Saturday, May 10, 2008

ANALOGI DUA EKOR SAPI





SOCIALISME
kau punya 2 sapi
1 sapi kau berikan untuk tetanggamu

COMMUNISME
kau punya 2 sapi
negara mengambil alih keduanya dan
memberimu 2 kaleng susu.

FASCISME
kau punya 2 sapi
negara mengambil alih keduanya dan
menjual susu padamu.

NAZISM
kau punya 2 sapi
negara mengambil keduanya dan menembakmu

TRADITIONAL CAPITALISM
kau punya 2 sapi betina
kau jual satu dan beli satu sapi jantan.
ternakmu bertambah, dan ekonomi tumbuh.

THE ANDERSEN MODEL
kau punya 2 sapi.
kau cincang-cincang dua-duanya.

AN AMERICAN CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau jual satu, dan satunya kau paksa
untuk memproduksi susu sebanyak 4 sapi.
kemudian, kau menyewa konsultan untuk
menganalisa mengapa sapinya mati.

A FRENCH CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau turun ke jalan, menyusun massa ,
memblokade jalanan, karena kau ingin punya
3 sapi.

A JAPANESE CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau medesignnya ulang hingga bisa
menghasilkan 20 kali lipat susu.
kemudian kau buat profil kartun sapi
pintar "Cowkimon" dan menjualnya ke seluruh
dunia.

A GERMAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau merekayasanya supaya bisa hidup
lebih dari 100 tahun, makan cukup sekali
sebulan,
dan mereka bisa saling memerah susu sendiri.

AN ITALIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi, tapi kau tak tahu
dimana mereka.
kau putuskan untuk makan siang saja.

A RUSSIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau menghitungnya dan berandai bagaimana
bilamana punya 5 sapi
kau menghitungnya lagi dan berandai
bagaimana bilamana punya 42 sapi
kau menghitungnya lagi dan menemukan
bahwa sapimu cuma dua.
kau berhenti menghitung, lalu buka
sebotol vodka.

A SWISS CORPORATION
Ada 5000 sapi. tak satupun adalah milikmu.
kau mengenakan biaya administratif
kepada pemiliknya untuk menyimpannya.

A CHINESE CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau punya 300 orang untuk memerah susunya
kau nyatakan bahwa tak ada pengangguran,
dan nilai produksi susu tinggi.
kau menangkap wartawan yang melaporkan
kenyataanya.

AN INDIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau sembah mereka.

BRITISH CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya sapi gila.

IRAQ CORPORATION
semua orang berpikir kau punya banyak sapi
kau bilang ke mereka kau cuma punya satu.
tak ada yang percaya, maka mereka
mengebom daerahmu dan menginvasi negaramu.
kau masih tak punya sapi satupun, tapi
setidaknya sekarang kau bagian dari
demokrasi.

NEW ZEALAND CORPORATION
kau punya 2 sapi
sapi yang di kiri kelihatan sangat atraktif.

AUSTRALIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi.
bisnis kelihatanya sedang bagus.
kau tutup kantor dan pergi mencari beer
untuk merayakannya.

INDONESIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya curian.
lalu kau jual dua-duanya.
kemudian kau simpan uangnya di acount
non budgeter yang tak jelas.
kemudian kau gunakan beberapa untuk
mendanai kampanye partaimu
tapi sebagaian besar kau simpan untuk
anak cucumu.

MALAYSIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya kau curi dari indonesia .

SUFIAH YUSOF: JENIUS APANYA?





Saat ini dia baru umur 23 (lahir 1985 di Inggris, UK), 1 dekade lalu, ia menjadi contoh hidup dari program NEP Mahatir Muhammad, meski WN Inggris, dia dibiayai oleh pemerintah Malaysia 10 tahun lalu masuk Prep school St. Hilda, Oxford Pre-Uni, Inggris, dgn full scholarship dari Kerajaan Malaysia karena jenius dalam Math, setelah itu diterima di Universitas Oxford pada umur 16 bidang Math.

Dia juga menjadi role-model, berhubung ibunya kelahiran Muar, Johor, Mahatir yg terobsesi utk memajukan bangsa Melayu yg selama ini dianggap malas dan bodoh (fakta: tidak semua! Banyak yg rajin dan tdk manja) dengan selalu meng ekspos Sufiah yg jenius dan menjadi "Math-prodigy". Adiknya yg selisih 2-3 tahun juga sama jeniusnya dan juga dibiayai oleh pemerintah Malaysia, ...:" Ni otak anak Malaysia boleh..".


Dua tahun lalu, Sufiah kabur dari sekolah dan asramanya, mogok kuliah, menjadi pelayan internet cafe di hotel, sempat membuat polisi Inggris melakukan pencarian karena keluarganya mengklaim Sufiah diculik utk mencuri rahasia kejeniusannya, dia sempat kawin dgn pengacara magang (bule), lalu cerai setelah hidup bersama 13 bulan.


Oke2 saja dan masih berjilbab. Awal tahun ini,..jagad Melayu di Inggris maupun di Malaysia (dipelopori partai UMNO) heboh, Sufiah muncul dgn foto-foto diri nyaris bugil di internet yg mengiklankan diri sebagai pelacur ("prostitute"/ "Hooker", check/ search Google, entry "Sufiah Yusuf") dengan bayaran 'hanya' 130 Pounds/ jam, murah untuk ukuran Eropah Barat, foto2 seronok yg dikirim teman Malaysia (Mr. Tan) itu kini sudah dihapus dari blog. Bodynya aduhay, 'kan? Otak jenius, senyum ramah bersahabat khas mengundang simpati.


Sekarang ini, media di Malaysia (termasuk yg milik UMNO) memberitakan Miss Sufiah Yusuf secara berseri, keluarga nya pun diekspos habis, ayahnya seorg keturunan Pakistan adalah guru tutor sekaligus penemu "Hothousing" yg mengajarkan Math dgn metode belajar cepat, semacam Kumon.
Mr. Farook Yusof pernah divonis penjara krn penipuan kredit dan belakangan tersangkut kasus perundungan seks anak di bawah umur!! 2 anak itu tdk lain murid les Mathnya sendiri, serunya... alasan dia nyaris menggagahi si murid: "Saya berencana menciptakan Sufiah-sufiah yg lain"... (yg sama jenius maksudnya) dari gen unggulannya (sic!).


Melo-dramatik:

Elemen dalam UMNO prihatin dgn nasib Sufiah yg mahasiswa keturunan Malaysia jenius berubah menjadi pelacur, menteri pendidikan, Dato Sri Zahid Hamidi dan Deputy Mentri dari kantor PM, Dr. Mashita berencana terbang ke London membawa rombongan yg terdiri dari ustaz, pendidik, psikolog utk menyadarkan Sufiah dgn misi yg dinamakan : "Save Sufiah Programme" (inspired by SAVING PRIVATE RYAN Hollywood movie), tp batal setelah dicemooh/ ditertawakan rakyat Malaysia: "WN Britsih nak dibagi duit, rakyat Malaysia sendiri ramai yang lapar, macam mana? Kan dia jadi hooker on her own will?".

Sekarang, seorang Ustaz ternama To' Guru Trimizi Zainal, menggantikan Dr. Mashita Ibrahim membawa rombongan ke Inggris dgn misi yg sama tapi ditambah pengobatan mental, beliau sangat haqul yaqin, Sufiah tak mungkin senista ini, tapi setan lah yg bekerja di dalam dirinya. Ada semacam BLACK MAGIC yg merasuki diri Nona Sufiah. It's heart-breaking story.

Thursday, May 8, 2008

PENGADILAN ATAS NAMA “PENDIDIKAN”




Fidel Hardjo


Berita kelulusan SMU/SMK Indonesia sebentar lagi akan diumumkan. Ada aksi kecurangan tak sedikit buat kita "malu" sebagai bangsa besar. Sebentar lagi, pemandangan “air mata” dan histeris kegembiaraan sebagai pengadilan terakhir. Inilah pengadilan atas nama pendidikan.
Ada siswa yang lulus dan tak sedikit pula yang tidak lulus. Ada orangtua, guru dan kepala sekolah yang sedih dan ada pula yang bergembira-ria. Dua suasana kontras yang sulit disenyawakan.

Bagi siswa yang lulus tentunya mereka merasa bahagia. Orangtua, sekolah dan para guru pun turut berbangga. Hanya, muncul persoalan baru, mau diapakan setelah lulus? Di sini mulai “bingung”. Kuliah, cari kerja atau bantu orangtua, ataukah jadi penganggur? Pilihan serba pusing! Lain halnya, dengan nasib siswa yang tidak lulus. Air mata, frustrasi bahkan cipratan amarah dan ledakan kekesalan orangtua dan guru pun tak sepih. Lengkap sudah kefrustrasian mereka. Lalu, mau di ke manakan setelah ketidaklulusan? Mau lamar kerja, tapi tak ada ijasah di tangan. Mau ikut ujian ulang paket C tapi belum tentu lulus juga. Kalaupun lulus, mungkin saja orang katakan kasihan “diluluskan”. Pusing tiada duanya.

Setidaknya, inilah realitas pengadilan atas nama pendidikan di negeri kita. Ternyata, bukan hanya pihak siswa yang tidak lulus, yang dibikin pusing. Siswa yang lulus juga malah pusing. Kalau demikian, apalah artinya “sekolah”? Apakah ia sebatas pengadilan di atas awan-awan. Lalu, print out ijazah. Perkara habis.

Indonesia memang lagi “demam ijasah”. Tidak heran, sektor pasar kerja juga tertular demam ijasah. Apa saja serba butuh ijasah. Padahal, ijasah belum tentu menjamin kepintaran dan keahlihannya. Sama halnya, kalau ingin melanjutkan studi ke sekolah lanjutan atau ke perguruan tinggi. Tinggi rendahnya NEM sangat menentukan. Bahkan, menjadi bumerang untuk mengadili siswa akan bakal diterima atau ditolak. Apakah NEM sebagai harga mati untuk meneracakan kecerdasan siswa? Bagaimana nasib anak-anak yang NEM-nya tidak mencapai standar patokan itu. Apa arti kelulusan bagi mereka?

Mengapa mereka “diluluskan”? Jika pada akhirnya, kelulusan mereka tak bisa tembus ke sekolah lanjutan. Hanya, karena NEM yang mereka raih lebih rendah dari apa yang ditargetkan oleh sekolah penerima. Bukankah, lebih baik kita berbangga dengan presentasi kelulusan rendah daripada presentasi tinggi tapi siswanya tidak banyak yang bisa tembus studi ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk apa kita mengagung-agungkan presentasi kelulusan 100 persen kalau realitasnya sesedih itu. Akhirnya, filosofi pendidikan yang kita rancang sendiri, justru membingungkan kita sendiri.

Seakan-akan presentasi lulus 100 persen adalah takaran absolut kesuksesan pendidikan. Gejala seperti ini akan langsung terlihat. Ada tendensi besar antarsekolah untuk membanding-banding. Sekolah kita masih lebih baik, lulus 80 persen dan sekolah lain merayap antara 60 persen atau 50 persen saja. Mutu sekolah pun mulai dikerucutkan atas dasar presentasi kelulusan sekolah.

Profesionalisme guru juga dikerdilkan oleh tinggi rendahnya presentasi kelulusan. Hemat saya, kompetisi antarsekolah sah-sah saja. Sejauh intensi kompetensi itu membuat kita lebih profesional untuk menyatrategi dunia pendidikan ke arah yang lebih baik. Bukan sebaliknya demi prestasi, prestise dan previlese yang dangkal-dangkalan.

Lebih prihatin lagi, justru kebanyakan sekolah negeri (walaupun ada juga beberapa sekolah swasta popular) yang bersikeras dengan kualifikasional pematokan NEM dalam periode pendaftaran murid baru. Jelas, siswa yang tidak memenuhi kualifikasi NEM persyaratan akan otomatis tidak laku, ditendang tanpa kompromi.

Kita bersyukur, masih ada sekolah-sekolah swasta. Sekolah swastalah yang siap menjadi tumpangan bagi siswa-siswa yang didiskualifikasikan di sekolah negeri ini. Di sekolah swasta itulah mereka mendapat hak untuk dipintarkan. Atau saya meminjam istilah UUD yaitu "dicerdaskan".

Sekian istimewah, pemerintah memperlakukan sekolah negeri. Dana pun dikucur habis-habisan. Unit bangunan serentak dibangun. Guru-guru pun tak susah dicari. Tinggal angkat saja calon guru yang sudah ikut testing mungkin lebih dari sepuluh kali tapi belum juga lulus. Lalu, bagaimana nasib sekolah swasta?

Memang sekolah swasta hidup dengan keberdikariannya. Dedikasi tinggi kadang tak seimbang dengan gaji yang diterima. Maklum, gaji mereka tergantung pada uang setoran siswanya. Bahkan, ada sekolah tertentu yang pengeluarannya lebih besar daripada pemasukan. Kadang, uang setoran siswa hanya cukup untuk melunasi biaya listrik, air dan beli kapur tulis.

Padahal, tak sedikit pula petinggi daerah kita, yang pernah menikmati dan merupakan jebolan sekolah swasta. Tapi mereka macam tidak tahu bahwa nasib sekolah swasta seperti apa. Mungkin juga mereka tahu, cuma tidak tahu, mau buat apa dengan nasib sekolah swasta? Kapan naluri sosial mereka tergerak untuk menolong sekolah-sekolah swasta?

Jika, peran sekolah swasta mempunyai andil yang signifikan dalam mendidik anak bangsa di daerah ini, untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dan menjadi pemikir handal dalam kehidupan berbangsa. Maka, mengapa kita tidak bersedia membuka mata untuk meringankan beban sekolah-sekolah swasta?

Tak jarang, sekolah swasta “dianaktirikan” oleh stakeholders pendidikan di negeri ini. Banyangkan, berapa banyak jumlah sekolah swasta negeri ini? Mungkin dua kali lipat dari jumlah sekolah negeri. Sebenarnya, bukan soal jumlah yang ditekankan. Kontribusi sekolah swasta selayaknya mendapat perhitungan juga. Sebagaimana, pemerintah memperlakukan sekolah-sekolah negeri.

Maka, tidak ada jalan lain, selain pemerintah memperlakukan sekolah swasta dan negeri secara proposional. Sama halnya, seorang ibu yang punya anak kembar. Ia tidak mungkin menyuap bubur anak yang satu dengan piring emas. Satunya lagi, cuma piring plastik saja. Artinya, mengapa kita tidak bisa menyiapkan “piring plastik” dengan “porsi menu” yang sama baik untuk sekolah negeri maupun swasta. Jika visi dan misi kita sama yaitu mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa.

Pertama, kini saatnya pemerintah daerah untuk memberi perhatian yang lebih ekstra terhadap nasib sekolah swasta. Dari terminologi “perhatian”- memberi “hati”- mengandung arti tulus, suci, ikhlas. Misalkan saja, mengirimkan guru-guru berstatus pegawai negeri ke sekolah swasta lebih banyak daripada tahun-tahun kemarin.

Atau banyak cara lain. Yang penting kita buka perspektif, agar pemerintah bisa berbuat sesuatu yang lebih. Tidak cukup imbauan, agar sekolah negeri belajar dari sekolah swasta ataupun vice versa. Apa yang hendak dipelajari, juga tidak jelas. Apakah sebatas mendogkrak presentasi kelulusan? Lebih penting adalah membangun kerja sama kooperatif mutual yang produktif. Saling menukar informasi manajemen pendidikan, keorganisasian, dan keprofesionalan tenaga keguruan.

Kedua, sekolah negeri sebaiknya memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak-anak miskin tanpa mewajibkan standar NEM. Alasan ruang tidak mencukupi, juga tidak realistis. Jika banyak siswa ingin bersekolah maka kewajiban yang tak boleh ditunda-tundai adalah memperbanyak ruang kelas.

Sehingga, anak-anak bisa tertampung. Siswa-siswa yang otaknya dikategorikan “jongkok”, jangan juga cepat-cepat dieksekusikan dari sekolah. Begitupun anak-anak yang tidak disiplin, jangan cepat-cepat disepak keluar. Di sini, peran sekolah sebagai almamater (baca:ibu), “surga ada di telapak ibu” akan teruji kesajatian keibuannya.

Ketiga, perbaikan kualitas pendidikan belum lengkap kalau tanpa adanya perpustakaan. Hampir sedikit sekolah yang punya perpustakaan cukup memadai. Pemerintah daerah perlu galakan penyedian perpustakaan umum daerah untuk pelajar khususnya atau bila perlu masyarakat pada umumnya. Sehingga, siswa-siswa dan guru-guru bisa mengakses buku-buku secara gratis. Pembangunan perpustakaan adalah ruang investasi pendidikan yang urgen, yang sama persisnya kita menginvestasi generasi masa depan.

“UNESCO, pilar pendidikan kesejagatan dikonstruksi untuk mengembangkan potensi anak didik yang berkualitas. Pilar pendidikan kesejagatan itu adalah belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be)”.

Penulis, staf Televisi TBN Asia di Manila



















"KOSMOSENTRIS"






Fidel Hardjo


Dalam buku Timaeus, Plato berkisah tentang the Lost Continent, Atlantis. Alkisah, ketika Atlantis mempersiapkan serangan besar terhadap Athena, tiba-tiba banjir, angin kencang, petir dan gempa yang kejam membaringkan benua itu, dalam “tidur abadi” jauh di dasar Samudera Atlantik.


Selama berabad-abad Atlantis “tertidur” di dasar samudera, kemudian munculah perdebatan runcing. Ada yang katakan, keberadaan Atlantis sebatas mitos belaka. Sebagian yang lain, yakin benua makmur nan sejahtera itu memang benar-benar ada.
Tahun 1882, penulis Ignatius Donnelly menerbitkan buku Atlantis--Myths of the Antediluvian World, yang memicu gerakan pencarian "benua yang hilang" itu. Donnelly membagi keyakinannya bahwa pada masa lalu di Samudera Atlantik, berseberangan dengan mulut Laut Mediterania, pernah ada sebuah pulau besar. Dia percaya itulah Atlantis dan benar-benar pernah ada.


Bencana Datang Pergi

Indonesia pun bisa saja serupa dengan nasib hilangnya benua Atlantik. Lebih-lebih jika aneka bencana alam yang menggerogoti negeri ini, beberapa dekade terakhir tidak “terdiagnosa” dengan pikiran bening. Dua bencana utama adalah banjir 402 kali, korban 1144 jiwa, kerugian Rp647,04 miliar dan tanah longsor 294 kali, korban 747 jiwa, kerugian Rp21,44 miliar (WALHI 2006).


Tapi, mengapa bencana alam seperti banjir dan longsor datang silih berganti, di negeri pemilik
hutan terbesar ketiga di dunia ini? Menurut lembaga penelitian WALHI, semua bencana ini kebanyakan disebabkan oleh ketidakadilan atau gagalnya sistem pengurusan alam, terutama pengrusakan hutan.


Kerusakan hutan perawan Indonesia tercatat sebesar 72 persen (World Resource Institute, 1997). Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Sehingga, kita tak perlu tercengang jika Indonesia menyandang predikat “break record” perusak hutan tertinggi di dunia (Badan Planologi Dephut, 2003).


Artinya, sangat masuk akal, mengapa bencana banjir dan longsor datang terus. Karena, kerusakan hutan, kerusakan hutan dan kerusakan hutan. Apa yang salah dengan bangsa yang bernama Indonesia (kaya) Raya ini?

Pendekatan “Pincang”

Inilah dampak negatif, model pendekatan ekologis yang pincang. Yang menurut Jonathan Hughes, dalam bukunya Ecology and Historical Materialism (2000), pendekatan pincang ini sebagai entry point “the death of cosmos”. Ia mengemukakan tiga macam pendekatan pincang itu.
Pertama, pendekatan ecocentric (economic centered). Pendekatan ini teriming-iming oleh interese ekonomi tanpa mengupayakan keberlanjutan ekologis secara integratif.
Indonesia pada umumnya terjebak oleh pendekatan ini. Masalah kemiskinan dan pengangguran membuat kita panik. Kita tergoda “melelangkan” hutan/bumi kepada industri ekstraktif.


Dengan harapan, negara mendapatkan extra income dan kesejahteraan rakyat membaik. Nyatanya, kesejahteraan itu sulit digenggam. Rakyat semakin sengsara dan alam juga kian rusak. Pada gilirannya, alam siap “merusak” manusia. Kasus Freeport dan Lumpur Lapindo, adalah contoh riil bagaimana kesejahteraan tak lebih sebuah mitos bagi warga lokal.
Lebih aneh lagi. Beberapa bulan yang lalu, pemerintah Indonesia justru mengeluarkan PP No. 2 thn. 2008, yang memberi hak legal pembalakan hutan kepada 13 Perusahan Tambang.
Inilah therapy kejutan atas kemiskinan. Hutan dijual dengan cuma Rp. 1,8 juta hingga Rp. 3 juta perhektar hutan. Padahal, tarif sewa Pajak Negara Bukan Pajak dari 13 perusahaan tambang itu hanya mengantong Rp 2,78 triliun per tahun. Sementara total potensi kerugian diperkirakan sebesar Rp70 triliun per tahun (Greenomics Indonesia).
Kebijakan inilah yang diincari-incari oleh perusahan tambang daerah, yang selama ini nasibnya terkatung-katung akibat resistensi penduduk lokal. Mengapa pemerintah masih nekat jika ongkos kebijakan ini terlampau mahal? Bencana alam yang pernah mendera bangsa kita semestinya menjadi pelajaran yang sangat berarti bagi kita.
Kedua, pendekatan anthropocentric (human centered). Manusia diyakini menjadi pilar eksklusif penentu ecology sustainable. Pendekatan ini sama bengisnya dengan ecocentric. Sebab, manusia diposisikan sebagai “tuan” atas alam. Maka, kita terjebak pada pilihan “kenyangkan dan selamatkan manusia lebih dulu. Konservasi alam itu adalah perkara kemudian.
Padahal, kalau kita ingin menyelamatkan manusia maka “diagnosa” dulu alam yang rusak. Jika konsep ini tidak berubah maka jangan harap kita keluar dari lingkaran bencana. Karena, persoalan dasar tidak tersentuh. Lihat saja, dana APBN 2008 untuk korban bencana sebesar Rp281,3 triliun. Sementara, alokasi anggaran untuk “pencegahan” risiko bencana hanya sebesar Rp9,4 triliun. Disparitas anggaran dana inilah yang membuktikan pemerintah memosisikan kerusakan alam hanya perkara minor.
Ketiga, pendekatan biocentric (biotic centered). Pendekatan ini memusatkan makhluk hidup (biotik) sebagai “tuan” atas kosmos. Dengan kata lain, sejauh ia adalah makhluk hidup baru direspek. Gagasan ini dikupas banyak oleh Felix Baghi ( Etika Biosentris, Pos Kupang 25/4/2008). Lalu, bagaimana yang bukan makhluk hidup (tidak) direspek? Kelemahan besar pendekatan ini adalah semua benda alam abiotik (tanah, batu, air dan udara) “dianaktirikan” dalam konsep sustainabel harmonitas kosmos. Jika demikian, adakah pendekatan yang lebih etis?

Etika Kosmosentris

Menurut Jonathan Huges, “runyamnya” nasib ekologis global sekarang ini, idealnya memiliki etika ekologis yang disebutnya pendekatan holistik cosmocentric (cosmos centered). Manusia atau makhluk hidup bukan lagi centrum tapi kosmos.
Manusia, binatang, tetumbuhan, benda mati , benda hidup adalah entitas kosmos yang punya hak asasi yang sama. Menciderai satu sama lain (biotik-abiotik) sama saja melukai tatanan kosmos itu sendiri. Ketika setitik ioata kosmos terluka, ia menggangu seluruh tatanan di dalamnya.
Kondisi alam kita yang “sakit-sakitan” sekarang, sebenarnya butuh penyembuhan ekologis seperti ini. Memperbaiki relasi yang beku dari pendekatan ekosentrik, antroposentrik dan biosentrik menuju kosmosentrik.
Pertama, nilai intrinsik interaktif complementer komponen cosmophere, perlu dibangun harmonis, kedua menghargai pluralistik komponen cosmos biotik dan abiotik mutlak terjaga, ketiga tanpa mengecil peran homo faber (manusia pekerja), manusia mesti menciptakan relasi ramah dan bertanggung jawab terhadap kosmos dengan segala kandunganya, keempat relasi “take and give” niscaya dikembangkan (jika ingin menunai maka pandai-pandai menabur).
Inilah “tali kekang”, yang menurut hemat saya perlu dikedepankan untuk membangun ekologis imparsialitas terhadap keutuhan kosmos. Dengan membangun kesadaran baru ini, kita dapat menjaga keberlanjutan kosmos ini dan meminimalisir bencana alam yang tak bertepi.
Akhirnya, kita boleh saja memilih: bertahan dengan pendekatan ecosentris, antroposentris, biosentris atau berani menembusi “stabilitas lochi” itu?. Tapi sekali lagi, taruhannya mahal: antara hidup atau mati. Jika mindset kita tidak berubah terhadap kosmos maka peristiwa “Lost Continent of Atlantis” akan terjadi serupa di negeri kita. Ia bukan sekadar mitos tapi kenyataan pahit yang harus ditelan bersama.

Penulis, Alumnus STFK Ledalero, kini Staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila
(Dimuat Di Flores Pos)

RUPA BURUK, JANGAN BELAH CERMIN



Fidel Hardjo

“This is my body, This is my software, I have given my body to art”
(Orlan, 1898).

Tawaran iklan kecantikan telah menjadi obsesif sekian banyak perempuan. Tak sedikit perempuan tergiur oleh iklan instant beauty seperti apa yang disuguhkan oleh koran-koran, televisi maupun seleberan dari tangan ke tangan ataupun ditempel di tempat publik. Seseni itukah perempuan?


Tubuh perempuan adalah seni. Ada banyak akronim seni untuk membahasakannya: cantik, ayu, molek, indah, mulus, mungil, seksi dan sebagainya. Tak heran, kalau industri periklanan memanfaatkan kecantikan perempuan untuk menyedot minat publik. Tubuh perempuan telah bergeser pemaknaannya dari ruang naturalistik menjadi instrumen estetik publik.


Seorang artis kaliber Perancis, Orlan dalam operasi plastiknya tahun 1898 punya motto “This is my body, This is my software, I have given my body to art”. Orlan menjelaskan bahwa setiap perempuan semestinya melihat tubuhnya sebagai sebuah seni. Seni yang dapat mengubah dunia, termasuk image perempuan (Kathy Davis, 2003).

.
Natural yang terusak

Maxwell Maltz yang dijuluki sebagai “father of plastic surgery” melihat operasi plastik sebagai “magical power” yang tidak hanya meniadakan noda atau memperbaiki kerusakan kulit tetapi lebih merusak gambaran pribadi yang natural.

Menurutnya, perempuan tidak ada pilihan lain, selain adalah menolak segala bentuk jenis kecantikan yang momental


Setiap orang bebas untuk memilih sehat atau sakit, cantik atau buruk dan mati atau hidup. Toh, pada akhirnya sendiri yang menanggung baik buruknya. Noel Suzane seorang perintis operasi plastik modern mengatakan operasi plastik adalah keinginan yang pahit (bitter need) yang lahir dari tuntutan ekonomi.

Misalkannya, banyak perempuan memilih operasi plastik wajah karena takut kehilangan karier mereka. Seorang artis akan takut tidak diorder lagi untuk memanggung hanya karena persoalan wajah yang sudah kelihatan tua. Operasi plastik adalah bukan hanya jalan terbaik untuk mempertahankan karier mereka tetapi mengingatkan mereka bahwa selalu muda dan cantik.

Michael Jackson yang lebih akrab dipanggil “The King of Pop”. Setelah melakukan operasi plastik atas tubuhnya, ia meliris albumnya “Thriller” apa yang terjadi albumnya laris terjual, ia memecahkan rekor terlaris musik urutan ke dua dalam catatan sejarah musik Amerika. Walaupun pada saat sama ia dikritik oleh dunia Afrika karena Jackson telah mengkianati keindahan orang-orang hitam.

Moral

Kathy Davis meletakkan sandaran moral dalam menghadapi problematika operasi plastik. Pertama adalah masalah ketidakadilan (unfairness). Sebelum memilih melakukan operasi plastik orang harus menimbang secara matang, seberapa banyak kegembiaraan dan penderitaan yang diterima akibat operasi plastik.

Banyak orang memutuskan untuk melakukan operasi plastik tanpa lewat sebuah keputusan yang matang. Akibatnya adalah ia mengalami penderitaan jauh lebih besar daripada kegembiraan atas kecantikan yang sesaat yang diperolehnya.

Kedua adalah operasi plastik berpotensi destruksi kenormalan (harming the normality). Pada dasarnya, operasi plastik merupakan upaya merusak bentuk kenormalan demi target kecantikan. Ia menjanjikan model perwajahan dari bentuk normal menuju yang tidak normal. Misalkan, ia seorang pemilik hidung pesek (normal) dan berubah menjadi hidung sangat mancung (abnormal).

Karena operasi plastik mengandung risiko tinggi maka seharusnya subyek pelaku memilih sebuah keputusan yang terbaik dalam hidupnya. Ia bersedia menerima apa yang dihasilkan oleh operasi plastik, termasuk hasil yang paling buruk sekalipun.

Ketiga adalah memangkas keaselian (inauthenticity). Operasi plastik akan menjawabi kebutuhan anda akan kecantikan dengan sekejap saja tetapi pada saat yang sama terjadi pelucutan bentuk keaselian seseorang. Adanya gap yang besar antara apa yang ada “di luar” dan yang ada “di dalam” pribadi seseorang.

Kecantikan luar cuma kecantikan ilusif, kecantikan yang jauh dari keadaan sebenarnya. Karena itu orang yang ingin melakukan operasi plastik harus melihat dampak psikologis bagi dirinya karena ia bisa menjadi asing bagi tubuhnya.

Dan bersiap untuk menerima reaksi baru dari sesama dan alam atas sebuah identitas baru. Ia boleh jadi menjadi asing bagi yang lain dan membutuhkan adaptasi baru atas kekerasan alam.

Hati hatilah

Operasi plastik sebagai tawaran kecantikan modern memang mimikat tapi juga menyimpan seribu satu macam risiko.

Propaganda media akan operasi plastik seperti disuguhkan oleh iklan-iklan dalam televisi atau majalah maupun surat kabar akan menjanjikan anda akan sebuah penampilan yang menarik dan tanpa efek samping. Biasanya, apa yang diiklankan akan jauh dari kenyataan yang sesungguhnya.

Mempersalahkan propaganda media juga bukan sikap yang tepat. Yang paling penting adalah kita sendiri harus mempunyai sikap tegas. Memiliki pengetahuan yang luas sebelum menjatuhkan sebuah keputusan atas tawaran kecantikan yang memikat itu. Di jaman modern ini, uang bisa menjanjikan segala-galannya. Dengan uang anda bisa membeli kecantikan tetapi kecantikan itu belum tentu menjamin kebahagian.

Dengan kecantikan anda bisa mendapatkan peluang kerja, menjadi rebutan sekian banyak laki-laki tetapi ketika usia senja mejemput, maka semuanya berlalu. Yang tersisah tinggal keping-keping penderitan.

Industri modern serba menjanjikan kecantikan utopis melalui operasi plastik. Apa yang kita buat adalah pertama kita mengembangkan semangat “sense of satisfication”. Kita perlu memiliki rasa cukup atas apa yang kita punya. Memiliki rasa cukup biasanya mendekatkan kita dengan sang pemilik kehidupan untuk mensyukuri atas apa yang kita miliki.

Masih banyak di sekitar kita yang jauh lebih buruk dari apa yang kita miliki. Tetapi mereka merasa bahagia atas kecukupan. Bukankah bunga bakung lebih indah dari pada pakaian emas Salomo!

Kedua adalah “being natural is beautiful” semakin anda tampil natural semakin anda tampil cantik. Tubuh anda memang sebuah seni tetapi bukan sebuah perangkat lunak, software yang mengabdi absolut kepada seni.

Kecantikan yang ditawarkan operasi plastik merupakan kecantikan utopis yang bisa berubah kapan dan di mana saja menjadi racun bagi anda sendiri. Kalau anda tidak percaya silakan coba saja!

Penulis, Staf Televisi TBN Asia.

DEMOKRASI MEMATIKAN



Fidel Hardjo

Masih segar dalam ingatan kita, akan kematian Marsinah, lalu kematian Theys Hiyo Eluay dari Papua, dan trio hukuman mati Tibo cs, lalu tragedi kematian Munir. Belum tuntas masalah munir, kita kembali dikejutkan oleh kematian pendeta Irianto Kongkoli di poso pada tanggal 19 0ktober 2006. Kematian mereka berkahir dengan tidak menyentuh akar persoalan. Kematian mereka menyisahkan sebuah pertanyaan besar bagi rakyat dan bangsa besar ini. Ada apa di balik semuanya ini?

Potret buram demokrasi

Sebenarnya ada banyak warga indonesia yang nyawa mereka melayang begitu saja. Ada yang mati karena penyakit flu burung, bencana alam, bunuh diri dan busung kelaparan, rabies dan lain-lain. Kebanyakan orang tidak perdebatkan. Tetapi ketika kematian bernuansa “politik” selalu menyisahkan seribu satu persoalan dalam negara yang berwajah demokrasi ini. Kematian Marsinah, Theys Hiyo Eluay, Tibo cs, Munir dan Kongkoli boleh merupakan sebuah potret buram betapa kejamnya demokrasi kita.

Keburaman demokrasi di negeri ini merupakan akumulasi kegagalan pemerintah menghidupi napas demokrasi itu sendiri: dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pemerintah kita lupa bahwa kuasa yang mereka miliki berasal dari rakyat. Kekuasaan yang berada di atas pundak mereka merupakan perpanjangan kekuasaan rakyat. Kekuasaan yang mereka miliki akan tidak memiliki arti kalau tidak berfungsi untuk melayani kebutuhan rakyat.

Thomas Hobes mengatakan kalau kekuasaan sedang memonopoli seseorang atau sekelompok orang maka orang cenderung menjadi “srigala bagi yang lain”. Antara kekuasaan dan kejahatan hanya tipis distant perbedaan baik buruknya. Arogan kekuasaan hanya cenderung bersikap barbar. Ketika kekuasaan berjalan sendiri dan rakyat berjalan sendiri maka rakyat biasa selalu menjadi korban kekalahan dan kematian.

Kalau kita ingin kembali menghidupi demokrasi di negeri ini, dengarlah lebih banyak dari rakyat. Belajarah banyak dari penderitaan rakyat! Bacalah hati rakyat! Rakyat itu sendiri merupakan pengetahuan dasar demokrasi sebaliknya ketika banyak rakyat yang mati akibat korban kekahaosan politik berarti demokrasi kita hampir mati.

Mengamati situasi apa yang terjadi di republik ini, ada satu pesan serius dibalik kematian anak-anak bangsa yaitu pemerintah kita kelihatannya tidak menaruh hati atas keterlukaan hati dan kematian rakyatnya. Contoh saja, hampir publik tidak percaya bahwa aktor pembunuh Munir, tidak terjamah oleh profesionalisme polisi.

Padahal polisi kita sekarang pintar-pintar. Kalau kita tidak temukan siapa aktor pembunuhnya, apakah kita harus akui bahwa ada setan atau dewa kayangan dari singgah sana yang mencaplok jiwa orang tak bersalah ini!

Saya tidak bisa bayangkan kalau keluarga Kongkoli, Theys, Marsinah, Munir atau keluarga Tibo dkk. adalah orang beruang dan berkuasa di negeri ini. Saya jamin seratus persen bahwa kasus demi kasus pasti sangat rapih diselesaikan.

Saya yakin dengan kuasa dan uang apa yang menjadi misteri bisa berubah menjadi tersentuh, yang sulit sekalipun bisa berubah menjadi gampang, apa yang benar pun bisa berubah menjadi salah atau sebaliknya.

Jadinya, siapa yang berkuasa dia bertahan. Siapa yang beruang dia menang. Orang kecil tidak memiliki apa-apa. Rakyat kecil menjadi sampah demokrasi yang siap didrop ke tempat pembuangan. Mereka selalu menjadi korban kekalahan. Bahkan kematian adalah taruhan termahal atas kehidupannya. Kepada siapa rakyat harus megaduh atas kekalahan mereka kalau bukan kepada pemimpin mereka. Siapa lagi yang meneguhkan rakyat ketika orang yang paling mereka cintai dirampok dan dibunuh oleh orang-orang tidak ketahui identitasnya kalau bukan pemimpin mereka.

Sulit dibayangkan tetapi sungguh terjadi. Ketika orang kecil seperti Tibo dkk. dengan mudah diklaim sebagai aktor intelektual perusuh peristiwa Ambon berdarah. Tetapi begitu gampang upaya hukuman mati mereka diproses. Sulit dibayangkan seorang Munir masuk dalam pesawat dengan tubuh yang hidup dan ke luar dari pesawat dengan tubuh kaku tak bernyawa lagi.

Tetapi begitu gampang seorang Pollicarpus B. Priyanto kapten pilot Garuda yang diduga pendalang kematian Munir dibebaskan dengan tidak terbukti salah. Tidak fair! Gila benar republik ini!
Kasihan orang kecil selalu menjadi kelinci percobaan. Orang kecil selalu siap dicoba untuk aneka konspirasi politik murahan dan hedo politik yang keterlaluan. Kasihan orang kecil sebab selalu siap tumbal kapan dan di mana saja ketika kuasa membutuhkanya.


Belajar dari ketersesatan

Bagaimanapun kita tidak menghendaki bangsa ini mati dan kehilangan masa depan. Deretan kematian anak bangsa yang sudah terjadi merupakan inspirasi baru bagi kita untuk merefleksi kembali ketersesatan bangsa ini. Ketersesatan bangsa ini telah menjadi bencana nasional yang tidak disadari tetapi berbahaya.

Pertama adalah “modus operandi pembunuhan anonim” harus dihentikan. Plato dalam konsep negara idealnya, ia memaparkan salah satu ketakutannya yang merusak tatanan negara ideal adalah proses “mimesis”.

Plato menjelaskan bahwa peniruan itu baik kalau modelnya baik dan peniruan itu buruk kalau modelnya buruk (imitation is good if the model is good, and bad if the model is bad). Plato tidak ragu mengatakan mimesis inse dalam dirinya destruktif, yaitu tindakan yang secara potensial merusak republik karena orang lebih banyak meniru yang buruk dari model yang buruk untuk tujuan buruk (Derrida. ‘Platons mimesis, Agora 2/3, Oslo 1989 hal. 94).

Kematian Marsinah, Theys, Munir dan Tibo cs, Kongkoli merupakan modus operandi peniruan yang buruk atas penyelesaian konflik yang ada. Yang jelas proses pembunuhan ini merupakan akumulasi peniruan yang buruk atas model buruk, dengan tujuan buruk, dan pelaku buruk.

Pembunuhan ini akan lebih dipertegas ketika aktor pembunuh sebenarnya (real killer) berakhir dengan kehilangan jejak. Boleh jadi peniruan ini merupakan pola pembunuhan yang sudah akut dari orang yang sama dan akan terus diwariskan.

Modus operandi pembunuhan yang sama ini, biasanya akan bersembunyi di balik slogan lama. Negara kita adalah negara hukum. Jangan bertindak anarkis “biarkan hukum yang menyelesaikan persoalan”. Slogan hukum diperkuat lagi oleh slogan demokrasi.

Negara kita adalah negara demokrasi karena itu selesaikan “persoalan secara demokratis”. Slogan ini menjadi logika yang ampuh dan mapan untuk mengaburkan persoalan demi persoalan. Padahal, sekian sering kinerja hukum dan demokrasi kita dipeributkan dan sangat kontroversial.

Oleh karena itu, pemerintah dan seluruh aparaturnya, coba merefleksi kembali esensi jabatan yang sedang ada di atas pundak mereka. Rakyat percaya bahwa jabatan yang sedang mereka emban bukan hasil peniruan atas model yang buruk (bad model). Jangan sia-siakan kepercayaan rakyat itu. Buktikan kepada rakyat dan bangsa yang besar ini kesejatian kepemimpinan anda. Kita henti mewariskan “model” yang buruk kepada generasi baru kita dalam menyelesaikan konflik sosial lewat kekerasan dan kematian.

Kedua adalah adanya “gap yang melebar” antara kepentingan rakyat dan pemerintah di negeri ini. Gap ini melebar dan semakin parah dan paten. Gap ini terlihat jelas ketika perjuangan rakyat bukan lagi menjadi perjuangan pemerintah dan visi pemerintah bukan lagi cetusan kebutuhan rakyat.

Sebab apa diperjuangkan pemerintah adalah apa yang bukan menjadi kebutuhan rakyat. Sebaliknya apa yang menjadi perjuangan rakyat adalah apa yang bukan menjadi kebutuhan pemerintah. Gap yang melebar ini membuat setiap pihak berdiri di atas perasaannya dengan dalil untuk memenangkan diri sendiri.

Kalau seandainya tuan presiden atau mahkmah agung berada dan masuk di tengah jeritan jutaan tuntutan rakyat yang memohon hentikan hukuman mati atas negeri ini atau masuk dalam perasaan jutaan pendukung ungkit tuntas kematian Munir maka situasinya akan megubah segala-galanya. Selapar-laparnya harimau tetapi ia tidak pernah memangsa anaknya. Kalau binatang saja tahu menyanyangi anaknya apalagi manusia, bukan? Kadang binatang juga memberi pelajaran yang bermakna bagi manusia.

Belajar dari ketersesatan itu baik! Kalau kita ingin menyelamatkan negeri ini maka kita harus menyadari bersama dua persoalan akut di atas. Modus operandi pembunuh kematian anonim, misterius bukan menjadi model yang baik penyelesaian konflik sosial di dalam negeri ini. Adanya gap antara pemerintah dan rakyat yang semakin melebar bukanlah model yang baik yang patut ditiru untuk membangun negara ideal seperti yang diusung oleh Plato dalam konsep negara idealnya.

Kalau pemerintah sebagai “main player” tidak membuat perubahan yang signifikan atas dua persoalan fundamental di atas maka entah sadar atau tidak, entah lama atau tidak, kita sedang menggali kubur untuk diri kita sendiri. Kita sedang memperpendek usia bangsa ini. Kapan kita seperti Jepang, Cina, dan India?

Penulis, Alumnus STFK Ledalero

EROSI KEJUJURAN






Fidel Hardjo



Jangankan kita ditipu, sangat dibenci. Menipu pun dilarang keras bahkan berdosa. Jika demikian, mengapa orang boleh tipu alias bohong pada hari tipu, setiap tanggal 1 April? Mengapa tidak ada hari kejujuran? Apakah ini, isyarat kejujuran yang kian terkikis?

Poisson d’Avril

Salah satu kisah pupular tentang asal-muasal hari tipu berasal dari Perancis yang dikenal “Poisson d’Avril” (April Fish).

Konon, hari tipu berawal ketika Paus Gregory XIII memberlakukan kalender Kristiani tahun 1582. Raja Perancis Charles IX adalah pemimpin dunia pertama yang mengadopsi kalender Gregorian diberlakukan di Perancis.

Pemberlakuan kalender Gregorian ini menyebabkan pergeseran perayaan tradisi tahun baru di Perancis dari 1 April menjadi 1 Januari. Sebagai pergeseran pesta “Vernal Equinox”, perayaan menjemput tibanya musim semi sekaligus tanda lahirnya tahun baru (berkisar tanggal 25 Maret sampai puncaknya 1 April).

Bagi penduduk yang masih merayakan pesta tahun baru tanggal 1 April biasanya diolok-olok oleh tetangganya dengan teriakan “Poisson d’Avril”. Mereka ini dipersonifikasi seperti ikan kecil yang biasanya inocent, lugu, lamban, mudah dijebak dan ditangkap.

Itulah sebabnya, orang yang terkena korban trik tipu pada hari tipu diteriaki “April Fish atau April Fool”.

Kejahatan Eternal

Peringatan hari tipu di Indonesia pun, tidak ketinggalan gregetnya untuk dirayakan. Orang mengecoh trik tipu di mana-mana. Misalkan, kirim surat kaleng, berita menang undian bohong via SMS, kirim berita bohong ibu sakit dan lain-lain.

Pokoknya, ada-ada saja trik untuk mengerjain orang lain, pada hari tipu. Jika trik itu terlanjur ketahuan maka diteriaki, kapok hari tipu lho! Entah apapun model trik tipu pada hari tipu, setidaknya ia memantulkan realitas obyektif, apa yang sedang terjadi dalam masyarakat kita.

Pertama, tanpa hari tipu pun, orang sudah biasa bohong-membohong. Tiada hari tanpa bohong. Atasan bohong bawahannya sudah biasa. Pemimpin berlaku bohong terhadap rakyatnya sudah common. Suami bohong istrinya sudah tidak menjadi rahasia lagi. Sopir taksi bohong penumpang dengan cargo palsu sering terdengar, bahkan beredarnya uang palsu kian menakutkan.

Cuma bedanya, trik tipu pada hari tipu, “dikemas” untuk melahirkan lelucon segar dan kejutan kegembiraan kepada relatif, keluarga, kawan, atasan-bawahan, guru-murid dan lain-lain. Sejauh batas-batas kewajarannya tetap terjaga, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, misalkan orang bisa shock, depresif dan sakit hati.

Kedua, tipu-menipu adalah kejahatan eternal. Ia telah eksis setua usia manusia menghuni planet bumi ini. Ia telah mengerangkeng dan mengikis ruh kejujuran, yang seharusnya dimiliki oleh setiap insan manusia.

Runtuhnya Kejujuran Sosial

Implikasi riil terkikisnya kejujuran adalah lahirlah aneka kehancuran (perang, bencana dan penyakit), keputusan yang tidak bijaksana, dan ketidakadilan di mana-mana.

Bencana alam datang silih berganti, perang tetap berkecamuk, epidemik penyakit baru adalah bahasa sempurna, bahwa manusia sebenarnya sedang tidak berlaku jujur terhadap dirinya, alam, sesama bahkan Tuhan yang diyakininya.

Sebut saja masalah Timur Tengah, AS berkali-kali berjanji menjadi Big Brother memediasi sengketa Israel-Palestina tapi nyatanya sampai saat ini sengketa itu kian kelabu. Apa yang salah sebenarnya? Seandainya AS berlaku jujur terhadap dua pihak, mungkin masalahnya tidak separah sekarang ini. Berlaku jujur adalah kunci utamanya.

Kekerasan HAM di Tibet yang terus berkecamuk akhir-akhir ini adalah wajah lain dari erosi kejujuran itu. Banyak orang mendiskreditkan kebijakan Bejing. Tapi, kita lupa bertanya, berlaku jujurkah pengikut Dalai Lama terhadap gerakan kemerdekaan Tibet?

Apalah artinya kerinduan berdialog, kalau para demonstran memilih bertindak anarkis untuk merdeka sekaligus mencoreng nama baik Cina di tengah persiapan pesta Olympic Bejing 2008.

Di Indonesia, erosi kejujuran lain lagi. Kasus Lumpur Lapindo, busung lapar dan jual hutan seharga “pisang goreng” adalah salah satu bukti riil bagaimana kejujuran pemimpin kita kian redup.

Masih adakah kejujuran yang tersisah di hati pemimpin kita, ketika ibu pertiwi ini dirundung sedih, menyaksikan berjejernya balita terjangkit penyakit busung lapar, kurang gizi dan terjualnya hutan seharga pisang goreng?

Tidak hanya itu. Kasus susu formula, yang menurut penelitian Fakultas Kedokteran Hewan IPB terbukti mengandung Enterobacter Sakazakii membahayakan bayi, dengan sekejap pemimpin menepis hasil penelitian itu. Jujurkah pemimpin kita untuk menghargai hasil obyektivitas ilmu pengetahuan? Jika obyektivitas ilmu pengetahuan saja “disepelehkan” apalagi niat tulus nan suci memperbaiki dunia pendidikan itu sendiri, jangan diharapkan.

Semua realitas ini mengindikasikan bahwa dunia dan bangsa kita sedang mengalami bencana erosi kujujuran, runtuhnya kejujuran sosial.

Jika bukan tipu-menipu alias bohong-membohong yang bisa menyelamatkan kita, lantas apa? Thomas Jefferson menjawabnya dengan lantang, “honesty is the first chapter of the book of wisdom” (Presiden Ketiga AS, 1801-1809).

Selamat memperingati Hari Tipu!


Penulis, Staf Televisi TBN Asia, Tinggal di Manila

“SUARA DIAM” DI ATAS TEMBOK RAKSASA CINA





Fidel Hardjo


Di atas Tembok Raksasa Cina terpancang sebuah billboard besar bertuliskan One World One Dream (Satu Dunia Satu Mimpi). Ribuan pelancong asing tiap hari sulit mengelakan matanya memana billboard fenomenal itu. Tak sedikit pengunjung berdecak cela-tanya, apakah impian Cina sesungguhnya? Pertanyaan itu adalah “ole-ole” yang dibawa pulang para pelancong ke negeri asalnya.

Bagi pelancong yang sedang bubrah dengan demam olympic Bejing 2008, tentu tahu pasti “One World One Dream” yang dipajang di tali pusar Tujuh Keajaiban Dunia itu adalah motto olimpiade Bejing 2008. Impian Cina diliris indah dan sangat sentimentil dalam lirik lagu pembukaan olimpiade Bejing 2008: Forever Friend (Berkawan Untuk Selama-lamanya).

Namun, siapa tak sangka jika di balik motto menyejukkan itu, terselip “suka-duka” yang menciut bilik terdalam negeri Tirai Bambu itu. Cina tergagap-gagap membendung emosi publikya, lantaran tak sabar merayakan olimpiade Bejing dan menahan amarah terseruaknya masalah Tibet sulit ditemukan titik simpulnya.

Tibet bak duri dalam daging bagi Cina. Dalai Lama dan pendukung setianya di Tibet memang pintar berstrategi menggoyang pemerintahan Cina. Peristiwa kekerasan Lasha baru-baru ini, adalah puncak upaya Dalai Lama dan simpatisannya untutk menjerit bantuan Internasional atas masalah HAM di Tibet, yang sering dicap “keparat pengusik” oleh Bejing.

Karena Tibet, dunia pun terkotak-kotak. Kiritikan dan ancaman datang berlapis-lapis menampar Bejing. Ada negara, yang terang-terangan mengajukan ancaman boikot acara pembukaan olimpiade Bejing. Sebagian lagi, ancam boikot olimpiade secara keseluruhan. Bahkan, ada juga yang ancam tidak mengirimkan para atlet olimpiade. Apakah ini solusi terbaik? Wait and see!

Syukur bahwa di Indonesia tidak terjadi demo pemboikotan olimpiade Bejing. Harap ini menjadi indikator keharmonisan relasi Bejing-Jakarta yang lebih menyejukkan dan konstruktif-produktif .

Motto olimpiade Bejing mengandung pesan universal. Mimpi merajut tali persahabatan abadi. Pesan sejuk ini merangsang cakrawala saya melayang-layang ke NTT. Semoga spirit olimpiade Bejing 2008 menghembus sampai ke NTT. Panggilan untuk bersatu membangun NTT, lebih-lebih ketika musim Pilkada dan Pemilu tiba, rakyat sering terkotak-kotak menurut suku dan asal.

Sebut Bejing, teringatlah saya akan suku Tionghoa di NTT. Suku yang cukup “berpotensial” tapi masih “susah diakui” legitimasinya secara publik. Keberadaan suku Tionghoa di NTT tak ubahnya “mesin ekonomi” di belakang layar, yang memberi warna spesial pertumbuhan ekonomi daerah. Tekad dan kerja keras mereka dalam “diam” menjadi sumbangan berharga pertumbuhan ekonomi NTT.

Namun, sayangnya kita belum merangkul dan memberi perlindungan “hukum yang utuh” terhadap mereka. Ketika terjadi gejolak sosial di daerah kita, suku Tionghoa selalu saja “dikambinghitamkan” dan menjadi sasaran jarahan harta toko mereka. Kejadian ini berulang-ulang. Mereka tidak protes. Diam, mungkin jauh lebih menyelamatkan daripada “berkokok” di depan publik. Bahkan, mereka terkesan harus “membeli” perlindungan untuk hidup nyaman.

Tidak heran ruang gerak mereka begitu “sempit” bahkan terkesan orang asing di negerinya sendiri. Sebab takut kapan saja bisa menjadi korban gejolak sosial. Perlindungan hukum yang “kurang utuh” membuat mereka enggan muncul ke publik. Padahal, mereka adalah jelas-jelas warga kelahiran NTT, yang hanya kebetulan nenek moyang datang dari daratan Cina.

Implikasinya, ada banyak aset (human capital) suku Tionghoa yang belum terkelola untuk perbaikan hidup publik. Aset ini kalau “dikelola” baik oleh pemerintah lokal untuk membangun daerah maka akan mendatang hasil yang luar biasa. Tergantung intens perlindungan dan sikap nondiskriminatif kita, untuk memotivasi suku Tionghoa bergerak di segala lini kehidupan publik.

Tahun Imlek 2559 kali lalu, adalah salah satu perubahan signifikan yang perlu diapresiatif. Ada sejumlah aktivitas sosial suku Tionghoa patut ditulis dengan tinta emas. Pertama, pergelaran sekaligus peresmian “Borangsai Naga Timur” di Kupang. Bahkan, ketua paguyuban Tionghoa Charles Pitoby menjelaskan, sekalipun budaya Barongsai adalah kultur Cina tapi sekarang ia menjadi kebanggaan budaya orang NTT (PK, 13/1/2008).

Kedua, pergelaran aksi sosial pembersihan pantai Pede dan sumbangan material pembangunan Mesjid di Gorontalo oleh paguyuban suku Tionghoa di Labuan Bajo, Manggarai Barat (Kompas, 7/2/2008). Menurut hemat saya, aksi sosial ini adalah kemajuan positip luar biasa, yang patut ditumbuhkembangkan. Ini sejarah peretas kerinduan suku Tionghoa memajukan daerah kian terkonstruk. Sejauh mereka diberi perlindungan hukum sama dan diberi kesempatan seluas-luasnya.

Ketiga, di Ruteng Manggarai, paguyuban suku Tionghoa mengadakan aksi sosial tanam seribu pohon (Kompas, 5/2/2008) adalah kebanggaan yang perlu diteladani oleh setiap orang, suku atau kelompok apa saja. Artinya, suku Tionghoa memiliki “sense of belonging” atas daerahnya, yang menuntut pengafirmasian publik. Bahwa, mereka bukan orang asing (nonpribumi) di NTT seperti pemahaman pincang kebanyakan masyarakat. Ini kerinduan lama, yang sudah lama dinantikan.

Keempat, Paguyuban Sosial Warga Tionghoa Indonesia (PSWTI) NTT Tionghoa membantu korban gizi buruk di Rote-Ndao baru-baru ini adalah salah bukti ketajaman concern publik suku Tionghoa terhadap situasi di sekitar kita. Sejauh kita merangkul dan memberi kepercayaan kepada mereka maka persoalan dan penderitaan bersama bisa dihadapi dengan energi bersama.

Ini beberapa aktivitas publik suku Tinghoa yang sempat direkam media. Masih ada aktivitas sosial dan individual lain yang tak sempat direkam oleh media. Hanya Tuhan yang tahu. Kita harapkan agar suku Tionghoa lebih elegan tampil ke ranah publik di masa yang mendatang.

Semoga “suara diam” One World One Dream: Forever Friend di atas Tembok Raksasa Cina menjadi sapaan perekat antarsuku, agama dan budaya kita. Khususnya, concern yang mendalam akan suku Tionghoa yang sudah lama eksis di NTT tapi belum dirangkul secara penuh oleh pemerintah dan masyarakat luas sebagai salah satu “batu penjuru” pembangunan NTT.

Betapa indahnya “Forever Friend”, lihatlah “bola mata”. “Ketika tidur mereka terkatup bersama-sama. Ketika bangun mereka terbuka bersama-sama. Ketika sedih mereka menangis bersama-sama. Ketika gembira mereka kedip bersama-sama. Ketika sakit mereka menderita sama-sama. Ketika tutup usia mereka pun tutup sama-sama”.

Penulis, Alumnus STFK Ledalero, kini staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila.

SEKOLAH "BERHATI IBU"





Fidel Hardjo


Kisah bunuh diri (attempted suicide) NES siswa kelas II SMP Muhamahdiyah Playen Yogyakarta (Kompas, 24/5/2007) menghentak. Ia menambah deretan peserta didik yang mengambil jalan tragis ini. Sayangnya, kita tidak pernah memosisikan persoalan ini dalam bingkai refleksi, hal mana menjadi latar belakang tulisan ini.

The cost of poverty

Ujung-ujungnya adalah kemiskinan. Realitas kemiskinan yang sudah mengakar telah membunuh idealisme anak-anak sejak dini. Sejak kecil, anak-anak memikul beban warisan kemiskinan keluarga. Kondisi itu lebih dipertegas lagi ketika mereka mulai masuk sekolah. Wajah sekolah yang didominasi oleh anak-anak orang kaya yang memiliki handphone, uang jajan, dan berpakain “luxury” membuat mereka tertukik ke dalam kondisi helplessness (Martin Seligman,1975).

Kondisi ketaktertolongan ini, telah menyeret anak-anak kepada rasa pupusnya harapan (feeling of hopelessness), termasuk harapan untuk hidup. Hidup terasa sulit dipertahankan apalagi menikmati hidup seperti kerinduan Chairil Anwar: Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Bukan hanya itu. Kemiskinan keluarga berangsur-angsur menjadi virus yang mematikan. Virus yang memangkas harga diri (feelings of worthlessness). Mereka merasa diri tak bernilai, dan lebih menyerupai “sampah yang menyesakkan” (being of a waste space), di antara dualitas kemiskinan dan tekanan kompetitif arus globalisasi yang merumuskan pendidikan sebagai panglima.

Itu berarti, anak-anak miskin yang tidak terjamah oleh pendidikan semakin tereleminasi dalam percaturan ekonomi lokal yang selalu tunduk di bawa “palu” free global market.


Akhirnya, implikasi konfliktual kemiskinan keluarga, bukan hanya meregenerasi kemiskinan dari keluarga ke keluarga dan dari bangsa ke bangsa tetapi juga menghadirkan wajah generasi muda yang depresi, frustasi, dan “doyan” bunuh diri.


“duty of care”

Mungkinkah sekolah bisa membangun kultur pendidikan yang berhati ibu? Peran sekolah bukan hanya sebagai institusi kognitis yang mencetak anak didik, dengan formulasi kritis-pragmatis (know how dan know why) untuk melahirkan generasi bangsa yang lebih cerdas, pandai, dan berbudi pekerti.

Itu tidak cukup. Tanggung jawab sekolah yang paling luhur adalah menjadi ibu, duty of care bagi peserta didik. “Ibu” (baca:almamater) yang mencinta, mengandung, melahirkan, memelihara, dan membesarkan peserta didik (Paula A Treichler, 1985).

Pertama, sekolah mengambil peran ibu yang ringan tangan menolong (help) peserta didik. Sentuhan tangan seorang ibu di tengah kondisi ke-helplessness-an perserta didik merupakan upaya mendongkrak potensi kehidupan (zest of living) yang kian sulit dipertahankan akibat realitas kemiskinan yang menukik.

Sekolah semestinya menjadi ruang kehidupan di mana peserta didik merasa at home, dilindungi dan ditolong (Nelson, 2000) dengan dibentuknya “wadah solidaritas” sekolah untuk membantu anak-anak miskin di sekolah.

Kedua, sekolah menjadi ibu yang selalu memberi hope kepada anak didik. Peserta didik yang sedang mengalami situasi helplessness akan sangat rentan merasa diri hoplessness. Keputusasaan yang sudah terpatologis akan mudah melahirkan rasa diri worthlessness.

Pada level ini, mereka merasa diri sebagai sampah, yang dibuang, dpinggirkan dan harus dimusnahkan. Di sini, sekolah mengambil inisiatip untuk memberi harapan hidup yang lebih realistik dan idealistik dengan mengaktifkan “team konseling” profesional di sekolah.

Sekolah perlu mensoalisasikan tujuan dan manfaat konseling kepada peserta didik agar stereotipe buruk ruang konseling adalah ruang anak "bermasalah" dapat dihindari. Sebaiknya konselor sekolah tidak perlu mengangkang dua jabatan mengajar sekaligus konselor. Konselor terfokus dengan pekerjaan pembinaan psikologis anak-anak.

Ketiga, motivational theory (Pintrich & Schunk, 1996), peran sekolah adalah menjadi ibu yang memotivasi dan membangkitkan self-confidence anak didik. Kondisi worthlessness peserta didik yang terlampau berat akan sangat gampang jatuh pada pilihan membunuh diri (Durkheim, Suicide,1897).

Sebagai langkah preventif, para pendidik perlu melakukan “pendampingan kreatif-psikologis” secara personal kepada anak didik. Banyak peserta didik akan mengenang guru mereka, pada dasarnya bukan karena “cakepnya” metodologis pengajaran, tapi soal kedekatan.

Kedekatan itulah yang membuat semua orang memutuskan untuk bersahabat, berkawan, dikenang, bahkan pada level yang paling tinggi adalah mencinta.

Dengan pendekatan kreatif-psikologis ini, mereka merasa diri didengar dan dibela dalam kondisi keretakkan kepribadian akibat lingkaran setan helplessness, hopelessness, dan worthlessness yang sudah kronis.

Penulis, Staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila

Wednesday, May 7, 2008

SOLIDARITAS HATI



Fidel Hardjo

Perayaan Sumpah Pemuda baru kita lewati. Semua pemimpin baik dari pusat ibu kota maupun di desa-desa punya intisari pidato yang sama. Bagaimana mereaktualisasi ikrar Bertanah air, Berbangsa dan Berbahasa satu yaitu Indonesia 79 tahun yang silam ke dalam situasi kita sekarang.

Generasi 28” menitip sebuah impian besar di atas pundak kita, agar dengan modal “three in one” ini, kelak Indonesia mengukir kejayaan seluas-luasnya. Kurang lebih 79 tahun sudah, pintu gerbang menuju kejayaan itu, yang berpuncak pada 17 Agustus 1945 telah dibuka seluas-luasnya, sampai kita bisa berdiri tegak sekarang dan di sini, NKRI. Hanya, mengapa kejayaan bangsa itu tak kunjung-kunjung tiba?

Solidaritas “Semu”

Makna Sumpah Pemuda boleh “dimaknai” sana sini untuk mendapat makna lebih segar tapi sejatinya adalah aura persatuan bangsa. Ada keresahan, peloncatan generasi yang tidak dibekali oleh warisan sejarah yang baik menyebabkan generasi baru seperti sleepwalkers (Lynne V. Cheney, 1996).

Akibat “berjalan sambil tidur” maka mosaik ikrar Sumpah Pemuda tidak lagi dipandang secara utuh oleh generasi sekarang. Ia dipandang sekadar taken for granted sebagai warisan “sejarah persatuan” (wilayah, hukum, catatan sejarah di sekolah) dan tanpa “dikelola” untuk meraih cita-cita bangsa. Kita lebih merasa dipersatukan oleh “benda” sejarah daripada ikatan psikologis.

Implikasinya, lahirlah solidaritas semu. Di mana, banyak orang mengklaim suku, daerah, agama, partai ataupun dialeknya sebagai tanah air, bangsa dan bahasa “Indonesianya mereka”. Benar apa yang dikatakan oleh Francis Fukuyama bahwa Indonesia termasuk negara yang “low trust society”. Ada beberapa fenomen “sedikit” membenarkan hal itu.

Pertama, konsep bertanah air satu rapuh. Perang antarsuku di Papua terus berkecamuk sampai hari ini adalah satu contoh bagaimana konsep bertanah air satu itu begitu rapuh. Orang dikotak-kotak. Kami dan mereka. Suku asli dan pendatang. Pribumi dan nonpribumi. Orang Flores merantau di Jawa, urusan KTPnya dipersulit.

Sebaliknya, orang Jawa masuk Flores kembali diperlakukan sama. Bangunan Mesjid di Batak dipersulit sementara bangunan Gereja di Jakarta lebih sulit daripada bangun motel pijat. Begitupun di daerah lain. Lingkaran saling mempersulit pun semakin tajam. Lalu, di mana tanah air bersama itu? Kalau kita tidak sepenuh hati menerima satu dengan yang lain di atas tanah air tumpah darah yang sama.

Belum lagi, pengelolaan tanah air yang amburadul. Kasus lumpur Sidoarjo yang hanya menunggu waktu untuk menenggelamkan sebagian manusia dan Tanah Air ini, terasa “angin lalu” saja. Rasa simpati bangsa sayup-sayup terdengar. Ini baru pemandangan di pusat negara. Belum terhitung pengelolahan tanah air di daerah yang menyisahkan seribu satu macam persoalan deekologis, depopulatif, dan degradasi identitas masyarakat lokal.

Kasihan tanah air yang kaya raya ini, dikelola oleh orang-orang egois dan narsis. Tidak pernah dipikirkan apa blueprint yang disiapkan untuk 20 tahun ke depan. Yang dipikir adalah bagaimana memenuhi perut sekarang. Sekali lagi, perut, perut dan perut! Akhirnya, kita hanya mewarisi generasi yang perutnya besar daripada otaknya besar. Boleh Anda menebar senyum di sini tapi pulang rumah sebentar, jangan malu-malu makan banyak. Yang penting jangan lupa prinsip “makan untuk hidup bukan hidup untuk makan”

Kedua, konsep berbangsa satu pun terkoyak. Aksi robekan bendera Merah Putih terjadi di Belanda oleh pejuang Papua Merdeka (youtube). Bagaimanapun Anda dan saya pasti merasa hati gatal ketika menyaksikan orang kita sendiri dengan semena-mena merobek-robek bendera kebangsaan kita. Bahkan, dalam acara perobekan itu disertai caci maki. Tak berhenti di situ. Pengibaran bendera RMS di depan Presiden di Ambon kali lalu sangat meyayatkan. Hanya di Indonesia yang terjadi demikian. Generasi apa macam itu? Lebih parah lagi, kembali bangkitnya GAM setelah kedamaian bersemi di Aceh. Mengapa luka lama kembali digores dan luka baru terus diciptakan?

Rasa benci terhadap negara begitu mudah tersulut. Ada-ada saja upaya menjelekkan negara dan pemerintah. Padahal, kita sendiri enggan bekerja keras. Lalu, selebihnya menuding pemerintah penyebab kemiskinan. Enggan sekolah dengan serius. Senin kamis masuk sekolah, sisahnya nongkrong. Lalu, sebentar turun ke jalan protes pemerintah kenapa ada pengangguran. Kenapa itu kanapa ini...!

Ketiga, konsep berbahasa satu terkesan tidak menyatukan. Aksi hujat menghujat pemimpin dan partai politik di pentas publik tak karuan. Bahasa emosi dan marah-marah adalah pemandangan yang lebih enak ditontonkan kepada publik daripada bahasa santun, bijak dan toleransi. Anak muda pun tak ketinggalan. Kata-kata sejuk tidak mempan untuk memecahkan persoalan sosial maka tawuran dan demonstrasi berujung pada aksi kekerasan adalah pilihan pahit yang memiluhkan.

Bahasa yang satu dan sama itu lebih banyak digunakan untuk mengeritik daripada memberi pujian kecil. Akhirnya, kita terceraiberai. Bikin blok sana sini entah menurut suku, dialek ataupun daerah. Karena blok semakin kuat maka pemakaian bahasa daerah sulit dihindar. Menyebabkan orang lain merasa asing dan menyendiri di tengah keramaian.

Saya pernah alami ketika teman saya sekantor berbicara bahasa mereka sendiri maka rasanya dunia begitu kejam. Akhirnya saya memilih ke toilet saja. Itu baru contoh kecil. Artinya, bagaimana mengukir kejayaan bangsa jika pemimpin dan rakyatnya terdiridari kerumunan yang terceraiberai oleh karena faktor suku, bahasa, agama, partai dan sebagainya yang sangat kental. Adakah paradigma baru yang bisa mengangkat kembali jiwa persatuan bangsa ini?

Solidaritas Hati

Sara Paddison, dalam bukunya The Hidden Power of the Heart (1997) mengatakan setiap orang punya inner antena yaitu hati. Inner antena itu dilukiskannya sebagai mata air kehidupan, mengalir jauh dan punya kerinduan bersatu. Darinya, solidaritas hati mengalir. Ia mengalir seperti air dari kaki gunung, menyusui kehidupan meski ia melewati lembah dan ngarai, terjulur di tebing tinggi, tersumbat, tergenang dan berlahan-lahan bersatu membentuk samudera luas. Di sanalah kehidupan penuh damai dan cinta bersemi.

Solidaritas hati pun demikian. Ia mesti bergerak dari dalam diri. Lalu, berlahan-lahan mengalir ke luar. Ia menyapa orang lain dengan kehidupan yang menyejukkan. Ia bisa lentur menyantuni kebhinekaan. Jalannya berkelok-kelok, terjal dilaluinya, bahkan melelahkan tapi ia menjanjikan samudera kehidupan luas.

Solidaritas hati menjanjikan air kehidupan. Samudera luas tidak terjadi dengan dirinya sendiri. Ia terbentuk dari riak-riak sungai kecil, yang mengalir dari kejauhan menuju kejauhan. Ia tidak egois. Setiap perjalanannya menyusui kehidupan yang dilewatinya. Ia tidak menabrak batu penghalang yang keras dengan kekerasan. Ia justru mengandalkan kelenturannya. Ia tidak melawan tebing yang tajam dengan teriakan penuh caci maki. Justru, hanya riak kecil penuh bersahaja terdengar.

Ia sebentar tersumbat dan tergenang di tengah lobang kegelapan. Tapi, Ia sadar perjuangan sangat dibutuhkan. Mengumpulkan tenaga adalah adalah upaya membebaskan dari kebusukan, kesengsaraan, kemalasan dan kematian daripada memaki diri sendiri atau menyalahi orang lain.

Namun, semuanya berlalu. Tebing yang tajam berlalu dan kegembiraan samudera menanti. Batu keras berlalu dan kelembutan samudera menyambut. Kebusukan berlalu dan aroma sumudera menjemput. Kemalasan berlalu dan kemegahan samudera membentang luas. Lubang kematian berlalu dan samudera kehidupan yang indah, damai dan penuh cinta bersemi.

Tak satupun aliran sungai mengkapling samudera adalah miliknya. Asal gunung boleh berbeda, nama sungai boleh berbeda, tapi substansi airnya tetap tawar. Tujuannya pun tetap satu yaitu menghidupi kehidupan di samudera luas. Samudera pun rela membakari dirinya oleh sengatan matahari demi menghasilkan awan, lalu turun hujan dan akhirnya gunung membidani kelahiran anak-anak sungai dan samudera pun menjadi hamparan air tak berkekurangan.

Demikianlah, solidaritas hati diandaikan. Ia lahir bergerak dari kedalaman individu, lalu keluarga, masyarakat dan negara. Itulah sebabnya, dari dulu Blaise Pascal terlalu percaya bahwa “Logika Hati” mampu mengubah segala-galanya termasuk yang tidak dimengerti oleh rumusan otak.

Sumpah Pemuda dan pidato berbusa-busa boleh berlalu tapi solidaritas hati terus mengalir. Mengalirlah sampai sejauh-jauhnya. Terjal, tebing, batu, lobang akan berlalu selagi kita tetap bersatu. Maka, bangsa dan daerah kita akan menjemput “samudera luas” sebagaimana impian yang dititipkan oleh pendahulu kita.


Penulis, Staf Televisi TBN of Asia Tinggal di Manila


Nangis Untuk Adikku






Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!" Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi.

Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami.

Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi." Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten.

Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya?

Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang.

Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering.

Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?

" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..." Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.." Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."

Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja.

Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini." Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?" Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan.

Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu.

Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.

Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya." Tepuk tangan membanjiri ruangan itu.

Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

[Diterjemahkan dari "I cried for my brother six times"]

TARUHAN MAHAL KETIKA "PENA BERBICARA"



(Kritikan Keras Penganiayaan Wartawan di Mabar)

Fidel Hardjo

Harian Nasional Kompas (18/2/2008) menurunkan berita lokal yang sama sekali “mengejutkan”. Wartawan Pos Kupang, Yacobus Lewanmeru (Obby) dianiayai oleh empat orang preman, sampai ia digotong ke rumah sakit dalam keadaan semaput. Penganiayaan Obby hanya menambah jumlah deretan wartawan yang nasibnya kian malang melingtang.
Penganiayaan wartawan bukan kasus pertama kali terjadi di NTT. Tapi, baru kali ini, berita penganiayaan wartawan di Flores diekspos ke tingkat nasional oleh Kompas. Harian Kompas melansir bahwa pelaku kekerasan itu adalah “preman”. Saya tidak habis berpikir kota kecil seperti Labuan Bajo, apa benar-benar ada preman sebajingan ini? Atau jangan-jangan ada “aktor intelektual” yang mengotak-atik preman ini?

Maaf atas kuriositas ini, namanya juga curiga. Jadi, boleh saja saya keliru. Tapi, setelah saya membaca keseluruhan artikel ini, di alinea lain ia menulis motif penganiayaan itu menurut “sejumlah pihak”, terkait pemberitaan Obby soal proyek singkong senilai Rp 2,8 miliar yang diduga fiktif”.

Akhirnya, saya sadar ternyata banyak orang di belakang saya, yang berpikir persis seperti apa yang saya pikirkan. Setidaknya, membenarkan intrik pihak ketiga, yang boleh jadi bermain di balik kasus ini. Maka, porsi kecurigaan saya semakin mengalir bebas dan luwes.

Sejak awal Harian Pos Kupang memang getol menurunkan berita proyek ubi kayu di Mabar yang sarat bermasalah itu. Kita angkat jempol untuk keberanian Pos Kupang untuk mencecar-cecar persoalan ini “dikunyah” publik. Saya yakin di balik pemberitaan PK ini, tidak ada motivasi subversif apalagi demi interese pribadi. Kalau bukan untuk kepentingan banyak orang. Jika demikian, mengapa wartawan digebuk preman?

Awak pers hanya menjalankan amanat publik yaitu memberi informasi yang seharusnya diketahui publik, lalu dijadikan formasi untuk melakukan solusi-transformatif publik atas proyek bermasalah ini. Sebagai putra daerah Mabar dan pembaca setia Pos Kupang saya salut dan berterimakasih. Sebab, harian ini telah mengontribusi informasi yang solid kepada khalayak tentang proyek ubi kayu yang tidak jelas nasibnya. Dengan harapan, semua orang turut membantu mengeksekusi persoalan ini.

Tak disangka, jika hasil guratan tinta pena si Obby, berujung “digebuk” oleh preman. Inikah taruhan mahal ketika pena berbicara? Obby menderita traumatik psikis-fisik. Publik juga merasa dirugikan. Rugi karena publik kehilangan informasi aktual dari hasil torehan segar pena si Obby. Karena publik tidak mendapat informasi yang selayaknya maka secara inheren rakyat dibodohi. Ketika rakyat dibodohi maka rakyat tak ubahnya sebuah kerumunan yang dungu.

Ketika rakyat menjadi dungu maka kita tidak tahu lagi, bagaimana nasib kerumunan warga yang diimipikan dalam Negara Ideal Plato. Pasti hanya tunggu waktu untuk hancur lebur, karena baik pemimpin maupun yang dipimpin sama-sama terpasung dalam kotak dungu ( bukan pecinta filsafat)

Sebagai pembaca yang kritis, tentu merasa aneh, naif. Rasa aneh kita tidak terlepas dari rasa kecurigaan. Curiga, jangan-jangan preman ini dipakai oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, hanya untuk memberi “efek jera” kepada wartawan, membungkam ruang publik dan tentunya dengan optimisme kerdil perkara akan tersumbat. Berlaku prinsip, bunuh seekor ayam untuk menakuti seribu ekor kera di hutan. Apakah berhenti di sini?

Rakyat sekarang semakin otokritik menganalisis persoalan sosial mereka. Mereka mencurigai sana-sini. Tidak semua kecurigaan adalah negatif. Filsuf Descartes dalam teori dubium methodicum-nya menganjurkan betapa pentingnya metode dubium (kecurigaan) membedah kasus sekecil apapun untuk melacak titik kebenaran. Lantas bagaimana kecurigaan kita terpana?

Hari-hari belakangan ini kasus dugaan koruptif proyek ubi kayu Mabar bagaikan “bola liar”. Tak sedikit orang dibikin panik, stress. Bola liar itu menggelinding dari kepala ke kepala, tangan ke tangan dan mulut ke mulut. Ada yang merasa diri gawang pertahanannya nyaris jebol. Hal ini terlihat aksi tuding menuding antara pemimpin (eksekutif versus legislatif) atas proyek ubi kayu ini. Bak gayung disambut, PK mengangkat dan memuat kasus ini untuk dijamah publik (good news is bad news).

Persis dalam keadaan “mendidih” seperti ini, tiba-tiba terbetik berita wartawan PK digebuk oleh preman. Adalah wajar jika publik angkat bicara kenapa wartawan digebuk? Adakah korelasi antara wartawan digebuk dengan kasus dugaan korupsi proyek ubi kayu di Mabar? Walaupun menurut hasil penyelidikan sementara polisi, penganiayaan ini cuma “kesalahpahaman” dan “dendam pribadi”.

Tentu, publik tidak mudah percaya, apalagi mengamini begitu saja bahwa penganiayaan itu hanya soal kesalahpahaman dan dendam pribadi. Entah apa saja alasannya, tindakan kekerasan ini perlu dikutuki. Apalagi tindakan kekerasan ini berpautan dengan profesi. Obby digebuk dengan terlekat profesi wartawan. Jangankan orang pintar bisa beranalisis, penjual sayur di sudut pasar baru Labuan Bajo pun, punya second thought tentang posibilitas “pihak ketiga” yang patut dicurigai di balik aksi penggebukan wartawan ini.

Rasionalitas berpikir seperti ini bukan ciri kritis yang baru mengidap masyarakat modern sekarang, sudah jauh-jauh sebelumnya, berlaku teori Sinteses Hegel bahwa untuk mengetahui persoalan (sintesis), pikiran mesti “dibelah dua” antara yang positif dan negatif diacak, dipisahkan dan dipertautkan maka dengan sendirinya persoalan terbongkar sendiri.

Lantas, siapa yang patut dicurigai? Kita tidak perlu menyebut siapa mereka. Ini tugas polisi. Toh, tanpa disebut pun semua orang tahu. Kultur presepsi masyarakat seperti ini setidaknya segerak lurus dengan kata bijak Socrates “apa yang kita tahu dengan pasti adalah kita tidak tahu”.

Dengan demikian, pengetahuan kita semakin luas, tajam, akurat dan teruji kebenarannya.Kalau Plato masih hidup sekarang, kita boleh berdebat, teori Mimesis-nya, yang sering menuding rakyat suka meniru tindakan biadab menjadi awal kehancuran republik bisa digugat habis-habisan.

Teori Plato ini akan diuji kesahihannya di era sekarang ketika yang terjadi terjungkir balik. Justru para “filsuf” yang selalu meniru dan mewariskan tindakan biadab kepada rakyat. Sebenarnya, para pemimpin yang selalu menjadikan rakyat sebagai “kelinci percobaan” perlu diberi “efek jera” agar republik ini bisa langgeng menuju pusaran impian negara ideal ala Plato.

Di era gegap gempita demokrasi sekarang ini, kebebasan dibentang selebar-lebarnya. Selebar itu pula kesempatan berbicara-dibicarakan atau menulis-ditulis apa saja, sejauh apa yang dibicarakan dan dituliskan dapat dipertanggungjawabkan. Ada cara etis mengemukan pendapat. Demikian pun, hak menggugat selalu menggunakan cara beradab. Bukan gunakan otot atau urat!
Kekerasan fisik hanya pratanda kotak kita tumpul. Ketika otak tumpul maka yang bisa ditemukan adalah tindakan dungu, ruang politik juga dungu dan hasilnya juga dungu. Dungu yang benar-benar dungu, bukan sekadar “dungu”. Padahal, sejatinya politik oleh Michel Foucault, (1979) dilihat sebagai cara ampuh untuk saling memeriksa dan mengkritisi sehingga tak ada dominasi yang akan melahirkan tindakan kekerasan.

Terlepas benar tidaknya, penganiayaan wartawan PK di Labuan Bajo, terkait dengan kasus dugaan koruptif proyek ubi kayu di Mabar maka kita serahkan kepada polisi menyelidiki kasus ini. Ini ujian terberat profesionalisme polisi Mabar sekarang dan menjadi titik penentu kepercayaan masyarakat ke depan. Kita bukan hanya mendukung polisi secara moral untuk menyelidiki kasus penganiayaan ini sampai tuntas tapi jauh lebih penting tugas utama polisi adalah mengusut tuntas dugaan koruptif proyek ubi kayu di Mabar ini.

Tidak berlebihan jika kehadiran media sekarang persis sebagai pemimpin alternatif di tengah masyarakat.Pemimpin yang mengakomodasi aspirasi rakyat.Meneguh, menghibur, mengarahkan dan menuntun masyarakat dengan sejumlah informasi terkini. Sekalipun, mereka tidak digaji oleh rakyat. Ide liar yang tertumpah lewat tinta pena mereka hanya salah satu bentuk ekspresi pengabdian atas nama cinta. Berjuang tanpa pamrih untuk kepentingan banyak orang.

Dedikasi wartawan seperti ini perlu dicontohi dan bila perlu bersemi di pojok hati para pemimpin dan wakil rakyat yang sudah terpilih maupun yang akan terpilih. Bukan sebaliknya, mencekik, menjerat membunuh kaki, tangan, hati dan kepala wartawan. Anda digaji oleh rakyat, punya mobil dinas, punya body guard, uang saku, dan akomodasi yang berkecukupan. Di manakah perjuangan Anda untuk rakyat? Ingat, rakyat yang miskin, bodoh, dan lapar bahkan yang sudah mati di liang kubur sana masih menagih perjuangan Anda.

Penulis, Staf Televisi TBN Asia, di Manila

(Dimuat di NTT online 2008)