Tuesday, July 8, 2008

“TREN BUNUH DIRI”, ADA APA?



Fidel Hardjo


Dada kita mendadak sesak, seperti dihunjam palu godam teramat berat membaca berita menyedihkan. Ibu membunuh anak lalu bunuh diri – siswa bunuh diri gara-gara tidak lulus ujian - setidaknya, menurut dokomentasi Pos Kupang, sejak tahun 2008 sudah ada sembilan kasus bunuh diri (PK, 4/7/2008).

Memilih jalan tragis bunuh diri semacam tren. Apa yang ganjil dengan masyarakat kita? Mengapa mereka mudah putus asa, suka jalan pintas mengakhiri hidup yang sumpek, dan tidak tegar menghadapi masalah?

Bunuh diri adalah problem sekaligus realitas “ad infinitum” (baca: tanpa akhir). Sejak jaman Aristoteles, Plato, Durkheim, Weber, Marx bahkan sampai sekarang persoalan bunuh diri itu terus dianalisis (“dipertanyakan”).

Mengapa Bunuh diri?

Aristoteles melihat akar bunuh diri sebagai kerapuhan “political grounds” yang kontra-kondusif, menyebabkan individu bunuh diri. Situasi politik yang depresif, hopeless dan worthless menggiring individu menuju pembunuhan diri.

Plato justru menuding kerapuhan “religious grounds” sebagai penyebabnya. Bunuh diri diyakini destini hidup yang sudah digariskan oleh dewa. Ini adalah keyakinan ekstrem dari iman. Dengan menghabisi hidup duniawi, individu “dijanjikan” akan berkanjang bestari dalam komunitas dewa (surgawi).

Analisis kedua filsuf besar ini, tidak sepenuhnya benar.Tapi, dengan mempelajari cirkumtans, fakta, alasan, surat, pesan, informasi, tingkah laku si korban, baik sebelum maupun sesudah bunuh diri, “sedikitnya” menggaungkan kebenaran.

Pertama, pada umumnya korban bunuh diri karena keterpaksaan. Terpaksa bunuh diri karena utang melilit, harga sembako mencekik leher, ongkos pendidikan dan kesehatan yang mahal, gagal ujian dan lapangan kerja minim (plus gagal bercinta).

Hanya, siapa yang umumkan harga sembako naik? Siapa yang mengatur biayai pendidikan dan kesehatan naik? Siapa yang menetapkan UN? Siapa yang membuat arena politik tidak kondusif? Siapakah memicu gerakan demonstrasi?

Sekali lagi siapa? Inilah sari pemahaman Aristoteles. Di mana, kerapuhan “ dasar politik” lapisan bawa sebagai sebab musabab aksioma pembunuhan diri.

Carut-marut politisi dan kondisi politik yang kotor, menyebabkan rakyat tak terurus dan jatuh tersungkur dalam kotak kemiskinan (hopeless - worthless – helpness) maka jalan menuju bunuh diri terbuka lebar (Durkheim).

Kedua, faktor religius (agama) juga turut berpengaruh. Lihat saja, dari surat, pesan atau wasiat si korban bunuh diri. Umumnya, korban (terkesan) begitu dekat dan pasrah kepada Tuhan. Bahkan, percaya bahwa, setelah bunuh diri itu ada kedamaian dan ketenangan abadi (plus masuk surga).

Keyakinan ini yang disebut Plato sebagai, kerapuhan “dasar religius” lapisan bawa, yang memicu pilihan bunuh diri. Mungkin, itulah sebabnya Nietzsche mengejek keras, agama sebagai opium, pil penenang dan pelarian irasional.

Setidaknya, kedua pemikiran di atas bisa dipakai sebagai pisau analisis untuk membedah tren aksi bunuh diri yang mengejutkan kita saat ini. Kita tergagap-gagap, koq sudah sembilan korban! Hitung korban macam hitung biji kemiri.

Pertama, kemiskinan kronis telah menyebabkan tak sedikit warga kita suka main pinjam uang. Pinjam uang, entah untuk biayai pendidikan anak, biaya kesehatan, urusan belis, pesta sambut baru/nikah bahkan beli beras pada musim lapar. Jadinya, utang di mana-mana!

Yang berbahaya adalah di sana tengkulak beroperasi bebas. Bunga pinjaman uang pun tidak enteng-enteng. Mau apa dikata. Namanya, butuh uang karena itu, ada ibu atau bapak nekad pinjam, apapun resikonya. Taruhannya saat panen.

Belakangan, di luar dugaan, cuaca berubah drastis. Maka, panen gagal total dan pada saat itulah tengkulak menagih utang. Siapa tidak malu kalau setiap saat para tengkulak datang menuntut utangnya dibayar. Apalagi jika diketahui oleh tetangga sebelah. Dari sinilah potensi bunuh diri berkecembah di ubun.

Situasi batas itu diperuncing, oleh pemahaman iman yang keliru. (Mungkin) Sebatas dengar ajaran agama tentang ada kehidupan setelah kematian. Padahal, tak satupun agama yang mencintai kematian apalagi dengan jalan membunuh diri. Paling-paling, ada kehidupan setelah kematian.

Oleh sebab itu, kedua landasan dasar ini, yang menjadi kekuatan manusia yaitu aspek badaniah dan rohaniah. Urusan badaniah “dipercayakan” kepada negara dan rohaniah “dipercayakan” kepada agama. Namun, mengapa dan mengapa aksi bunuh diri terus bergentanyangan?

Ruang Bertanya

Pertama, bagaimanapun inilah ruang refleksi bagi pemerintah, bagaimana mengatasi kemiskinan rakyat. Terutama, agar rakyat tidak dililiti oleh banyak utang dengan tengkulak busuk. Mungkin, saatnya kehidupan koperasi perlu digalakan, seperti mengukir kejayaan koperasi desa tahun 80-an.

Bagi orang kaya dan berpendidikan mungkin bisa pinjam uang ke bank tapi rakyat kecil, yang melihat kantor bank saja sudah gugup, apalagi masuk ke dalam kantor itu, pasti lebih takut. Ini masalah sepeleh. Tapi, akibatnya sangat serius. Lalu, siapa yang membantu menyadarkan orang-orang kecil seperti ini?

Kedua, pendidikan karakter itu penting. Pemerintah sebagai stakeholder pendidikan daerah semestinya lebih berkreatif mengembangkan pendidikan berkarakter. Hindu Dharma menyebut tiga poin utama pendidikan karakter yaitu “pembelajaran” (learning) tentang baik-buruk, benar-salah dan indah-jelek.

Dengan pembenahan karakter ini, Dharma membagi keyakinan, “A man without character is like a wild bull let loose in a cornfield. Every fool may become a hero at one time or another, but the people of good character are heroes all the time”.

Apa yang kita buat selama ini adalah menyembah UN, yang lebih mefokuskan pencapaian (achieving) daripada pembelajaran. Bahkan, kita hanya habiskan energi untuk mepersiapkan UN. Tidak heran, dari luar generasi muda kita terkesan pintar dan pandai tapi sesungguhya di dalam rapuh dan keropos.

Ketiga, dengan merebaknya tren bunuh diri di daerah kita, kalau kita (sedikit) jujur, maka ini juga bagian kegagalan agama (gereja). Bahwa, umat kita sedang tercebur dalam aneka wajah kemiskinan termasuk “miskin iman”.

Buktinya, ada korban bunuh diri merasa yakin bahwa bunuh diri, mungkin jalan paling meyakitkan bagi kebanyakan orang tapi anehnya bagi korban mengalami kedamaian dalam kematian(bunuh diri). Apa ini soal keyakinan diri atau interpretasi salah atas iman itu?

Makanya, inilah moment bertanya bagi agen pastoral. Perlukah kita merumuskan pendekatan pastoral baru? Pendekatan yang tidak hanya menghibur umat dengan janji suci dan kotbah kudus. Tapi bagaimana menyadarkan dan membantu umat untuk menghadapi masalah harian lebih kreatif dan produktif? Apakah itu mungkin? Itu yang kita tunggu.

Artinya, baik negara maupun agama, toh punya tanggung jawab yang sama atas martabat hidup manusia. Negara mengurusi aspek badaniah, sementara, agama (gereja ) mengurusi aspek rohaniah dari rakyat itu.

Oleh karena itu, keberhasilan rakyat/umat adalah kebanggaan dua lembaga ini. Hanya perlu diterima juga, kalau aksi bunuh diri rakyat/umat NTT belakangan ini adalah pretensi kegagalan negara dan agama itu sendiri. Entahkah negara dan agama salah mengurusi warganya atau warga salah mengurusi dirinya?

Penulis, Alumnus STFK Ledalero, tinggal di Manila
(Dimuat Di Pos Kupang)

Saturday, June 14, 2008

"ORKES SAKIT HATI"





Fidel Hardjo






Suatu hari ketika lapangan di tengah kota becek, orang-orang pada ngomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.”
“Seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu”. Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”.
“Anak-anak mencuri apel di kebun, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan,anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”


Inilah cara berpikir positip ala Pygmalion. “Pygmalion” adalah salah satu kisah legendaris Romawi kuno. Alangkah indah dan damainya dunia ini, jika disesaki oleh orang-orang seperti Pygmalion “suka berpikir positip”, kata pujangga Romawi, Ovid dalam bukunya Pygmalion.


Alkisah, Pygmalion adalah seorang pemuda kesepian, piawai memahat patung, dan pemuda melankolis yang sama sekali tidak tertarik dengan wanita. Tetapi, rumor ini dijungkirbaliknya 100%.


Pygmalion justru tertambat hatinya, kepada sebuah patung wanita cantik yang dipahatnya sendiri. Karena cintanya yang membara-bara maka Ia pun berdoa kepada dewi cinta Venus, untuk menghidupi patung itu. Doanya pun dikabulkan. Ia pun menikahi wanita cantik itu.


Namun, bukan kisah pernikahan ini yang membuat Pygmalion heboh dan digandrungi oleh masyarakat sejamannya dan komunitas manusia di jaman ultra modern ini.


Melainkan, karena ketercerahan pandangan hidupnya. Pygmalion memandang segala sesuatu dari sudut yang baik alias “positive thinking”. George B. Shaw, pemenang hadiah nobel kesusasteraan Irlandia tahun 1925, menyebut perangai positip Pygmalion ini sebagai “pygmalion management”.



Orkes Sakit Hati


Bagaimana membaca kehidupan kita dalam “kaca mata” pygmalion? Coba kita amati warna-warni hidup kita sekarang. Hidup susah, konflik sana-sini, harga sembako mencekik, ruang politik yang rawan berseteru, kehidupan rumah tangga terseok-seok menggiring kita menuju “orkes sakit hati” tak bertepi.


Lantas situasi tertekan itu, orang sakit hati muncul membeludak baik di kota-kota besar maupun di desa-desa. Ada banyak yang memilih protes di jalan-jalan. Tak sedikit pula yang memilih diam. Diam dalam kepedihan. Inilah situasi kita, orkes sakit hati (meminjam judul lagu Slank).


Implikasinya, orang mudah tersinggung, menyalahi orang lain, sukar sekali berpikir positip. Padahal, apa yang kita pikirkan menentukan menjadi siapakah kita. Seperti apa yang dikatakan oleh Devis Kelvin, “what you have become is what you have thought” (The Law of Atraction, 2008).


Artinya, jika kita berpikir fokus pada konflik, masalah, dan menuding orang lain penyebab situasi sulit maka sebenarnya kita sendiri sedang memenjarakan diri dalam kesulitan. Maka, kita lupa mencari solusi. Energi kita hanya menari-nari dari suatu kesulitan meloncat ke kesulitan lainya.


Misalkan saja. Masalah pencabutan subsidi BBM. Sudah jelas-jelas pemerintah mencabut subsidi. Kita malah sibuk protes. Katanya, ini jaman demokrasi. Tetapi, lihat protes itu tidak membuahkan hasil. Energi kita sudah terkuras banyak. Ulah protes itu muncul konflik baru. Para sopir mogok. Giliran berikutnya, aktivitas sosial macet.


Padahal, kalau kita sinergikan energisitas yang ada, untuk bekerja dan mencari solusi lebih produktif maka ia sangat menolong kita memperbaiki hidup yang kian susah ini, ke arah yang lebih menjanjikan.


Contoh lain, apa yang telah kita buat atas masalah gizi buruk, buta huruf, kelaparan dan bencana alam di daerah kita? Tak lebih saling menyalahi. Rakyat menuding pemerintah sebagai penyebabnya. Karena, tidak mampu mengurus rakyat.


Para pemimpin juga menuding rakyat yang malas bekerja, pasrah dengan keadaan, menjadi penyebab mengapa daerah kita tidak maju-maju. Maka, sempurna sudah lingkaran saling menuding itu. Masuk akal, jika orkes sakit hati terus nyaring bergema.


Padahal, keadaan separah sekarang ini butuh kerja keras dan kerja sama kita semua. Selagi kita mengerangkeng saling menyalahi, biar langit ini juga runtuh, kesejahteran sosial itu sulit digenggam. Sama saja kita mengharapkan kucing bertanduk.


Itulah sebabnya, managemen pygmalion berkata, “anyone can determine their destiny through the power of their minds” (orang dapat mengubah haluan hidupnya oleh kedahsyatan berpikirnya).


Andaikan saja, energi pikiran kita sekarang “digumpalkan” untuk membangun kekuatan bersama menata hidup bersama maka bukan tidak mungkin segala persoalan sosial kita ditemukan jalan ke luar.


Yang terjadi apa? Pemimpin jalan sendiri, organisasi sosial urus sendiri, rakyat pun tenggelam dalam situasinya sendiri-sendiri. Lalu, kita berteriak kapan keadaan berubah. Mengapa semut bisa membuka terowong gelap di kaki gunung, hanya dengan merajut kerja sama? Dan, mengapa kita tidak bisa?


Lihat saja, ketika seorang naik jadi pemimpin, ada-ada saja kelompok lain tampil menjadi penentang. Mengapa bukan mendukung? Akhirnya, kebijakan kandas total. Tetangga sebelah membangun rumah tembok, kata-kata pujian sulit didengar. Jika ada kawan kantor naik pangkat, yang lain justru mengumpatnya. Apa yang salah?


Menangis, berdoa, dan merengek bantuan kepada orang lain tidak cukup. Maka, saatnya kita mengubah pikiran dan tingkah laku dari partisan menuju impartisan,dari inklusif menuju eksklusif, dari negatip menuju positip. Inilah jargon pygmalion, jalan “berpikir positip”.


Pengharapan Positip


Pengharapan positip merangkul kekuatan pikiran rasionalitas dan kecerdasan hati nurani. Pertama, masalah akan datang pergi tapi fokuskan perhatian pada pencarian solusi ketimbang tenggelam dalam konflik atau masalah itu sendiri.


Yang biasa kita lakukan adalah habiskan energi memeluk konflik daripada berjuang mencari solusi. Intinya, seperti kata Winston Churchil, mantan Perdana Menteri Inggris. " Seorang pesimis melihat kesulitan di setiap kesempatan; seorang optimistis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan."

Kedua, mengapresiasi kesuksesan orang lain sekecil apapun. Dengan demikian kita bisa belajar dari kesuksesan orang lain dan orang yang sukses semakin menyadari arti kesuksesannya dan memacunya memenetrasi kesuksesan baru.

Jika kita hidup dalam lingkaran seperti ini, maka kesuksesan demi kesuksesan terus tercipta. Kadang orang sulit menemukan jalan menuju kesuksesan hanya karena mengantongi pikiran gelap terlalu banyak. Sebening dan seindah apapun kehidupan ini akan tetap gelap jika kaca mata gelap kita enggan ditanggalkan.

Ketiga, “where the mind goes the feet will soon follow”. Artinya, jalan awal untuk mengatasi kesulitan sosial bukan karena kemampuan fisik (physical body) tetapi oleh seberapa besar harapan positip kita. Banyak konflik terjadi di sekitar kita karena ruang berpikir kita terkerucut ke titik nol, akibatnya kekerasan fisik mudah tersulut


Oleh karena itu, marilah kita membumikan gaya hidup pygmalion, kapan dan di mana saja kita berada.


Penulis, peminat masalah psikologi sosial, staf Televisi TBN, tinggal di Manila.

Wednesday, June 4, 2008

10 KALIMAT BIJAK




1. Uang bukan segalanya.
Masih ada Mastercard dan Visa. [intinya bsa ngutang hehehe…]


2. Kita seharusnya menyukai binatang.
Mereka rasanya lezat. [sory ya buat yg vegetarian.. ]


3. Hematlah air.
Mandilah di bawah shower bersama pasangan kita. [khusus yang udah sah
doank..]


4. Di belakang setiap pria sukses ada seorang wanita
hebat.
Di belakang setiap pria yang tidak sukses ada dua. [hmm…. Emang
biasanya gtu kann??]


5. Cintailah tetangga.
Tetapi jangan sampai tertangkap basah. [halah…]


6. Orang bijaksana tidak menikah.
Setelah menikah mereka menjadi bijak sana dan bijak
sini. [hahaha….]


7. Cinta itu photogenic.
Dia memerlukan tempat gelap untuk berkembang. [ooppss.. no comment]


8. Pakaian itu adalah pagar pelindung.
Pagar seharusnya melindungi tanpa menghalangi
pemandangan yang indah. [pliss dehh…]

9. Semakin banyak belajar, semakin banyak yang kita
tahu.
Semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak yang kita
lupa.
Semakin banyak yang kita lupa, semakin sedikit yang
kita tahu.
Jadi kenapa kita sibuk belajar ? [hihihihi… so??]


10. Masa depan tergantung pada impian kamu.
Maka pergilah tidur saja sekarang !

Saturday, May 24, 2008

“LAMPU KUNING” PILKADA NTT



Fidel Hardjo



Satu hati, satu harapan, satu doa kecil warga NTT, baik yang ada di luar, maupun di dalam daerah, ataupun di mana saja mereka berada, mendambakan pilgub NTT kali ini, dengan sistem demokrasi langsung (direct democracy): berjalan aman, lancar, damai, khikdmat dan sukses. Ini tidak sekadar doa kosong, tapi tersembul dari keringkihan azap dan sengsara rakyat!



Tetapi, hendak apa dikata. Baru tahap pengverifikasian paket cagub saja, kita sudah gagap dengan konflik. Bahkan, ditenggarai jadwal pilgub NTT akan diundur tanpa jelas. Ini baru babak awal. Masuk akal, kalau kita gelisah. Apalagi, jelang hari kampanye - pencoblosan - saat pengumuman hasil - pasti bakal lebih rumit. Terus terang, “lampu kuning” sedang menantang mata hati kita!


Lampu kuning itu adalah awasan imperatif moral. Pilkada akan kehilangan ikhtiarnya, jika tidak memeluk kesengsaraan rakyat. Rakyat kita sudah dijejali oleh banyak penderitaan: lapar, miskin, dungu, sakitan, bosan hidup bahkan frustrasi. Harga BBM naik dan diikuti fluktuasi harga sembako mencekik leher. Rasakan kegetiran rakyat ini. Oleh karena itu, kita tidak perlu bebani lagi rakyat dengan konflik pilkada. Jangan bikin rakyat tambah susah dan sengsara.



Lantas kesengsaran tak bertepi itulah, rakyat tak sabar menanti pemimpin baru. Pemimpin yang bisa mengangkat rakyat dari kubangan kesengsaraan menuju gerbang kesejahteraan dan kemakmuran. Lagi-lagi bukan konflik. Angan-angan rakyat itu sederhana. Sesederhana hidup yang mereka lakoni. Mereka hanya butuh harga garam, beras, minyak tanah, pupuk, minyak goreng murah dan bisa naik bemo jual sayur dan ubi di pasar. Itu sudah cukup bagi mereka.



Lebih salut lagi. Kalau anak-anak bisa disekolahkan gratis. Ibu-ibu hamil bisa bersalin di rumah sakit tanpa pungutan biaya. Anak-anak kurang gizi diobati gratis. Inilah impian mereka. Impian di balik triumphalistik suksesi pilkada. Jadi, bukan sekadar gelar ritual estafet pemimpin, apalagi syarat dengan konflik. Asal tahu, rakyat cuma butuh pemimpin idola, yang bisa melucuti baju hina kemiskinan dan kesengsaraannya dengan baju baru yang bersih, sehat dan layak.



Hanya perlu dingat, pinjam istilah Tony Kleden (wartawan PK), pilkada itu bukan euforia pilih NTT Idol, seperti pentas cengengan Indonesian Idol. Di mana idola dideterminasi oleh seberapa banyaknya SMS, seheboh apanya pekikan histeris, seenergik apa memengaruhi massa. Atau, sekadar atraksi circus, yang lebih banyak menebar pesona dan jenaka daripada kesiapan matang untuk ditantang dan menjawabi masalah rakyat kecil yang serba kompleks.



Kompleksitas penderitaan rakyat sejatinya adalah “par excellent” (the truest) hakikat pilkada. Derita rakyat sebagai “peta” yang mengarahkan dan menuntun, bagaimana kita semestinya memaknai pilkada ini. Karena itu, siapa saja baik pemimpin incubent, kontestan, KPUD, panwaslu, polisi maupun rakyat itu sendiri, sebaiknya bersinergi seoptimal mungkin mencegah konflik (horisontal maupun vertikal), yang sama sekali tidak memberi nilai plus kesejahteraan.



Itu mengandaikan, kita semua rela berjalan di atas roadmap yang sama, yaitu ikuti aturan main pilkada yang sudah ditetapkan. Jangan dikurangi, bukan pula ditambah-tambah. Apalagi pemilihan cagub kali ini agak pelik, sebab digelar demokrasi langsung dari desa ke desa dan kota ke kota. Betapa mahal taruhannya demokrasi langsung ini jika tanpa persiapan maksimal dan pemikiran bening. Kalau tidak, konflik bakal datang pergi melilit proses pilkada ini berlangsung.



Konflik mulai terpecah ketika orang atau kelompok mengusung peta sendiri–sendiri (baca: self-interest) dalam pilkada. Apa yang dipikirkan aku. Apa yang didoakan kami. Apa yang diimpikan aku. Apa yang diingat kami. Lalu, ruang refleksivitas untuk rakyatnya di mana? Artinya, biar kita pilih seribu satu kali pemimpin dalam setahun nihil makna, sama saja membuang garam ke laut.



Lihat saja reaksi tutup mulut KPUD NTT, setelah ada aksi demo dari pendukung paket cagub yang tidak lulus tahap verifikasi. Mengapa ada konspirasi “tutup mulut” kalau apa yang ditetapkan KPU berlaku jujur, adil, transparan dan sesuai dengan aturan yang berlaku? Sebaliknya, mengapa pendukung paket cagub yang dinyatakan tidak lulus verifikasi KPU, masih nekad menuntut keadilan? Apa yang salah kebijakan KPUD NTT?



Penulis bukan ingin menyalahi siapa-siapa. Sekadar menyadarkan kita betapa ongkos demokrasi mahal kalau berjalan menurut peta sendiri. Rakyat bisa terbelah oleh kepentingan politisi. Ujung-ujung dari tindakan anorma ini adalah rakyat sendiri menjadi korban yang menyayatkan. Kesejahteraan dan keadilan sosial yang sudah lama diimpikan semakin jauh oleh prahara konflik.



Benar apa yang dikatakan DR. Budi Kleden, bahwa susahnya melahirkan pemimpin sama seperti kesusahan bunda melahirkan anak. Adalah celaka besar jika orang tidak merasa risih dengan kata-kata bijak ini. Rakyat sudah kehabisan kata. Tinggal bagaimana nurani para politisi kita menjawab. Armstrong (2006) katakan zaman jahiliah sekarang, yang penuh prahara, pertikaian, konflik, kehancuran nilai dan keteladanan, hanya bisa ditebusi dengan kepemimpinan profetik.



Kepemimpinan profetik itu bersikap jujur, adil, bijaksana, transparan dan selalu pro rakyat kecil. Spiritualitas kepemimpinan profetik ini merupakan corong demokrasi. Cerminan kepemimpinan: dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun, apa yang dikecap oleh rakyat selama ini, pengartian demokrasi, “hanya sebatas dari rakyat, oleh rakyat tapi bukan untuk rakyat”. Lihat sendiri hasilnya!



Rakyat semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Rakyat semakin bodoh dan yang kaya semakin pintar. Rakyat semakin sengsara, yang pintar semakin pintar membahagiakan hidup. Rakyat protes BBM naik, pemimpin cuma duduk manis pangku tangan dan pada saatnya palu diketuk, BBM mesti dinaik. Lagi-lagi tidak untuk rakyat.



Jika demikian, maka perlu dipertanyakan untuk apakah kita menyelengarakan pilkada jika hasilnya tidak menguntungkan rakyat? Berapa besar dana dikucur dari keringat rakyat untuk kontestasi pilkada ini. Berapa banyak energi rakyat tersedot untuk penggelaran pilkada ini? Kalau akhirnya dibayar dengan ketidakadaan perubahan dalam situasi riil masyarakat akar rumput.



Padahal, rakyat telah kuras energi, sibuk pilih pemimpinnya. Para bapak tinggalkan bajak sawah, rela lepaskan iris tuak berhari-hari. Para ibu gantungkan periuk, tidak lagi jual sayur ke pasar, hanya ingin dengar kampanye calon pemimpin. Rakyat harus berbaris antrean mencoblos pemimpin pujaan sepanjang hari. Belum lagi, kalau rakyat diaduk-aduk oleh konflik politisi.



Inikah semua bayaran yang mesti dipikul oleh rakyat? Pertanyaan ini menjadi ruang refleksi yang mesti tersimpan rapih di pojok hati: KPU, panwas, polisi, DPR, semua pemimpin termasuk cagub NTT sekarang yang siap bertarung dalam pilgub.



Artinya, pilkada bukan ditolak tetapi semestinya pilkada itu memberi makna signifikan kepada kepentingan rakyat. Bagaimanapun kita butuh seorang pemimpin. Karena, kita susah bayangkan masyarakat tanpa pemimpin sama seperti sebuah hutan rimba yang disesaki harimau liar-ganas.



Oleh karena itu, pilgub NTT kali ini kita harapkan agar memosisikan penderitaan rakyat di atas segala-galanya. Penderitaan rakyat mesti menjadi concern bersama, yang harus kita eksekusi bersama bukan menciptakan konflik. Konflik awal pilgub NTT bukan berarti kita sudah gagal segala-galanya. Konflik awal itu hanya menjadi “lampu kuning” untuk warga NTT.



Lampu kuning itu bisa saja berubah. Entahkah menjadi “lampu merah” yang sangat membahayakan atau bisa saja berubah menjadi “lampau hijau” yang penuh daya elan vital membangkitkan NTT. Semuanya, tergantung dan kembali kepada pikiran dan mata hati kita yang bening.



Penulis, Alumnus STFK Ledalero, kini staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila.

Monday, May 19, 2008

APA ITU CINTA?



What Does Love Mean to Children?

'When my grandmother got arthritis, she couldn't bend over and paint
her toenails anymore.
So my grandfather does it for her all the time, even when his hands
got arthritis too.
That's love.'

Rebecca- age 8

------------ --------- --------- --------- ---------

'When someone loves you, the way they say your name is different.
You just know that your name is safe in their mouth.'

Billy - age 4

------------ --------- --------- --------- -------

'Love is when a girl puts on perfume and a boy puts on shaving
cologne and they go out and smell each other.'

Karl - age 5

------------ --------- --------- --------- -------

'Love is when you go out to eat and give somebody most of your French
fries without making them give you any of theirs.'

Chrissy - age 6

------------ --------- --------- --------- --------

'Love is what makes you smile when you're tired.'

Terri - age 4

------------ --------- --------- --------- --------- -

'Love is when my mommy makes coffee for my daddy and she takes a
sipbefore giving it to him, to make sure the taste is OK.'

Danny - age 7

------------ --------- --------- --------- -----

'Love is when you kiss all the time. Then when you get tired of
kissing, you still want to be together and you talk more.

My Mommy and Daddy are like that. They look gross when they kiss'

Emily - age 8

------------ --------- --------- --------- -

'Love is what's in the room with you at Christmas if you stop opening
presents and listen.'

Bobby - age 7 (Wow!)

------------ --------- --------- --------- -

'If you want to learn to love better, you should start with a friend
who you hate,'

Nikla - age 6 (we need a few million more Nikla's on this planet)

------------ --------- --------- -----

'Love is when you tell a guy you like his shirt, then he wears it
everyday.'

Noelle - age 7

------------ --------- --------- --------- ----

'Love is like a little old woman and a little old man who are
stillfriends even after they know each other so well.'

Tommy - age 6

------------ --------- --------- ---------

'During my piano recital, I was on a stage and I was scared. I looked
at all the people watching me and saw my daddy waving and smiling. He
was the only one doing that. I wasn't scared anymore.'

Cindy - age 8

------------ --------- --------- --------- --

'My mommy loves me more than anybody. You don't see anyone else
kissing me to sleep at night.'

Clare - age 6

------------ --------- --------- --------- ---

'Love is when Mommy gives Daddy the best piece of chicken.'

Elaine-age 5

------------ --------- --------- --

'Love is when Mommy sees Daddy smelly and sweaty and still says he is
handsomer than Robert Redford.'

Chris - age 7

------------ --------- --------- ---------

'Love is when your puppy licks your face even after you left him
alone all day.'

Mary Ann - age 4

------------ --------- --------- --------

'I know my older sister loves me because she gives me all her
oldclothes and has to go out and buy new ones.'

Lauren - age 4

------------ --------- --------- ---

'When you love somebody, your eyelashes go up and down and little
starscome out of you.' (what an image)

Karen - age 7

------------ --------- --------- ---

'Love is when Mommy sees Daddy on the toilet and she doesn't think
it's gross.'

Mark - age 6

------------ --------- --------- -----

'You really shouldn't say 'I love you' unless you mean it. But if you
mean it, you should say it a lot. People forget.'

Jessica - age 8

------------ --------- --------- -----

The winner was a four year old child whose next door neighbor was an
elderly gentleman who had recently lost his wife.

Upon seeing the man cry, the little boy went into the old gentleman's
yard, climbed onto his lap, and just sat there.

When his Mother asked what he had said to the neighbor, the little
boy said,

'Nothing, I just helped him cry'

Tuesday, May 13, 2008

DOA SEORANG IBU



I still remember the first time when I left my daughter (my only child then) when I went to a Retreat for 3 days and 2 nights somewhere in Silang Cavite in 1997...I don't know how could I ever get to my sleep without her by my side...She was only 3 years old at that time. I'm so lonely and quite worried that she may cry and look for me when I'm gone.


When I left her in 1998 to look for work overseas, I couldn't imagine how will I carry the loneliness now that we're miles and miles away from each other. I'm really so sad when I left her that day.


As a mother, I always keep my young children on my sight. I never ever let them go alone or walk alone without my hands holding them especially if we're in crowded and public places.
Maybe, they'll say that I'm quite over protected with my children but for me, I just love my children the way I love my own body...They are part of my body and of my heart and if they're far from me,it seems part of my limbs are missing too...


When I reached the foreign land, I'm so happy 'cause I'm already with my husband who went there ahead of me. But I'm also so sad because of the absence of our 4 year old daughter.
I always cry whenever I think of her, especially during the night before I went to sleep. I always remember those days when we're still together. Each night, before we close our eyes and after we prayed, we're going to kiss each other on the forehead, down to the nose, cheeks, lips, ears and chin and then we're going to hug each other so tight and will say I love you...


Her daddy is away since she was 2 years old but I always tell some stories about her father so that she's not going to forget about him. I always let her kiss her dad's picture and ask her to bid goodnite as well. They're so close with each other too when my husband was still with us in the Philippines, that's why I don't want it to fade away 'though he is far from us.


Sometimes, even during meals, I'll cry so suddenly if my daughter will run through my mind. It's hard for me to swallow my food 'cause my heart is really in pain.
I really wish and pray that my family could be whole and together again someday...but because of our situation as a migrant worker who just started a new life in foreign land, it is quite difficult to bring our small daughter with us here during that time.



My husband couldn't afford to see me crying all the time. He wanted us to be together as well, if not for permanent, atleast just for temporary is also fine.
So in 1999, we brought our daughter here for a visit..it was a school vacation. She stayed with us from end of March until early June, I'm really so happy again when I saw my daughter when she arrived from Philippines.



My husband fetched her at the airport, she was with my brother in-law. I am at work when she came to see me, she was very happy too. We kissed and hugged immediately upon seeing eachother, we really missed eachother during that time.
The loneliness comes back when it is time for her to go back home but to ease the pain of being away from our daughter, we just let her come here on every vacation. It was every year until the year of 2001 came. We tried to apply for a dependant visa for her so that she can come with us all the time and got an education too while we're working here...





But it was unsuccessful, the salary required is not sufficient so it was denied...when I read the letter upon receiving it from the immigration, I really cried infront of the officer. My heart really broke and it was really a terrible painful moment for me as a mother. We just want to bring our child but the policy is so strict.



In 2002, I delivered to my second child here in abroad. We got a boy at this time and because he was born here, there's no problem for us if we want him to stay with us. They can give him a dependant visa as long that my employer is going to support us...



In that year, my husband's contract was renewed so his salary was upgraded too and when we applied for dependant visa for our son, it was immediately approved. I'm so happy that my son can stay with us while we're working here but still, the family is not complete because my daughter can only come here for a short visit visa as she wasn't given the dependant's visa.


But when she came here in 2004, we tried to apply a dependant visa again for her because our salary and contract has been renewed and upgraded so we might got a chance that we'll be approved this time...And yes, through constant prayers, our wish was granted...We finally took our daughter with us here too and we're now a happy family.



As an OFW mother, I'm really thankful that GOD gave me a chance to be with my children while working overseas. I know that there are plenty of mothers who couldn't have a chance to bring their children with them while working as an OFW, that's why I feel so great that I'm among the lucky one.



I think that GOD is really granting my prayers and wishes. When I was young, 'though a poor child, I never ever think of becoming rich, I just longed for a simple and a happy family of my own. That's my only and true happiness even before, now although it's quite expensive and we couldn't save much at the bank while my children are both studying overseas, it is just fine for us as long that we're all happy together...!!!


Copied from somewhere!

Definisi Ciuman


Ilmu Fisika
Ciuman adalah gaya tarik menarik antara dua mulut dengan jarak antara satu
titik dengan titik yang lain sama dengan nol.

Ilmu Kimia
Ciuman adalah reaksi akibat interaksi dari senyawa yang dikeluarkan oleh dua
hati.

Ilmu Mikrobiologi
Ciuman adalah pertukaran bakteri uniseksual di dalam air liur.

Ilmu Biologi
Ciuman adalah menyatunya dua otot orbicularis oris dalam keadaan kontraksi.

Ilmu Ekonomi
Ciuman adalah sesuatu di mana permintaan lebih besar drpd penawaran.

Ilmu Statistik
Ciuman adalah kejadian yang peluangnya bisa sangat tergantung dari angka
statistik berikut: 36-24-36.

Ilmu Teknik
Ciuman adalah rekayasa penyatuan antara 2 buah lorong yang berkesinambungan

Ilmu Agama
Ciuman adalah perbuatan yang boleh dilakukan dengan melalui pernikahan

Ilmu Masakan
Ciuman adalah bentuk pujian dari suami terhadap istrinya karena pintar
memasak

Ilmu Sumber Daya Manusia
Ciuman adalah SP-2 (Surat Peringatan Kedua) apabila dilakukan di ruang kerja
dan ketahuan (kamu ketahuan...ciuman lagi...)

Ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming)
Ciuman adalah sebuah kemampuan & kehebatan dalam melakukan "Rapport"

Ilmu Hypnotis & Hypnotherapy
Ciuman adalah kemampuan untuk membuat lawan berada dalam kondisi Theta dan
menerima pesan kita (affirmative)

Ilmu Kesehatan
Ciuman adalah kekurangan vitamin yang harus diberikan dalam jangka waktu
tertentu (Vitamin Cium)

Ilmu Dagang
Ciuman adalah kewajiban membayar Rp.25.000 dan apabila dilanjutkan dengan
service lainnya akan bertambah menjadi minimal Rp. 300.000,-

Ilmu Hukum
Ciuman adalah hak asasi manusia dan apabila dilakukan dengan paksaan akan
menjadi "BATAL DEMI HUKUM"

Ilmu Kepolisian
Ciuman adalah kesempatan untuk memasuki Hotel Prodeo apabila terjadi delik
aduan dari korban

Ilmu Seks
Ciuman adalah......kok cuman cium doang ....? Bodo amat sih........

Monday, May 12, 2008

RENUNGAN: APA YANG KAMU PERBINCANGKAN



Fidel Hardjo


Setelah Yesus bersama muridnya menikmati keindahan panorama di atas bukit. Kesejukan udara dan keindahan alam di atas bukit menggoda hati para murid untuk tinggal dan mendirikan kemah di atas bukit, kaki mereka enggan untuk melangkah. Lalu Yesus mengajak para muridnya untuk turun ke tempat yang lebih rendah, turun ke dataran. Turunlah mereka dari bukit melewati lembah yang berkelok-kelok. Setibanya mereka tiba di dataran. Orang banyak menanti mereka.


Di dataran inilah, yesus menyembuhkan banyak orang dan di dataran ini pula para murid tidak berhasil meyembuhkan orang sakit. Suara protes terdengar dari orang banyak, kenapa para muridnya tidak mampu menyembuhkan orang sakit. Pengalaman kegembiraan di atas bukit masih terukir indah dan kini pengalaman kegagalan di dataran membuat para murid kecewa dan tak bersemangat lagi.


Di tengah situasi patah semangat, tiba-tiba Yesus mengajak para muridnya untuk pergi ke Galilea. Karena guru yang mengajak maka berangkatlah mereka ke Galilea. Di tengah jalan Yesus mengatakan kepada muridnya banhwa anak manusia tidak akan lama lagi diserahkan ke tangan manusia, dibunuh lalu mati tetapi pada hari ketiga hidup lagi. Para murid merasa bingung apa maksud kata Yesus ini. Lupakan persoalan ini, para muridnya justru berpikir siapa yang terbesar di antara mereka kalau Yesus tidak ada di tengah-tengah mereka.

Siapakah yang terbesar?

Setiap mereka memiliki peluang yang sama, status yang sama yaitu murid Yesus. Memiliki peluang yang sama tergoda melihat diri dan mengidealkan sendiri. Siapakah yang terbesar ? Merupakan topik menarik bagi mereka. Konsentrasi, perhatian, hati mereka sudah menjauh dari Yesus, Yesus bukan lagi pilihan mereka untuk didengar, menjauah dari Yesus lebih baik daripada takut kehilangan kesempatan untuk menjadi yang terbesar.


Semakin hangat perbincangan di antara mereka siapa yang terbesar, semakin besar peluang hati mereka tersingkir dan terpinggir dari hati seorang guru. Yesus memilih diam, ditengah perbicangan para muridnya. Perbincangan mereka belum berhenti, tiba-tiba Galilea ada di depan mata mereka.


Yesus mengajak para muridnya untuk masuk di Kapernaum. Yesus ingin para muridnya untuk membeningkan pikiran dan hati mereka, Yesus mengajak para muridnya untuk melihat dan menikmati cahaya kapernaum, cahaya yang membeningkan, cahaya yang memberi kekuatan tatkala kegelapan, kesulitan, kebingungan, kesibukan hidup dan perkara hidup. Kapernaum adalah tempat nostalgia bagi Yesus, sewaktu kecil, Yesus selalu berada di kapernaum dan sekian sering orangtuanya bingung, ke mana mereka harus mencari Yesus.


Dan yesus mengatakan tidak tahukah kamu aku ada di rumah bapaku. Rumah bapa adalah kapernaum, dan Yesus adalah kapernaum baru, cahaya baru, dan kekuatan baru. Kini Yesus menginginkan para muridnya untuk mencintai kapernaum, mencintai yesus sebagai kapernaum baru, sebagai rumah bapa yang hidup, mencintai yesus lebih dari segala sesuatu.


Dalam kapernaum, yesus bertanya kepada muridnya, apa yang kamu perbincangkan di tengah jalan tadi. Siapakah yang terbesar? Para muridnya diam. Lalu Yesus menggendong seorang anak kecil dan berbicara, barang siapa menerima “anak kecil ini”, ia menerima aku dan menerima bapa. Kali ini Yesus berbicara lewat kehadiran anak kecil.


Dalam kisah yang lain, ketika Yesus memperbanyak roti, untuk lima ribu orang, anak kecil tampil sebagai penyelamat, di saat para murid bingung ketiadaan bekal. Masih kita ingat, ketika para murid ingin tinggal di bukit yang tinggi Yesus mengajak para muridnya untuk turun ke tempat yang rendah, tempat rendah merupakan ruang gerak anak kecil, masih kita ingat ketika yesus membasuh kaki para muridnya, ia mulai dari kaki, kaki merupakan wilayah yang mudah kotor, juga wilayah anak kecil.


Siapakah yang terbesar? Sebelum yesus menjelaskan siapakah yang terbesar, yesus mengajar lebih dulu para muridnya, siapa yang terkecil. Yesus tahu bahwa para muridnya tidak ingin menjadi yang terkecil, terendah dan terkotor.


Yesus adalah yang terkecil dan terendah serta terkotor. Ia dilahirkan di Nasaret tempat yang kecil, tempat yang kotor, tempat rendah. Yesus memilih tempat yang kecil, kotor dan rendah untuk mengangkat manusia menjadi anak Allah yang tinggi dan besar. Yesus memilih menjadi yang terkecil, terendah supaya manusia bisa mendekati Allah yang tinggi.


Yesus memilih turun ke tempat rendah supaya dapat melayani kebutuhan dan kerinduan manusia akan keselamatan. Yesus memilih tinggal di tempat yang kotor supaya manusia menjadi anak Allah yang bersih, Yesus memilih menjadi anak kecil supaya manusia belajar memilki hati bersih seperti anak-anak, belajar bergantung pada Tuhan seperti anak menggantungkan segala sesuatu kepada ibunya.

Apakah yang kamu perbincangkan?



Yesus kembali betanya kepada anda, apa yang kamu perbincangkan? Pertanyaan ini seakan-akan mengejar anda takkala anda sekarang ada di depan komputer, sedang sakit, lagi senang, sedih, mungkin sedang mengadakan perjalanan, ditengah keramaian, di gereja, atau lagi masak, boleh jadi lagi baring di tempat tidur, atau bahkan lagi ruang penjara menanti hari-hari kematian. Yesus tetap mengajukan pertanyaan yang sama, apa yang kamu perbincangkan?

Yesus ingin menjadi bagian dari apa yang anda rasakan sekarang. Yesus ingin mengalir dalam peristiwa hidup anda sekecil apa pun masalah anda. Yesus memilih tempat yang rendah supaya anda mudah mendekati dan mengertinya. Yesus ingin menjadi kapernaum bagi anda, rumah yang bercahaya tatkala anda merasa asing dengan situasi anda bahkan merasa benci karena kegagalan dan problema hidup anda.

Yesus menjadi anak kecil yang tulus dan setia kepada anda takkala anda dikecewakan oleh sahabat atau orang dekat anda. Yesus menjadikan anda, orang yang paling istimewah di hatinya takkala anda merasa dihina dan disingkirkan oleh orang-orang sekitar anda.Yesus mendekati anda takkala orang semakin jauh. Yesus ingin manjadi jawaban atas cita-cita dan mimpi anda.
Aneka peristiwa hidup kita adalah peristiwa yang serupa dengan apa yang dialami oleh para murid di tengah jalan. Banyak persoalan dan masalah sedang kita pikul, yang kadang membuat anda menjauh dari yesus. Ada banyak kegembiraan dan pesta hidup yang kadang membuat anda lupa yesus. Tapi yesus tidak pernah berubah sekalipun dalam situasi apapun yang anda sedang alami.


Yesus hanya bertanya, apa yang sedang kamu perbincangkan, apa yang kamu alami, apa yang kamu pikirkan? Apa masalah anda? Yesus mengajak anda seperti Yesus mengajak para muridnya untuk melihat cahaya kapernaum, memasuki kapernaum untuk membeningkan pikiran dan hati anda. Pengalaman melihat cahaya kapernaum akan membawa anda mengalami penglaman kedekatan yesus. Kedekatan untuk mendengar yesus dan menjadi cahaya kapernaum bagi yang lain.


Pengalaman kedekatan dengan Yesus tidak cukup melihat cahaya kapernaum, tapi yesus masih menuntut anda untuk mencintai anak kecil, mencintai tempat rendah, tempat kotor sebab dari sanalah akan mengerti perkara besar, mengerti siapa yang terbesar dan siapa yang bersih. Setelah anda mengalami pengalaman melihat dan menikmati cahaya kapernaum, dan tugas anda adalah diminta untuk menjadi cahaya kapernaum bagi orang lain, cahaya yang menuntun orang untuk mengalami pengalaman yang sama, pengalaman kedekatan dengan yesus.


Setelah anda mengalami pengalaman kebesaran menjadi yang terkecil, terendah dan terkotor, yesus meminta anda menjadi anak kecil, menjadi figure pesan bahasa dan kata hidup Allah bagi sesama. Menjadi anak kecil yang mengekpresikan secara sempurna pengalaman kelembutan dan kesempurnaan cinta Allah kepada sesama. Semoga !

[Renungan ini pernah disiarkan di ruang studio radio Veritas Asia Fairview Quezon City Manila Pilipina]

PIDATO MARTIN LUTHER KING




I have a dream that one day on the red hills of Georgia the sons of former slaves and the sons of former slaveowners will be able to sit down together at a table of brotherhood.
I have a dream that one day even the state of Mississippi, a desert state, sweltering with the heat of injustice and oppression, will be transformed into an oasis of freedom and justice.
I have a dream that my four children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character.
I have a dream today. I have a dream that one day the state of Alabama, whose governor’s lips are presently dripping with the words of interposition and nullification, will be transformed into a situation where little black boys and black girls will be able to join hands with little white boys and white girls and walk together as sisters and brothers.
I have a dream today. I have a dream that one day every valley shall be exalted, every hill and mountain shall be made low, the rough places will be made plain, and the crooked places will be made straight, and the glory of the Lord shall be revealed, and all flesh shall see it together.
This is our hope. This is the faith with which I return to the South. With this faith we will be able to hew out of the mountain of despair a stone of hope. With this faith we will be able to transform the jangling discords of our nation into a beautiful symphony of brotherhood.
With this faith we will be able to work together, to pray together, to struggle together, to go to jail together, to stand up for freedom together, knowing that we will be free one day.This will be the day when all of God’s children will be able to sing with a new meaning, “My country, ’tis of thee, sweet land of liberty, of thee I sing. Land where my fathers died, land of the pilgrim’s pride, from every mountainside, let freedom ring.”
And if America is to be a great nation this must become true. So let freedom ring from the prodigious hilltops of New Hampshire.
Let freedom ring from the mighty mountains of New York.
Let freedom ring from the heightening Alleghenies of Pennsylvania!
Let freedom ring from the snowcapped Rockies of Colorado!
Let freedom ring from the curvaceous peaks of California!But not only that;
let freedom ring from Stone Mountain of Georgia!
Let freedom ring from Lookout Mountain of Tennessee!
Let freedom ring from every hill and every molehill of Mississippi.
From every mountainside, let freedom ring. When we let freedom ring, when we let it ring from every village and every hamlet, from every state and every city, we will be able to speed up that day when all of God’s children, black men and white men, Jews and Gentiles, Protestants and Catholics, will be able to join hands and sing in the words of the old Negro spiritual, “Free at last! free at last! thank God Almighty, we are free at last!”

Sunday, May 11, 2008

Why I Live in the Philippines


1. Every street has a basketball
court.

2. Even doctors, lawyers and engineers
are unemployed.

3. Doctors study to become nurses for
employment abroad.

4. Students pay more money than they
will earn afterwards.

5. School is considered the second
home and the mall considered the
third.

6. Call-center employees earn more
money than teachers and nurses.

7. Everyone has his personal ghost
story and superstition.

8. Mountains like Makiling and Banahaw
are considered holy places.

9. Everything can be forged.

10. All kinds of animals are edible.

11. Starbucks coffee is more expensive
than gas.

12. Driving 4 kms can take as much as
four hours.

13. Flyovers bring you from the
freeway to the side streets.

14. Crossing the street involves
running for your dear life.

15. The personal computer is mainly
used for games and Friendster.

16. Where colonial mentality is
dishonestly denied!

17. Where 4 a.m. is not even
considered bedtime yet.

18. People can pay to defy the law.

19. Everything and everyone is
spoofed.

20. Where even the poverty-stricken
get to wear Ralph Lauren and Tommy
Hilfiger (peke)!

21. The honking of car horns is a way
of life.

22. Being called a bum is never
offensive.

23. Floodwaters take up more than 90
percent of the streets during the
rainy season.

24. Where everyone has a relative
abroad who keeps them alive.

25. Where wearing your national colors
make you baduy.

26. Where even the poverty-stricken
have the latest cell phones. (GSM-
galing sa magnanakaw)

27. Where insurance does not work.

28. Where water can only be classified
as tap and dirty.

29. Clean water is for sale (35 pesos
per gallon).

30. Where the government makes the
people pray for miracles. (Amen to
that!)

Saturday, May 10, 2008

ANALOGI DUA EKOR SAPI





SOCIALISME
kau punya 2 sapi
1 sapi kau berikan untuk tetanggamu

COMMUNISME
kau punya 2 sapi
negara mengambil alih keduanya dan
memberimu 2 kaleng susu.

FASCISME
kau punya 2 sapi
negara mengambil alih keduanya dan
menjual susu padamu.

NAZISM
kau punya 2 sapi
negara mengambil keduanya dan menembakmu

TRADITIONAL CAPITALISM
kau punya 2 sapi betina
kau jual satu dan beli satu sapi jantan.
ternakmu bertambah, dan ekonomi tumbuh.

THE ANDERSEN MODEL
kau punya 2 sapi.
kau cincang-cincang dua-duanya.

AN AMERICAN CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau jual satu, dan satunya kau paksa
untuk memproduksi susu sebanyak 4 sapi.
kemudian, kau menyewa konsultan untuk
menganalisa mengapa sapinya mati.

A FRENCH CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau turun ke jalan, menyusun massa ,
memblokade jalanan, karena kau ingin punya
3 sapi.

A JAPANESE CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau medesignnya ulang hingga bisa
menghasilkan 20 kali lipat susu.
kemudian kau buat profil kartun sapi
pintar "Cowkimon" dan menjualnya ke seluruh
dunia.

A GERMAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau merekayasanya supaya bisa hidup
lebih dari 100 tahun, makan cukup sekali
sebulan,
dan mereka bisa saling memerah susu sendiri.

AN ITALIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi, tapi kau tak tahu
dimana mereka.
kau putuskan untuk makan siang saja.

A RUSSIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau menghitungnya dan berandai bagaimana
bilamana punya 5 sapi
kau menghitungnya lagi dan berandai
bagaimana bilamana punya 42 sapi
kau menghitungnya lagi dan menemukan
bahwa sapimu cuma dua.
kau berhenti menghitung, lalu buka
sebotol vodka.

A SWISS CORPORATION
Ada 5000 sapi. tak satupun adalah milikmu.
kau mengenakan biaya administratif
kepada pemiliknya untuk menyimpannya.

A CHINESE CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau punya 300 orang untuk memerah susunya
kau nyatakan bahwa tak ada pengangguran,
dan nilai produksi susu tinggi.
kau menangkap wartawan yang melaporkan
kenyataanya.

AN INDIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau sembah mereka.

BRITISH CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya sapi gila.

IRAQ CORPORATION
semua orang berpikir kau punya banyak sapi
kau bilang ke mereka kau cuma punya satu.
tak ada yang percaya, maka mereka
mengebom daerahmu dan menginvasi negaramu.
kau masih tak punya sapi satupun, tapi
setidaknya sekarang kau bagian dari
demokrasi.

NEW ZEALAND CORPORATION
kau punya 2 sapi
sapi yang di kiri kelihatan sangat atraktif.

AUSTRALIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi.
bisnis kelihatanya sedang bagus.
kau tutup kantor dan pergi mencari beer
untuk merayakannya.

INDONESIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya curian.
lalu kau jual dua-duanya.
kemudian kau simpan uangnya di acount
non budgeter yang tak jelas.
kemudian kau gunakan beberapa untuk
mendanai kampanye partaimu
tapi sebagaian besar kau simpan untuk
anak cucumu.

MALAYSIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya kau curi dari indonesia .

SUFIAH YUSOF: JENIUS APANYA?





Saat ini dia baru umur 23 (lahir 1985 di Inggris, UK), 1 dekade lalu, ia menjadi contoh hidup dari program NEP Mahatir Muhammad, meski WN Inggris, dia dibiayai oleh pemerintah Malaysia 10 tahun lalu masuk Prep school St. Hilda, Oxford Pre-Uni, Inggris, dgn full scholarship dari Kerajaan Malaysia karena jenius dalam Math, setelah itu diterima di Universitas Oxford pada umur 16 bidang Math.

Dia juga menjadi role-model, berhubung ibunya kelahiran Muar, Johor, Mahatir yg terobsesi utk memajukan bangsa Melayu yg selama ini dianggap malas dan bodoh (fakta: tidak semua! Banyak yg rajin dan tdk manja) dengan selalu meng ekspos Sufiah yg jenius dan menjadi "Math-prodigy". Adiknya yg selisih 2-3 tahun juga sama jeniusnya dan juga dibiayai oleh pemerintah Malaysia, ...:" Ni otak anak Malaysia boleh..".


Dua tahun lalu, Sufiah kabur dari sekolah dan asramanya, mogok kuliah, menjadi pelayan internet cafe di hotel, sempat membuat polisi Inggris melakukan pencarian karena keluarganya mengklaim Sufiah diculik utk mencuri rahasia kejeniusannya, dia sempat kawin dgn pengacara magang (bule), lalu cerai setelah hidup bersama 13 bulan.


Oke2 saja dan masih berjilbab. Awal tahun ini,..jagad Melayu di Inggris maupun di Malaysia (dipelopori partai UMNO) heboh, Sufiah muncul dgn foto-foto diri nyaris bugil di internet yg mengiklankan diri sebagai pelacur ("prostitute"/ "Hooker", check/ search Google, entry "Sufiah Yusuf") dengan bayaran 'hanya' 130 Pounds/ jam, murah untuk ukuran Eropah Barat, foto2 seronok yg dikirim teman Malaysia (Mr. Tan) itu kini sudah dihapus dari blog. Bodynya aduhay, 'kan? Otak jenius, senyum ramah bersahabat khas mengundang simpati.


Sekarang ini, media di Malaysia (termasuk yg milik UMNO) memberitakan Miss Sufiah Yusuf secara berseri, keluarga nya pun diekspos habis, ayahnya seorg keturunan Pakistan adalah guru tutor sekaligus penemu "Hothousing" yg mengajarkan Math dgn metode belajar cepat, semacam Kumon.
Mr. Farook Yusof pernah divonis penjara krn penipuan kredit dan belakangan tersangkut kasus perundungan seks anak di bawah umur!! 2 anak itu tdk lain murid les Mathnya sendiri, serunya... alasan dia nyaris menggagahi si murid: "Saya berencana menciptakan Sufiah-sufiah yg lain"... (yg sama jenius maksudnya) dari gen unggulannya (sic!).


Melo-dramatik:

Elemen dalam UMNO prihatin dgn nasib Sufiah yg mahasiswa keturunan Malaysia jenius berubah menjadi pelacur, menteri pendidikan, Dato Sri Zahid Hamidi dan Deputy Mentri dari kantor PM, Dr. Mashita berencana terbang ke London membawa rombongan yg terdiri dari ustaz, pendidik, psikolog utk menyadarkan Sufiah dgn misi yg dinamakan : "Save Sufiah Programme" (inspired by SAVING PRIVATE RYAN Hollywood movie), tp batal setelah dicemooh/ ditertawakan rakyat Malaysia: "WN Britsih nak dibagi duit, rakyat Malaysia sendiri ramai yang lapar, macam mana? Kan dia jadi hooker on her own will?".

Sekarang, seorang Ustaz ternama To' Guru Trimizi Zainal, menggantikan Dr. Mashita Ibrahim membawa rombongan ke Inggris dgn misi yg sama tapi ditambah pengobatan mental, beliau sangat haqul yaqin, Sufiah tak mungkin senista ini, tapi setan lah yg bekerja di dalam dirinya. Ada semacam BLACK MAGIC yg merasuki diri Nona Sufiah. It's heart-breaking story.

Thursday, May 8, 2008

PENGADILAN ATAS NAMA “PENDIDIKAN”




Fidel Hardjo


Berita kelulusan SMU/SMK Indonesia sebentar lagi akan diumumkan. Ada aksi kecurangan tak sedikit buat kita "malu" sebagai bangsa besar. Sebentar lagi, pemandangan “air mata” dan histeris kegembiaraan sebagai pengadilan terakhir. Inilah pengadilan atas nama pendidikan.
Ada siswa yang lulus dan tak sedikit pula yang tidak lulus. Ada orangtua, guru dan kepala sekolah yang sedih dan ada pula yang bergembira-ria. Dua suasana kontras yang sulit disenyawakan.

Bagi siswa yang lulus tentunya mereka merasa bahagia. Orangtua, sekolah dan para guru pun turut berbangga. Hanya, muncul persoalan baru, mau diapakan setelah lulus? Di sini mulai “bingung”. Kuliah, cari kerja atau bantu orangtua, ataukah jadi penganggur? Pilihan serba pusing! Lain halnya, dengan nasib siswa yang tidak lulus. Air mata, frustrasi bahkan cipratan amarah dan ledakan kekesalan orangtua dan guru pun tak sepih. Lengkap sudah kefrustrasian mereka. Lalu, mau di ke manakan setelah ketidaklulusan? Mau lamar kerja, tapi tak ada ijasah di tangan. Mau ikut ujian ulang paket C tapi belum tentu lulus juga. Kalaupun lulus, mungkin saja orang katakan kasihan “diluluskan”. Pusing tiada duanya.

Setidaknya, inilah realitas pengadilan atas nama pendidikan di negeri kita. Ternyata, bukan hanya pihak siswa yang tidak lulus, yang dibikin pusing. Siswa yang lulus juga malah pusing. Kalau demikian, apalah artinya “sekolah”? Apakah ia sebatas pengadilan di atas awan-awan. Lalu, print out ijazah. Perkara habis.

Indonesia memang lagi “demam ijasah”. Tidak heran, sektor pasar kerja juga tertular demam ijasah. Apa saja serba butuh ijasah. Padahal, ijasah belum tentu menjamin kepintaran dan keahlihannya. Sama halnya, kalau ingin melanjutkan studi ke sekolah lanjutan atau ke perguruan tinggi. Tinggi rendahnya NEM sangat menentukan. Bahkan, menjadi bumerang untuk mengadili siswa akan bakal diterima atau ditolak. Apakah NEM sebagai harga mati untuk meneracakan kecerdasan siswa? Bagaimana nasib anak-anak yang NEM-nya tidak mencapai standar patokan itu. Apa arti kelulusan bagi mereka?

Mengapa mereka “diluluskan”? Jika pada akhirnya, kelulusan mereka tak bisa tembus ke sekolah lanjutan. Hanya, karena NEM yang mereka raih lebih rendah dari apa yang ditargetkan oleh sekolah penerima. Bukankah, lebih baik kita berbangga dengan presentasi kelulusan rendah daripada presentasi tinggi tapi siswanya tidak banyak yang bisa tembus studi ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk apa kita mengagung-agungkan presentasi kelulusan 100 persen kalau realitasnya sesedih itu. Akhirnya, filosofi pendidikan yang kita rancang sendiri, justru membingungkan kita sendiri.

Seakan-akan presentasi lulus 100 persen adalah takaran absolut kesuksesan pendidikan. Gejala seperti ini akan langsung terlihat. Ada tendensi besar antarsekolah untuk membanding-banding. Sekolah kita masih lebih baik, lulus 80 persen dan sekolah lain merayap antara 60 persen atau 50 persen saja. Mutu sekolah pun mulai dikerucutkan atas dasar presentasi kelulusan sekolah.

Profesionalisme guru juga dikerdilkan oleh tinggi rendahnya presentasi kelulusan. Hemat saya, kompetisi antarsekolah sah-sah saja. Sejauh intensi kompetensi itu membuat kita lebih profesional untuk menyatrategi dunia pendidikan ke arah yang lebih baik. Bukan sebaliknya demi prestasi, prestise dan previlese yang dangkal-dangkalan.

Lebih prihatin lagi, justru kebanyakan sekolah negeri (walaupun ada juga beberapa sekolah swasta popular) yang bersikeras dengan kualifikasional pematokan NEM dalam periode pendaftaran murid baru. Jelas, siswa yang tidak memenuhi kualifikasi NEM persyaratan akan otomatis tidak laku, ditendang tanpa kompromi.

Kita bersyukur, masih ada sekolah-sekolah swasta. Sekolah swastalah yang siap menjadi tumpangan bagi siswa-siswa yang didiskualifikasikan di sekolah negeri ini. Di sekolah swasta itulah mereka mendapat hak untuk dipintarkan. Atau saya meminjam istilah UUD yaitu "dicerdaskan".

Sekian istimewah, pemerintah memperlakukan sekolah negeri. Dana pun dikucur habis-habisan. Unit bangunan serentak dibangun. Guru-guru pun tak susah dicari. Tinggal angkat saja calon guru yang sudah ikut testing mungkin lebih dari sepuluh kali tapi belum juga lulus. Lalu, bagaimana nasib sekolah swasta?

Memang sekolah swasta hidup dengan keberdikariannya. Dedikasi tinggi kadang tak seimbang dengan gaji yang diterima. Maklum, gaji mereka tergantung pada uang setoran siswanya. Bahkan, ada sekolah tertentu yang pengeluarannya lebih besar daripada pemasukan. Kadang, uang setoran siswa hanya cukup untuk melunasi biaya listrik, air dan beli kapur tulis.

Padahal, tak sedikit pula petinggi daerah kita, yang pernah menikmati dan merupakan jebolan sekolah swasta. Tapi mereka macam tidak tahu bahwa nasib sekolah swasta seperti apa. Mungkin juga mereka tahu, cuma tidak tahu, mau buat apa dengan nasib sekolah swasta? Kapan naluri sosial mereka tergerak untuk menolong sekolah-sekolah swasta?

Jika, peran sekolah swasta mempunyai andil yang signifikan dalam mendidik anak bangsa di daerah ini, untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dan menjadi pemikir handal dalam kehidupan berbangsa. Maka, mengapa kita tidak bersedia membuka mata untuk meringankan beban sekolah-sekolah swasta?

Tak jarang, sekolah swasta “dianaktirikan” oleh stakeholders pendidikan di negeri ini. Banyangkan, berapa banyak jumlah sekolah swasta negeri ini? Mungkin dua kali lipat dari jumlah sekolah negeri. Sebenarnya, bukan soal jumlah yang ditekankan. Kontribusi sekolah swasta selayaknya mendapat perhitungan juga. Sebagaimana, pemerintah memperlakukan sekolah-sekolah negeri.

Maka, tidak ada jalan lain, selain pemerintah memperlakukan sekolah swasta dan negeri secara proposional. Sama halnya, seorang ibu yang punya anak kembar. Ia tidak mungkin menyuap bubur anak yang satu dengan piring emas. Satunya lagi, cuma piring plastik saja. Artinya, mengapa kita tidak bisa menyiapkan “piring plastik” dengan “porsi menu” yang sama baik untuk sekolah negeri maupun swasta. Jika visi dan misi kita sama yaitu mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa.

Pertama, kini saatnya pemerintah daerah untuk memberi perhatian yang lebih ekstra terhadap nasib sekolah swasta. Dari terminologi “perhatian”- memberi “hati”- mengandung arti tulus, suci, ikhlas. Misalkan saja, mengirimkan guru-guru berstatus pegawai negeri ke sekolah swasta lebih banyak daripada tahun-tahun kemarin.

Atau banyak cara lain. Yang penting kita buka perspektif, agar pemerintah bisa berbuat sesuatu yang lebih. Tidak cukup imbauan, agar sekolah negeri belajar dari sekolah swasta ataupun vice versa. Apa yang hendak dipelajari, juga tidak jelas. Apakah sebatas mendogkrak presentasi kelulusan? Lebih penting adalah membangun kerja sama kooperatif mutual yang produktif. Saling menukar informasi manajemen pendidikan, keorganisasian, dan keprofesionalan tenaga keguruan.

Kedua, sekolah negeri sebaiknya memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak-anak miskin tanpa mewajibkan standar NEM. Alasan ruang tidak mencukupi, juga tidak realistis. Jika banyak siswa ingin bersekolah maka kewajiban yang tak boleh ditunda-tundai adalah memperbanyak ruang kelas.

Sehingga, anak-anak bisa tertampung. Siswa-siswa yang otaknya dikategorikan “jongkok”, jangan juga cepat-cepat dieksekusikan dari sekolah. Begitupun anak-anak yang tidak disiplin, jangan cepat-cepat disepak keluar. Di sini, peran sekolah sebagai almamater (baca:ibu), “surga ada di telapak ibu” akan teruji kesajatian keibuannya.

Ketiga, perbaikan kualitas pendidikan belum lengkap kalau tanpa adanya perpustakaan. Hampir sedikit sekolah yang punya perpustakaan cukup memadai. Pemerintah daerah perlu galakan penyedian perpustakaan umum daerah untuk pelajar khususnya atau bila perlu masyarakat pada umumnya. Sehingga, siswa-siswa dan guru-guru bisa mengakses buku-buku secara gratis. Pembangunan perpustakaan adalah ruang investasi pendidikan yang urgen, yang sama persisnya kita menginvestasi generasi masa depan.

“UNESCO, pilar pendidikan kesejagatan dikonstruksi untuk mengembangkan potensi anak didik yang berkualitas. Pilar pendidikan kesejagatan itu adalah belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be)”.

Penulis, staf Televisi TBN Asia di Manila



















"KOSMOSENTRIS"






Fidel Hardjo


Dalam buku Timaeus, Plato berkisah tentang the Lost Continent, Atlantis. Alkisah, ketika Atlantis mempersiapkan serangan besar terhadap Athena, tiba-tiba banjir, angin kencang, petir dan gempa yang kejam membaringkan benua itu, dalam “tidur abadi” jauh di dasar Samudera Atlantik.


Selama berabad-abad Atlantis “tertidur” di dasar samudera, kemudian munculah perdebatan runcing. Ada yang katakan, keberadaan Atlantis sebatas mitos belaka. Sebagian yang lain, yakin benua makmur nan sejahtera itu memang benar-benar ada.
Tahun 1882, penulis Ignatius Donnelly menerbitkan buku Atlantis--Myths of the Antediluvian World, yang memicu gerakan pencarian "benua yang hilang" itu. Donnelly membagi keyakinannya bahwa pada masa lalu di Samudera Atlantik, berseberangan dengan mulut Laut Mediterania, pernah ada sebuah pulau besar. Dia percaya itulah Atlantis dan benar-benar pernah ada.


Bencana Datang Pergi

Indonesia pun bisa saja serupa dengan nasib hilangnya benua Atlantik. Lebih-lebih jika aneka bencana alam yang menggerogoti negeri ini, beberapa dekade terakhir tidak “terdiagnosa” dengan pikiran bening. Dua bencana utama adalah banjir 402 kali, korban 1144 jiwa, kerugian Rp647,04 miliar dan tanah longsor 294 kali, korban 747 jiwa, kerugian Rp21,44 miliar (WALHI 2006).


Tapi, mengapa bencana alam seperti banjir dan longsor datang silih berganti, di negeri pemilik
hutan terbesar ketiga di dunia ini? Menurut lembaga penelitian WALHI, semua bencana ini kebanyakan disebabkan oleh ketidakadilan atau gagalnya sistem pengurusan alam, terutama pengrusakan hutan.


Kerusakan hutan perawan Indonesia tercatat sebesar 72 persen (World Resource Institute, 1997). Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Sehingga, kita tak perlu tercengang jika Indonesia menyandang predikat “break record” perusak hutan tertinggi di dunia (Badan Planologi Dephut, 2003).


Artinya, sangat masuk akal, mengapa bencana banjir dan longsor datang terus. Karena, kerusakan hutan, kerusakan hutan dan kerusakan hutan. Apa yang salah dengan bangsa yang bernama Indonesia (kaya) Raya ini?

Pendekatan “Pincang”

Inilah dampak negatif, model pendekatan ekologis yang pincang. Yang menurut Jonathan Hughes, dalam bukunya Ecology and Historical Materialism (2000), pendekatan pincang ini sebagai entry point “the death of cosmos”. Ia mengemukakan tiga macam pendekatan pincang itu.
Pertama, pendekatan ecocentric (economic centered). Pendekatan ini teriming-iming oleh interese ekonomi tanpa mengupayakan keberlanjutan ekologis secara integratif.
Indonesia pada umumnya terjebak oleh pendekatan ini. Masalah kemiskinan dan pengangguran membuat kita panik. Kita tergoda “melelangkan” hutan/bumi kepada industri ekstraktif.


Dengan harapan, negara mendapatkan extra income dan kesejahteraan rakyat membaik. Nyatanya, kesejahteraan itu sulit digenggam. Rakyat semakin sengsara dan alam juga kian rusak. Pada gilirannya, alam siap “merusak” manusia. Kasus Freeport dan Lumpur Lapindo, adalah contoh riil bagaimana kesejahteraan tak lebih sebuah mitos bagi warga lokal.
Lebih aneh lagi. Beberapa bulan yang lalu, pemerintah Indonesia justru mengeluarkan PP No. 2 thn. 2008, yang memberi hak legal pembalakan hutan kepada 13 Perusahan Tambang.
Inilah therapy kejutan atas kemiskinan. Hutan dijual dengan cuma Rp. 1,8 juta hingga Rp. 3 juta perhektar hutan. Padahal, tarif sewa Pajak Negara Bukan Pajak dari 13 perusahaan tambang itu hanya mengantong Rp 2,78 triliun per tahun. Sementara total potensi kerugian diperkirakan sebesar Rp70 triliun per tahun (Greenomics Indonesia).
Kebijakan inilah yang diincari-incari oleh perusahan tambang daerah, yang selama ini nasibnya terkatung-katung akibat resistensi penduduk lokal. Mengapa pemerintah masih nekat jika ongkos kebijakan ini terlampau mahal? Bencana alam yang pernah mendera bangsa kita semestinya menjadi pelajaran yang sangat berarti bagi kita.
Kedua, pendekatan anthropocentric (human centered). Manusia diyakini menjadi pilar eksklusif penentu ecology sustainable. Pendekatan ini sama bengisnya dengan ecocentric. Sebab, manusia diposisikan sebagai “tuan” atas alam. Maka, kita terjebak pada pilihan “kenyangkan dan selamatkan manusia lebih dulu. Konservasi alam itu adalah perkara kemudian.
Padahal, kalau kita ingin menyelamatkan manusia maka “diagnosa” dulu alam yang rusak. Jika konsep ini tidak berubah maka jangan harap kita keluar dari lingkaran bencana. Karena, persoalan dasar tidak tersentuh. Lihat saja, dana APBN 2008 untuk korban bencana sebesar Rp281,3 triliun. Sementara, alokasi anggaran untuk “pencegahan” risiko bencana hanya sebesar Rp9,4 triliun. Disparitas anggaran dana inilah yang membuktikan pemerintah memosisikan kerusakan alam hanya perkara minor.
Ketiga, pendekatan biocentric (biotic centered). Pendekatan ini memusatkan makhluk hidup (biotik) sebagai “tuan” atas kosmos. Dengan kata lain, sejauh ia adalah makhluk hidup baru direspek. Gagasan ini dikupas banyak oleh Felix Baghi ( Etika Biosentris, Pos Kupang 25/4/2008). Lalu, bagaimana yang bukan makhluk hidup (tidak) direspek? Kelemahan besar pendekatan ini adalah semua benda alam abiotik (tanah, batu, air dan udara) “dianaktirikan” dalam konsep sustainabel harmonitas kosmos. Jika demikian, adakah pendekatan yang lebih etis?

Etika Kosmosentris

Menurut Jonathan Huges, “runyamnya” nasib ekologis global sekarang ini, idealnya memiliki etika ekologis yang disebutnya pendekatan holistik cosmocentric (cosmos centered). Manusia atau makhluk hidup bukan lagi centrum tapi kosmos.
Manusia, binatang, tetumbuhan, benda mati , benda hidup adalah entitas kosmos yang punya hak asasi yang sama. Menciderai satu sama lain (biotik-abiotik) sama saja melukai tatanan kosmos itu sendiri. Ketika setitik ioata kosmos terluka, ia menggangu seluruh tatanan di dalamnya.
Kondisi alam kita yang “sakit-sakitan” sekarang, sebenarnya butuh penyembuhan ekologis seperti ini. Memperbaiki relasi yang beku dari pendekatan ekosentrik, antroposentrik dan biosentrik menuju kosmosentrik.
Pertama, nilai intrinsik interaktif complementer komponen cosmophere, perlu dibangun harmonis, kedua menghargai pluralistik komponen cosmos biotik dan abiotik mutlak terjaga, ketiga tanpa mengecil peran homo faber (manusia pekerja), manusia mesti menciptakan relasi ramah dan bertanggung jawab terhadap kosmos dengan segala kandunganya, keempat relasi “take and give” niscaya dikembangkan (jika ingin menunai maka pandai-pandai menabur).
Inilah “tali kekang”, yang menurut hemat saya perlu dikedepankan untuk membangun ekologis imparsialitas terhadap keutuhan kosmos. Dengan membangun kesadaran baru ini, kita dapat menjaga keberlanjutan kosmos ini dan meminimalisir bencana alam yang tak bertepi.
Akhirnya, kita boleh saja memilih: bertahan dengan pendekatan ecosentris, antroposentris, biosentris atau berani menembusi “stabilitas lochi” itu?. Tapi sekali lagi, taruhannya mahal: antara hidup atau mati. Jika mindset kita tidak berubah terhadap kosmos maka peristiwa “Lost Continent of Atlantis” akan terjadi serupa di negeri kita. Ia bukan sekadar mitos tapi kenyataan pahit yang harus ditelan bersama.

Penulis, Alumnus STFK Ledalero, kini Staf Televisi TBN Asia, tinggal di Manila
(Dimuat Di Flores Pos)

RUPA BURUK, JANGAN BELAH CERMIN



Fidel Hardjo

“This is my body, This is my software, I have given my body to art”
(Orlan, 1898).

Tawaran iklan kecantikan telah menjadi obsesif sekian banyak perempuan. Tak sedikit perempuan tergiur oleh iklan instant beauty seperti apa yang disuguhkan oleh koran-koran, televisi maupun seleberan dari tangan ke tangan ataupun ditempel di tempat publik. Seseni itukah perempuan?


Tubuh perempuan adalah seni. Ada banyak akronim seni untuk membahasakannya: cantik, ayu, molek, indah, mulus, mungil, seksi dan sebagainya. Tak heran, kalau industri periklanan memanfaatkan kecantikan perempuan untuk menyedot minat publik. Tubuh perempuan telah bergeser pemaknaannya dari ruang naturalistik menjadi instrumen estetik publik.


Seorang artis kaliber Perancis, Orlan dalam operasi plastiknya tahun 1898 punya motto “This is my body, This is my software, I have given my body to art”. Orlan menjelaskan bahwa setiap perempuan semestinya melihat tubuhnya sebagai sebuah seni. Seni yang dapat mengubah dunia, termasuk image perempuan (Kathy Davis, 2003).

.
Natural yang terusak

Maxwell Maltz yang dijuluki sebagai “father of plastic surgery” melihat operasi plastik sebagai “magical power” yang tidak hanya meniadakan noda atau memperbaiki kerusakan kulit tetapi lebih merusak gambaran pribadi yang natural.

Menurutnya, perempuan tidak ada pilihan lain, selain adalah menolak segala bentuk jenis kecantikan yang momental


Setiap orang bebas untuk memilih sehat atau sakit, cantik atau buruk dan mati atau hidup. Toh, pada akhirnya sendiri yang menanggung baik buruknya. Noel Suzane seorang perintis operasi plastik modern mengatakan operasi plastik adalah keinginan yang pahit (bitter need) yang lahir dari tuntutan ekonomi.

Misalkannya, banyak perempuan memilih operasi plastik wajah karena takut kehilangan karier mereka. Seorang artis akan takut tidak diorder lagi untuk memanggung hanya karena persoalan wajah yang sudah kelihatan tua. Operasi plastik adalah bukan hanya jalan terbaik untuk mempertahankan karier mereka tetapi mengingatkan mereka bahwa selalu muda dan cantik.

Michael Jackson yang lebih akrab dipanggil “The King of Pop”. Setelah melakukan operasi plastik atas tubuhnya, ia meliris albumnya “Thriller” apa yang terjadi albumnya laris terjual, ia memecahkan rekor terlaris musik urutan ke dua dalam catatan sejarah musik Amerika. Walaupun pada saat sama ia dikritik oleh dunia Afrika karena Jackson telah mengkianati keindahan orang-orang hitam.

Moral

Kathy Davis meletakkan sandaran moral dalam menghadapi problematika operasi plastik. Pertama adalah masalah ketidakadilan (unfairness). Sebelum memilih melakukan operasi plastik orang harus menimbang secara matang, seberapa banyak kegembiaraan dan penderitaan yang diterima akibat operasi plastik.

Banyak orang memutuskan untuk melakukan operasi plastik tanpa lewat sebuah keputusan yang matang. Akibatnya adalah ia mengalami penderitaan jauh lebih besar daripada kegembiraan atas kecantikan yang sesaat yang diperolehnya.

Kedua adalah operasi plastik berpotensi destruksi kenormalan (harming the normality). Pada dasarnya, operasi plastik merupakan upaya merusak bentuk kenormalan demi target kecantikan. Ia menjanjikan model perwajahan dari bentuk normal menuju yang tidak normal. Misalkan, ia seorang pemilik hidung pesek (normal) dan berubah menjadi hidung sangat mancung (abnormal).

Karena operasi plastik mengandung risiko tinggi maka seharusnya subyek pelaku memilih sebuah keputusan yang terbaik dalam hidupnya. Ia bersedia menerima apa yang dihasilkan oleh operasi plastik, termasuk hasil yang paling buruk sekalipun.

Ketiga adalah memangkas keaselian (inauthenticity). Operasi plastik akan menjawabi kebutuhan anda akan kecantikan dengan sekejap saja tetapi pada saat yang sama terjadi pelucutan bentuk keaselian seseorang. Adanya gap yang besar antara apa yang ada “di luar” dan yang ada “di dalam” pribadi seseorang.

Kecantikan luar cuma kecantikan ilusif, kecantikan yang jauh dari keadaan sebenarnya. Karena itu orang yang ingin melakukan operasi plastik harus melihat dampak psikologis bagi dirinya karena ia bisa menjadi asing bagi tubuhnya.

Dan bersiap untuk menerima reaksi baru dari sesama dan alam atas sebuah identitas baru. Ia boleh jadi menjadi asing bagi yang lain dan membutuhkan adaptasi baru atas kekerasan alam.

Hati hatilah

Operasi plastik sebagai tawaran kecantikan modern memang mimikat tapi juga menyimpan seribu satu macam risiko.

Propaganda media akan operasi plastik seperti disuguhkan oleh iklan-iklan dalam televisi atau majalah maupun surat kabar akan menjanjikan anda akan sebuah penampilan yang menarik dan tanpa efek samping. Biasanya, apa yang diiklankan akan jauh dari kenyataan yang sesungguhnya.

Mempersalahkan propaganda media juga bukan sikap yang tepat. Yang paling penting adalah kita sendiri harus mempunyai sikap tegas. Memiliki pengetahuan yang luas sebelum menjatuhkan sebuah keputusan atas tawaran kecantikan yang memikat itu. Di jaman modern ini, uang bisa menjanjikan segala-galannya. Dengan uang anda bisa membeli kecantikan tetapi kecantikan itu belum tentu menjamin kebahagian.

Dengan kecantikan anda bisa mendapatkan peluang kerja, menjadi rebutan sekian banyak laki-laki tetapi ketika usia senja mejemput, maka semuanya berlalu. Yang tersisah tinggal keping-keping penderitan.

Industri modern serba menjanjikan kecantikan utopis melalui operasi plastik. Apa yang kita buat adalah pertama kita mengembangkan semangat “sense of satisfication”. Kita perlu memiliki rasa cukup atas apa yang kita punya. Memiliki rasa cukup biasanya mendekatkan kita dengan sang pemilik kehidupan untuk mensyukuri atas apa yang kita miliki.

Masih banyak di sekitar kita yang jauh lebih buruk dari apa yang kita miliki. Tetapi mereka merasa bahagia atas kecukupan. Bukankah bunga bakung lebih indah dari pada pakaian emas Salomo!

Kedua adalah “being natural is beautiful” semakin anda tampil natural semakin anda tampil cantik. Tubuh anda memang sebuah seni tetapi bukan sebuah perangkat lunak, software yang mengabdi absolut kepada seni.

Kecantikan yang ditawarkan operasi plastik merupakan kecantikan utopis yang bisa berubah kapan dan di mana saja menjadi racun bagi anda sendiri. Kalau anda tidak percaya silakan coba saja!

Penulis, Staf Televisi TBN Asia.