 4 juta lebih jiwa penduduk NTT ada sebanyak 370.710 warga NTT yang buta huruf. Jumlah ini memang keterlaluan. Bagaimana kita bisa mengharapkan sebuah pertumbuhan ekonomi daerah yang progresif kalau hampir setengah penduduk tidak memilliki standar pendidikan yang pantas. Bagaimana kita ingin menjadi kaya atau kurang lebih "hidup layak" kalau masyarakat itu sendiri tidak mengerti mengapa mereka miskin?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Bagaimana orangtua bisa mendidik anak mereka kalau mereka sendiri buta huruf? Bagaimana bisa menjadi TKW atau TKI ke luar negeri kalau kebanyakan anak-anak tidak tamat SD atau drop out SMA? Selagi mereka tetap "terjajah" oleh buta huruf, maka harapan untuk keluar dari kemiskinan tetap mengecil. Siapa yang bisa menolong mereka?&lt;br /&gt;Inilah momen yang tepat bagi pemerintah untuk membaca realitas kemiskinan dengan pikiran yang bening. Program dana bantuan desa tertinggal akan tidak tepat sasar kalau sebatas membagi-bagi beras kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;rogram ini bersifat boros dan tidak mendidik masayarakat, hanya menambah ketergantungan masyarakat. Kita semestinya menolong masyarakat dengan paradigma konstruktif. Satu-satunya adalah jalur pendidikan gratis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan gratis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Apakah Pemerintah NTT bisa membangun pendidikan gratis ketika situasi ekonomi daerah carut-marut dan rehabilitasi bencana alam belum tuntas? Tidak ada yang mustahil. Hanya orang yang tidak pernah mencoba adalah orang yang selalu gagal.&lt;br /&gt;Pemerintah daerah jangan "pelit hati" untuk menolong anak-anak buta huruf dan miskin dengan membuka sekolah gratis. Sudah saatnya, pemerintah daerah jangan terlalu berharap sepenuhnya dari pemerintah pusat untuk memperbaiki kondisi kemiskinan dan kebodohan masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pendidikan gratis bisa ditempuh dengan memberikan kursus alternatif. Tawaran kursus alternatif bisa disesuaikan dengan peluang daerah seperti membuka kursus keterampilan menenun, pertukangan, perkebunan, melaut dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pendidikan gratis tidak cukup. Kita juga menggalakkan spiritualitas "orang miskin menolong orang miskin". Masyarakat NTT memiliki magic culture yang sangat kuat. Kultur berbagi (shared) yang sangat tinggi. Kita manfaatkan potensi budaya "berbagi" ini untuk menolong satu dengan yang lain. Kita harus bukti bahwa orang miskin ternyata bisa menolong orang miskin. Orang miskin menolong orang miskin merupakan kultur baru yang perlu digalakkan terutama ketika negara kita dihempas oleh berbagai bencana alam, krisis ekonomi dan korupsi yang berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Semoga tulisan ini menjadi setitik embun, yang bisa mengobati rasa haus, di tengah kegelisahan 370.710 orang warga NTT yang masih "dijajahi" oleh buta huruf.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;* Penulis, staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;(Artikel ini dimuat di Pos Kupang, 2/5/2007)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-6170099278057439917?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/6170099278057439917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=6170099278057439917' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/6170099278057439917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/6170099278057439917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/kegelisahan-pendidikan-ntt.html' title='Kegelisahan pendidikan NTT'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCK4VMXiXUI/AAAAAAAAADs/Xs3FM0MkHwc/s72-c/an.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-3933772663657155895</id><published>2008-05-06T23:02:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:17:16.228-07:00</updated><title type='text'>Di Balik Skandal Made in China</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCKwP8XiXOI/AAAAAAAAAC8/4PaY4OJGasw/s1600-h/470839957.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197910707888348386" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 224px; CURSOR: hand; HEIGHT: 180px" height="120" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCKwP8XiXOI/AAAAAAAAAC8/4PaY4OJGasw/s200/470839957.jpg" width="145" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;strong&gt;Fidel Hardjo&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Di tengah meroketnya gelembung ekonomi Cina di abad XXI, kini negeri Tirai Bambu ini didera oleh global warning, yang lebih populer dikenal sebagai skandal Made in China (MIC). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Sejatinya, skandal MIC adalah letupan reaktif komunitas global untuk menarik, membasmi, atau lebih tepat dikatakan menghentikan sirkulasi produk MIC dari pasar global. Setidaknya, berdasarkan test fit for purpose standard di beberapa negara ditemukan produk MIC terkontaminasi zat kimia yang membahayakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Skenario terselubung AS&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Skandal MIC diduga tidak terlepas dari skenario terselebung AS untuk membendung sirkulasi produk MIC secara global (Ted C Fishman, China, Inc, How The Rise of The Next Superpower Challenges America and The World, 2005). Keajaiban ekonomi Cina menghampiri siapa saja dengan banyak cara dan dari segala arah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Sekali produk MIC diterima maka agak sulit untuk ditolak, demikian kataTed C Fishman dalam bukunya. Kehadiran produk MIC yang relatif murah di pasar global tidak sedikit membuat produk lokal terancam. Inilah kekhwatiran AS.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Upaya AS membendung produk MIC sebenarnya sudah berlangsung lama. AS biasa mengusung propaganda skandal keracunan produk MIC. Alasan ini 'membungkus rapi' agenda tersembunyi AS untuk meyingkirkan produk MIC. Sehingga, apa yang muncul di permukaan adalah penolakan atas produk MIC yang terkontaminasi racun dan high risk.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Maka, tahun 2001, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS memaparkan data numerik korban produk MIC. Ada sebanyak 76 juta kasus yang membuat 325 orang masuk rumah sakit, 5.000 orang meningal dunia, 4.000 binatang piaraan mati yang teridentifikasi positif berkorelasi erat dengan substandar produk MIC (CNN,18/5/2007).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Sayangnya, hasil survei itu, tak cukup memancing reaksi komunitas global. Reaksi global mulai muncul secara simultan tahun 2006/2007. Lembaga Food and Drugs Admistration (FDA) AS melaporkan secara resmi skandal MIC yang mengandung high risk yaitu obat sirup batuk (100 orang mati), sayuran (3 orang mati dan 200 menderita sakit), pet food (ribuan binatang tewas), pasta gigi (94 orang mati dan 297 sedang diinvestivigasi), (CRS Report for US Congress,10/7/2007).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Data resmi ini ternyata menghentak kesadaran para pemuja (biasanya orang miskin) produk MIC di seluruh dunia. Kini, skandal MIC telah membakar kepanikan dan ketakutan masyarakat global. Sehingga, apa yang kita saksikan akhir-akhir ini, munculnya reaksi negara Amerika Latin, Uni Eropa, bahkan Asia menarik dan melarang peredaran beberapa jenis produk MIC. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Eskalasi aksi pemboikotan global atas produk MIC tentu memberi 'titik kenyamanan' khusus bagi produk ekspor AS. Itu berarti, prediksi Ted C Fishman yang mengatakan Abad XXI adalah abadnya orang Cina perlu dipikir dua kali lipat. Sebab, boleh jadi abad ini kembali jatuh ke tangan AS sebagai panglima tunggal pasar ekonomi sejak Abad XX.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Salahkah jika Indonesia juga melarang dan membasmi produk MIC? Tentu tidak salah. Indonesia punya hak absolut menolak produk MIC yang membahayakan warganya. Menurut BPOM, produk impor MIC yang sudah pasti mengandung formalin yakni permen White Rabbit, Kiamboy, Classic, dan Blackcurrant. Hanya, sikap penolakan mesti didasari verifikasi akurat dan pendekatan soft power dengan Cina, sehingga tidak terkesan emosional. Jika upaya ini dikedepankan, maka perang dagang yang hampir terbakar akhir-akhir ini bisa dihindari.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Contohnya, sebagai aksi pembalasan (walaupun versi Cina, penolakan itu bukan aksi pembalasan) selama tahun 2007 lembaga GAQSIQ Cina telah menyita dan membasmi 121 jenis produk Indonesia. Produk impor Indonesia juga tercemar oleh racun dan patogen seperti merkuri, chromium, antibakteri nitrofual.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pada titik inilah momentum perang dagang sulit dihindarkan. Tentunya, AS mencuri keuntungan di tengah kondisi seperti ini. Produk AS masuk dalam kotak save. Bagi kedua negara, kerugian besar akan ada di depan mata. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Padahal, selama ini kedua negara menikmati benefit perdagangan bilateral. Data BPS awal 2007 menunjukkan kapasitas impor produk MIC di Indonesia senilai 3,62 miliar dolar AS. Sementara, produk impor Indonesia di Cina selama semester II tahun 2007 telah melampaui 20 miliar dolar AS. Betapa sayang, kalau aksi-reaksi kita lebih fokus pada perang dagang dan aksi tuding-menuding.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Membangun etika&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pertama, kita perlu sikap kritis. Kekritisan itu semestinya bermuatan nilai transformatif. Artinya, kita harus berani mengatakan no untuk produk impor MIC yang berpotensi destruktif dan sebaliknya. Kedua negara juga perlu bersikap saling terbuka atas upaya fit-for-purpose standar kualitas produk ekspor. Upaya ini perlu dikaji dan diverifikasi secara kooperatif-objektif transparan (Prinsip Safeguard GATT 94/WTO). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Dengan demikian, kita menghindari sikap prejudice dan justifikasi dekonstruktif global atas image produk ekspor kedua negara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kedua, Cina-Indonesia perlu saling belajar. Bagaimana membangun etika dagang baru transnasional: murah, sehat, dan respek HAM. Kita perlu belajar dari Cina yaitu bagaimana menghasilkan produk murah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;erutama, ketika orang miskin tidak merasakan benefit pasar karena harga sembako sering melambung tinggi, upah kerja minim, produk impor/ekspor unsafety, melek edukasi, ekologi, dan hiegenitasi berkepanjangan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Tapi, hendaknya produk murah tidak mengabaikan aspek kesehatan, standar upah kerja minimum, dan respek HAM. Ketiga, perlu peran proaktif dan fair lembaga perdagangan regional (AFTA/APEC) maupun Internasional (WTO) untuk mengontrol dan mengawasi sistem free trade yang berpotensi destruktif tanpa bersikap tebang pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;strong&gt;Staf Televisi TBN Asia, Tinggal di Manila&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(artikel ini dimuat di Republika, 27/8/2007)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-3933772663657155895?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/3933772663657155895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=3933772663657155895' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/3933772663657155895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/3933772663657155895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/di-balik-skandal-made-in-china.html' title='Di Balik Skandal Made in China'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCKwP8XiXOI/AAAAAAAAAC8/4PaY4OJGasw/s72-c/470839957.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5832810526865932291.post-1564468979228128486</id><published>2008-05-06T22:46:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T00:27:24.579-07:00</updated><title type='text'>Orangtua Yang Kudambakan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJxrMXiXKI/AAAAAAAAACc/U5QxrIG4A9c/s1600-h/2308891859.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197841906807233698" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 208px; CURSOR: hand; HEIGHT: 205px" height="166" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJxrMXiXKI/AAAAAAAAACc/U5QxrIG4A9c/s200/2308891859.jpg" width="150" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Fidel Hardjo &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;"Aku ingin ibu.... membiarkanku bermain sesuka hati sebentar saja.&lt;br /&gt;Aku ingin ayahku... melakukan semua hal yang dituntutnya padaku. Aku ingin ayahku... bicara tentang kesalahannya, tidak merasa paling benar.&lt;br /&gt;Aku ingin ibuku... mencium dan memelukku seperti ia memeluk adikku".&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Inilah jawaban seorang anak kecil ketika psikolog menyodorkan pertanyaan tentang orangtua yang didambakannya. Jawaban anak ini sungguh di luar dugaan saya. Jawabannya memang sangat sederhana. Sesederhana itukah kerinduan seorang anak? Saya tidak habis berpikir. Jika pertanyaan yang sama diajukan kepada anak-anak NTT, saya pikir anak NTT punya jawabannya tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Anak NTT pasti punya masalah lain. Coba bolak-balik koran kesayangan kita ini. Hampir setiap hari ada berita kekerasan terhadap anak-anak. Dunia anak-anak begitu akrab dengan berita diperkosa, dipukul, kurang gizi, busung lapar, ditemukan bayi hidup atau mati di setiap sudut tempat, dan belum lagi masalah melek huruf dan AIDS. Lengkap sudah ketragisan dunia anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;Semua perlakuan salah terhadap anak ini telah mengakibatkan "pengerdilan" dunia anak secara sistematis. Dunia tanpa masa depan, impian dan harapan. Dunia yang kian suram ini tak pantas dihuni oleh anak-anak. Itulah sebabnya, tahun 2006 tema laporan tahunan situasi anak dunia UNICEF yaitu "Terlihat tapi Terabaikan". Perlakuan salah terhadap anak telah menjadi konsumsi publik. Sayangnya, realitas ini sering terabaikan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Padahal, kita sudah produk UU No 23/2002 tentang perlindungan anak dan telah meratifikasi banyak konvensi anak. Tahun 2002/2003 UNICEF pernah melakukan suvai di NTB dan NTT. Hasilnya menunjukkan angka keseriusan perlakuan salah terhadap anak. Survai tahun 2002 melibatkan 125 anak. Survai ini berlangsung selama enam bulan, dan mencakup wawancara yang dipantau secara cermat. Survai ini mengatakan dua pertiga anak laki-laki dan sekitar sepertiga anak perempuan pernah dipukul. Lebih dari seperempat anak perempuan yang disurvai pernah diperkosa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Dalam survai yang lebih luas cakupannya pada tahun 2003, yang melibatkan 1.700 anak, kebanyakan anak melaporkan pernah ditampar, ditonjok, atau dilempari sesuatu dan dimarahi dengan kata yang kasar dan jorok. Dalam hati kecilku berkata, gaya seperti itu sudah biasa bagi anak-anak NTT. Hal itu akan menjadi luar biasa kalau anak-anak tidak ditonjok, ditampar dan dicaci maki lagi oleh orangtua mereka. Apa itu mungkin yah?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Terry E Lawson (1997), mengklasifikasi empat macam perlakuan salah terhadapanak. Pertama, emotional abuse yaitu perlakuan keji secara emosional terhadap anak. Contoh saja, anak menangis minta dibeliin pisang goreng tapi orangtua malah cuek habis-habisan. Sampai anak itu sendiri berhenti menangis. Secara emosional anak merasa terluka karena tidak dipedulikan sama sekali. Amat sayang, kalau hal ini terjadi berulang kali.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Kedua, verbal abuse yaitu menggunakan kata kasar untuk anak seperti "kamu bodoh", "keparat" dan "setan" bahkan maki-makian. Tidak heran, kalau anak-anak mengenal kata maki lebih dulu daripada nama ayahnya sendiri. Lucu! Ketiga, physical abuse, terjadi ketika anak diperlakukan kasar secara fisik seperti ditampar, ditonjok, dipukuli bahkan dibunuh. Keempat, sexual abuse yaitu pelecehan seksual terhadap anak-anak. Kedua kategori terakhir ini tentu menakutkan. Persis, sebatas inilah pemahaman publik tentang pengartian tindakan kekerasan terhadap anak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Konsepsi publik ini tak jarang meleset. Orang lebih menginterpretasi tindakan besar seperti kasus pemerkosaan, pembunuhan, pemukulan anak sampai mati, baru dikategorikan inilah wajah kejahatan sesungguhnya. Namun, ketika orangtua tidak memedulikan anaknya, tebang pilih kasih terhadap anak, memarahi anak dengan teguran verbal yang kasar, dan bersikap protektif berlebihan adalah hal sepeleh. Realitas seperti ini menjadi menu harian anak-anak di rumah. Apakah itu hal yang wajar?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Orangtua melihat pola didik ini masih dalam taraf kewajaran. Bahwa itu bagian dari pendidikan keluarga yang sudah diwariskan sejak dulu kala. Anak dipukul, ditonjok kalau melakukan kesalahan (reward punishment). Anak yang gagal dan bersalah perlu dimarahi tanpa dijelaskan mana yang salah dan mana perbaikannya. Sebaliknya, anak-anak yang jujur, berprestasi, dan berkelakuan baik kurang mendapat respek. Kata-kata sanjung dan puji-pujian begitu sulit terdengar dari mulut orangtua ataupun masyarakat sekitarnya. Bahkan, di sekolah sebagai garda terdepan pendidikan tunas bangsa juga menganut mekanisme didik yang sama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Fakta ini "sedikitnya" benar. Coba kita bayangkan, berapa banyak dialek daerah di NTT yang punya kata "terima kasih". Mungkin bisa dihitung dengan jari. Lalu, bagaimana sampai nenek moyang kita tidak mengenal kata itu. Ataukah mereka tidak tahu menyanjung orang lain, yang pantas disanjungi. Memuji orang lain, yang seharusnya dipuji. Tapi, itu tidak berarti kita harus menyalahi nenek moyang kita. Setidaknya, ini menjadi kontribusi permenungan kita sekarang. Ternyata, ada banyak hal yang perlu direorientasi dalam pendidikan regenerasi baru kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Kembali ke kisah awal. Jika pertanyaan yang sama di atas, ditanyakan kepada anak-anak NTT: orangtua (baca: ayah, ibu, guru, pemerintah) yang bagaimana yang kamu dambakan? Maka, boleh jadi ada beberapa jawaban variatif. Jawaban yang terlahir dari sebuah jeritan hati dari sekian banyak anak NTT yang nasibnya kurang beruntung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Pertama, kami ingin "orangtua" menyekolahkan kami setinggi-tingginya. Agar kelak kami menjadi pemimpin yang peduli terhadap masalah anak-anak miskin. Ribuan anak kurang gizi, busung lapar, buta huruf dan kesehatan yang memburuk tersebar di mana-mana tanpa pertolongan yang serius dari pemimpin. Terlihat tapi terabaikan!&lt;br /&gt;Semoga dengan menyekolahkan kami, ada di antara kami yang akan menjadi perawat di desa-desa, dokter siap siaga 24 jam, guru yang tabah, hakim yang sejujur-jujurnya, DPR yang loyal kepada rakyat kecil, bahkan sekaligus menjadi bupati atau gubernur yang memperhatikan nasib anak-anak. Walaupun kami tahu, untuk mencapai cita-cita itu butuh belajar yang keras. Percayalah bahwa anak-anakmu akan bisa melakukan semuanya ini. Jika kami diberi kesempatan untuk bersekolah setinggi-tingginya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Kedua, kami ingin "orangtua" menyediakan lampu neon (baca:listrik) sehingga kami bisa kerjakan PR, belajar menulis, berhitung dan bermimpi di bawah cahaya terang benderang. Sekian sering, kami bermimpi akan masa depan yang baik di bawah terang yang begitu suram. Kami merindukan betapa nikmatnya belajar di bawah lampu neon seperti apa yang diceritakan kawan-kawan yang biasa pulang dari kota. Belajar di bawah lampu neon seperti belajar di siang hari. Enaknya bukan main!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Selama ini, kami hanya belajar dengan lampu lentera atau pelita yang sebentar suram dan sebentar mati ditiup angin dari cela-cela dinding rumah. Konsentrasi belajar kami sekejap juga terusik. Belum lagi sekarang, harga minyak tanah semakin mahal, sehingga ibu kami sering membatasi waktu belajar. Katanya, belajar cukup siang hari. Belajar malam hari bikin habis minyak tanah saja. Kami pun terpaksa duduk bercerita di dalam ruang yang gelap pekat. Kapan kami seperti anak-anak di kota? Listrik, air dan sarana transportasi berkelimpahan. Sangat ironis!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Ketiga, kami ingin "orangtua" menjadikan rumah dan sekolah serta semua tempat publik ramah terhadap dunia anak-anak. Tak jarang, kami tidak dipedulikan oleh ayah-ibu. Mereka sering sibuk, terburu-buru dengan pekerjaan. Kadang kami menjadi korban kekerasan dan kemiskinan keluarga. Kapan saja, kami bisa menjadi obyek pelampiasan rasa amarah, kebingungan, kepenatan dan kepanikan atas situasi kehidupan ekonomi yang terseok-seok. Kapan ini berakhir?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;Di sekolah, kadang guru cepat merasa bosan dengan kelambanan cara berpikir kami. Padahal, anak butuh proses pembelajaran. Kadang guru-guru menggunakan kekerasan untuk mengdongkrak kebebalan kami. Tapi, tak satu pun di antara kami angkat bicara. Tutup mulut adalah pilihan terbaik daripada guru-guru mengobok-obok kami lebih tragis lagi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Di tempat publik, kami berharap diberi kesempatan yang seluas-luasnya dan dilindungi agar kami bebas mengekspresi diri kami. Kapan kami bisa menikmatipermainan kesukaan kami tanpa ditakut-takuti oleh kedatangan pemerkosa, penculik, pencuri dan perampok? Sekian sering tempat publik tak ramah terhadap dunia kami. Aksi kekerasan begitu akrab, perlindungan hukum begitu lemah, dan kami selalu dianggap tak berarti, menyerupai sampah yang menyesakkan (waste of place) dan menjadi sasaran tindakan asosial.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Inilah kerinduan yang terpatri dalam hati anak-anak, yang nasibnya kurang beruntung. Mendambakan "orangtua" yang bersikap ramah terhadap dunia anak. Kerinduan ini sejalan dengan tema Hari Anak Nasional 2007, Anak Indonesia: Cerdas, Sehat, Kreatif, Berakhlak Mulia dan Berbudi Pekerti Luhur. Semoga anak-anak NTT semakin Cerdas, Sehat, Kreatif, Berakhlak Mulia dan Berbudi Pekerti Luhur!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;* &lt;strong&gt;Penulis, staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#000000;"&gt;(artikel ini di muat di Pos Kupang)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832810526865932291-1564468979228128486?l=fidelhardjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/feeds/1564468979228128486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5832810526865932291&amp;postID=1564468979228128486' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/1564468979228128486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5832810526865932291/posts/default/1564468979228128486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fidelhardjo.blogspot.com/2008/05/orangtua-yang-kudambakan.html' title='Orangtua Yang Kudambakan'/><author><name>fidel hardjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02614016627690404868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SIltrbHkQRI/AAAAAAAAAM4/mt7M6wwoC0c/S220/I_Miss_U.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_iEP9gwLjxRY/SCJxrMXiXKI/AAAAAAAAACc/U5QxrIG4A9c/s72-c/2308891859.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
